
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Epilog (1) ~ Negeri Salju
Karya R.D. Villam
---
Segera setelah seseorang melewati puncak Pegunungan Kaukasia, tak lama setelah puncak musim dingin berlalu, dan jika tak ada awan dan kabut yang menghalangi, biasanya mereka akan melihat hamparan lembah teramat luas yang seluruh permukaannya putih berselimut salju. Benar-benar putih dari ujung timur hingga ke ujung barat, dan sampai jauh ke kaki langit di utara. Ke ujung dunia yang mungkin sama sekali belum terjamah manusia. Putih yang dingin, kaku menggentarkan hati, keras menakutkan, sekaligus bersih tak bernoda.
Lalu perlahan, ketika matahari mulai naik dari cakrawala timur dan akhirnya sampai di puncak, seluruh warna putih itu berkilauan bagai zirah perak, seringkali teramat menyilaukan sampai membutakan mata.
Bagi Teeza sang pencinta langit dan bumi, yang tampak dari kesemuanya tetaplah kecantikan tempat itu belaka. Itulah saat-saat terakhir sebelum seluruh lapisan salju tebal akhirnya membuka selubungnya, mencair kemudian menampilkan keindahan lain di baliknya. Berpuluh-puluh tahun yang lalu ia tak pernah ingin melewatkan saat-saat terindah kala selimut salju terbuka, saat dingin yang ia cintai berubah lagi menjadi hangat yang ia cintai pula. Kini ia bersyukur karena berkesempatan lagi menikmatinya.
Hampir setahun berlalu semenjak ia pergi meninggalkan teman-temannya di tepi Sungai Tigris. Melewati sungai, lembah dan pegunungan, serta melintasi begitu banyak negeri. Hatinya diselimuti kerinduan, tentang apa yang ia ingat sebagai tanah kelahirannya di utara. Tempat ia dibesarkan, tempat ia melewatkan masa kecil yang indah, di mana ia bisa dicintai keluarga yang sesungguhnya. Semua hal itu memenuhi benaknya, menggejolak dalam hati, kepala dan tubuhnya. Semakin dekat ke utara seluruh rasa itu semakin kuat.
Sayangnya, bersamaan dengan itu, perasaan pahit dan hampa ikut datang. Teeza mengerti bahwa itu semua hanyalah kenangannya belaka. Semua yang ia kenal dan ia rindukan telah lenyap tertiup masa, hancur tertimbun tanah serta tertutup alang-alang, dan ia mungkin takkan menemukan apa-apa lagi di utara selain angin dan salju.
Toh ia tak mempedulikannya dan terus berjalan. Mungkin, karena ia tak punya lagi tempat lain yang bisa ia tuju.
__ADS_1
Maka, ketika sebagian salju telah mencair ia pun sampai di negerinya. Negeri Es, demikian orang-orang di utara biasa menyebutnya. Sebutan sangat pantas terutama saat tempat itu memasuki musim dingin, di mana danau luas yang membatasi negerinya di sebelah timur selalu tertutup oleh es. Saat ini, bersamaan dengan mencairnya salju, lapisan es tebal telah ikut mencair. Kini yang tampak di timur, dari utara hingga jauh ke balik pegunungan di selatan, adalah danau seluas lautan yang seluruh permukaannya berwarna biru cemerlang, dan hanya tinggal sebagian tepiannya saja yang masih memutih.
Di tepi danau itu Teeza duduk termenung. Ia terbayang masa kecilnya, ketika ia hampir setiap hari menghabiskan waktunya di sana. Berlayar sampai jauh dan mencari ikan kala musim panas bersama ayahnya, dan juga berlatih memanah di tepi danau bersama abangnya, serta berseluncur di atas es kala musim dingin bersama teman-temannya. Ia ingat semuanya, dan perlahan tersenyum, membiarkan dirinya terselimuti kenangan.
Sampai kemudian perhatiannya teralih.
Sosok asing tampak di utara, terpencil di atas perbukitan berbatu.
Orang itu duduk di atas seekor kuda bertubuh besar. Baju yang dikenakannya tebal, mungkin terbuat dari kulit dan bulu beruang. Kepalanya tertutup tudung, yang mungkin terbuat dari bahan yang sama, hingga membuat wajahnya tak mungkin terlihat dalam bayangan. Walau demikian Teeza yakin orang itu tengah menatapnya saat ini, dan mungkin sudah cukup lama.
Teeza pun tahu siapa kira-kira orang itu. Dia pastilah seorang prajurit perintis dari suku-suku pengelana di timur. Atau bahkan mungkin seorang prajurit yang statusnya lebih tinggi, mungkin putra kepala suku, jika dilihat dari sikapnya yang penuh wibawa dan tanpa takut.
Pelan-pelan Teeza berdiri. Busur tergenggam erat di tangan kirinya, dan tangan kanannya siap mencabut panah dari punggungnya kapan pun dibutuhkan.
Orang-orang timur itu datang dari padang-padang rumput, menyusuri sisi utara Laut Kaspia, sementara orang-orang Kaspia yang tinggal sedikit harus mencari tanah baru ke barat hingga mungkin sampai jauh ke timur Laut Hitam, untuk kemudian bersaing dengan suku-suku asli yang telah lebih dulu tinggal di sana.
Itu adalah hal yang dulu sama sekali tak pernah terbayangkan. Suku-suku pengelana dari timur sejak dulu selalu dianggap inferior dan tak pernah berani berkuda sampai jauh ke barat, ke tanah-tanah perburuan milik orang Kaspia. Sekarang keadaannya berbalik. Dalam hal ini Niordri mungkin benar, kala ia berkata bahwa mereka sebaiknya menghancurkan orang-orang timur itu lebih dulu sebelum orang-orang itu balik menghancurkan mereka.
Tetapi, bagaimana mungkin kata-kata itu bisa dipercaya jika yang terbukti terjadi kemudian adalah perang antar saudara yang dipicu sendiri oleh Niordri? Bangsa Kaspialah yang telah menghancurkan diri mereka sendiri, bukan orang lain, dan sisa-sisanya kini tak berdaya. Hanya tinggal soal waktu sampai akhirnya orang-orang timur datang dan mengambil semuanya.
Namun Teeza telah memaafkan Niordri. Ia juga telah belajar menerima ini. Dunia yang dulu dikenalnya telah berubah. Negeri Es telah lenyap ditinggalkan orang-orang terakhirnya. Seandainya pun ia masih punya keinginan untuk kembali membangun negerinya, ia tak mungkin bisa melakukannya sendiri. Dan lagi pula, buat apa ia melakukannya jika tak ada lagi yang bisa dibela dan diperjuangkan di tempat ini?
Takdir tampaknya telah menentukan bahwa riwayat orang-orang Kaspia cukup sampai di sini, sehingga mungkin Teeza tak perlu lagi memiliki keinginan besar seperti itu.
__ADS_1
Maka, ketika si orang timur kini mendatanginya, betapapun rasa permusuhan lama sempat timbul, Teeza memilih untuk menahan diri. Baginya mudah saja jika ia mau mengarahkan anak panahnya ke orang itu dan membunuhnya. Tetapi itu sudah tak ada gunanya, dan juga bukan hal yang baik lagi untuk dilakukan. Sambil berdiri tegak dan waspada ia hanya membalas tatapan si pengelana timur. Bukan untuk mengancam, hanya untuk menegaskan keberadaannya bahwa ialah yang dulu pernah menjadi penghuni tanah ini, dan karenanya, di saat-saat terakhir ia berada di tempat ini ada baiknya sang pendatang baru menghormatinya, setinggi-tingginya. Mereka boleh mengambil tanah ini nanti, tetapi tidak sekarang.
Dan tampaknya si pengelana mengerti. Tudung kepala orang itu terangguk seolah ia sedang memberi hormat, kemudian ia menarik tali kekang kudanya. Kuda bertubuh besar itu berbelok lalu berlari menjauh dari puncak bukit. Tak lama pengelana dari timur itu menghilang di balik batu bersama derap lari kudanya yang sayup-sayup lenyap terbawa angin. Dari suara derap itu, ada kemungkinan dia tidak sendiri. Ada dua atau tiga pengelana lain yang ikut bersamanya. Dan mereka semua kini sudah pergi, untuk sementara ini.
Sampai beberapa lama Teeza memandang kosong ke utara, lalu perlahan menarik napas. Ia menoleh ke kiri, menatap perbukitan lain di sebelah barat. Perbukitan itu diselimuti pepohonan yang cukup lebat yang sebagian besar batang dan ranting gundulnya masih tertutup salju tebal. Di balik hutan itu ada lembah luas yang dulu dipenuhi tenda dan dihuni orang-orang Kaspia, tempat tinggalnya dulu. Tentu saja lembah itu telah lama ditinggalkan.
Dan itu memang bukan tempat yang paling ia tuju saat ini.
Teeza melintasi jalan yang masih setengah bersalju di antara batang-batang pepohonan. Ia mendaki lereng berbatu melalui jalanan berliku, hingga akhirnya tiba di suatu tanah datar tersembunyi di balik hutan. Salju masih menyelimuti hampir seluruh permukaan tanah itu, dan tempat ini, karena suatu sebab, memang terasa lebih dingin dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang tadi disinggahi Teeza.
Di salah satu sudutnya, di balik selimut salju, ada sebuah tiang batu yang ujungnya tersembul ke atas. Di depan tiang itu Teeza berhenti sesaat, bibirnya bergetar. Lalu ia berlutut, tak kuasa menahan rindu dan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
“Ayah ...” ia berkata, “aku pulang.”
Ia meraup salju dingin yang menumpuk di depan tiang batu, mengangkat dan menciumnya dengan penuh perasaan. Air matanya turun membasahi salju, dan mungkin akan lebur bersamanya, lalu membeku dan kemudian mencair bersama nanti. Teeza memanjatkan doanya, panjang, memohon ampun dan meminta kepada Tuhan.
Setelah itu melanjutkannya dengan satu kalimat, “Kuharap aku bisa bertemu lagi denganmu, Ayah ...”
Angin berhembus dari samping meniup tengkuk dan wajahnya. Suara siulannya yang panjang dan tipis seolah menjadi jawaban atas permintaan gadis itu.
__ADS_1