
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 35 ~ Medali Putih
Karya R.D. Villam
---
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pikir Naia begitu ia berjalan memasuki Pondok Kedamaian. Ia menghargai perhatian Javad yang selalu ingin melindunginya di mana pun dan kapan pun. Dan saat ini, setelah apa yang dilakukan oleh Naia dengan memanggil Nergal dan pasukannya dari Dunia Kegelapan—yang pasti akan menimbulkan kemarahan orang-orang Kubah Putih jika mereka tahu—wajar jika Javad khawatir. Betapapun Naia berusaha menutupinya, kegelisahannya ternyata tak pernah hilang. Ia masih tetap bimbang apakah ia telah berbuat kesalahan, atau justru kebenaran. Namun jika itu adalah sebuah kesalahan, dan berarti Naia harus membayarnya, ia tidak takut. Apa pun yang terjadi, ia sudah siap.
Ia sampai di tengah pondok yang terletak di puncak bukit. Empat lelaki berjubah putih sudah menunggu di tempat itu, duduk mengelilingi sebuah meja batu berbentuk lingkaran yang dari permukaannya berpendar cahaya biru kemilauan. Cahaya itu cukup untuk menerangi wajah setiap orang dan memberi efek kedamaian, sekaligus kemisteriusan di tempat itu.
Naia duduk dengan hati-hati, seraya menatap berkeliling untuk mengenali tamu-tamunya. Tiga dari mereka adalah orang yang dilihatnya dulu di tepi Sungai Tigris: Jarraf dan dua orang lainnya. Sementara orang keempat, yang berjanggut putih panjang dan duduk tepat di seberangnya, sudah lama tidak ia lihat. Namun Naia tak mungkin lupa; orang itu Parvez, sang pemimpin kelompok Kubah Putih. Naia menyapa formal tanpa senyum, “Tuan Parvez, lama tak bertemu. Aku senang, kau akhirnya menyempatkan diri datang ke negeri Awan.”
Parvez mengangguk hormat sebagai balasan. “Tuan Putri, demikian pula aku, senang melihat dirimu pada akhirnya mau datang untuk menemui kami di sini.”
“Kenapa aku harus tidak mau?”
“Siapa tahu.” Parvez tersenyum sambil melirik tiga rekannya. “Terakhir kali bertemu rekan-rekanku di Sungai Tigris, kau sepertinya tidak begitu gembira.”
“Karena aku tidak suka cara Habik membawaku menemui kalian.” Naia menatap tajam ke arah Jarraf, lalu kembali ke Parvez. “Mmbuat kami tertidur, itu sama saja dengan mnculik.” Suaranya lalu melunak, “Apa yang membawamu kemari, Tuan Parvez?”
“Sebelumnya, kami minta maaf atas apa yang kau alami. Kami tidak bermaksud buruk. Lalu, mengnai kedatanganku sekarang, mungkin kau juga sudah tahu, Tuan Putri. Ini tentang kejadian yang menimpa Habik.” Parvez menahan kata-katanya. Setelah melihat Naia tak bereaksi, ia melanjutkan, “Habik tewas saat bertempur bersamamu.”
“Ya,” jawab Naia. Pembicaraan seperti ini selalu melukai hatinya sehingga ia memilih untuk tetap tenang. Sudah tak terhitung prajurit yang tewas demi melindunginya. Berbicara tentang mereka hanya membuatnya merasa semakin bersalah. “Habik ikut tewas bersama beberapa prajuritku saat bertempur melawan Rahzad. Aku menyesal, Tuan Parvez.”
“Kami ikut menyesal. Tetapi … kau pasti yang paling merasakan.”
Naia diam saja. Ia memandangi Parvez, mengira-ngira apakah hanya soal ini yang membuat lelaki itu menemuinya sekarang. Pasti lebih dari itu.
“Kami dengar pertempuran dengan Rahzad saat itu sangat dahsyat,” lanjut Parvez. “Kau mungkin bertanya-tanya dari mana kami mengetahui hal ini, tetapi jika kau ingin tahu, Tuan Putri, sebenarnya kami selalu berusaha dekat denganmu, dan membantu sejauh yang kami bisa.”
“Maksudmu?”
“Di tepi sungai dulu, kau memang menolak kami ikut bersamamu, tetapi aku mengirim beberapa orang untuk mengikutimu. Jadi saat di kota Akshak, ketika kau terkepung dan lari dari kejaran pasukan Akkadia, kami bisa membantu dengan cara menipu pandangan mereka. Sayangnya setelah itu kami kehilangan jejak begitu pasukan Awan mendapatkanmu, dan baru bisa mendekat lagi saat kalian berjumpa dengan Rahzad.”
Naia pun teringat. “Jadi itu kalian, yang membuat kabut gelap itu?”
Parvez mengangguk. “Maaf, kami tidak bisa berbuat lebih banyak daripada itu. Jumlah anggota kami yang menyusup ke wilayah Akkadia tidak banyak. Jadi ketika Habik dan beberapa prajuritmu tertangkap di Akshak, kami tidak mungkin muncul begitu saja. Kau pasti mengerti, Tuan Putri, prinsip kami adalah kami tidak ingin terlibat langsung dalam peperangan kalian melawan Akkadia. Kami selalu menjaga hubungan baik dengan Ebla dan Awan—yang adalah musuh-musuh Akkadia—tetapi posisi kami selalu netral. Bagi kami yang paling penting adalah dirimu. Sang Terpilih. Kaulah yang harus kami lindungi.”
“Kalian menjaga hubungan baik dengan aku dan Javad karena kami berdualah yang memegang kunci Gerbang Sungai Tigris,” tukas Naia. “Kalian butuh kami, karena kalian perlu akses untuk pergi mondar-mandir menyeberangi Sungai Tigris, ke barat ataupun ke timur.”
“Kita semua saling membutuhkan.”
Naia termenung. “Ya, tentu saja.”
“Tuan Putri, sebenarnya kami kemari untuk membicarakan hal yang lebih penting.” Parvez mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah berusaha agar kata-kata berikutnya dapat terdengar lebih jelas. “Saat pertempuran itu Davagni muncul, untuk membantumu menghadapi Rahzad. Benar?”
__ADS_1
Naia terdiam, lalu mengangguk dan menjawab dengan hati-hati, “Davagni membantuku, dan aku bersyukur. Jika tanpa bantuannya, aku, Javad, dan para prajurit lainnya yang sekarang selamat, pasti sudah mati saat itu di tangan Rahzad.”
Parvez memandangi ketiga rekannya, lalu mengangguk ke arah Naia. “Ya. Untunglah. Ternyata Davagni datang untuk melindungi kalian.”
“Kuharap akhirnya kalian mengerti. Bukan Davagni, yang menjadi musuh utama rakyat yang selama ini ingin kalian lindungi, melainkan Rahzad, Sargon, dan seluruh pasukan Akkadia. Mereka yang seharusnya kalian musuhi.”
“Davagni makhluk licik yang tidak bisa dipercaya, Tuan Putri.” Jarraf yang duduk di samping Parvez angkat bicara. “Kau sudah tahu …”
“Aku percaya padanya,” jawab Naia dingin. “Aku jauh lebih percaya pada mereka yang benar-benar mau membantuku melawan Rahzad, daripada orang-orang kolot yang hanya hidup dalam dunia mereka sendiri, dan tak peduli pada orang lain!”
Wajah Jarraf dan kedua rekannya berubah ungu dari semula biru berkat sindiran Naia, dan mata mereka melotot. Jelas mereka tersinggung.
Namun Parvez tetap tenang. “Tuan Putri, kami mengemban kewajiban yang telah dilakukan turun-temurun oleh berpuluh-puluh generasi. Ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertikaian sesama manusia. Pertempuran melawan kegelapan sejati.”
“Begitu ya? Menarik. Tetapi sayangnya, rakyat akan lebih dulu binasa sebelum pertempuran kalian dimulai,” serang Naia lagi. “Jadi apa gunanya itu?”
Parvez menggeleng sambil mendesah. “Aku percaya pemikiranmu jauh lebih bijak daripada yang kauucapkan tadi.”
Naia tak menjawab dan tetap duduk dengan kepala tegak. Sebenarnya ia setuju, pasti ada tujuan penting dalam hal yang disebut Parvez sebagai ‘pertempuran melawan kegelapan sejati’. Namun tetap saja, Naia tidak setuju jika hanya demi hal itu ia harus mengesampingkan penderitaan rakyat akibat perbuatan Rahzad dan pasukan Akkadia. Baginya, alih-alih lebih besar, hal itu justru adalah kebodohan sejati.
Jarraf berkata, “Tuan Putri, dulu aku pernah berkata, ada kemungkinan Davagni terkait dengan kemunculan gharoul di tanah Sumeria. Kau tentunya mengerti bagaimana berbahayanya jika hal ini dibiarkan.”
“Aku telah menanyakan hal ini pada Davagni.” Naia menatap semua tamunya. “Ia bilang kemunculan gharoul tak ada hubungan dengannya, dan aku percaya. Kalian tentu tahu, Davagni takkan berani berbohong kepadaku, karena aku bisa menghancurkannya.”
Parvez menatap rekan-rekannya, lalu mengangguk. “Jika kau percaya begitu, Tuan Putri, kami pun akan percaya. Walau tentunya masih harus dibuktikan.”
“Aku sudah meminta Davagni untuk menyelidiki langsung ke sarang gharoul ini,” kata Naia tanpa takut. Ia sengaja mengatakannya untuk menekan semua tamunya lebih jauh, memperjelas bahwa ia percaya pada Davagni. Mereka tertegun, belum berani untuk berbicara. “Dan Davagni telah melaporkan hasil penyelidikannya padaku.”
“Ada seseorang … yang telah sengaja membuka pintu ke dunia lain,” kata Naia dramatis. “Lalu memberi tempat hidup bagi para gharoul di dunia kita.”
“Siapa?” kejar Parvez.
“Kalau itu, aku dan Davagni juga tidak tahu.” Ia menyeringai melihat reaksi kesal Parvez dan rekan-rekannya. “Itu tugas kalian buat mencari tahu. Yang jelas, sekali lagi, Davagni tak ada hubungannya dengan mereka.”
“Di mana sarang mereka itu?” tanya Jarraf.
“Itu kalian pasti sudah tahu,” tukas Naia. “Di kaki Pegunungan Zagros, dua hari perjalanan ke utara dari kota Sippar, ada sebuah gua. Di sanalah sarang mereka. Jangan bilang kalian belum tahu ini!”
Parvez menghela napas. “Ya. Anggota kami memang mendengar beberapa gharoul menyerang sebuah desa di utara kota Sippar. Tak ada kabar lebih lanjut tentang itu, jadi kami belum bisa memperkirakan sarangnya. Terima kasih telah memberitahu kami. Kami akan menyelidiki ke sana lebih jauh.”
“Berhati-hatilah,” kata Naia. “Tampaknya ada cukup banyak gharoul di dalam gua itu. Davagni sendiri tidak berani masuk ke dalamnya.”
“Kami akan berhati-hati. Walau sebenarnya kami juga mengharapkan bantuanmu, untuk menghancurkan makhluk-makhluk itu.”
“Menghancurkan mereka?” sahut Naia muram.
Parvez mengangguk. “Haruskah kami katakan sekali lagi, bahwa kau adalah Sang Terpilih, bahwa kaulah orang yang akan memimpin kami melawan seluruh makhluk kegelapan di dunia?”
Naia mematung, rahangnya mengeras menahan galau. Ia berpaling dari tatapan Parvez, hanya untuk melihat wajah-wajah Jarraf dan kedua tetua Kubah Putih lainnya di semua sudut. Sadar bahwa ia tak mungkin menghindar, akhirnya Naia kembali menatap Parvez. “Maafkan aku, Tuan Parvez. Aku harus jujur padamu. Aku bukan lagi Sang Terpilih.”
“Apa?!” Parvez dan ketiga rekannya terlompat kaget. “Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Aku telah menghancurkan Medali Putih di leherku,” kata Naia.
Keempat orang Kubah Putih ternganga mendengarnya.
“Itu … itu tidak mungkin!” seru Jarraf. “Tak satu pun senjata di dunia, setajam apa pun, yang mampu menghancurkan Medali Putih!”
“Kalian ingin bukti? Lihatlah.” Naia menyibakkan sorban putih yang melilit lehernya. Jenjang dan putih bersih lehernya kini, tanpa ada logam kemilau yang biasanya melingkar di sana.
“Apa … apa yang kau lakukan?” Jarraf langsung melotot. “Mana Medali Putih kami?!”
“Jangan khawatirkan itu. Aku masih menyimpannya dengan baik di lemariku,” jawab Naia. “Tetapi itu takkan berguna lagi sekarang.”
“Tetapi … bagaimana bisa?” Parvez menggeleng tak percaya. “Senjata apa yang kau gunakan untuk melepaskannya dari lehermu? Hanya ilmu putih leluhur kami yang bisa, atau …”
“Aku memakai … pedang Nergal, saudara tua Davagni.” Naia menguatkan dirinya untuk mengatakan rahasia besar yang telah membebaninya selama ini. “Aku … mengundangnya datang ke dunia ini, untuk mengalahkan Rahzad. Tentu saja Nergal tak bisa, dan tak berani, menggunakan pedang itu secara langsung padaku untuk menghancurkan medali itu, jadi dengan tanganku sendirilah kugunakan pedangnya untuk memotong Medali Putih di leherku dan mematikan sihir yang melindunginya.”
Dengan mudah, seperti belati memotong daun.
Parvez dan tiga rekannya terhenyak. Wajah pucat mereka mengalahkan sinar biru yang terpancar dari tengah ruangan. Untuk beberapa saat tak satu pun yang sanggup berbicara. Dan tiba-tiba, kegelisahan luar biasa ikut pula menyelimuti Naia.
Oh … benarkah semua yang telah kulakukan ini?
“Demi para leluhur …” Suara Parvez bergetar. Ia berdiri menunjuk ke arah Naia penuh amarah. “Kau sadar apa yang telah kau lakukan? Ini bencana! Siapa yang kau sebut Nergal ini? Apa kau mengenalnya? Dan kini ia bersama Davagni di sini? Apa kau tidak berpikir bencana apa yang bisa terjadi di dunia kita? Tuan Putri, kau punya kekuatan untuk menghancurkan dan membinasakan mereka, tetapi kau kini malah menghancurkan dirimu sendiri! Dan membiarkan mereka, makhluk-makhluk kegelapan, menguasai dunia kita!”
“Tuan Putri, ada masalah?”
Itu suara Mehrdad. Prajurit gagah itu sudah berdiri di samping Naia. Matanya menatap tajam ke arah para tetua Kubah Putih, dan tangan kanannya menggenggam ujung pedang yang tergantung di pinggangnya.
“Ada masalah?” Mehrdad mengulangi pertanyaannya lebih keras, kini ditujukan pada keempat tetua Kubah Putih, untuk menegaskan ancamannya.
“Tidak apa-apa, Mehrdad.” Naia mendongak dan menatap prajurit itu.
Mehrdad tampaknya paham maksud Naia yang tak ingin melibatkan dirinya, maka ia mundur dua langkah dan kini hanya berdiri tegak di belakang Naia.
“Tuan Parvez, sekali lagi aku minta maaf jika telah membuatmu gusar,” kata Naia. “Namun aku telah mengatakan alasanku kenapa melakukan ini. Bagiku yang lebih penting adalah menyelamatkan rakyatku dan juga rakyat Elam, dari kebinasaan yang mungkin terjadi akibat serangan Rahzad dan pasukan Akkadia. Karenanya aku memanggil Nergal. Dialah, dan bukan kalian, satu-satunya yang bisa mengalahkan Rahzad!”
Parvez menggeram, belum bisa percaya. “Tuan Putri, sadarkah kau bahwa tindakanmu ini telah menempatkan dirimu menjadi musuh Kubah Putih?!”
Naia menatapnya lekat-lekat. “Aku tak ingin bermusuhan dengan kalian, sekarang dan sampai kapan pun. Tetapi jika itu pilihan kalian, apa boleh buat.”
Parvez memandang seluruh rekannya, yang kemudian ikut berdiri. “Tuan Putri, aku telah menyelamatkan hidupmu, dan memberimu medali yang bisa mengendalikan kekuatan jahat di dalam dirimu. Tetapi rupanya kau telah kembali menjadi dirimu yang semula. Aku masih tak percaya tadi, tetapi rupanya memang inilah yang terjadi. Kau telah memilih kembali menjadi manusia terkutuk. Dan akan terkutuklah kau selamanya! Selamat tinggal.”
Penuh kemarahan Parvez dan ketiga rekannya berjalan pergi.
Angin berdesir kencang. Naia merenung, memandangi batu bercahaya biru di depannya. Batu Kedamaian. Tetapi jelas bukan kedamaian yang kini dirasakan oleh Naia. Ia sudah memperkirakan kemarahan orang-orang Kubah Putih, namun tetap saja ucapan Parvez yang terakhir membekas dalam di hatinya.
Aku telah kembali menjadi manusia terkutuk.
Dan terkutuklah aku selamanya.
__ADS_1