Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 39 ~ Pembasmi Gharoul


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 39 ~ Pembasmi Gharoul


Karya R.D. Villam


 


---


 


Fares terkesiap. Dari mana? Dari mana datangnya suara minta tolong itu?


Ia menoleh ke arah pepohonan rimbun di belakangnya, kemudian balik menoleh ke arah lelaki tua, seorang penduduk desa yang tertegun jauh di depannya. Keduanya saling menatap penuh waspada. Pintu-pintu rumah terbuka dan beberapa orang keluar, sebagian memegang obor. Bukan dari desa. Dari hutan di belakang! Pasti!


Fares langsung berbalik dan berlari kencang kembali ke hutan. Ia menoleh. “Ke hutan, Davagni! Ke hutan! Mereka ada di sana!”


Dalam gelap Davagni mengangguk, lalu melompat tinggi melampaui pepohonan dan mengepakkan sayapnya. Sosok hitamnya menghilang dalam sekejap. Tak diragukan ia akan mampu menemukan gerombolan gharoul itu, entah di mana di tengah hutan. Bagus. Akhirnya, Fares sudah tak peduli lagi jika nanti sosok Davagni terlihat para penduduk. Keselamatan orang yang terancam di hutan saat ini lebih penting. Jika gharoul itu memang berjumlah banyak, kehadiran Davagni akan benar-benar membantu.


Sekarang tinggal aku. Sambil menerobos semak belukar Fares meraih gagang gada yang tergantung di pinggangnya dan mengacungkannya ke depan. Bulatan bercahaya di ujungnya langsung mengembang seketika, menyinarkan cahaya kemerahan menerangi sekelilingnya.


Dan suara ini ...


“Hei!” serunya dengan suara menggelegar. “Yang berteriak tadi! Di mana kau?!”


“Tolooong!” Sayup-sayup suara itu terdengar. “Tolong aku!”


Suara itu mendekat. Tak jauh lagi. Fares mempercepat larinya. Gadanya diayunkan ke kiri dan ke kanan untuk menerobos semak belukar. Ia berlari, melompat, menyusup di sela-sela batang pohon, hingga akhirnya menemukan sosok yang dicarinya. Bukan gharoul, tetapi orang yang dikejar itu. Seorang lelaki kurus dengan baju compang-camping tercabik berlari kencang ke arah Fares. Begitu sampai ia langsung mencengkeram lengan Fares.


“Tuan! Tolong aku, Tuan!” jeritnya.


Fares mendekatkan gadanya ke wajah orang itu, dan mendadak ikut merinding. Mata orang itu melotot, rahangnya bergetar hebat.


Orang itu berseru, “Setan! Ada setan di sana!”


“Hei, tenang! Kau cuma melihat gharoul.” Fares berusaha menenangkan orang itu, juga dirinya sendiri. “Mereka cuma makhluk terkutuk berbau busuk seperti bangkai. Mana mereka?” Ia mengacungkan gada, bersiap menghadapi serangan. “Ada berapa banyak mereka?”


“Aku … aku …” Lelaki kurus itu masih gemetar, begitu kerasnya seolah-olah setiap tulang hendak lepas dari sendi-sendinya. Ia celingukan, menatap bergantian ke arah hutan yang tadi baru saja dilewatinya, dan ke arah timur tempat desanya berada. Dalam panik akhirnya ia berhasil melanjutkan jawabannya, “Aku tidak tahu … Satu mungkin … tetapi …”

__ADS_1


“Oke. Jadi hanya satu.” Fares bisa sedikit menarik napas lega. “Satu, tetapi … ya, mereka memang menyeramkan. Begini, Tuan, lebih baik kau kembali ke desa dan peringatkan semua orang, untuk tetap tinggal di dalam rumah malam ini. Sementara aku—“


“GRRRAAAHHH!”


Fares terpaku. Pada jarak tak lebih dari lima belas langkah di depannya berdirilah sosok gelap yang tadi mengeluarkan suara me-ngancam. Gharoul, monster penghisap darah itu menatap tajam. Mulutnya terbuka, mempertontonkan taring hitamnya.


“Terkutuk!” Fares menggeram.


Ia sudah siap maju dan menghancurkan batok kepala makhluk itu demi menunjukkan siapa yang paling berkuasa, ketika kemudian terdengar desisan sahut menyahut dari kiri dan kanannya. Fares melirik ke dua arah itu, dan sekarang, ia benar-benar takut.


Oh. Tiga gharoul. Di tiga penjuru!


Dan mana Davagni?! Kenapa dia tak datang membantu?


Tenang. Fares tahu yang lebih penting sekarang adalah menyusun strategi. Untuk menghadapi tiga musuh di tiga penjuru, tidak mungkin ia langsung memburu salah satu dari mereka. Itu hanya akan memberi kesempatan pada dua makhluk yang lain untuk menyerang orang desa yang kini berlindung di belakangnya. Jadi lebih baik bertahan.


Namun berkebalikan dengan rencana itu, lelaki kurus di belakangnya kini malah berteriak-teriak panik, dan melanjutkan lari menerobos semak-semak menuju desa. “Tolong! Ada setan!”


“Bukan setan, tolol! Itu cuma … Hei! Hei! Tunggu!” Fares coba menahan. “Jangan menjauh dariku! Awaaas!”


Gharoul di sebelah kirinya bergerak, kini memburu si lelaki kurus. Sementara kedua gharoul lainnya berlari mendekati Fares, lalu melompat.


Gharoul kedua berhasil mengelak dan mundur satu langkah. Fares menggunakan kesempatan itu untuk lari mengejar gharoul lainnya yang tengah memburu si lelaki kurus. Tak terduga oleh Fares, dua sosok berbeda jenis yang berlari di depannya itu mampu berlari begitu cepat. Wajar, karena itu adalah kejar-kejaran antara mangsa dan pemangsa. Fares tak mau kalah. Ia berhasil menemukan batu untuk menjejak, dan melompat tinggi. Gadanya terayun dari belakang, ke atas, dan akhirnya mendarat telak di kepala sang gharoul. Darah muncrat ke mana-mana.


“Mampus kau!” Fares menyeringai. Tetapi ia tak sempat merayakan keberhasilan. Gharoul terakhir di belakang berhasil menerkamnya. Fares tersungkur ke semak belukar tebal hingga wajahnya terbenam dalam. Gadanya terlepas, cahayanya menghilang, membuat hutan kembali gulita.


Panik, dengan sisa tenaganya ia berusaha menyikut makhluk hitam yang menempel di punggungnya. Makhluk itu merenggang, dan Fares pun memanfaatkan kesempatan itu. Ia memutar tubuh dan mencekik leher sang gharoul, berusaha menjauhkan taring tajam dan mulut bau makhluk itu dari lehernya. Tiba-tiba Fares teringat. Seperti malam itu, di celah tebing, ia dulu berada di posisi yang sama, di bawah gharoul. Hanya saja dulu ada Naia yang menolong. Sekarang, tinggal Davagni harapannya.


Tetapi di mana dia? Terkutuk! Saat dibutuhkan malah tidak muncul-muncul!


Suara teriakan terdengar.


Seseorang? Tidak. Banyak orang. Siapa meraka? Para pendudukkah?


“Pergi kau, setan! Pergi!” Suara orang-orang itu bersahutan.


Hutan yang tadi gelap kembali terang. Bayangan pepohonan, semak belukar, dan kepala botak gharoul tampak bergoyang-goyang berkat obor-obor yang dibawa para penduduk desa.


Sang gharoul tertegun. Kepalanya mendongak. Ia mempertontonkan taringnya, membuat para penduduk tak berani mendekat. Fares melirik. Lima orang membawa obor di tangan kiri dan tongkat kayu di tangan kanan. Itu bukan senjata yang sepadan buat melawan gharoul. Kelihatannya orang-orang desa itu mengerti, mereka hanya mengancam, tak berani maju. Wajah mereka pun masih ketakutan.

__ADS_1


Tetapi berkat kehadiran mereka Fares memperoleh kesempatan. Ia mengangkat lututnya, bergantian kiri dan kanan menghajar selangkangan musuhnya. Makhluk terkutuk itu meringis kesakitan.


Fares menyeringai, “Jadi, makhluk jelek, kau jantan rupanya? Rasakan itu! Dan Ini!” Fares mendorong tubuh musuhnya lebih jauh, lalu secepat kilat tinjunya menghajar wajah buruk makhluk itu.


Ia menendang dengan kedua kaki. Gharoul terjengkang. Fares berguling ke samping, menggapai gadanya yang tergeletak di tanah. Begitu teraih, langsung diayunkannya. Pukulan pertama meleset, gharoul itu berhasil mundur menghindar. Fares melompat, melepaskan pukulan kedua. Kini tepat menghantam telak rahang makhluk itu.


Habis. Selesai.


Fares berdiri, terengah-engah menatap mayat musuh terakhirnya. Kemudian ia menoleh, menatap kelima penduduk desa yang masih bengong antara takut, bingung dan lega. Di belakang kelima orang itu ada pula lelaki kurus yang tadi melarikan diri.


“Tuan,” seorang penduduk desa berkata. “Kau baik-baik saja?”


“Ya,” tukas Fares. Ia memandang berkeliling. Pandangannya terpaku di salah satu sudut pepohonan, lalu kembali ke arah orang-orang desa. “Sebaiknya kita cepat keluar dari hutan ini. Aku sudah membunuh tiga dari mereka, tetapi aku belum yakin apakah sudah tak ada lagi yang tersisa.”


Para penduduk desa mengangguk gugup.


“Ikutlah bersama kami, Tuan,” salah seorang menawarkan.


“Kalian pergi dululah,” jawab Fares. “Aku menyusul nanti.”


Orang-orang desa tak membantah. Mereka berbalik, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut tanpa berkata-kata. Begitu sosok mereka menghilang, Fares memutar badan. Ia mengacungkan gadanya lurus ke sebelah kanan. Di balik pepohonan, sosok bertubuh besar memandanginya.


“Bagus sekali, Davagni.” Fares menggeram. “Kau diam saja dan membiarkan aku bertarung sendirian?!”


Davagni beringsut keluar dari persembunyiannya. Jawabannya tenang, “Hamba yakin kau mampu mengalahkan semua musuhmu. Terbukti, bukan? Lagipula, bukankah lebih baik hamba tak terlihat oleh orang-orang desa itu?”


Jawaban Davagni mencurigakan, tetapi mungkin bisa diterima alasannya.


Fares mencibir. “Tapi ini juga bisa jadi kesempatanmu buat menunjukkan pada semua orang bahwa kau kini berjuang bersama rakyat, melawan kegelapan!”


“Dan membiarkan kabar kemunculan hamba tersebar ke mana-mana, dan memancing kedatangan orang-orang Kubah Putih kemari?” Davagni tertawa. “Tidak, Tuan Fares. Biar hamba yang menentukan, kapan harus membuat jasa atau tidak.”


“Hah! Ya sudah.” Akhirnya Fares mengangkat bahu. “Aku akan ikut orang-orang desa itu, dan berjaga bersama mereka malam ini.”


“Beristirahat sajalah malam ini, Tuan. Biar hamba yang berjaga. Sekaligus hamba hendak memeriksa hutan ini. Gharoul-gharoul ini …” Wajah jelek Davagni berubah masam. “Hamba harus tahu kenapa mereka bisa sampai kemari.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2