
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 32 ~ Pemegang Kunci
Karya R.D. Villam
---
Ramir melirik Toulip. Begitu melihat kucing itu mengangguk kecil memberi persetujuan, Ramir pun mengangguk. “Baik. Dari mana kita harus mulai?”
"Tentang siapa kita sebenarnya,” sahut Rifa. “Dan mengapa kita ke utara.”
"Aku cuma pemuda biasa dari kota Akshak."
"Yang sebenarnya, Ramir." Rifa menatap tajam.
Ramir balik menatap lebih lama, lalu menjawab pelan, "Seminggu yang lalu kakekku berkata, kalau aku ingin tahu asal-usulku, maka aku harus menemui seseorang di utara. Kakekku bilang, kemungkinan besar aku adalah ... orang Elam."
Mata Rifa seolah berubah jadi lebih bercahaya. “Aku sudah memperkirakannya, Ramir. Sebenarnya aku memang sudah menunggumu mengatakan ini. Menurutku bukan mungkin lagi. Aku yakin kau memang orang Elam.”
Alis Ramir terangkat. “Kau yakin sekali.”
Rifa tersenyum. "Karena aku juga orang Elam. Kemampuan penyembuhanmu yang tak biasa itu, tidak sembarang orang bisa memilikinya. Hanya para ahli sihir atau dukun tertinggi di Elam yang punya kemampuan seperti itu. Hanya mereka yang diberkati para dewa.”
"Benarkah?" Jantung Ramir berdebar kencang.
"Kenapa? Kau takut?" Rifa mendekatkan wajahnya dan menyeringai. "Ya. Seharusnya kau memang takut, Ramir. Kemampuanmu itu tidak biasa, dan menarik perhatian banyak orang. Tak lama lagi informasi mengenai hal itu akan menyebar cepat, sampai ke telinga para petinggi kerajaan Akkadia. Sebelum kau sempat menyadari semuanya, tiba-tiba saja sepasukan prajurit Akkadia akan tiba di depan hidungmu, dan menangkapmu."
"Menangkapku?" Ramir makin merinding. "Mengapa?"
"Karena bisa jadi kaulah orang yang selama ini dicari-cari oleh semua orang. Oleh orang-orang Akkadia, maupun orang Elam. Kaulah alasan kenapa para prajurit Akkadia itu pergi ke utara. Juga alasan kenapa aku pergi ke utara.”
Ramir terdiam. Semua orang yang pergi ke utara ini, semuanya hendak mencari dia? Karena kemampuan menyembuhkan itu? Ramir belum bisa percaya.
"Kau ... mencariku, Rifa?"
Rifa mengangguk. “Aku adik raja Awan, kerajaan terbesar di tanah Elam. Bersama beberapa prajurit aku pergi ke Pegunungan Zagros untuk mencari Sang Pemegang Kunci.”
"Pemegang Kunci?" Ramir menggeleng. Istilah apa lagi itu? Setelah Penjaga Ilmu, Pencari Ilmu, sekarang ada lagi istilah lainnya?
Rifa mengangguk. “Orang yang mampu membuka dan menutup Gerbang Sungai Tigris. Kau pasti tahu, soal dinding tak terlihat di sepanjang Sungai Tigris yang berdiri sejak tiga puluh tahun silam untuk menahan serangan pasukan Akkadia. Menurut kabar, orang ini berada di sekitar Pegunungan Zagros, walau tak ada yang tahu tempatnya secara pasti."
__ADS_1
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Kami percaya sang pendiri gerbang adalah ahli sihir terhebat dari Elam, yang juga memiliki kemampuan menyembuhkan istimewa. Seperti kau. Kau Ramir, bisa jadi adalah keturunan orang itu."
Ramir memegang kepalanya dengan kedua tangan. Semua hal itu seolah berputar-putar di dalamnya. Ia belum bisa mencerna. Apakah ia lega setelah menceritakan semua ini kepada Rifa? Apakah informasi terakhir ini yang tadi dijanjikan Rifa mampu membuatnya senang? Satu lagi rahasia besar datang kepadanya. Bukannya senang, Ramir malah bingung sekarang.
"Tetapi ... ini belum tentu benar, kan? Bisa saja bukan aku ...”
"Ya. Bisa saja bukan. Karenanya, setelah mendengar ceritamu tadi, kurasa kita memang harus ke utara, mencari orang yang tahu asal usulmu, dan memastikan semuanya.”
"Bagaimana kalau ternyata ..." Ramir menelan ludah karena tegangnya. "... itu benar?”
"Kalau itu benar, maka kau harus ikut denganku ke negeri Elam. Untuk yang satu ini, aku harus memohon. Demi rakyat kami.”
"Tetapi ..." Ramir menggeleng, tetap belum yakin.
"Kita harus cepat, sebelum pasukan Akkadia menemukanmu, dan menggunakanmu untuk membuka Gerbang." Suara Rifa meninggi. "Kau tidak memilih berada di pihak mereka, bukan?"
"Tentu saja tidak! Aku benci mereka." Ramir membuat keputusan, tetapi tiba-tiba ia teringat pada si gadis berambut perak. Dan juga tugasnya untuk mencari tahu mengenai Sang Penjaga Ilmu. "Rifa, kalau semua ini benar, aku bersedia ikut denganmu. Tetapi sebelum itu, aku harus melakukan sesuatu yang lain di utara, sesuatu yang penting."
Dahi Rifa berkerut. “Ada yang lebih penting daripada ini?”
Ramir kembali memandangi Toulip, sekali lagi mencoba meminta pertimbangan apakah ia harus menceritakan rahasianya yang kedua: mencari tahu soal Sang Penjaga Ilmu. Tetapi kucing itu hanya diam, duduk melingkar di balik batu besar. Kelihatannya ia pun bingung, dan menyerahkan semua keputusan kepada Ramir. "Untukku, yang satu ini juga penting, Rifa. Memang agak aneh, aku tidak berharap kau langsung percaya."
Rifa tertawa kecil. “Apakah ada yang tak bisa kupercayai saat ini? Jika kau benar Sang Pemegang Kunci, sudah pasti kau punya sesuatu yang menakjubkan.”
"Penjaga Ilmu?" Rifa menggeleng. "Apa itu?"
"Dua minggu yang lalu aku menyelamatkan seorang gadis yang hanyut dan terdampar di tepi sungai. Ia seorang prajurit Akkadia, dan kini sudah kembali ke pasukannya. Tetapi Toulip memberitahu bahwa gadis ini adalah Sang Penjaga Ilmu, dan mungkin memiliki kaitan khusus denganku.”
"Sebentar ..." Rifa mengangkat tangannya. "Siapa Toulip?"
Ramir melirik kucing di pojok gua. "Dia Toulip. Aku bisa bicara dengannya, seperti kau bicara dengan elangmu. Toulip juga bisa bicara dengan hewan-hewan lain."
Rifa menatap si kucing, lalu tertawa tertahan. "Hebat, hebat. Tak kusangka ternyata kita punya kesamaan. Dan ya, kelihatannya dia memang bukan kucing biasa.”
"Jangan terlalu memuji Toulip. Dia bisa besar kepala."
"Miaaawwrr!" Toulip menyeringai.
Rifa membalas seringainya. “Dia yang menyuruhmu pergi ke utara, untuk mencari tahu tentang … apa tadi, Sang Penjaga Ilmu?"
"Dia bilang ada seseorang di sana, yang tahu."
"Dan orang itu sama dengan orang yang tahu asal-usulmu?"
__ADS_1
"Ramir melongo. "Mmm ... mungkin berbeda. Aku tidak yakin ...”
"Hah!" Rifa menyeringai. "Aku yakin mereka orang yang sama. Teka-teki ini, ujung-ujungnya pasti akan menjadi satu!"
“Rasanya … itu terlalu kebetulan!”
“Bukan kebetulan, Ramir. Ini semua telah diatur para dewa!”
Ramir tertawa. “Andai saja semudah itu, aku tidak perlu mencari ke banyak tempat."
"Lihat saja nanti. Aku selalu percaya pada perasaanku." Rifa menyeringai, kemudian wajahnya kembali serius. "Menarik juga. Tetapi sayang, Ramir, ada satu hal yang tidak kusuka dari ceritamu. Yaitu bahwa gadis tadi adalah prajurit Akkadia."
"Ya," jawab Ramir lesu. "Tetapi ... ada satu lagi. Aku rasa ... kau kenal gadis ini, Rifa. Eh ... maksudku, mungkin kau mengenalnya. Gadis ini ... dia jangkung, kuat, dan ... berambut warna perak.”
"Perak?" Mata Rifa membesar. "Teeza?"
"Teeza?"
"Ya." Rifa mengangguk penuh semangat. "Hanya dia yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Yang aku tahu, paling tidak. Tetapi kau bilang tadi dia prajurit Akkadia?”
"Begitulah. Tapi namanya Zylia. Walau aku lebih suka memanggilnya Elanna." Ramir menceritakan seluruh kejadian mulai dari ditemukannya Elanna, bagaimana gadis itu kehilangan ingatan, sampai kedatangan pasukan Akkadia yang kemudian membawanya pergi.
Rifa langsung berseru, “Dia Teeza! Mantel hijaunya, kehebatannya menombak. Semua ciri-cirinya. Sayang kau tak melihatnya memanah, Ramir. Dia pemanah terhebat di dunia!”
"Sepertinya ... kau sangat mengaguminya, Rifa." Kegelisahan menyelimuti Ramir, begitu ia menyadari apa yang mungkin sebenarnya terjadi.
"Tentu saja. Dia temanku, sekaligus juga guruku. Dia mengajariku banyak hal." Rifa tersenyum lebar sesaat, tetapi kemudian wajahnya memucat. "Dia sama sekali bukan prajurit Akkadia. Dia adalah pemimpin pasukan Putri Naia dari Ebla, musuh Akkadia!"
"Musuh Akkadia?" Ramir ternganga. Bibirnya bergetar. "Jadi ... aku telah tertipu para prajurit Akkadia itu? Begitu juga Elanna. Teeza, maksudku. Dia juga tertipu?"
"Mereka menjebaknya?" Rifa terhenyak ke dinding gua. "Ini benar-benar buruk! Setelah seluruh kehebatannya selama ini, Teeza akhirnya tertangkap begitu mudahnya!"
Keduanya terdiam. Berbagai macam pikiran buruk menyelimuti Ramir, dan rasa sesal kemudian yang muncul paling kuat. “Ini semua salahku ... Seharusnya ... aku bisa membuat ingatannya kembali lebih cepat sebelum orang-orang Akkadia itu datang!"
"Bagaimana caranya kau mengembalikan ingatan? Lagipula penyesalan tak ada gunanya. Sekarang kita hanya bisa berharap tidak ada sesuatu yang lebih buruk terjadi." Rifa menggeleng. "Saat Teeza sadar, dia pasti akan memilih mati. Aku yakin itu."
"Adakah sesuatu yang bisa kaulakukan untuk menolongnya?”
"Kalau aku ada di Akshak, aku pasti akan mencari jalan untuk membebaskan dia,” tukas Rifa. “Sayang aku tidak tahu ini lebih awal. Sekarang aku hanya bisa menunggu elangku kembali, dan mengirim kabar ini kepada kakakku. Ia mungkin bisa mencari cara untuk membebaskan Teeza ....”
Ramir menghela napas. “Toulip bilang, informasi yang kudapat nanti di utara, tentang Sang Penjaga Ilmu, mungkin bisa menolong Teeza, dan mungkin juga aku sendiri, dengan suatu cara yang belum bisa kami mengerti. Toulip memintaku untuk percaya. Jadi kau bisa mengerti sekarang, Rifa, mengapa hal ini penting untukku?”
"Aku mengerti, dan tampaknya aku juga harus percaya." Rifa memandang ke arah lembah. "Kita harus bergerak lebih cepat. Waktu yang tersisa semakin berharga.”
"Kau benar." Ramir berdiri. Ia menatap Rifa dan Toulip bergantian, mencoba tersenyum. “Sekarang semua terserah aku, kan? Baik. Kita berangkat.”
__ADS_1