Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Epilog (3) ~ Danau Es


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Epilog (3) ~ Danau Es


Karya R.D. Villam


 


---


 


“Sekarang kau yang harus mencarinya.”


Teeza menggeleng bingung, dan juga takut, begitu mendengar jawaban ayahnya itu.


Reaksi pertamanya adalah mencoba membantah. “Tapi ... kenapa bukan Ayah yang dulu mencarinya? Ayah pasti bisa. Ayah perenang yang hebat! Dan lebih baik dalam segala hal dibandingkan aku! Kenapa … harus aku?”


Wajah salju di hadapannya berubah murung. “Aku sudah pernah mencobanya, Teeza. Mencari ilmu itu sampai jauh ke tengah Laut, dan dalam sekali. Aku termasuk yang tak bisa melihat apa pun, tetapi bisa kembali dengan selamat. Adikku, atau pamanmu, juga pernah mencoba, tapi ia termasuk yang hilang. Tentu saja, saat ia hilang aku hanya bilang pada rakyat kita bahwa ia hilang saat mencari ikan. Tak mungkin aku membocorkan tentang hal ini pada semua orang. Jadi rahasia ini tetap terjaga.”


“Bagaimana dengan Abang? Apakah ia pernah mencoba?”


“Kakakmu lebih dulu meninggal dalam perang tak lama setelah aku mati. Kau ingat?”


Teeza memandangi wajah ayahnya yang tampak sedih, sesaat merinding, karena tiba-tiba tersadar bahwa sosok yang ada di hadapannya itu sebenarnya sudah lama mati juga, tidak lagi berjasad dan hanya tinggal rohnya. Roh yang benar-benar tahu lebih banyak daripada Teeza. Kekhawatirannya pun kembali tertutup oleh rasa sedih, dan air matanya mengalir sekali lagi.


Ia mengangguk, dan berusaha tersenyum. “Aku ingat apa yang terjadi. Dan aku … akan melakukannya, Ayah ...”


“Maafkan aku, anakku, memintamu melakukan ini sekarang. Mehael tidak menjelaskan kenapa ia harus pergi, tetapi kita memang tidak pada tempatnya bertanya-tanya, dan kurasa kurang lebih aku juga sudah tahu kenapa. Keluarga kita sudah diberi kesempatan selama beratus-ratus tahun untuk mengambil pengetahuan itu, tetapi tidak pernah berhasil. Mungkin, karena memang sebenarnya tidak sembarang orang yang bisa menemukannya. Hanya mereka yang benar-benar mendapat izin dari-Nya. Bahkan aku pun tidak termasuk. Sekarang, hanya tinggal kau satu-satunya harapan kami yang tersisa. Lebih dari itu, aku pun tahu, bangsa kita sudah pergi jauh dari tepi Danau Es, dari Laut Kaspia ini, dan kita tidak bisa lagi menjaga ini semua. Begitu bangsa lain datang menduduki tanah ini, kau tidak akan punya lagi kesempatan untuk melakukan pencarian ini. Waktumu, mungkin, hanya tinggal saat ini.”


“Aku mengerti ...” Teeza menjawab lirih.


“Tetapi di sisi lain,” senyuman tipis terukir di mulut salju ayahnya, “sebagai seorang ayah, aku juga tak ingin nasib buruk menimpa putriku. Kau satu-satunya anakku yang tersisa. Kesayanganku. Karenanya aku pun tak ingin memaksa. Cobalah, kau harus mencobanya, tapi pada saatnya nanti, jika kau merasa pencarianmu itu sudah menjadi sangat berbahaya, jangan memaksa diri. Kembalilah ke permukaan dan selamatkan dirimu. Kemudian berdoa, semoga di lain waktu kau bisa mendapat kesempatan berikutnya. Pada akhirnya, bagiku, dirimu tetaplah lebih penting daripada semua pengetahuan dan hal lain yang berharga di muka bumi.”


“Iya, Ayah ...” Teeza mengangguk lagi sambil menyeka air mata yang bergulir di pipinya.


“Sekarang, pergilah ke tepi danau.”


Teeza menoleh, memandangi danau yang tampak di kejauhan, dan termangu bingung. “Tapi, di mana nanti aku harus mencari? Danau itu luas sekali.”


“Kau akan tahu setibanya di sana.”


Teeza menggeleng, kembali menatap ayahnya. “Aku belum ingin meninggalkanmu ...”


“Pergilah, Teeza.”


Teeza terus menatap wajah ayahnya tanpa berkedip. Kata-kata dari mulut manusia salju itu tegas, dan awalnya Teeza merasa sesak mendengarnya dan ingin memprotes. Namun kemudian ia tahu, seperti halnya dulu, selalu ada rasa sayang yang tersembunyi di balik suara dan wajah keras ayahnya, yang kini bahkan terlihat sangat dingin di dalam butiran-butiran salju. Teeza percaya hal itu, apalagi saat senyuman tipis ayahnya kembali terbentuk.


“Aku tidak benar-benar meninggalkanmu, anakku,” kata ayahnya lembut. “Kau tahu.”


Teeza mengangguk. Ia mencoba untuk kembali tersenyum. Bibirnya bergetar. “Aku juga tidak akan meninggalkanmu.”

__ADS_1


Angin bertiup, dan kali ini menjadi penutup perjumpaan Teeza dengan ayahnya. Salju tebal yang sebelumnya membentuk menjadi tubuh ayahnya terurai menjadi butiran-butiran kecil bagai debu dingin yang lalu terbang berputar-putar tertiup angin. Teeza kembali menangis, tetapi kali ini lebih karena bahagia, karena ia tahu, walaupun singkat ia telah diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan ayahnya.


Ia berdiri, tercenung beberapa saat, kemudian memantapkan niatnya dan melangkah meninggalkan tempat itu. Langkah awalnya lambat, tetapi begitu hatinya mulai tenang ia berjalan semakin cepat. Ia bergegas menuruni bukit bersalju, melewati rimbun pepohonan, tanah basah dan berbatu, hingga akhirnya sampai di tepi danau tempat tadi ia duduk termenung.


Di sana ia berdiri memandang jauh ke danau biru. Danau Es. Laut Kaspia.


Angin tak lagi bertiup, dan permukaan danau kini tenang hampir tanpa riak sedikit pun. Dalam hening Teeza mengedarkan pandangan dari bagian utara danau yang masih putih tertutup es sampai ke bagian selatan yang sudah lebih gelap tertutup bayang pegu-nungan. Matahari telah condong ke cakrawala barat. Ia paham, jika memang harus melakukan pencariannya hari ini, ia harus melakukannya segera sebelum terperangkap malam. Ayahnya tadi berkata, begitu sampai di tempat ini ia akan tahu harus pergi ke mana. Tapi ... ke mana?


“Mihael,” akhirnya ia berbisik. “Bukankah tadi ayahku berkata, kau akan memberi petunjukmu?”


Entah sejak kapan, Teeza tidak begitu memperhatikan, ia merasa tak ada lagi cahaya terang milik Sang Pelindung di belakangnya. Tetapi ia meyakinkan diri, sosok makhluk itu tetap ada bersamanya, dan ia percaya dia pasti akan membantunya.


Setitik cahaya bersinar di salah satu ujung danau. Sedikit ke utara, tak jauh dari kepingan-kepingan es tebal yang belum mencair. Teeza menyipitkan mata, berusaha meyakinkan diri bahwa cahaya itu bukanlah pantulan dari cahaya matahari di balik punggungnya.


Ya, sepertinya bukan. Ataukah ia keliru? Dan itu hanya pantulan cahaya biasa?


“Mihael ... apakah itu ...?”


Angin lembut membelai kulitnya.


“Ya. Di sana.”


Hatinya yang menjawab.


Tanpa ragu Teeza berlari, menyusuri tepian danau yang becek dan berbatu ke utara.


Ia melompati bebatuan, mendaki dan menuruni bukit. Matanya terus menatap ke arah danau yang putih membiru. Ia semakin yakin, karena walau sudut pandangnya terus berubah-ubah, titik cahaya itu sepertinya tetap tak bergerak di tempatnya, dan semakin dekat ia ke sana, tampaknya cahaya itu semakin terang.


“Mihael, tempat yang kau tunjukkan itu ada jauh di tengah danau,” ujarnya. “Bagaimana mungkin aku bisa sampai di sana?”


“Berjalanlah.”


Satu sudut hatinya kembali menjawab.


Berjalan. Di atas es?


Teeza memperhatikan lapis-an es tebal di depan kakinya. Setelah menguatkan hati, ia pelan-pelan memajukan tubuh bagian atasnya. Permukaan es yang bagai cermin samar-samar memantulkan wajahnya. Ia seperti bisa melihat kegugupannya sendiri di sana.


Bisa, ia pasti bisa melakukan ini. Bukankah saat kecil dulu ia selalu bermain-main bahkan meluncur di atas es sampai jauh ke tengah danau? Sekarang tak ada bedanya. Ia tinggal mengingat kembali masa lalu, menjadikan dirinya lagi seperti dulu. Ia, si gadis es.


Teeza mengatur napasnya, menyapu rasa gugupnya. Ia meraih kenangannya yang masih tersisa, tersenyum, dan mulai melangkah.


Satu, dua, tiga. Pelan, lebih cepat, kemudian semakin cepat.


Ia berlari di atas permukaan es.


Tawanya memecah keheningan di seluruh lembah. Angin menari bersamanya. Baginya, suara tawa yang terdengar tak hanya suara tawanya sendiri, tetapi juga suara tawa kakak-kakaknya, teman-temannya, termasuk Elanna, Niordri, semuanya. Ketika mereka semua masih menikmati saat-saat remaja yang paling indah.


Seolah mereka semua tidak pernah pergi.


Cahaya putih itu semakin benderang, semakin dekat. Tanpa terasa, akhirnya, Teeza sampai di lapisan es paling ujung. Sesaat tubuhnya hilang keseimbangan ketika ia menghentikan larinya. Kepingan es yang diinjaknya bergoyang, tidak lagi stabil, dan mungkin, tak lama lagi akan hancur.

__ADS_1


Namun perhatiannya tertuju penuh pada cahaya putih di hadapannya. Seolah ada bulan purnama di sana, jauh di dasar danau, yang menanti untuk ia raih. Dalam hatinya saat ini Teeza hanya sedikit merasa takut pada apa yang mungkin bakal ditemuinya di dasar sana. Rasa dingin yang mungkin akan menggigitnya juga bukan hal penting lagi. Jika memang cahaya putih itu harus ia datangi, ia akan mendatanginya. Betapapun jauh dan menyakitkannya itu.


Dengan satu cara ia pasti bisa sampai di sana. Mungkin.


Hanya saja, di satu titik, keraguan itu ternyata masih ada.


“Mihael,” akhirnya ia berbisik lagi, “Apakah aku memang harus pergi ke sana?”


Angin bertiup lembut membelai kulitnya.


Berbisik. Menyampaikan sesuatu padanya.


“Bukan Mihael.”


“Ayah?” Teeza memanggil, lalu memejamkan mata.


Menanti.


Mendengar.


Air biru yang dalam menunggunya.


Teman-temannya bernyanyi.


Abangnya tertawa riang.


Seseorang kembali memanggil.


“Teeza.”


Jauh di dalam sana.


“Di sini.”


Begitu dekat.


“Datanglah.”


Untuknya. Teeza tahu ia harus datang untuknya.


“Iya, Ayah,” jawabnya lirih. “Aku datang,”


Teeza membuka matanya lebar-lebar, kemudian melompat, melepaskan seluruh rasa.


Tak ada lagi takut. Tak ada lagi ragu. Tak ada lagi sakit.


Ia meluncur masuk ke dalam Danau Es.


 


 

__ADS_1


__ADS_2