
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 46 ~ Prajurit Terhormat
Karya R.D. Villam
---
Mata hitam besar nan keji itu menatap tajam. Kepala botaknya perlahan muncul dari balik jendela. Kedua cakarnya perlahan menarik tubuh gelapnya, merayap masuk ... mendekat .... Mulutnya terbuka lebar, taring di kiri dan kanannya berkilat tertimpa cahaya bulan.
"Grrraaahhh!"
"Hiaaa!" Fares jatuh terjengkang.
Kalap, ia memukul-mukul dan menendang ke segala penjuru. Gharoul itu semakin dekat. Fares panik karena tangannya tak mampu menemukan gada yang biasanya tergantung di pinggangnya. Hanya dalam hitungan detik makhluk itu bakal menerkamnya. Fares akan menjadi korban tunggal di kamar ini! Kamar? Kamar siapa ...? Dan apa aku sendirian?
Tidak! Sepertinya ada orang lain di sini, selain makhluk ini!
Fares melirik ke kanan. Di sudut ruangan yang gelap sesosok manusia berdiri tanpa gerak. Tak tampak jelas wajahnya; Fares hanya bisa mengira-ngira, orang itu bertubuh kecil dan berkulit gelap. Namun matanya jernih, memandangnya tanpa berkedip.
"Grrraaahhh!" Geraman gharoul merebut perhatian Fares.
Makhluk itu melompat begitu cepat.
Dunia berputar. Fares telah siap menerima nasib.
Tiba-tiba sinar terang menyilaukan datang menusuk entah dari mana. Fares mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahnya.
Tepukan lembut di punggung menuntaskan rasa kagetnya.
Tawa terkekeh seseorang terdengar. "Mimpi buruk, Tuan?"
"Hah?" Jantung Fares berdetak kencang. Ia menatap liar ke segala arah, dan segera kesadarannya pulih. Dinding kayu cokelat tua ada di sampingnya, dengan jendela terbuka lebar hingga memancarkan sinar matahari pagi tepat ke wajahnya. Ia duduk setengah terbaring di dipan, dan tiba-tiba Fares merasa malu pada lelaki separuh baya yang kini duduk di sampingnya.
"Tampaknya kau lelah." Lelaki itu menyodorkan segelas minuman. "Ini, minumlah dahulu. Kau akan merasa segar kembali."
"Terima kasih." Fares menerima dan menyesap minuman hangat itu. Ia melihat matahari yang terhalang rimbun pepohonan, kemudian balik memandangi wajah si lelaki tua. "Ghaiz, kelihatannya aku tertidur cukup lama. Maaf, seharusnya aku berjaga.”
"Tidak apa-apa, Tuan." Lelaki bernama Ghaiz itu mengangguk. Ia mengambil cawan dari tangan Fares, lalu meletakkannya di atas meja kecil di dekatnya. "Tidak terjadi apa-apa tadi malam."
"Gharoul-gharoul itu tidak menyerang?" Fares berusaha meyakinkan. "Maksudku, tak ada serangan apa pun setelah aku tertidur?”
"Kau tertidur saat dini hari, Tuan. Dan betul, tidak ada serangan sampai pagi. Semua lelaki di desa berjaga. Kalau makhluk-makhluk itu masih ada di sekitar sini, mudah-mudahan mereka tak akan berani menyerang lagi.”
"Mudah-mudahan," gumam Fares. Ia berharap begitu, walaupun tidak yakin. Ia pernah dua kali menghadapi gerombolan gharoul, dan jika memang makhluk-makhluk itu berniat menyerang, mereka tak akan segan melawan sekelompok prajurit bertombak sekalipun. Ia pun menarik kesimpulan, bisa jadi memang tak ada lagi gharoul yang tersisa. Melegakan, tetapi Fares tahu ia harus menunggu kabar dari Davagni untuk meyakinkan hal tersebut.
Fares pun teringat. “Orang yang dikejar gharoul itu, aku belum sempat bertanya padanya semalam, apa yang ia lakukan di hutan.”
“Oh.” Ghaiz mengangguk. “Itu biasa, Tuan, tak ada yang aneh. Dia memang selalu pergi mencari kayu bakar dan mengambil binatang yang masuk jeratan kecilnya, dan baru kembali menjelang malam.”
“Mulai sekarang sebaiknya semua orang lebih berhati-hati jika pergi ke hutan,” tukas Fares. “Jangan pergi seorang diri, dan jangan terlalu sore.”
“Betul. Kami mengerti, Tuan.”
__ADS_1
"Sarapan sudah siap." Suara nyaring terdengar.
Fares menoleh. Di belakangnya berdiri seorang wanita bertubuh subur dan berwajah ceria, tersenyum sambil mengelap kedua tangannya. Di lantai, dialasi oleh tikar, sudah tersaji piring-piring kayu berisi makanan beraneka rupa dengan aroma menarik selera. Satu yang paling menarik, ayam hutan panggang, juga ada di situ. Makanan cukup mewah untuk sarapan di desa. Atau mungkin tidak juga, karena mungkin memang ada banyak ayam di sini.
Wanita itu berkata pada orang lain yang muncul dari ruang belakang—gadis remaja berambut panjang, "Yara, panggil adikmu."
"Ya, Ibu." Gadis itu berlari keluar.
Tak lama Yara dan adiknya, seorang remaja lelaki bernama Aram, memasuki rumah. Mereka semua duduk bersila di atas tikar mengelilingi makanan yang tersedia. Fares tersenyum lebar. Ia teringat, di tepi Sungai Tigris dulu ia pernah membayangkan akan makan enak seperti ini, dijamu tuan rumah yang pandai memasak. Walaupun ia belum bisa mencicipi makanan favoritnya—domba asap bumbu pedas—namun ayam panggang manis bikinan Nyonya Ghaiz ini lumayan juga rasanya. Lezatnya benar-benar terasa di lidah.
Ini makanan lezat yang terakhir, pikir Fares sambil mengunyah paha ayamnya. Ia akan melanjutkan perjalanan setelah ini, dan tak tahu kapan lagi berkesempatan mendapatkannya. Mudah-mudahan tidak terlalu lama. Rentetan rencana tersaji ulang di benaknya. Pagi ini ia akan bertemu Davagni, kemudian lanjut pergi ke utara. Turkar tak jauh lagi. Setelah semua urusan selesai, ia bisa kembali ke Elam, dan bertemu lagi dengan ...
"Tuan, sebenarnya apa urusanmu ke utara?" Aram membuyarkan lamunannya.
Fares tertegun. Ghaiz dan istrinya langsung melemparkan pandangan menegur ke arah putranya.
Tetapi Fares terbiasa menjawab, dan dengan sopan, pertanyaan siapa pun. “Aku ada urusan penting, mencari seseorang."
"Anda membawa-bawa senjata seperti seorang prajurit. Tetapi tampaknya Anda bukan prajurit Akkadia." Aram memang berani. Terlalu berani, hingga Ghaiz saking gemasnya menepuk belakang kepala putranya.
"Memang bukan," jawab Fares. Ia meletakkan makanannya di piring, lalu menatap tajam Aram, dan berkeliling ke yang lainnya. "Aku bukan prajurit Akkadia, dan kuharap jika mereka nanti datang, kalian tidak menyebut-nyebut tentang aku di sini.”
Hening. Napas Ghaiz dan keluarganya tertahan. Rasa takut terasa.
Fares pun menyesal. Kalimatnya tadi terdengar seperti ancaman, padahal sebenarnya ia hanya bermaksud meminta.
"Oh, maaf," Fares menggeleng menunjukkan penyesalannya. Maafkan ucapanku. Tak seharusnya aku menakut-nakuti."
Tak disangka, Ghaiz justru tertawa. “Tuan Fares, kau tak perlu minta maaf. Kau telah menyelamatkan desa kami, dan tentu saja kami akan melindungimu. Kami akan merahasiakan keberadaanmu, jika nanti ada yang bertanya. Demikian pula penduduk lain, aku jamin mereka akan diam juga, kau tak usah khawatir.”
"Kami senang melakukannya!" sahut Aram. “Kami tidak suka prajurit Akkadia. Mereka jahat, suka memeras, dan bertindak semau mereka."
Gemas, Ghaiz menggetok kepala putranya sekali lagi, lalu dengan gugup berkata, “Maaf, Tuan, anakku ini memang bodoh, kalau bicara tak pernah dipikir dulu. Yang benar, kami tidak membenci siapa pun. Kami cuma orang desa biasa, Tuan."
Fares tertawa. “Kau tidak usah khawatir. Sebenarnya aku juga tak ada urusan dengan prajurit Akkadia."
"Apa kau bermusuhan dengan mereka?" sekali lagi Aram bertanya. Kali ini Ghaiz tidak menegur. Bersama ketiga anggota keluarga lainnya, lelaki itu menatap Fares tanpa berkedip, menunggu jawaban.
"Bisa dibilang begitu," jawab Fares.
"Ah ..." Desahan terdengar dari mulut setiap pendengarnya. Entah itu senang, lega, atau terkejut, Fares tak tahu. Tiba-tiba ia merasa tak nyaman. Bukan karena perlakuan orang-orang itu—mereka justru sangat baik—melainkan karena lebih baik ia secepatnya pergi supaya nanti tidak menyulitkan mereka, jika benar prajurit Akkadia akan datang ke desa ini. Kalau sampai orang-orang desa ini celaka gara-gara dia, Fares tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Fares meneguk minumannya yang terakhir lalu menegakkan tubuh. “Ehm, Ghaiz, aku rasa sudah waktunya aku pergi. Terima kasih sudah memperlakukan aku bagaikan seorang tamu yang terhormat. Aku tak akan melupakan kebaikan kalian.”
“Terima kasih.” Ghaiz membungkuk, diikuti istri dan putrinya.
Sementara putranya justru berseru, “Aku mau ikut denganmu!”
Semua orang langsung terkejut. Ghaiz melotot. “Aram!”
“Apa maksudmu?” tanya Fares lebih tenang. Ia memandangi pemuda berambut pendek dan berwajah polos di hadapannya, yang mungkin baru berumur sekitar tiga belas tahun.
Benar-benar anak kecil! Dan sekarang ingin pergi bersamaku? Ini alasan kenapa ia banyak bertanya dari tadi?
“Tuan,” Aram menatap penuh harap. Kedua tangannya terkepal menahan gugup, “aku sudah dengar bagaimana Anda bertarung melawan makhluk itu semalam. Sejak dulu aku ingin jadi seorang yang gagah, dan berkelana ke banyak negeri, tetapi aku tak mau bergabung dengan pasukan Akkadia. Sekarang kau datang, dan aku tahu ini kesempatanku.”
Fares mengernyit. Ia tak mengira bocah seumur Aram sudah bisa menyampaikan keinginannya seperti ini. Namun begitu melihat reaksi Ghaiz yang hanya menunduk, mengertilah Fares bahwa keinginan Aram ini sepertinya sudah pernah diucapkan ke ayahnya. Mungkin, itu keinginan yang wajar dimiliki setiap bocah lelaki. Fares teringat waktu ia kecil dulu pun sudah berkeinginan menjadi seorang gagah seperti ayahnya. Tetapi apakah berarti Fares harus memenuhi permintaan semacam ini? Menambah beban Davagni dalam penerbangannya? Dan mungkin mengantar bocah ini dalam sebuah petualangan menantang maut?
__ADS_1
Fares menggeleng. “Maaf, Aram. Aku tak bisa membawamu.”
Semua terdiam. Aram menunduk kecewa.
“Bukannya aku tak suka denganmu,” lanjut Fares. “Tetapi perjalananku nanti akan sangat berbahaya.”
“Tuan Fares benar.” Ghaiz menepuk-nepuk bahu putranya.
“Ayah!” Aram melirik. “Aku hanya ingin membuatmu bangga, dengan menjadi prajurit sepertimu dulu. Dan kelak bisa membalas para prajurit Akkadia itu!”
“Diam, Aram!” Ghaiz melotot kepada putranya.
Fares segera mencium sesuatu yang tidak biasa. Ia memandangi Ghaiz, yang tampaknya memang mempunyai tubuh tegap, dulu saat masih muda. Cocok, kalau benar ia dulu adalah seorang prajurit. Fares berdehem. “Ghaiz, kau dulu prajurit?”
Keempat orang di hadapannya terdiam.
“Tidak apa-apa. Katakan saja.” Fares tersenyum. “Kau tidak perlu takut. Kau bisa percaya padaku, seperti aku percaya padamu.”
Ghaiz memandangi istri dan kedua anaknya, lalu mengangguk. “Benar. Aku dulu prajurit, dari Sippar. Pangkatku letnan.”
“Letnan? Itu pangkat yang cukup tinggi!”
“Dengan tanggung jawab besar,” Ghaiz mengakui, “yang sayangnya, tak mampu kujaga dengan baik. Saat pasukan Akkadia dulu menyerang Sippar, seharusnya aku bisa memimpin anak buahku menahan mereka. Aku gagal. Raja terbunuh, demikian pula seluruh rekanku, sedangkan aku kabur. Aku gembira bisa selamat, tetapi juga malu. Aku tak tahu apakah harus bersyukur atau menyesal.”
Fares merasakan kesedihan yang terpancar dari diri Ghaiz mengalir ke istrinya, ke kedua anaknya, dan akhirnya merasuki dirinya sendiri. Fares terkejut ketika menyadari bahwa kisah hidup lelaki itu ternyata hampir mirip dengan kisah ayahnya, yang juga gagal melindungi junjungannya. Bedanya Ghaiz masih hidup sampai sekarang, sedangkan ayah Fares memilih mati. Fares bisa memaklumi rasa malu Ghaiz, tetapi begitu ia melihat istri dan kedua anaknya, Fares tahu sudah seharusnya Ghaiz merasa lebih bersyukur.
“Ghaiz, jika kau dulu mati, keluargamu juga tidak akan ada.”
Ghaiz mengangguk-angguk. “Itu benar.”
“Dan kau, Aram.” Fares menatap si bocah. “Aku paham maksudmu. Kau ingin menjadi lelaki gagah, dan mengembalikan kehormatan keluargamu. Aku setuju dengan hal itu, tetapi percayalah, sekarang belum waktunya. Lebih baik kau bersabar saja. Saat kau dewasa nanti, kau akan tahu mana jalan yang terbaik buatmu, dan buat keluargamu.”
Setelah mengucapkan itu Fares sebenarnya malu sudah berlagak sok tahu. Jika ia berkata seperti itu di tengah teman-temannya ia pasti akan ditertawakan, tetapi di keluarga Ghaiz di desa terpencil ini, di mana ia dianggap sebagai pahlawan terhormat, kata-katanya terasa bermakna dan pantas dipercaya. Rasa banggalah yang kemudian dirasakan oleh Fares ketika Ghaiz dan keluarganya menunduk hormat, berterima kasih atas nasihatnya.
Fares berpamitan pada keluarga Ghaiz dan juga para penduduk desa lainnya. Awalnya ia berniat mengubur terlebih dulu tiga mayat gharoul yang dibunuhnya semalam, tetapi para penduduk lalu berkata mereka bisa melakukannya sendiri, dan tak ingin memperlambat perjalanan Fares. Fares setuju dan ia pun pergi meninggalkan desa.
Ia berjalan menyusuri tepi sungai ke utara, dan sudah cukup jauh dari desa, ketika si makhluk kelabu, Davagni, lalu muncul dari balik batu besar untuk menjemputnya.
Sapaan pertama makhluk itu tidak mengejutkan Fares. Penuh sindiran seperti biasa. “Tuan Fares, apa kabar? Senang melihatmu datang membawa wajah berseri. Hamba yakin tidurmu nyenyak dan mimpimu indah, sementara hamba harus menjaga hutan dengan penuh tanggung jawab.”
“Oh, tentu saja. Malamku sangat menyenangkan. Aku hanya bisa kasihan kepadamu karena harus bekerja semalaman,” balas Fares. Tak banyak yang bisa diceritakan olehnya selama di desa, jadi ia hanya bercerita singkat mengenai pembicaraannya saat sarapan, dan juga nasihat pamungkasnya.
Davagni tertawa ketika sampai di bagian akhir cerita. “Hamba bangga, karena kau telah belajar, bahwa menasihati orang lain pada dasarnya adalah menasihati dirimu sendiri.”
“Oh, aku belajar itu darimu. Kau selalu berusaha menasihati dirimu sendiri dengan cara menasihatiku.” Fares balas menyindir.
“Mengejutkan, bukan? Kau bisa bertemu orang senasib di desa ini. Baguslah, akhirnya kau sadar bahwa lebih baik mensyukuri kehidupanmu yang sekarang daripada terus menyesali kematian ayahmu dulu.”
“Hei, diamlah!” tukas Fares. Ia duduk di atas batu sambil berkacak pinggang. “Sekarang mana, apa informasi yang kau dapat tadi malam?”
“Kalau itu …” Davagni beringsut, mundur satu langkah. Sebelah tangannya terulur ke balik batu besar, menarik dan mengangkat sesuatu dari sana. Sambil menyeringai makhluk kelabu itu mengacungkan bawaannya ke arah Fares. “Tanya saja dia.”
Tangannya yang besar menggenggam kedua pergelangan kaki seorang lelaki hingga orang itu tergantung dengan posisi kepala di bawah. Lelaki berpakaian sederhana itu pingsan, kedua tangannya terjuntai ke tanah.
__ADS_1