Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 75 ~ Menembus Kabut


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 75 ~ Menembus Kabut


Karya R.D. Villam


 


---


 


Iradrin kembali menepuk-nepuk lengan Ramir yang kini panik bukan kepalang begitu si kakek tua menyebutkan bahwa Ramir mungkin adalah Sang Terpilih.


“Kalian pasti salah!” seru Ramir sekali lagi.


“Ya, kemungkinan untuk salah itu ada, Ramir,” jawab Iradrin tenang. “Toh kami pernah melakukan kesalahan itu sebelumnya, dengan memilih orang yang salah.”


“Maksudmu? Apakah orang itu kakekku? Yang Anda bilang dulu datang kemari?”


“Bukan. Kakekmu Haladir, dengan segala keterampilan dan kebijaksanaannya, justru seharusnya orang yang cocok. Makanya itu yang membuatku dulu mengundangnya kemari. Namun sayangnya ia tak mampu mendengar Nyanyian Malaikat. Tidak, Ramir, sayangnya bukan dia.” Iradrin menarik napas perlahan. “Orang yang kumaksud adalah Putri Naia.”


Ranir terpana. “Putri Naia?”


“Akan kuceritakan sedikit mengenai gadis itu,” kata Iradrin seraya menarik napas. “Sejak masa ayahku, keluarga Naia telah banyak membantu kami. Mereka orang-orang baik. Ayah sang putri, Raja Talbrim dari Ebla, bahkan meninggalkan kepercayaan kuno negerinya dan mengikuti kepercayaan kami. Lalu suatu saat Talbrim mengunjungi negeri Awan, maka aku pun mengundangnya kemari. Ia datang bersama putra-putrinya, Aria dan Naia. Aku mengajaknya masuk ke gua ini, dan kedua anak itu, yang tak mau lepas darinya, ikut serta. Umur Naia saat itu baru enam tahun, tetapi ternyata dialah, dan bukan ayahnya, yang mampu mendengar Nyanyian Malaikat. Gembira, aku pun meminta sang putri agar mau tinggal bersama kami dan belajar banyak hal. Tetapi Talbrim menolaknya. Ia hanya bersedia melepaskannya jika Naia sudah dewasa dan mampu membuat pertimbangan sendiri. Maka mereka pun pergi.


“Dua tahun yang lalu negeri mereka di barat dihancurkan oleh Akkadia. Naia lalu membawa rakyatnya menyeberangi Sungai Tigris, pergi ke Awan. Aku dan Parvez menemuinya, dan mengangkatnya menjadi Sang Terpilih. Namun di luar dugaan, dendam pernah, dan mungkin masih menyelimuti hatinya, hingga mampu membuat sosok makhluk terkutuk tak dikenal mendatanginya dan memberi kutukan pada matanya. Sebuah senjata pamungkas untuk membinasakan musuh, tetapi juga yang akan menghancurkan jiwanya. Maka kami memberinya Medali Putih, untuk mencegahnya membunuh orang-orang tak berdosa. Namun sekali lagi dia membuat kami kecewa. Dia menghancurkan medali itu, dan yang lebih mengejutkan lagi, menggunakan senjata milik makhluk terkutuk untuk menghancurkannya.”


“Setiap orang pernah berbuat kesalahan dan pantas mendapat kesempatan untuk memperbaikinya.” Ramir mengingat-ingat siapa yang dulu berkata seperti ini. Toulipkah? “Menurutku, kesalahan kalian justru karena tidak memberinya kesempatan!”


“Kurasa itu tidak penting lagi,” tukas Parvez. “Terbukti dia bukan Sang Terpilih. Kami tak akan repot-repot memberinya kesempatan lagi.”


“Justru kalian harus memberikannya, dan menolongnya sekali lagi. Karena bisa jadi memang dialah Sang Terpilih!” Ramir tetap ngotot.


“Tidak, Ramir,” sahut Iradrin. “Jujur, kami dulu terlalu terburu-buru. Naia memang berhasil mendengar Nyanyian Malaikat, namun sebenarnya dia belum melakukan syarat lainnya. Pertanda yang satu lagi. Naia dulu menolak datang lagi ke gua ini, tetapi kami, karena begitu yakin akhirnya menemukan satu orang yang mampu mendengar Nyanyian Malaikat setelah beratus-ratus tahun, langsung mengangkatnya sebagai Sang Terpilih.”

__ADS_1


“Jadi, ada dua syarat, kan?” Tanpa sadar Ramir tersenyum lega. “Yang harus dipenuhi? Berarti ada kemungkinan aku pun bukan Sang Terpilih! Ada kemungkinan juga bahwa memang Naialah Sang Terpilih!”


“Ya, tetap ada kemungkinan.” Iradrin termangu. “Tetapi terus terang aku berharap kau. Kau adalah cucu Haladir, kami bisa berharap kau punya keterampilan dan kebijaksanaan seperti kakekmu, suatu hari nanti. Lagi pula, waktuku tinggal sedikit. Aku tidak ingin mati sebelum menemukan Sang Terpilih.”


“Jika aku memang bukan orangnya, kenapa Kakek harus memaksa diri?”


“Aku tak memaksa diri. Saat ini aku hanya bisa menyerahkan diri kepada takdir. Dan begitu juga kau, bukan?” Iradrin tersenyum. “Jadi, mari, kita lihat seperti apa takdir kita. Takdirmu, yang pada akhirnya tetap harus kau cari. Jangan takut.”


Ramir mengangguk, akhirnya berusaha menerima ucapan sang kakek. Mungkin memang ketakutanlah yang telah membuat ia menolak. Jika ia bisa menyingkirkan rasa takut itu, maka ia bisa menghadapi kemungkinan apa pun, baik ataupun buruk.


Mereka tiba di ujung lorong, hingga akhirnya sampai di dalam ruangan. Ramir bingung, melihat kegelapan masih terus menyelimuti mereka. Parvez mengangkat obor. Alih-alih menerangi ruangan, yang tampak kemudian justru kabut tebal berwarna putih yang mengelilingi mereka. Ramir bergidik. Kabut dingin itu seolah bernyawa, berputar dan membelai seluruh permukaan kulitnya.


Nyanyian Malaikat kembali sampai di telinganya, tetap lirih nyaris tak terdengar, dan tetap belum jelas dari mana asalnya. Kadang muncul dari atas, lalu dari samping kiri, kanan, belakang, depan. Jangan-jangan sumber suara itu memang bergerak terus, berputar, mengalir bersama kabut!


“Masih takut, Ramir?” Iradrin menoleh, tersenyum ke arahnya.


“Aku berbohong jika bilang aku tidak takut!”


“Di dalam ruangan ini terdapat sebuah pintu lain, Ramir,” kata Iradrin. “Yang kami sendiri pun tak tahu letaknya ada di mana, dan kami juga tak tahu menuju ke mana. Hanya Sang Terpilih yang bisa menemukannya. Itulah yang diajarkan kepadaku. Maka dari sini kau akan berjalan sendiri. Semntara kami akan menunggu di luar.”


“Ambillah.” Parvez menyerahkan satu obor kepada Ramir.


“Apa maksud kalian?” Ramir menarik tangannya, belum mau menerima obor itu. “Kalian hendak meninggalkan aku sendirian di tempat mengerikan ini? Kalian gila!”


“Jangan takut. Ini adalah ruang yang aman dan terberkati,” kata Iradrin. “Sama sekali bukan tempat mengerikan. Ini tempat para leluhurku dulu berlindung dari kaum terkutuk. Singkirkan rasa takutmu, percayalah pada hatimu.”


Ramir memandangi sang kakek, lalu menoleh, ganti menatap Parvez. Kedua lelaki tua itu tersenyum.


Akhirnya Ramir mengangguk. Ia mengambil obor dari tangan Parvez. “Sampai berapa lama aku harus mencari?”


“Aku tak tahu. Selama yang kau butuhkan.” Iradrin terbatuk, membuat Parvez harus memeganginya. “Jika kau merasa tak sanggup melakukannya, kau bisa berbalik dan keluar melalui pintu yang tadi.”


“Bagaimana? Kau siap?” tanya Parvez.


“I—iya.”

__ADS_1


“Kalau begitu carilah.”


Ramir masih berdiri diam. Ragu dan takut. Namun akhirnya ia pun melangkah. Mungkin memang sebaiknya ia secepatnya melakukan ini. Supaya semuanya jelas dan selesai. Satu, dua, tiga langkah, hingga akhirnya ucapan Iradrin terdengar lagi, kali ini tipis, dan seolah begitu jauh.


“Selamat jalan.”


Ramir terkesiap. Itu seperti salam perpisahan!


Dan ternyata ia belum siap ditinggalkan. Cepat-cepat ia menoleh, dan sektika kaget, karena baik sosok Iradrin maupun Parvez tak lagi tampak. Yang ada hanyalah kabut putih tebal. Ia berbalik dan berlari, lalu menggapai-gapai. Tanpa hasil.


“Tuanku Iradrin!” serunya. “Tuan Parvez! Di mana kalian?!”


Tak ada jawaban. Mereka seperti sudah benar-benar menghilang.


Ramir berlari lagi, panik. Mungkin sebaiknya ia keluar saja dari tempat ini! Bagaimana jika sebenarnya ia hanya ditipu? Bagaimana jika semua yang tadi diceritakan oleh Iradrin maupun Parvez adalah omong kosong, dan ia dijebak di tempat ini? Mengapa ia begitu mudahnya percaya pada mereka?


Tetapi untuk apa mereka menjebaknya di sini? Apakah karena ia ancaman bagi mereka? Lalu bagaimana jika mereka benar?


Ramir berhenti. Api di obornya menari bersama hembusan kabut yang mengalir perlahan mengelilinginya. Matanya terpejam.


Nyanyian Malaikat terdengar lebih jelas di dalam kepalanya.


Percaya. Percaya.


Ya, mungkin seharusnya ia percaya saja pada kata hatinya. Menemui takdirnya, apa pun itu. Ia tidak akan tahu jika ia tidak mencoba.


Ia memutuskan. Ia berbalik kembali, dan melangkah tanpa takut, menembus kabut.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2