Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 64 ~ Di Ambang Kehancuran


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 64 ~ Di Ambang Kehancuran


Karya R.D. Villam


 


---


 


“Kalian tahu, aku membuat begitu banyak kesalahan.”


Akhirnya Javad bersedia mengungkapkan kekecewaannya itu pada Fares dan Naia. Tetapi hanya pada mereka berdua, tidak di depan para prajuritnya. “Aku membuat kesalahan dengan maju terlalu jauh ke daerah musuh. Aku membuat kesalahan dalam pertempuran pertama yang membuat kita kehilangan ribuan prajurit. Bahkan sejak awal aku telah membuat kesalahan, percaya pada informasi mata-mata begitu saja, bahwa Akkadia hanya memiliki tujuh ribu prajurit. Kenyataannya … mereka menyembunyikan jauh lebih banyak di Akkad. Bodoh. Bagaimana bisa aku sebodoh itu?”


Fares menggeleng bingung. “Bagaimana caranya Akkadia menyembunyikan ribuan prajurit agar tidak terlihat? Dengan sihir?”


“Tidak perlu.” Naia meringis, kesal bercampur lelah. “Cukup sebarkan berita palsu, atau jadikan mata-mata itu pengkhianat, maka dia akan memberimu informasi palsu. Itu sudah cukup. Tetapi Javad, tak ada gunanya menyalahkan diri.”


Javad tersenyum getir. “Aku telah mengecewakan seluruh rakyat Elam. Karenanya … mungkin aku memang tak pantas menjadi pemimpin mereka.”


“Dan Anda pikir Naram atau Kudur adalah pemimpin yang lebih pantas di tanah Elam? Tidak juga,” tukas Fares. “Mereka mundur saat Anda membutuhkan mereka. Menurutku itu setara dengan pengkhianatan! Anda berkata Anda membuat kesalahan tadi? Ya, mungkin. Tapi kesalahan terbesar Anda adalah terlalu percaya kepada mereka!”


“Ayahku percaya, jadi apakah salah aku mempercayai mereka?” jawab Javad. “Lagi pula mereka telah menyampaikan alasan kenapa mereka mundur, dan alasan itu bisa kuterima. Aku tidak perlu merasa dendam.”


“Mungkin justru Anda harus,” balas Fares geram.


“Javad,” Naia berkata. “Kau pernah berkata, ‘Ini kehidupan, dan juga kematian. Itulah kebenarannya, dan itu bukan kesalahan.’ Apa yang telah terjadi tak perlu kita sesali. Tuhan telah membuat rencana yang lebih besar untuk kita. Kau selamat dan kini punya tugas membawa dua ribu prajuritmu kembali ke Elam. Kau mendapat pengalaman berharga dari kekalahan ini. Itu akan membantumu membangun kekuatan yang lebih besar.”


Javad terdiam beberapa saat, lalu tersenyum lagi, kali ini tampak lebih lega. “Mungkin kau benar. Terima kasih, Naia.”


Memang ucapan penyejuk hati yang hebat. Fares memperhatikan Naia yang tengah berpandangan dengan Javad, dan tiba-tiba sebuah perasaan aneh datang, memukul dadanya hingga begitu dalam, membuat ia tak kuasa memalingkan wajah.

__ADS_1


Rifa datang menghampiri. Dalam remang cahaya bulan wajahnya tampak begitu pucat.


“Mehrdad pingsan lagi,” kata gadis itu lirih. “Kakak, bisakah kita berhenti sejenak? Lalu perintahkan beberapa prajurit untuk mencari air? Seluruh prajurit lelah dan haus. Mereka sudah menghabiskan bekal makanan dan minuman mereka yang terakhir. Si penyihir juga butuh air lebih banyak untuk menyembuhkan luka Mehrdad.”


“Andai aku bisa, Rifa,” jawab Javad, gundah. “Tetapi pasukan Akkadia masih terus mengejar. Kita tak mungkin berhenti di sini. Lagipula prajurit telah memeriksa daerah tandus ini sebelumnya. Tak ada sumber air di sekitar sini.”


“Sumber air terakhir yang sebelumnya kita lewati berjarak dua hari dari tempat ini,” kata Rifa. “Apa kita bisa bertahan sampai ke sana?”


“Kita bisa, jika kita tetap maju.”


Maka malam itu pun mereka melanjutkan perjalanan. Sayup-sayup terdengar suara pasukan Akkadia yang terbawa angin, membuat para prajurit Elam merinding dan mempercepat langkah. Sekelompok penyihir lalu mendatangkan kabut untuk memperlambat gerak Akkadia, dan itu cukup berhasil. Namun tipuan semacam itu takkan bisa bertahan lama.


Keputusan Javad benar. Bahkan walaupun mereka dihantam kemalangan sejak kemarin, Fares tetap yakin bahwa apa yang dilakukan oleh raja Awan itu selalu benar. Tetapi pendapat Rifa pun tidak salah. Seluruh prajurit sudah lelah. Di bawah pancaran sinar purnama mereka berjalan tersaruk-saruk. Ratusan orang mulai melambat, bahkan tak sedikit yang  memutuskan berhenti dan menolak berjalan terus tanpa beristirahat. Para komandan menyuruh mereka untuk bangkit, tetapi kata-kata keras tetap tak mampu menaklukkan rasa letih. Dua ribu orang itu tak lagi berjalan rapi dalam barisan, melainkan sudah tercerai-berai dalam jarak yang cukup jauh.


Mereka tiba di bukit tempat dulu mereka bertempur untuk yang pertama kali melawan pasukan Akkadia. Dari atas bukit hanya tanah samar-samar yang tampak, namun Fares tahu ada ribuan mayat yang bertumpuk-tumpuk tersebar di seluruh penjuru lembah. Bau tajam menusuk. Sebagian besar mayat-mayat yang ada pasti telah terkoyak-koyak digerogoti ratusan burung bangkai. Para prajurit Elam yang telah sampai di puncak menutup hidung dengan kain yang disobek dari baju mereka sendiri. Javad lalu meniup terompetnya untuk memanggil.


Namun setelah beberapa lama hanya sebagian prajurit Elam yang bisa mencapai bukit untuk menyambut panggilan sang raja. Yang lainnya tampaknya masih tercecer jauh.


Kecemasan mulai tampak di wajah Javad. Di atas bukit ia menunjuk jauh ke barat. “Sebentar lagi kalian akan melihat ribuan titik berwarna jingga. Obor yang dibawa para prajurit Akkadia. Aku tak ingin meninggalkan seorang pun di belakang, tetapi jika kita menunggu lebih lama, kita tak mungkin lagi bisa terlepas dari orang-orang Akkadia terkutuk itu.”


Fares memandangi junjungannya itu. Keletihan, dan juga kegelisahannya, tak mungkin disembunyikan di wajah cantik Naia, tetapi gadis itu tetap tidak mengeluh.


“Kita harus berjalan terus,” Rifa yang berdiri di samping tubuh lemah Mehrdad berkata tajam. “Teguhlah pada keputusanmu sebelumnya, Kakak. Aku sudah menaruh kepercayaan di sana. Jangan buat aku mengubahnya!”


Javad mengangguk getir. “Ya, kita jalan lagi. Semoga arwah para prajurit yang mendahuluiku bersedia mengampuni aku di hadapan para dewa.”


Derap langkah ribuan prajurit Akkadia terdengar jelas di kejauhan. Titik-titik api obor mereka akhirnya tampak dalam kegelapan malam. Fares menggeram, menyadari betapa pasukan musuh tak mau membuang-buang waktu. Mereka benar-benar bermaksud membinasakan seluruh prajurit Elam sampai tak bersisa lagi.


Javad membawa seribu lima ratus prajuritnya yang tersisa menuruni bukit, menyusuri sisi selatan lembah kematian yang telah penuh oleh ribuan mayat yang mulai membusuk. Jerit kematian mulai terdengar beberapa kali jauh di belakang. Suara para prajurit Elam yang berhasil terkejar pasukan Akkadia dan kemudian dibantai. Raja Awan itu menggeram setiap kali suara tersebut sampai ke telinganya.


Tapi mungkin, pikir Fares, sebaiknya mereka semua lebih mengkhawatirkan keselamatan diri mereka sendiri. Belum tentu mereka bisa melewati malam ini dengan selamat, karena pasukan Akkadia terus mendekat dengan kecepatan tinggi. Kabut yang dibuat oleh para penyihir Elam sudah pupus dan tak lagi menghalangi gerak dan pandangan orang-orang dari barat itu.


“Kita terkejar,” Fares berkata di sela-sela sengalnya.

__ADS_1


“Benar.” Javad mengangguk. Ia juga mulai tampak letih. “Tetapi kau ingat, ada bukit lain tak jauh di depan? Aku dan pasukanku akan berhenti di sana.”


“Berhenti?” Fares belum paham.


“Beristirahat sejenak, dan mengambil posisi.” Javad tersenyum getir. “Mungkin aku akan bertempur di sana.”


Fares, Naia, Rifa dan semua orang yang berlari di sekitarnya tercenung. Ucapan Javad itu hanya berarti satu hal: dia sudah siap mati di tempat ini. Walaupun kaget, para prajurit Elam juga tampaknya takkan ragu mengikuti jejaknya. Bahkan mereka akan bangga mati di samping raja. Mereka lebih senang mati dalam pertempuran daripada mati kelelahan.


Namun ada satu hal yang belum bisa dimengerti Fares dan Naia.


“Kau tadi bilang, kau dan pasukanmu, Javad?” Naia memperlambat larinya, sehingga yang lain mengikuti. “Berarti tidak termasuk aku dan Fares?”


“Tidak termasuk kalian, dan juga Rifa. Kalian bertiga lanjutkan perjalanan ke timur, jangan berhenti.”


“Tidak!” Rifa berseru. “Putri Naia dan Fares boleh pergi, tetapi aku tetap tinggal di sini!”


“Tak ada yang akan meninggalkan kalian!” tukas Naia. “Aku tetap di sini, juga Fares. Setuju, Fares?”


Fares bimbang. Sama seperti Naia, ia sungguh tidak ingin meninggalkan seluruh sahabat terbaiknya bertempur mati-matian sementara ia melenggang pergi. Namun hati kecilnya mengatakan, mungkin memang sebaiknya ia dan Naia pergi. Bukan karena takut mati, tetapi karena ia tidak ingin Naia mati di sini. Fares tahu gadis itu punya cita-cita tinggi sebagai pemimpin rakyat, tak seharusnya cita-cita itu terkubur saat ini. Tetapi mungkin memang lebih penting sesederhana hal itu tadi: Fares tidak ingin Naia mati.


Untuk memenuhi dua keinginan yang bertolak belakang itu bisa saja Fares kemudian meminta agar Naia pulang sendiri ke Elam, sementara Fares tinggal bersama Javad dan Rifa untuk menemui takdir mereka. Namun itu juga bukan langkah yang benar. Fares adalah pengawal Naia, tugasnya adalah melindungi Naia ke mana pun gadis itu pergi, jadi bagaimana mungkin ia membiarkan Naia pergi seorang diri ke timur?


Fares terdiam, tak mampu menjawab.


Javadlah yang kemudian berkata, “Ini keputusanku, dan aku tak ingin dibantah, jika kalian masih menghargai aku.”


Naia justru semakin keras. “Tentu saja aku menghargaimu, Javad, tetapi kuminta kau paham bahwa aku pun berhak melakukan apa yang kuinginkan. Ini kedua kalinya dalam sehari kau meminta kami pergi, tetapi kau lihat, Tuhan menakdirkan kita untuk tetap bersama, dan kebersamaan kita semualah yang telah membuat kita selamat sampai sejauh ini. Jadi jangan paksa kami pergi.”


“Aku bisa memaksamu kalau aku mau, Naia,” balas Javad. “Tetapi di sini, ya, aku hanya akan meminta. Aku memohon. Aku tidak ingin kau, dan juga kau, Rifa, mati di tempat ini. Aku meminta untuk yang kedua kali karena aku tahu peluang kita semakin kecil.”


“Apa pun masih bisa terjadi ...” gumam Naia. “Kita masih bisa melewati malam ini dengan selamat, dan mungkin menang. Jangan kehilangan keyakinan! Dan seandainya pun kemungkinan terburuk yang akhirnya terjadi, aku sudah siap .... Jangan khawatir.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2