Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 34 ~ Pondok Kedamaian


__ADS_3

Akkadia: Gerbang Sungai Tigris


Bab 34 ~ Pondok Kedamaian


Karya R.D. Villam


 


---


 


”Tombak! Formasi Rajawali!”


Lengkingan komandan pasukan Awan menaklukkan dentuman tambur, memantul ke tebing terjal setinggi seratus tombak dan menggema hingga ke seluruh penjuru lembah.


“Heaaa!” Ribuan prajurit membalas lebih dahsyat. Sayap kiri dan kanan pasukan berderap memutar, kaki-kaki mereka menjejak bersamaan hingga menggetarkan bumi. Sorban putih melambai tertiup angin, seluruh tombak teracung ke langit, memberi salam pada sang komandan.


“Rajawali Awan siap menyambar musuh,” Javad berkata penuh keyakinan pada Naia. Di atas tebing ia berdiri tegak, mengangguk-angguk puas begitu melihat hamparan angkatan perangnya yang memenuhi lembah. Ia menoleh ke samping, senyumnya terkembang lebar. “Kita akan siap, Naia. Kita akan siap, kapan pun Rahzad dan seluruh pasukan Akkadia itu datang.”


“Ya,” Naia hanya menjawab singkat.


Delapan ribu tombak. Dan masih ada lebih dari sepuluh ribu di luar Awan yang berasal dari negeri-negeri Elam lainnya, sewaktu-waktu siap menahan serangan pasukan Akkadia. Tetapi apakah itu cukup? Pasukan Akkadia kabarnya hanya memiliki prajurit kurang dari separuh jika dibandingkan dengan gabungan pasukan Elam. Namun di dalam pasukan dari barat itu ada gerombolan barion, pemanah jitu, dan juga Rahzad, yang mampu membunuh belasan orang dengan sekali tebas. Naia tahu—tetapi orang lain takkan percaya—pasukan Akkadia mampu menyapu pasukan Elam jika mereka mendapat kesempatan bertemu.


Naia tidak bisa seoptimis Javad. Keyakinan Javad tentunya adalah hal yang wajar. Javad memang harus bersikap seperti itu, karena dia adalah seorang raja dan panglima perang, juga harapan utama seluruh rakyat Elam untuk menjadi pelindung mereka, berkat statusnya sebagai ahli waris kunci Gerbang Sungai Tigris yang diperolehnya dari Kirvash, ayahnya. Sedangkan Naia, walaupun ia juga memegang kunci gerbang, tetaplah seorang asing yang belum memiliki ikatan batin dengan rakyat Elam. Ia belum bisa menularkan optimismenya—jika itu ada—pada mereka, dan sebaliknya mereka juga tak bisa melakukan itu pada dirinya.


“Apa yang kau pikirkan, Naia?” Javad bertanya.


“Oh, aku …” Naia berusaha menemukan jawaban. “Aku percaya mereka akan siap, untuk menghadapi Rahzad. Kau telah mempersiapkan semuanya selama bertahun-tahun.”


Javad menatap lurus ke barat, ke arah matahari jingga yang hampir tergelincir di kaki langit. “Keyakinan seseorang akan terdengar melalui suaranya kala ia berbicara, bukan hanya dari kata-kata yang diucapkannya. Kau tak seyakin apa yang kau ucapkan, Naia.”

__ADS_1


“Aku … hanya sedikit khawatir.”


“Tenanglah.” Javad melingkarkan lengannya ke bahu Naia dengan lembut. “Mungkin kau masih trauma atas apa yang diperbuat orang-orang Akkadia terhadap negerimu. Aku tak akan memintamu untuk melupakan itu semua, aku hanya ingin mengingatkan, agar jangan sampai pengorbanan mereka semua sia-sia. Kita bisa membalasnya.”


Naia tahu itu. Tetapi tetap saja, ia tak bisa seoptimis Javad. Padahal, bukankah ia telah mengundang Nergal untuk melawan Rahzad? Nergal dan pasukannya mampu mengalahkan Rahzad. Itu keyakinan Davagni, dan Naia percaya padanya.


Kembali Naia mendesah. Jangan-jangan bukan Rahzad yang sebenarnya membuat ia gelisah, melainkan justru makhluk yang baru dikenalnya itu. Nergal.


“Naia?” Wajah Javad begitu dekat di samping Naia. Rambut tebalnya yang tertiup angin ikut menggelitik wajah gadis itu. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat, mungkin kau kurang sehat. Lebih baik kita kembali istana, dan kau bisa beristirahat.”


“Aku … ya.” Naia akhirnya berpikir lebih baik ia mengikuti penilaian Javad. Mungkin ia memang membutuhkan istirahat, dan waktu untuk menenangkan diri.


Javad menggandeng Naia. Keduanya menyusuri bibir tebing ke selatan, menuju Istana Awan yang berdiri megah di puncak bukit. Matahari hampir terbenam. Di sepanjang jalan para prajurit sudah menyalakan obor dan berbaris rapi serta membungkuk memberi hormat.


Keindahan petang dan keheningannya—hanya suara langkah kaki mereka di atas batu-batu marmer yang bisa terdengar jelas—tidak membuat Naia tenang. Ia melirik lelaki jangkung di sampingnya. Javad lelaki yang baik dan lembut. Biasanya Naia nyaman bersamanya, tetapi ada beberapa saat di mana ia merasa lebih baik sendiri, dan tak seorang pun—walaupun itu Javad—yang boleh mengganggunya. Bagi Naia, kegelisahannya adalah miliknya sendiri. Tak perlu orang lain tahu. Dan daripada raja Awan itu kembali bertanya apa yang terjadi padanya, sebaiknya Naia lebih dulu mengalihkan perhatian Javad pada hal yang lain.


Ia berbisik, “Javad.”


“Kau sudah mendapat kabar lagi dari utara?” tanya Naia.


Javad menatapnya beberapa lama. “Tentang Fares?”


Naia tertegun. Jawabnya kemudian, “Kabar dari Rifa, adikmu.”


“Belum. Faruk belum kembali. Perkiraanku, seharusnya sekarang ia sudah bertemu lagi dengan Rifa di kaki Pegunungan Zagros. Fares seharusnya juga sudah sampai di sana.”


“Oh … itu bagus.” Naia mengangguk-angguk.


“Tenanglah. Selama mereka bisa menghindar dari pasukan Akkadia, mereka akan baik-baik saja. Lagipula ada Davagni—“


Ucapan Javad terputus ketika mereka memasuki halaman luas Istana Awan. Seorang perwira mendekat dengan langkah cepat, lalu membungkuk memberi hormat.

__ADS_1


“Ada apa, Mehrdad?” tanya Javad.


Mehrdad seorang prajurit Awan yang gagah dan tangguh, dan termasuk salah satu yang ikut bertempur melawan Rahzad di seberang Sungai Tigris. Ia kapten kepercayaan Javad, dan telah dipilih untuk menjadi pengawal khusus Naia seminggu terakhir ini. Tugas yang dulu dibebankan kepada Fares. Naia tidak menolak—Mehrdad prajurit yang baik—hanya saja jika nanti Fares kembali, Naia berharap Fares lagilah yang nanti ada di sampingnya.


“Tuanku, tetua Kubah Putih sudah menunggu di Pondok Kedamaian.”


Napas Naia tertahan, tetapi ia menjaga agar raut wajah dan sikap tubuhnya tak berubah. Javad telah membuka Gerbang Sungai Tigris dua hari yang lalu, dan membiarkan orang-orang Kubah Putih yang sebelumnya menyeberang ke Akkadia itu kembali ke Elam, dan kini Javad mempersilakan orang-orang itu datang ke istananya demi menemui Naia.


Javad menatap gadis itu. “Kau mau menemui mereka? Apa perlu kutemani?”


“Aku akan ke sana sekarang.” Naia mencoba tetap tenang. “Sendiri saja.”


“Kau yakin?”


“Aku yakin.” Naia tersenyum. “Aku memang sudah menunggu kedatangan mereka.”


“Baik. Mehrdad, antarkan Tuan Putri ke pondok, dan berjagalah di sana. Sejauh ini orang-orang Kubah Putih selalu baik, walaupun mereka tak pernah mau membantu kita memerangi Akkadia, tapi siapa tahu …”


Naia mengikuti Mehrdad menyusuri lereng berbatu yang berkelok-kelok. Matahari telah terbenam. Dengan langit malam yang dipenuhi awan tebal, obor yang dipegang oleh Mehrdad menjadi satu-satunya penerang saat keduanya semakin jauh meninggalkan istana.


Setelah mendaki seratus anak tangga mereka sampai di tujuan. Sebuah bangunan tanpa dinding, berbentuk segi enam dengan tiang batu menjulang tinggi di setiap sudutnya, berdiri sendirian di atas puncak bukit. Atapnya berbentuk kubah setengah bola dengan diameter sekitar dua puluh tombak. Enam buah obor yang tergantung di masing-masing tiang menjadi penerang utama, mendampingi Istana Awan yang benderang di ujung bukit lainnya di sebelah barat, di seberang lembah. Sebenarnya masih ada belasan anak tangga yang harus dilewati untuk mencapai lantai puncak Pondok Kedamaian, tapi Mehrdad menghentikan langkahnya.


“Tuan Putri, silakan masuk.” Mehrdad mengangguk hormat. “Aku menunggu di sini. Jika perlu sesuatu, Anda tinggal berseru.”


“Aku akan baik-baik saja,” tukas Naia sambil menapak naik melewati Mehrdad.


Ia berjalan memasuki Pondok Kedamaian.


 


 

__ADS_1


__ADS_2