
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 50 ~ Pembuka Gerbang
Karya R.D. Villam
---
“Siapa kau?” Elanna menghampiri Ramir dan berdiri di belakang pemuda jangkung bersenjata gada merah itu. Pedang Elanna masih terhunus dan matanya bergantian menatap curiga ke arah si pemuda dan makhluk raksasa yang baru saja menolong mereka.
Faruk, si burung elang hinggap di bahu kanan pemuda itu, yang lalu menoleh menatap Elanna. “Namaku Fares, dan makhluk ini Davagni. Kami datang untuk menjemput Rifa. Faruk yang menuntun kami kemari.”
“Kalian hanya berdua?” Dahi Elanna berkerut. “Rifa bilang bakal ada pasukan yang menjemputnya di selatan!”
Fares mengangkat bahu. “Mungkin Rifa salah mengerti pesan Faruk. Pokoknya, yang penting aku harus membawanya sekarang.”
“Baik.” Elanna mengangguk. “Kuperiksa lukanya nanti.”
“Kalau hanya pingsan, bisa kusembuhkan,” kata Ramir tanpa ragu.
Mendengar itu Fares langsung memandanginya, cukup lama. Pemuda itu bertanya hati-hati, “Kau … apakah kau sang penyembuh?”
“Ehm … namaku Ramir. Ya, aku seorang penyembuh ...” Ketegangan tiba-tiba melandanya. “Tetapi … apa maksudmu, Tuan?”
Fares tak menjawab, dan malah terus memandangi Ramir dengan tatapan aneh. Wajah pemuda ini … Ramir akhirnya teringat. Ramir tahu kapan ia melihatnya! Di dalam mimpi! Semalam! Ramir masuk ke dalam mimpi pemuda itu tadi malam!
“Tuan dan Nona.” Suara berat terdengar, dari mulut si makhluk besar berwarna kelabu di belakang. Semua menoleh ke arahnya. “Kita harus segera pergi.”
Obor api terdepan dari barisan pasukan Akkadia yang bergerak di punggung bukit tampak semakin jelas, jaraknya dari Ramir dan rekan-rekannya pasti sudah kurang dari dua ratus langkah.
“Kau bisa membawa kami berempat, Davagni?” Fares bertanya.
“Tentu saja. Cepatlah.” Makhluk bernama Davagni itu membungkuk. Ia membuka sayapnya dan merapatkan tubuhnya ke tanah. Melihat Ramir dan Elanna yang tampak ragu ia berkata, “Kau, bocah, naiklah ke punggung hamba. Jangan takut.”
Faruk melenting dari bahu Fares. Ramir yang awalnya ragu lalu cepat-cepat menyambar Toulip dan sebelum naik ia sudah didorong ke atas punggung lebar Davagni oleh Fares. Pemuda bertubuh besar itu kemudian menyusul di belakangnya. Hati-hati, Davagni mengangkat tubuh Rifa lalu menggendongnya dengan tangan kiri, dan terakhir ia meraih Elanna dengan tangan kanannya. Wanita Kaspia itu tampak tidak nyaman disentuh Davagni pada awalnya, tetapi akhirnya membiarkan dirinya dipeluk makhluk raksasa tersebut.
Davagni melompat tinggi. Kedua sayapnya terkembang dan mengepak kuat, membawa Ramir dan rekan-rekannya tinggi ke angkasa. Ramir memegang erat-erat leher makhluk itu dengan tangan kanan gemetar, sementara tangan kirinya mencengkeram Toulip. Ia mengintip, melihat punggung bukit yang semakin menjauh di bawahnya. Jantungnya berdetak kencang, dan ia menggigil, kedinginan sekaligus gugup karena ini adalah penerbangan pertamanya. Untungnya ada Fares dengan tubuh besarnya yang menjaga dari belakang.
“Kita ke mana, Tuan Fares?” Davagni bertanya.
“Cari tempat aman dulu. Kita harus memeriksa kondisi Rifa, baru lanjut ke Gerbang Sungai Tigris.”
“Sesuai keinginanmu.” Kepala besar Davagni di depan Ramir terangguk-angguk. “Ya, toh masih butuh empat hari lagi untuk sampai di Gerbang. Dan … perjalanan yang berbahaya sekali lagi.”
“Be—berbahaya?” tanya Ramir gugup.
“Begitulah, Nak,” jawab si makhluk batu yang ditunggangi pemuda itu dengan santai. “Saat melayang nanti kita mungkin akan jadi sasaran ribuan pemanah Akkadia, selama berhari-hari. Panah itu tidak akan melukai tubuh hamba, tapi kalian—”
“Kalau begitu terbanglah lebih cepat!” tukas Fares. “Atau lebih tinggi! Seperti kita tadi!”
Davagni tertawa. “Boleh saja. Tetapi apa bocah ini tidak akan kedinginan di atas sana?”
“Aku tidak apa-apa ...” kata Ramir lirih. “Tapi ...” ia melirik ke arah Elanna yang digendong Davagni di tangan kanannya. “... sebenarnya kita bisa saja lebih cepat kalau ...” Wanita berambut emas itu langsung menoleh dan menatapnya tajam sehingga Ramir pun tak melanjutkan kata-katanya.
Namun Fares sepertinya melihat reaksi itu dan tak urung menjadi curiga. Pemuda bertubuh besar yang duduk di belakang Ramir itu bertanya, “Kalau apa? Hei, kalian tahu sesuatu yang penting? Yang bisa membantu kita?”
“Elanna,” Ramir berbisik. “Mungkin kita ...”
“Diamlah, Ramir,” tukas Elanna. Ia tercenung. “Kita lihat dulu separah apa kondisi Rifa, baru setelah itu aku putuskan. Kau ...” ia berkata pada Davagni, “... bisakah kau turun di balik bukit sebelah sana? Lalu lurus ke timur. Kita akan sampai di sungai ...”
__ADS_1
“Tentu saja, Nona,” jawab Davagni sopan.
Makhluk itu mengepakkan kedua sayapnya, lalu berbelok ke arah tenggara. Sampai di puncak bukit ia lalu meluncur menuruni sisi tebing sebelah timur yang cukup curam dan melaju di atas lembah yang gelap berisi pepohonan yang lebat. Tak lama aliran Sungai Tigris tampak tak jauh di depan. Di tepiannya Davagni perlahan turun dan menjejakkan kakinya di tanah berumput. Makhluk itu melepaskan Elanna, lalu meletakkan tubuh Rifa dengan hati-hati. Fares, Ramir dan Toulip meloncat turun dari punggungnya.
Elanna berjongkok dan memegang kepala si gadis Elam, lalu menepuk kedua pipinya dengan lembut. “Rifa .... Rifa ....”
Rintihan Rifa terdengar. Matanya terbuka perlahan. Untuk beberapa saat ia tampak bingung dan kesakitan, lalu suaranya terdengar, “Aku ....” Ia meringis. “Aduh ... punggungku ... Barion itu ... ”
“Kita aman sekarang,” kata Elanna. “Kau bisa bergerak?”
“Bisa …” Rifa beringsut. Setelah berdiam sejenak dalam posisi miring, ia menyeringai. “Cuma memar di perut dan punggungku.” Ia melirik Ramir yang berlutut di dekatnya. “Hah. Kurasa kau bakal punya kesempatan menyentuhku lagi, Ramir.”
“Ha?” Ramir langsung malu. “Aku …”
Rifa tertawa lemah. “Hei, tentu saja untuk menyembuhkan aku. Jangan berpikir macam-macam ya.” Tawanya terhenti begitu ia melihat sosok jangkung yang dihinggapi burung elang di bahunya. Senyum lebar tersungging di wajah pemuda itu, membuat Rifa ikut tersenyum. “Fares! Kau bersama yang lain?”
Fares mengangguk. “Aku yang menjemputmu.”
“Sendirian?” Kening Rifa berkerut.
“Bersama Davagni.” Fares melirik jauh ke kiri.
Rifa mengikuti arah pandangannya. Ia terkejut sesaat, tapi kemudian mengangguk. “Oh … ya … Davagni. Tapi kukira ...”
“Hanya kami berdua, Rifa,” Fares menyahut. “Mungkin kau salah mendengar informasi.”
Rifa termangu. “Ya, mungkin. Terima kasih.”
“Kita harus cepat,” suara berat Davagni terdengar. “Pasukan Akkadia bisa sampai di sini segera, kalau saja mereka mau terus mengejar dari perbukitan dan menembus hutan.”
“Biar kusembuhkan Rifa dulu.” Ramir membuka tas kecilnya.
“Sudahlah,” tukas Rifa. “Aku baik-baik saja!”
Rifa tertegun dan balik menatapnya lekat-lekat. “Kau memperbolehkan kami lewat di sini? Di gerbang utara?”
Elanna mengangguk. “Sepertinya harus begitu, daripada kau dan Ramir menghadapi lebih banyak bahaya.”
Ramir pun mengerti, sepertinya Elanna hendak mengijinkan mereka memasuki Gerbang Sungai Tigris yang di utara. Namun keraguan masih tampak di wajah wanita itu.
Elanna bertanya pada Rifa sambil melirik ke arah Fares dan Davagni, “Apa kau benar-benar bisa mempercayai mereka?”
“Aku percaya pada Fares,” jawab Rifa. “Dia pengawal pribadi Putri Naia. Kalau makhluk itu ...”
“Putri Naia percaya kepadanya,” Fares menyahut.
Semua orang langsung memandangi wajah polos pemuda itu, yang sepertinya tidak sepolos kelihatannya. Ramir yakin Fares menyimak dengan baik perbincangan Elanna dan Rifa, dan sudah bisa menebak apa yang mereka perbincangkan.
“Apa pun yang kalian maksud, kalian bisa percaya pada kami,” lanjut Fares. “Kami sudah menyelamatkan kalian. Kami orang baik, dan Davagni makhluk yang dulu jahat, tetapi sekarang sudah menjadi baik.” Ia membuat cengiran lebar. Setelah melihat Elanna lebih yakin, Fares bertanya, “Jadi, apa yang akan kita lakukan?”
“Kita akan menyeberang sungai, di sini.”
“Di sini?” Alis Fares terangkat. Ramir dan Rifa sama terkejutnya. Ramir memandangi sungai yang mengalir di depannya, yang sepertinya tak ada beda dengan bagian sungai yang biasa ia lihat dekat desanya. “Apa maksudmu di sini?” tanya Fares lagi.
“Gerbang Sungai Tigris yang kedua ada di sini,” kata Elanna sambil berdiri menatap ke arah sungai.
“Yang kedua? Memangnya ada berapa lagi?”
Elanna menoleh dan tersenyum pada setiap orang. “Ini yang terakhir yang perlu kalian tahu.”
Ramir melongo dan bersitatap dengan sang wanita berambut emas. Jangan-jangan ... masih ada gerbang ketiga! Rahasia terakhir yang hanya diketahui oleh Elanna dan Haladir!
“Tunggu dulu. Bagaimana kau bisa tahu soal ini?” tanya Fares curiga. “Siapa kau sebenarnya?”
__ADS_1
“Sudah kujelaskan pada Rifa dan Ramir,” jawab Elanna. “Aku malas bercerita dua kali.”
“Oke ...” Fares memandangi sungai gelap yang mengalir keras. Tampaknya ia masih setengah percaya dan tidak percaya. “Tapi bagaimana caranya kita menyeberangi sungai ini? Kita butuh Putri Naia atau Raja Javad untuk membuka gerbangnya, kan? Atau ... tidak?” Ia menoleh lagi dengan curiga.
“Tidak perlu. Ada dia.” Elanna menatap Ramir.
“A—aku?” Gugup, Ramir bergantian melihat semua orang.
“Jika benar kau cucu Haladir, kau pasti bisa.”
“Tapi ... aku belum tahu caranya.”
“Akan kuajarkan, apa yang pernah disampaikan Haladir padaku.” Elanna tersenyum. Ia menggamit lengan Ramir, mengajaknya berjalan mendekati tepi Sungai Tigris. “Akan sangat mudah bagimu, jika memang kau sang ahli waris Gerbang Sungai Tigris.”
Elanna mengajak Ramir berjongkok di atas sebuah batu besar. Elanna memasukkan tangan kanannya ke sungai, sampai ke pergelangan, dan Ramir mengikutinya. Airnya dingin menusuk tulang.
Elanna berbisik, “Sekarang, ikuti kata-kataku, Ramir. Erathek idiqlatta touraki tiri.”
“Erathek idiqlatta touraki tiri.”
Angin dingin berhembus menggelitik wajah dan telinga Ramir, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia yakin ada sesuatu yang aneh terasa saat ia mengucapkan kata-kata tersebut, seperti ada sosok asing yang tiba-tiba hadir dalam dirinya.
Apa benar itu tadi suaraku?
Sungai bergemuruh seolah dihajar gempa dan badai. Sebuah lorong raksasa berdinding air terangkat dari dasar sungai, dan batu-batu kecil merata di dasarnya dari ujung ke ujung, membentuk jembatan kokoh hingga ke seberang Sungai Tigris.
Ramir melongo.
Inikah Gerbang Sungai Tigris?
Dan tanganku yang membukanya?!
Ia menggeleng-geleng tak percaya. Toulip yang tadi berdiri di sampingnya kini berputar-putar dan mengeong-ngeong panik.
Elanna seperti tahu rasa terkejut dan takut yang ada dalam benak Ramir. “Betul, kau yang membukanya,” ia berkata. “Berarti benar …” Matanya berbinar kala menatap pemuda itu. “Kekuatan Haladir memang telah turun kepadamu.”
Belaian lembut terasa di atas kepala Ramir. Ia menoleh. Ternyata Rifa, yang masih membungkuk menahan sakit, kini sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum manis. “Hebat, Ramir.”
Fares menyambutnya pula dengan sebuah tepukan di bahu, serta seringai lebar. “Berarti kau benar orang penting yang dicari-cari semua orang itu ya?”
Ucapan yang langsung membuat semua orang tersadar.
“Kalian semua, cepat masuk ke dalam gerbang!” seru Elanna.
Faruk melepaskan dirinya dari tangan Fares dan meluncur masuk terlebih dahulu seolah paham kata-kata wanita itu. Kemudian Fares, yang sambil menuntun Rifa berjalan cepat menyusuri dasar sungai yang kini terbuka. Lalu Ramir dan Davagni, yang tanduk di atas kepalanya hampir mengenai atap air lorong tersebut.
Namun di tengah jalan Ramir menghentikan langkahnya begitu ia menyadari sesuatu. Ia menoleh, menatap ke arah Elanna yang masih berdiri tegak di tepi sungai.
“Elanna! Kau tidak ikut?”
“Aku ada urusan lain.”
“Apa?”
“Kau pasti tahu.”
Sesaat Ramir bingung, namun sosok Teeza tiba-tiba membayang di benaknya. Ia pun mengerti. Ia mengangkat wajahnya, melihat sosok Elanna asli yang punya banyak kemiripan dengan gadis berambut perak yang dulu dikenalnya sebagai ‘Elanna’. Kedua wanita itu bukan saudara, tetapi keduanya begitu mirip, dan Ramir percaya, dari cerita Elanna, hubungan keduanya sepertinya sangat dekat layaknya saudara yang paling dekat.
Ramir bertanya, “Kalau begitu ... apakah aku bisa bertemu denganmu lagi nanti?”
“Tentu saja.” Elanna tersenyum. “Jangan khawatir, aku akan datang nanti. Bersama Teeza.”
Ramir balas tersenyum. Kelegaan menyeruak, walau hanya sedikit. Ucapan Elanna itu mungkin bukan janji, tetapi yang jelas ada sebuah harapan di sana.
__ADS_1