Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 86 ~ Pembuka Mimpi


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 86 ~ Pembuka Mimpi


Karya R.D. Villam


 


---


 


Ramir melihat sebatang pohon tak berdaun tepat di sebelahnya. Pohon itu memiliki batang dan dahan berwarna kelabu yang kokoh, tetapi tak tampak sehelai daun pun. Begitu melihatnya ia lega, karena mengira padaakhirnya ia bisa terbangun entah di mana. Sampai kemudian terlihat sesuatu yang lain, yang membuatnya terkejut. Tak jauh dari pohon itu terbaring sesosok tubuh yang diam tak bergerak. Sesaat Ramir ragu, tidak yakin apa yang harus ia lakukan. Ia lalu mendekat, dan akhirnya mengenalinya. Sosok itu adalah dirinya sendiri.


Tapi … bagaimana bisa? Tubuhku ... sekarang ada dua?!


Ramir terhenyak. Bukan hanya karena kini sadar bahwa ia belum terbangun dari mimpinya, melainkan karena dalam seluruh pengalamannya selama ini, belum pernah ia melihat yang seperti ini. Di dalam mimpi-mimpi tersebut ia selalu menjadi dirinya sendiri, di dalam tubuhnya, dan melihat segala sesuatu melalui matanya. Sekarang, rasanya ada yang berbeda, dan aneh, karena ia seperti melihat dari mata orang lain. Kegelisahannya pun mulai timbul. Jangan-jangan ... ini bukan mimpi. Mungkin ia sudah mati, dan jiwanya sudah lepas dari tubuhnya!


Ramir mendongak. Bulan masih menerangi langit malam, walaupun sedikit terhalang oleh tebing yang tinggi. Langit itu sama dengan yang dilihatnya sebelum ini saat ia berbincang dengan Putri Naia. Harapannya muncul, kegelisahannya sedikit reda. Tempat ini mestinya masih berada di sekitar Kubah Putih. Mungkinkah sang putri akan datang mencarinya ke sini?


“Kau menunggu sesuatu, Ramir?”


Ramir terperanjat, serta merta berbalik. Lima langkah darinya berdiri lelaki separuh baya, yang berkulit cokelat dengan senyum memikat. Rambutnya telah memutih di kedua kening. Lelaki itu tidak berjanggut tidak pula berkumis, dan mengenakan jubah panjang berwarna kelabu. Tangan kanannya memegang tongkat yang lebih panjang daripada tinggi tubuhnya.


“Kau … kau siapa?” tanya Ramir gugup. “Maaf …. maaf, karena aku masuk ke dalam mimpimu, Tuan, tetapi aku tak bisa mengatur—“


“Tenanglah, Ramir.” Lelaki itu justru mendekat. “Bukan kau yang masuk ke dalam mimpiku, tetapi aku yang masuk ke dalam mimpimu.”


“Kau? Masuk?” Ramir semakin bingung. “Apa … aku mengenalmu?”

__ADS_1


“Aku kakekmu. Namaku Haladir.”


Ramir terpana. Selama beberapa lama ia hanya memandangi wajah lelaki tua itu, yang mengaku sebagai kakeknya. Ia kemudian menggeleng-geleng tak mengerti, setengah tak percaya. “Tetapi … bukankah kau sudah meninggal, berpuluh-puluh tahun yang lampau? Tak mungkin kau bisa datang sekarang dan masuk ke dalam mimpiku!”


“Untukmu, aku bisa.” Haladir tersenyum. “Tetapi aku takkan bilang bagaimana caranya. Beberapa hal harus dijalani dan dirasakan sendiri. Ada kunci-kunci yang harus kau buka dalam perjalanan hidupmu, jika kau memang ingin tahu. Suatu hari kau mungkin bisa melakukan lebih daripada yang aku lakukan. Tetapi itu nanti saja kaupikirkan.”


Ramir termangu. “Lalu … kenapa kau datang sekarang?”


“Karena sekarang adalah saat yang tepat, dan kau telah membuka sebuah … atau mungkin beberapa kunci. Tenang saja, kau tak perlu takut.” Haladir kini sudah berada di hadapan Ramir dan menepuk-nepuk bahu pemuda itu dengan lembut, seolah berusaha meyakinkan Ramir bahwa sementara ini cukup itu jawaban yang perlu diketahui. “Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Ramir. Apakah kau sedang menunggu sesuatu?”


“Tadi? Oh … itu, aku … aku menunggu Putri Naia, dan juga teman-teman yang lain. Kuharap mereka segera menemukan tubuhku di sini.”


Haladir mengangguk. “Ya, kurasa mereka akan menemukanmu sebentar lagi, jangan khawatir. Tetapi menurutku, sebaiknya kau biarkan saja mereka. Kita punya urusan lain yang lebih penting. Aku ingin mengajakmu melihat sesuatu.”


“Ke mana?” tanya Ramir, kini takut-takut.


Haladir merangkul pundak Ramir, dan tiba-tiba langit mengeluarkan sinar benderang menyilaukan. Malam terbelah oleh segaris cahaya yang memanjang jauh tak terbatas, seperti kain hitam yang terkoyak oleh pisau perak. Ramir menahan napas, begitu merasakan tubuhnya melayang di udara lalu terbang di bawah sinar panjang itu. Hutan dan pegunungan melintas cepat di bawah kakinya, begitu pula sungai besar itu, Sungai Tigris. Tak ada dinding pemisah yang selama ini menjadi penghalang. Dalam mimpi ini Ramir bisa melewatinya begitu saja!


Mereka sampai di tujuan dengan begitu cepatnya. Entahlah, bagi Ramir, jarak dan waktu kali ini seolah tak berarti. Haladir melepaskan rangkulannya, dan keduanya berdiri di atas rerumputan luas di kaki bukit, tak jauh di sebelah barat Sungai Tigris. Ramir mengenali tempat itu. Seingatnya tak jauh dari sini ada gerbang utara, tempat ia dulu menyeberangkan Rifa, Fares dan Davagni dari barat ke timur.


“Kenapa kita ke sini?” gumam Ramir.


“Karena ada seseorang yang membutuhkan kita,” Haladir menjawab, dan sepertinya Ramir mendengar sedikit nada sedih. Lelaki itu menunjuk ke arah sebuah pohon di samping batu besar. Seorang wanita sedang tertidur sambil memeluk pedang. Rambutnya yang tertimpa sinar bulan menunjukkan warna kelabu, tetapi Ramir tahu aslinya berwarna emas.


“Elanna!” Ramir berseru tak tertahan. Ia menoleh lagi ke arah Haladir, lalu paham; suara laki-laki yang didengarnya tadi bukanlah kesedihan, melainkan kerinduan.


“Ah, ternyata kau memang mengenalnya.” Haladir mengangguk perlahan. Senyumannya tersungging, tetapi tampak sedikit pahit. “Berarti benar …”


“Dialah yang menceritakan semuanya tentang dirimu, Kakek.”

__ADS_1


“Oh ya? Apa yang dia katakan?”


“Dia masih mencintaimu, itu katanya.”


“Benarkah?” Haladir memandangi Elanna.


“Sampai sekarang dia memilih tinggal di dekat kuburanmu di utara,” lanjut Ramir.


Haladir mendesah seraya menggeleng. “Mungkin sebaiknya ia pergi. Seharusnya. Ini sudah terlalu lama. Ia pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tempat lain.”


“Kenapa kau tidak mengatakan langsung padanya? Jika kau bisa masuk ke dalam mimpiku, tentunya kau juga bisa masuk ke dalam mimpinya, bukan?”


“Tidak, aku tidak bisa.” Haladir menggeleng. “Jiwaku datang berkat dirimu, Ramir. Kau mendengar Nyanyian Malaikat, maka aku pun mendapat ijin untuk turun. Atas ijin-Nya aku membuka pintu ruang suci dan menarikmu ke atas; jiwamu, dan juga tubuhmu. Tetapi tugasku belum selesai. Aku harus menyampaikan ini: tugasmu barulah dimulai. Dan itu dimulai dari Elanna.”


Ramir coba mencerna ucapan sang kakek. Ia menebak-nebak, apakah berarti Haladir juga yang membuat ia bisa memasuki alam mimpi Naia saat ia menginginkannya. Tetapi ia lalu sadar, ada urusan lain yang lebih penting. Ia memandangi wanita berambut pirang yang tengah tertidur pulas, dan bertanya lirih, “Pertolongan apa yang ia butuhkan?”


“Ada sekelompok orang yang tengah mengincar dirinya. Sayangnya aku tak tahu siapa, apa tujuan mereka, dan seberapa jauh dari sini. Tetapi perasaanku mengatakan mereka sudah ada di dekat sini.” Haladir menatap berkeliling, seolah berusaha menemukan sosok-sosok yang ia maksud. “Kau harus masuk ke dalam mimpinya, Ramir, dan memberitahu dia tentang bahaya ini. Bangunkan dia.”


“Baik.” Ramir mengangguk ragu. “Kau ikut denganku? Elanna akan lebih percaya jika kau yang langsung berbicara padanya.”


“Aku bisa masuk, dan melihatnya berbicara padamu, tetapi walaupun ingin aku tak bisa berbicara padanya. Ia tak bisa melihatku.”


“Ah, sayang sekali.”


Haladir tersenyum. “Akan tiba waktunya nanti buat aku dan dia untuk bertemu dan saling bicara, tetapi bukan sekarang. Masuklah, Ramir. Akan kubuka pintu mimpinya sekarang.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2