
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Epilog (2) ~ Sang Pelindung
Karya R.D. Villam
---
Teeza memejamkan matanya, dan berharap bahwa angin yang datang kepadanya memang menjadi pertanda bahwa doanya baru saja dikabulkan. Betapapun anehnya itu. Ia menunggu sampai tiupan angin reda, dan membiarkan butir-butir salju menerpa tubuhnya, yang semestinya dingin, tetapi anehnya tidak terasa lebih dingin dibandingkan dengan air.
Tanpa ia duga siulan angin itu tiba-tiba berubah menjadi kata-kata lembut.
“Aku pun selalu berharap bisa bertemu denganmu ...”
Teeza tersentak dan cepat-cepat membuka matanya. Napasnya tertahan begitu ia melihat sosok aneh di depannya. Butiran-butiran salju yang tadi menyelimuti tanah seolah dikendalikan oleh angin dan kini membentuk sosok tubuh laki-laki yang tengah duduk bersila, menutupi tiang batu. Wajahnya tidak terbentuk jelas, tetapi rasa hangat yang menyelimuti Teeza membuat ia yakin, bahwa sosok tersebut tak lain adalah perwujudan roh ayahnya. Mungkin.
Untuk beberapa saat Teeza hanya bisa terdiam dengan tegang. Ia kemudian menjawab, untuk lebih menyakinkan dirinya, terbata-bata, “A—Ayah ... apakah ini dirimu?”
Mulut yang terbuat dari salju itu bergerak menjawab, “Ya, ini aku.”
Teeza terpana. Pikirannya seolah semakin beku. Jika memang benar Tuhan mengabulkan keinginannya, tentunya ia gembira luar biasa. Namun di sisi lain tiba-tiba rasa takutnya timbul. Jangan-jangan ini hanyalah tipuan belaka yang entah dibuat oleh siapa.
Tetapi kemudian ia berusaha menepis keraguan itu. Kenapa ia harus tidak percaya? Pengalaman membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh hatinya biasanya adalah sesuatu yang benar. Dan hatinya saat ini mengatakan bahwa memang benar sosok itu adalah ayahnya.
“Kau tidak percaya, anakku?” sosok itu bertanya.
Ya, pasti dia. Itu suara ayahnya. Teeza tak mungkin lupa bahkan setelah berpuluh-puluh tahun. Ia pun tersenyum. Air matanya kembali mengalir. Ia menjawab lirih, “Aku percaya ini adalah dirimu, Ayah. Dan seandainya bisa ... aku sangat ingin memelukmu ...”
Sang sosok bersalju membalas senyumannya. Butiran-butiran salju yang membentuk kedua tangannya terangkat, kemudian terentang lebar.
“Kalau begitu kenapa tidak kau lakukan?”
Mendengarnya, Teeza tak mau menahan dirinya lagi. Ia langsung melompat dan memeluk sosok ayahnya, dan membenamkan wajahnya di dada bidang si laki-laki salju.
Laki-laki itu membalas pelukannya. Dada Teeza bergejolak kencang saat ia melepaskan seluruh rasa rindu di hatinya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Lama kemudian baru ia melepaskan pelukan itu, sambil menyeka air mata dari pipinya. Ia memandangi lekuk mata di wajah si sosok salju, dan berkata dengan bibir bergetar, “Terima kasih, Ayah, telah bersedia menemuiku.”
“Aku memang telah menunggumu,” sosok itu menjawab.
“Benarkah?” tanya Teeza, sedikit heran. Ia terdiam beberapa saat, sebelum bertanya, “Sejak kapan?”
“Sejak kau meninggalkanku di sini, kurasa ...” Sosok salju itu kemudian menggeleng. “Ah, tidak, tentu saja bukan begitu. Sejak aku meninggalkanmu, lebih tepat begitu.”
Berbagai perasaan campur aduk memenuhi benak Teeza. Kesedihannya kembali datang.
__ADS_1
“Oh, Ayah, aku memohon ampun. Kejadian dulu itu, aku baru saja mengerti apa yang terjadi, dan aku ...”
Si laki-laki salju menggeleng perlahan. “Kau tak perlu memikirkan semuanya lagi, anakku, percayalah. Apa yang sudah terjadi, baik atau buruk, biarlah berlalu. Tak perlu lagi ada rasa dendam, tak perlu lagi ada rasa sesal ... atau bersalah.”
“Aku ... sudah pernah mengerti, Ayah ... kuharap begitu.”
“Ya. Karena sekarang ...” ‘Mata’ di wajah salju itu seolah menatap lurus ke arah Teeza tanpa berkedip. “... lebih penting bagimu untuk tahu apa yang harus kaulakukan setelah ini.”
“Maksud Ayah?” tanya Teeza tak mengerti.
“Pertama, mari kita temui dulu pelindungmu.”
“Pelindungku ...?”
“Ya. Biarkan ia memunculkan dirinya.”
“Tapi ...” Teeza menggeleng ragu, “siapa yang kaumaksud?”
Senyum lembut tersungging di wajah salju. “Kau tidak tahu kau siapa pelindungmu? Sosok lain, selain Tuhan, yang muncul membantumu di saat kau sangat membutuhkan bantuan? Kau tidak tahu?”
Teeza tahu. Atau entah bagaimana ia bisa merasakannya, lebih tepatnya. Tapi ...
Kepala ayahnya menggeleng perlahan. Butir-butir salju melayang lembut di sekitar wajahnya. “Kurasa kau pasti sudah tahu, anakku. Tetapi entah kenapa kau tidak bisa mengatakannya. Kenapa? Ada sesuatu yang belum bisa kau percaya?”
Teeza menggeleng, tiba-tiba merasa malu. Potongan-potongan peristiwa itu muncul lagi di kepalanya, kejadian ketika ia bertempur melawan Nergal, yang sebenarnya sudah cukup lama ia lupakan. Makhluk terkutuk itu menunjukkan rasa takut saat melihat sosok lain di belakang Teeza, atau di atasnya, atau entah di mana. Teeza tidak pernah yakin, karena ia memang sama sekali tidak melihat bisa makhluk lain itu. Apakah sosok tersebut yang dimaksud? Ya, pasti benar dia, ia tahu, karena jawaban itulah yang dimunculkan oleh hatinya.
Suara tawa kecil ayahnya terdengar. “Kau hanya cukup meminta bantuan, pada Tuhan, maka sang pelindung itu akan datang membantumu. Bukankah seperti itu dia dulu datang padamu?”
Teeza berusaha mengingat-ingat. “Ya ...”
“Tetapi betul, kau memang perlu tahu namanya. Dan saat ini kurasa ia akan datang jika kau panggil. Mihael. Mungkin itu bukan nama aslinya, tapi panggillah dia dengan nama itu. Dia akan datang.”
Teeza menggeleng. “Kenapa bukan Ayah saja yang memanggil? Ayah lebih tahu soal dia, soal semuanya, benar? Ayah lebih mengenal dia ...”
“Tidak, Teeza. Kau, yang harus melakukannya.”
Jawaban ayahnya tegas, sama seperti kata-kata yang dulu biasa Teeza dengar ketika ayahnya masih hidup berpuluh-puluh tahun yang lampau. Dengan patuh Teeza mengangguk.
Seraya menguatkan hati ia menundukkan kepala dan membuka kedua telapak tangannya ke atas, berdoa.
Pada akhir doanya Teeza berkata, ”Mihael, pelindungku, pelindung keluargaku, kumohon datanglah, seperti saat kau dulu datang untukku.”
Ia menunggu. Menunggu angin yang mungkin akan datang bertiup, atau butir-butir salju yang mungkin akan beterbangan dan ... entahlah ... memberi pertanda lainnya.
Namun setelah beberapa lama Teeza tidak melihat tanda-tanda itu.
Ia pun memandangi sosok salju ayahnya dengan tatapan bertanya-tanya. “Apakah cukup doaku yang seperti itu? Kurasa dia tidak mau menjawab panggilanku.”
Ayahnya tersenyum. “Dia mendengarnya, dan dia sudah datang.” Ia mendongak, menatap sesuatu di belakang kepala Teeza, lalu menunduk memberi hormat. “Salam, Mihael.”
__ADS_1
Serta merta Teeza merinding. Cepat-cepat ia menoleh ke belakang, tetapi seketika itu juga cahaya terang menyilaukannya. Ia terpaksa langsung memejam dan membawa lagi wajahnya menoleh ke depan. Dalam gelap jantungnya berdebar-debar, dan kepalanya pusing beberapa saat.
Tak lama, barulah ia memberanikan diri membuka mata dan memandang sosok putih ayahnya.
Sosok salju itu berkata, “Suatu waktu nanti, kau akan bisa melihatnya lagi tanpa perlu merasa silau.”
Teeza menggeleng-geleng penasaran. “Tetapi, Ayah, dulu ... kenapa tidak ada cahaya sama sekali?”
“Mungkin ada, hanya saja kau tidak melihatnya.”
“Aku ingin melihatnya seperti Ayah melihatnya.”
“Nanti, anakku. Nanti ...”
Teeza termangu. Ia belum puas dengan jawaban itu dan percaya bahwa ayahnya sebenarnya bisa menjelaskan dengan lebih baik. Namun akhirnya ia mengangguk dan menerima semuanya tanpa lagi bertanya-tanya. “Ya, Ayah, aku mengerti. Sekarang, setelah dia datang, apa yang harus kulakukan?”
“Ah, yang harus kaulakukan ... ya ...” Kini ganti sosok salju itu yang termenung, selama beberapa saat seolah memikirkan sesuatu, atau malah mengkhawatirkan sesuatu.
Teeza memandanginya dengan jantung kembali berdebar, menunggu.
Sang Ayah melanjutkan, “Yang akan kaulakukan nanti bukan sesuatu yang mudah. Berbahaya, dan belum pernah dilakukan manusia lain sebelum dirimu. Tetapi kau harus melakukannya. Sendirian, tanpa bantuan orang lain. Mihael akan menunjukkan jalannya, tapi hanya sejauh itu. Setelah itu kau yang harus melakukan semuanya sendiri.”
“Jelaskanlah, Ayah.”
“Kau tahu, bagaimana rakyat kita biasanya membicarakan tentang keluarga kita? Tentang pengetahuan atau kekuatan tersembunyi yang mungkin ada padaku, dan suatu hari nanti akan diturunkan pada anakku?”
Teeza teringat hal itu, pada ucapan Niordri, atau Rahzad, saat keduanya berada di Akkad. Nirodri berkata bahwa kekuatan itu ada dan diwariskan pada Teeza, di mana gadis itu baru setengah percaya. Ia mengangguk perlahan, tapi berkata dengan ragu, “Kekuatan itu mewujud dalam sosok pelindungku, bukan? Dalam diri Mihael? Ayah mewariskan Mihael padaku, hingga akhirnya aku bisa mengalahkan musuhku melalui kekuatannya. Benar ... begitu?”
“Bukan. Mihael melindungi keluarga kita hanya untuk sementara waktu,” jawab ayahnya. “Sampai kita mendapatkan berkah atau pengetahuan sesungguhnya yang memang diperuntukkan bagi kita, sebagai balasan atas pengabdian kita pada Sang Pencipta. Aku tak bisa bilang lebih jauh apa pengetahuan itu, karena aku juga tidak tahu. Tetapi itu ada. Dan Mehael bilang,” ia melirik cahaya terang di belakang Teeza, “waktunya di sini sudah cukup. Dia harus pergi.”
“Pergi?” Teeza menggeleng, ragu sekaligus tidak puas. Selama bertahun-tahun makhluk tak tampak mata itu ada bersamanya, dan selama ini, seingat-nya, baru sekali dia muncul untuk membantunya, yaitu saat ia menghadapi Nergal di dalam Gua Gharoul. Dan kini dia sudah hendak pergi lagi? ”Memangnya ... sudah berapa lama dia bersama keluarga kita?”
“Lebih dari ratusan tahun. Dia sudah ada sejak bangsa kita mulai menetap di tepi Laut Kaspia, selepas banjir besar.”
“Oh ...”
“Dan selama itu pula leluhur-leluhur kita mencoba mendapatkan pengetahuan itu, dan gagal.”
“Apa yang mereka lakukan?”
“Mereka menyelam ke dasar Laut Kaspia. Mencari. Sebagian lalu menyerah tanpa mendapatkan apa pun, dan sebagian lainnya hilang tenggelam. Tak ada satu pun yang berhasil.”
Napas Teeza tertahan mendengar cerita terakhir ayahnya. Ia menelan ludah gugup. “Maksud Ayah, pengetahuan yang harus dicari itu ... ada di dasar sana?” tanyanya sambil menoleh ke arah danau es yang tampak di balik rimbun pepohonan.
“Ya. Dan sekarang kau yang harus mencarinya.”
__ADS_1