Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 67 ~ Kegagalan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 67 ~ Kegagalan


Karya R.D. Villam


 


---


 


Tiga perintah Sargon kepada Rahzad yang disampaikan melalui Arphal bukanlah perintah yang menyenangkan. Teeza bisa langsung merasakannya. Rahzad tidak akan suka jika dianggap gagal sebagai pemimpin pasukan, setelah semua pencapaian yang ia dapat sebelum ini.


Sang panglima menatap tajam laki-laki di depannya yang semestinya menjadi bawahannya itu, dan bertanya dengan suara keras, “Yang Mulia memberikan alasan kenapa ia menyuruhku kembali ke Akkad sekarang?”


“Tidak, Jenderal.” Arphal menggeleng. “Dia tak mengatakan apa-apa. Mungkin Anda bisa langsung menanyakannya nanti setelah bertemu dengan beliau.”


Rahzad terus menatap kapten muda itu tanpa berkedip, seolah ingin menelannya bulat-bulat. Teeza yakin, jika mau Rahzad bisa langsung menebas leher Arphal sekarang juga untuk melampiaskan kekesalannya.


“Kau yakin, Kapten?” tanya Rahzad geram. “Kau sadar apa yang kau lakukan ini? Kau tahu resiko apa yang bakal kau hadapi, jika nanti terjadi apa-apa di sini?”


“Aku sadar, Jendral,” jawab Arphal. “Aku harap Anda tak salah mengerti. Aku hanya menjalankan perintah. Jika Anda nanti datang lagi dengan perintah baru dari Yang Mulia, pasti aku akan melaksanakannya dengan senang hati. Aku prajurit yang loyal.”


“Baik.” Walaupun masih kesal tampaknya Rahzad sadar ia tak bisa berbuat apa-apa. “Aku pergi sekarang, jika memang itu benar perintah dari Yang Mulia.”


Arphal mengangguk. “Akan kusiapkan beberapa prajurit untuk menyertai Anda.”


“Tidak perlu. Sesuai perintah tadi, seluruh prajurit harus bertahan di sini, bukan?” Rahzad menyindir. “Lagi pula aku bisa lebih cepat sampai ke Akkadia bersama barionku. Para prajurit hanya akan menghambat perjalananku.”


“Biar kusiapkan makanan untuk kalian,” sahut Arphal.


Saat Teeza dan Rahzad keluar dari dalam rumah matahari baru saja terbenam. Setelah menerima sekantong kecil buah-buahan dan sebotol air minum, keduanya bersiap untuk berangkat. Namun baru saja mereka hendak meninggalkan desa, terdengar suara memanggil.


“Jenderal Rahzad, tunggu!”


Aragro berhenti. Rahzad dan Teeza menoleh. Seorang lelaki berjubah perwira berlari mendekat. Senyumannya lebar. Teeza mngenalinya. Itu Kapten Ibbsin.


“Jenderal! Kapten! Senang melihat kalian berdua selamat!” kata orang itu.


“Aku senang melihatmu juga, Ibbsin. Bagaimana pasukan kita?” balas Rahzad.

__ADS_1


“Seperti yang Anda lihat, kini tinggal seribu orang.”


Rahzad mengangguk kecil. “Untuk kekalahan yang kita alami tiga hari lalu, kesalahan ada padaku. Mungkin aku yang harus meminta maaf pada kalian semua, jika kalian membutuhkan maaf itu.”


“Jangan khawatirkan hal itu, Jenderal. Pasukan kita kalah, tetapi mereka yang hidup tetap kuat dan bersemangat. Sedangkan untuk mereka yang mati, dewa-dewa pasti akan memberikan tempat yang layak bagi mereka.”


“Aku senang mendengarnya.”


“Tetapi Anda baru saja datang, lalu hendak pergi lagi?” tanya Ibbsin heran.


“Aku harus ke Akkad, menemui Yang Mulia Raja,” jawab Rahzad datar.


Ibbsin menggeleng penuh sesal. “Aku sudah tahu akan seperti ini jadinya.”


Dahi Rahzad berkerut. “Apa maksudmu?”


“Saat ia datang bersama pasukan cadangan, Kapten Arphal langsung mengendalikan semuanya. Ia mengaku mendapat perintah langsung dari Yang Mulia Raja. Kami, para prajurit yang sudah ada sejak awal, tidak menyukai dia. Ketergesa-gesaannya membuat ribuan prajurit terbantai kemarin malam. Cara kematian kami semalam itu berbeda jauh dibanding cara kematian kita dulu saat pertempuran besar. Kematian yang bodoh dan tanpa hati! Nyawa terbuang sia-sia. Kami tidak bisa menolak, tetapi terus terang kami berharap Anda muncul dan mengambil alih pasukan. Namun desas-desus sudah beredar bahwa Anda dicopot dari jabatan panglima. Jadi jika Anda datang, Anda akan langsung disuruh pulang.”


Teeza memperhatikan wajah Rahzad yang sepertinya semakin gelap dalam gelap petang, campuran antara marah dan malu.


“Kau percaya desas-desus itu?” sang panglima bertanya.


“Kuharap begitu,” gumam Rahzad. “Perang dengan Elam justru baru dimulai. Aku tidak ingin para prajuritku dipimpin oleh bocah yang tak paham berperang.” Ia memandang beberapa prajurit yang berdiri di sekitarnya. Mereka pasti bisa mendengar sindirannya, dan mungkin akan langsung menyampaikannya kepada Arphal. Tetapi Rahzad tampak tidak peduli.


“Anda punya rencana apa, Jenderal?” tanya Ibbsin.


“Aku terpikir sesuatu. Kemarilah.”


Ibbsin mendekat ke samping Aragro. Rahzad membungkukkan badan, dan membisikkan sesuatu pada kaptennya itu. Mendengarnya, wajah Ibbsin langsung membeku. Teeza berusaha menajamkan indera pendengarannya, tetapi suara bisikan sang panglima terlalu tipis untuk didengar, atau memang tidak banyak yang diucapkan.


“Begitulah, Ibbsin,” kata Rahzad. “Jika terjadi sesuatu yang berbahaya, aku berharap kau segera bertindak, sesuai perintahku.”


Awalnya Ibbsin terpana seolah tak pecaya, tetapi kemudian ia setuju tanpa syarat.


Perjalanan dilanjutkan. Teeza coba bertanya, apa sebenarnya yang dibisikkan Rahzad kepada Ibbsin. Namun Rahzad tak mau menjawab, dan memilih untuk memacu terus barionnya.


Mereka sampai di celah sempit di antara dua tebing, yang telah dipenuhi ribuan mayat yang bertumpuk-tumpuk, baik prajurit Akkadia maupun Elam. Untuk menghindarinya Rahzad membawa Aragro mendaki hingga ke puncak bukit, untuk berjalan di atas sana.


Namun di tempat itu pun sudah penuh pula dengan tumpukan tubuh manusia tak bernyawa, walau lebih sedikit dibandingkan dengan yang di bawah tebing. Teeza sudah terbiasa melihat mayat dan kematian. Sejak dulu tangannya selalu penuh dengan noda darah. Namun membayangkan ribuan orang terbentang kaku dari timur hingga ke barat membuatnya merinding tak tertahan. Perang selalu mengerikan. Dan ia menjadi bagian dari perang tersebut.


Aragro melompat menuruni tebing dengan lincahnya. Hentakan di punggungnya membuat Teeza tersadar dan berpegangan pada pinggang Rahzad. Mereka telah melewati lembah dan kini mulai menyusuri tepi hutan di sebelah kanan mereka, menjauh dari bau busuk, terus menembus kegelapan malam. Hening. Hanya dengusan Aragro yang terdengar.

__ADS_1


Hingga suara itu datang.


Desingan benda berat datang ke arah mereka.


Panahkah itu?


Tangan Teeza turun ke pinggang, lalu tersadar, ia tidak membawa belati. Ia tidak punya senjata apa pun untuk menangkis! Sepanjang perjalanan Rahzad tak mau mengambil resiko memberinya senjata yang mungkin akan dipakai Teeza untuk membunuhnya.


Untungnya Rahzad bereaksi cepat. Pedang besarnya terayun menangkis. Dentingan keras terdengar. Benda asing yang menyerang mereka berputar-putar di udara.


Bukan panah, tetapi belati! Kecil dengan panjang tak lebih dari sejengkal.


Dan itu baru permulaan.


Belati-belati berikutnya datang dari segala penjuru. Aragro melolong lalu berlari zig zag menerobos semak belukar serta menghindari batang dan ranting-ranting pohon. Rahzad mengayunkan pedangnya untuk menghalau hujan belati, yang seolah datang dari penyerang yang ada di setiap pucuk pepohonan. Teeza hanya bisa meringkuk ngeri di belakang punggung lelaki itu. Belati-belati tajam terlempar dan tercerai-berai ke segala arah, tetapi Teeza tahu punggungnya adalah sasaran paling empuk. Ia berharap Aragro bisa secepatnya membawa mereka kabur dari hutan ini.


Hanya harapan. Mendadak, lari barion itu terhenti, seperti menabrak sesuatu. Raungan kerasnya terdengar. Rahzad dan Teeza terlontar ke depan.


Sesaat Teeza kehilangan akal, tetapi di udara Rahzad merangkul pinggangnya dengan tangan kiri. Lelaki itu mendarat mantap di tanah.


Napas Teeza tertahan saat melihat Aragro. Belasan tombak tertancap di wajah dan leher hewan raksasa itu. Puluhan tombak lainnya rontok dan patah di bawah kakinya akibat diterjang barion berkulit tebal itu. Aragro meraung penuh amarah mempertontonkan sepasang taring tajamnya. Belasan tombak yang menembus lehernya tak cukup untuk membunuhnya. Dipandu naluri membunuhnya ia melompat, menerobos semak belukar di sebelah kanan untuk mencari musuhnya.


“Kita sengaja dipancing dan diperangkap di sini.” Rahzad menggeram. “Ambil senjata apa pun yang bisa kaupakai, Teeza. Aragro mungkin tak bisa bertahan lama, kita harus menyusul—”


Belum sempat kata-katanya selesai, serangan belati kembali datang.


Teeza melompat dan berguling, meraih dua tombak patah yang tergeletak di tanah, lalu bangkit menghalau setiap belati yang melayang ke arahnya. Rahzad lebih agresif. Begitu menemukan satu titik penyerangnya di atas salah satu pohon, lelaki itu langsung melesat ke udara, menjejak beberapa kali, lalu mengayunkan pedangnya. Dua batang besar terpotong seketika, rontok, dan sesosok tubuh berpakaian serba hitam ikut terjatuh bersamanya.


Teeza tak bisa mengenali orang itu, karena sebagian wajahnya tertutup kain hitam. Tampaknya orang itu pun tidak terluka. Dengan kelincahan seperti macan kumbang, orang berpakaian hitam itu menjejak tanah dan mencabut sepasang pedang dari balik punggungnya. Teeza ingin balik menyerang, tetapi serangan belati ke arahnya masih belum berhenti.


Orang itu mungkin memang jatah Rahzad. Sang panglima sudah turun dari atas pohon dan langsung mengayunkan pedang besarnya. Musuhnya berusaha menangkis dengan kedua pedang, tetapi malah terlempar jauh tak mampu menahan kekuatan Rahzad.


Seketika, muncullah bayangan-bayangan hitam lainnya.


Satu, dua, tiga, sepuluh. Lebih dari sepuluh!


Teeza menggeram. Marah bercampur takut. Sepertinya musuh-musuhnya kali ini bukan orang sembarangan, dan mungkin ia tidak akan bisa lolos lagi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2