
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 103 ~ Perpisahan
Karya R.D. Villam
---
Ramir menunduk sambil membungkukkan badannya. Ia kembali menyembunyikan dirinya di balik semak. Ia berjongkok, mengisi tempat minumnya dengan air jernih yang mengalir dari mata air, lalu termenung, membayangkan apa yang baru saja dilihatnya.
Fares dan Naia.
Semua yang ada di sini.
Datang, pergi. Bertemu, berpisah.
Suara langkah kaki menjejak tanah dan rerumputan membuyarkan lamunannya. Ringan dan hampir tak terdengar, tetapi Ramir bisa merasakannya.
“Baru saja mengintip, Ramir?” orang yang baru datang itu bertanya, setengah mengejek.
Ramir menoleh padanya, dan langsung menukas, “Siapa? Mungkin kau yang mengintip, Teeza.”
Gadis jangkung berambut perak itu tertawa. Ia menghempaskan tubuhnya di samping Ramir, dan tiba-tiba Ramir teringat saat gadis itu dulu masih kehilangan ingatan. Teeza dulu duduk di samping gubuknya dan menanyakan apa yang sedang Ramir lakukan dengan tombak kayunya. Gadis itu kini bertanya pula, “Peralatan penyembuhanmu sudah lengkap?”
“Ya. Air dan daun, itu saja yang penting.”
Teeza mendongak ke atas bukit, ke tempat Naia dan Fares duduk, lalu menghela napas pelan. “Mereka berpisah besok, kau tahu?”
“Ya, sepertinya begitu.” Ramir menjawab datar sambil memasukkan botol ke kantong kulitnya, berusaha tidak menunjukkan pera-saannya. “Putri Naia akan pergi ke Kubah Putih, sedangkan Fares, mungkin kembali ke utara bersama Isfan dan Zandi, atau mungkin ikut Yang Mulia Javad ke Awan, untuk menggantikan posisi Mehrdad. Mmm … itu yang kudengar, dari Rifa. Bisa saja salah …”
Teeza mengangguk. “Javad menginginkan Fares menjadi kaptennya. Karena perang belum usai, dan Sargon pasti akan kembali menyerang suatu hari nanti. Akkadia tidak akan berhenti di sini, mereka akan terus mencari cara melewati Gerbang Sungai Tigris. Lalu, Awan juga harus menghadapi ancaman dari negeri-negeri Elam lainnya, yang kemarin mengkhianati Javad. Persekutuan sudah buyar, jadi keadaan akan lebih buruk, dan itulah kenapa Javad membutuhkan Fares. Tetapi, walaupun menarik, aku ragu Fares bakal menerima tawaran itu. Kurasa ia lebih memilih pergi ke tempat lain. Mungkin ikut denganmu, Ramir.”
“Ya, sepertinya begitu.” Ramir termangu. “Rifa sebenarnya sudah menawarkan diri terlebih dulu. Ia ingin ikut denganku. Kau tahu, ia memang tidak terlalu suka tinggal di istana. Baguslah, jika memang Fares juga mau ikut. Tetapi ... belum tentu juga, bukan?”
“Betul, belum tentu. Tapi, bagaimanapun … semoga berhasil, Ramir.” Teeza menatap dalam-dalam. “Mudah-mudahan akhirnya kau menemukan apa yang kau cari, semuanya.”
“Ya, itu tugasku, ya?” tukas Ramir, “sebagai Sang Pencari Ilmu?”
Teeza tertawa. “Begitulah.”
Ramir sebenarnya masih belum nyaman dengan statusnya saat ini, dan karenanya berkata, “Soal itu, karena kau adalah Sang Penjaga Ilmu, mestinya aku bisa belajar saja darimu, bukan?”
Teeza meringis. “Aku bisa mengajarimu beberapa hal. Tetapi percayalah, yang kuketahui hanya sedikit. Ada banyak hal di luar sana yang belum kita tahu, yang harus kau cari. Semua manusia pada dasarnya adalah pencari ilmu, Ramir, tetapi, mungkin kau diberkati sesuatu yang membuatmu harus mencari lebih banyak dibanding orang lain. Dan kau harus melakukan itu, karena bisa jadi masalah yang bakalan kita hadapi di masa datang jauh lebih besar.”
“Lebih besar?”
“Kau tahu, selain soal peperangan, kita juga harus waspada dengan makhluk-makhluk seperti Nergal dan Ishtar. Mereka pernah membuat rencana busuk, dan pasti akan membuat rencana lagi nanti, yang lebih licik,” Teeza menukas, tapi lalu tersenyum lebar. “Semoga saja tidak. Tetapi seandainya benar, aku harap kita sudah siap.”
Ramir menggaruk-garuk kepalanya. “Sebenarnya, selain mencari Toulip, aku belum tahu apa yang mau kucari. Kurasa aku akan mengikuti kata hatiku saja. Aku akan mencari tahu siapa sebenarnya ayahku, ibuku, kakekku Haladir. Seperti apa mereka di masa lalu. Dari sana mungkin aku akan mendapatkan sesuatu, yang … aku tak tahu, mungkin penting.”
__ADS_1
“Carilah, Ramir. Ke mana pun. Apa pun itu. Penting atau tidak penting, ambil semuanya. Itu bagian dari hidupmu. Kenali masa lalu, maka kau akan tahu siapa dirimu, dan setelah itu apa tujuan hidupmu.”
“Ah, kalau mengikuti keinginanku, aku ingin pergi ke banyak tempat! Aku ingin kembali ke desa, berbincang dengan kakekku. Oh, ia pasti rindu, dan suka mendengar ceritaku. Lalu ... aku dulu pernah berjanji untuk pergi ke utara, menemui Airi. Mmm … dia gadis kecil yang pernah menolong Rifa.”
“Saranku, jangan.” Teeza menggeleng. “Lebih baik kau jangan dulu pergi ke barat, paling tidak untuk setahun atau dua tahun ini, atau sampai keadaan benar-benar aman. Kalau kau sampai tertangkap orang-orang Akkadia, bisa berbahaya.”
“Ya, aku tahu.” Ramir mengangguk sedih.
“Kau juga akan mampir ke Kubah Putih?”
“Mmm … tidak, kurasa tidak.”
“Kenapa? Bukankah kau adalah Sang Terpilih?” Teeza menyeringai lagi, menggoda.
“Hah, bukannya itu kau, Teeza?” balas Ramir. “Kata Davagni kaulah Sang Terpilih. Mestinya kau yang pergi ke Kubah Putih!”
Teeza tertawa. “Ya, ya. Sang Terpilih, Penerus Pusaka, Penjaga Ilmu. Apa lagi? Betapa banyak istilah-istilah itu, dan semuanya untukku?”
“Hmm, kalau untukmu, pada akhirnya semua istilah itu sama saja, kan? Yang membedakan hanya orang-orang yang memberi nama. Sang Terpilih istilah dari Kubah Putih, Penerus Pusaka dari orang-orang Kaspia, Penjaga Ilmu dari Kalyx. Tapi artinya sama. Beda denganku. Sang Terpilih, Ahli Waris Gerbang, Pencari Ilmu; semuanya punya arti yang berbeda dan tidak terkait satu sama lain.”
Teeza menggeleng, lalu tersenyum lagi. “Pada akhirnya, yang penting adalah apa yang kita lakukan, bukan hanya siapa diri kita. Jadi, sama sepertimu, Ramir, kurasa aku tidak akan pergi ke Kubah Putih. Ya, mungkin saja nanti, tetapi aku tak yakin. Jalanku berbeda, kurasa, walaupun mungkin tujuannya sama.”
Ramir termangu. “Kau jadi ke utara? Ke negerimu yang jauh?”
“Ya.” Teeza mengangguk.
“Apa yang kaucari?”
“Rumah.” Teeza menerawang jauh ke arah lembah. “Kenangan. Kedamaian.”
“Tidak. Sekarang.”
Kali ini Ramir tertegun. “Sekarang?”
Teeza menoleh. “Ya, aku akan pergi sekarang.”
“Ke—kenapa?”
“Karena lebih cepat lebih baik.” Teeza memandangi Ramir beberapa lama. “Kenapa, Ramir? Kau tidak senang dengan rencanaku?”
“Aku hanya … tidak mengerti ...”
Teeza tersenyum. “Hanya itu yang kaurasakan?”
“Kenapa tidak besok, Teeza?” Ramir mengelak. “Seperti Putri Naia, Fares atau yang lain? Mereka pergi besok. Kita akan punya waktu satu hari lagi untuk berkumpul, dan berbincang, sebelum kita berpisah.”
“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa?!”
“Apakah hanya itu yang kaurasakan?”
“Aku … aku tidak senang kita semua berpisah!”
__ADS_1
“Kita semua?”
“Ya! Aku, kau! Aku tidak senang …” Ramir menghela napasnya lambat-lambat, “… berpisah denganmu!”
Teeza balas menatap pemuda itu lekat-lekat. “Aku juga tidak, jika ini adalah perpisahan.”
“Lalu kenapa kau pergi?”
“Karena aku tidak menganggap ini sebagai perpisahan.”
Ramir tercenung. “Maksudmu?”
“Ini hanya awal, bukan akhir. Semakin cepat dimulai, semakin cepat tujuanku tercapai, dan semakin cepat pula aku bisa melanjutkan ke tujuan berikutnya.”
Ramir menggeleng, belum mengerti. “Tetapi apa bedanya satu hari, Teeza? Kenapa tidak mau menunggu, satu hari saja, sampai besok?”
Teeza tersenyum sekali lagi. “Karena aku lebih tertarik membayangkan apa yang bisa kulihat di akhir perjalananku nanti.”
“Apa?”
“Sepuluh tahun lagi. Di sini.”
“Apa yang ingin kau lihat nanti? … Siapa?”
“Menurutmu?” Teeza balik bertanya.
Ramir membalas tatapan gadis itu beberapa saat, kemudian tersenyum. “Kau ingin melihatku, Teeza? Sepuluh tahun lagi?”
Keduanya terdiam.
Lalu Ramir berseru, “Sepuluh tahun terlalu lama! Bagaimana jika lima tahun? Aku sudah cukup besar lima tahun lagi!”
“Ya, pastinya begitu.” Teeza tertawa kecil. “Tetapi, apakah kau … juga ingin melihatku nanti? Kau mau menungguku?”
“Apa lebih baik aku saja yang mendatangimu ke utara, Teeza?”
“Jangan. Tunggu saja aku.”
“Baik.” Ramir mengangguk mantap. “Aku akan menunggumu. Setiap tahun, lima tahun dari sekarang. Kau mungkin tidak akan datang di tahun pertama, maka aku akan datang dan menunggu lagi di sini, di tahun kedua. Lalu jika kau tidak datang juga, aku akan menunggu lagi di tahun ketiga. Dan seterusnya. Di tahun kelima, sepuluh tahun dari sekarang, jika kau tetap tidak datang, maka akulah yang akan pergi. Mencarimu ke utara, dan kau tak bisa menolak.”
“Setuju.”
“Ah! Aku tidak sabar!”
Teeza tertawa lagi. “Jalani hidupmu apa adanya, Ramir. Nikmati perjalananmu. Kita tetap tak tahu apa yang akan terjadi. Lima tahun lagi, mungkin saja kau sudah lupa padaku, dan jika kau tak lagi mau menungguku, aku paham.” Teeza memeluk Ramir dengan lembut, kemudian melepaskannya. “Selamat tinggal.”
Gadis itu berdiri, bersiap pergi.
Ramir menahan emosinya, lalu ikut berdiri sambil menggeleng.
“Tidak,” katanya. “Sampai jumpa lagi. Dan jangan khawatir, aku akan menunggumu.”
__ADS_1