
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 80 ~ Syarat Pertemuan
Karya R.D. Villam
---
Esoknya, setelah terbangun dan sarapan buah-buahan serta entah daging apa yang disediakan orang-orang Kubah Putih—mungkin ayam gunung, Fares ternyata tetap belum punya kesempatan untuk menjelajahi tempat itu. Nahim sudah lebih dulu datang dan langsung mengajak Naia dan seluruh rekannya untuk menemui Parvez.
Mereka melewati koridor panjang lagi, yang di setiap ujung-ujung jalannya dijaga oleh sepasang prajurit, kemudian masuk ke ruang dalam yang letaknya mestinya tepat di pusat bangunan. Ujung kubah putih berada tinggi di atas kepala, dan sinar matahari masuk melalui lubang-lubang di sekeliling tepian kubah.
Parvez sudah menunggu di belakang meja bundar bersama beberapa orang lainnya. Fares hanya bisa mengenal satu di antara mereka, Jarraf, yang duduk di samping kiri Parvez.
Parvez mempersilakan seluruh tamunya duduk, lalu berkata, “Selamat datang di rumah kami, Tuan Putri.”
Suara lelaki itu datar, tak jelas apakah ia gembira atau tidak melihat kedatangan Naia. Mungkin tidak, pikir Fares, karena bukankah orang-orang Kubah Putih telah bermusuhan dengan Putri Naia gara-gara gadis itu mendatangkan Nergal? Namun jika melihat Nahim yang memperlakukan mereka dengan baik sejak semalam, walaupun hambar, sepertinya rasa permusuhan itu juga tidak begitu tampak. Fares mengedarkan pandangan, memperhatikan seluruh tuan rumahnya, mencoba memastikan apakah perkiraannya benar.
“Terima kasih sudah menerima kami dengan baik,” Naia membalas. Bukan basa-basi. Fares yakin Naia memang tulus mengucapkan itu. Bagus, karena Fares berharap tak ada satu pun di antara kedua pihak yang sampai mengucapkan kata-kata permusuhan.
Parvez mengangguk sekali lagi, dan tetap tanpa senyum. “Aku senang kau bisa datang, Tuan Putri, pada akhirnya setelah sekian tahun kami mengundangmu. Dari tanah Sumeria kau menyeberangi sungai dan langsung kemari, tentunya ada alasan penting.”
“Ya. Aku ingin meminta ijinmu, untuk berbicara dengan Davagni,” jawab Naia. “Dia ada di sini, bukan?”
Parvez dan seluruh orang Kubah Putih tertegun. Sebagian lalu saling memandang, dan sebagian lagi menatap tajam ke arah Naia.
“Ya, dia ada di sini,” Parvez menjawab. “Tetapi tentunya kau bisa jelaskan lebih dulu, Tuan Putri, apa alasanmu berbicara dengannya? Persetujuan kami tergantung dari jawabanmu.”
Naia menjawab lirih, “Tentunya Anda ingat dengan Nergal?”
“Tentu saja,” jawab Parvez ketus. “Makhluk terkutuk yang kau keluarkan dari dunianya, dan juga yang menghancurkan medali kami. Kejahatan apa yang telah ia buat sekarang? Atau mungkin, yang kalian buat?”
“Dia mengkhianatiku.” Jawaban Naia tegas. Tak ada kegetiran. “Dia memang berencana mengkhianatiku, sejak awal.”
Parvez tampak termangu beberapa saat, agak bingung, lalu bertanya dengan suara lebih lunak, “Lalu apa yang kau harapkan dari kami? Perlindungan?”
“Tidak, aku tidak butuh perlindungan,” Naia menjawab. “Aku tidak takut padanya.”
“Atau ... pengampunan?” Senyum Parvez tampak mengejek.
“Aku hanya butuh pengampunan dari Tuhan, bukan darimu,” jawab Naia, dingin dan tanpa takut.
Parvez mengangguk, tampaknya cukup senang mendengar jawaban terakhir dari Naia. “Lalu apa?”
__ADS_1
“Seperti kubilang tadi, aku ingin bicara pada Davagni. Aku ingin tahu, apakah benar ia bersekongkol dan mengkhianatiku juga.”
“Tentu saja dia mengkhianatimu,” tukas Parvez. “Davagni adalah makhluk terkutuk. Kau terlalu … maaf, bodoh, karena percaya padanya. Kau tak pernah mau mendengar kata-kata kami!”
“Itu masih belum pasti, Tuan.” Naia tetap tenang. “Belum pasti ia mengkhianatiku.”
Parvez menggeleng-geleng, tidak sabar. “Lalu apa yang akan kaulakukan setelah tahu?”
“Aku belum tahu.”
Hening. Orang-orang Kubah Putih tampak menimbang-nimbang.
Parvez memandangi Naia lekat-lekat. “Permintaanmu berlebihan, tetapi kami akan mengijinkanmu, Tuan Putri, dengan satu syarat.”
Napas Fares tertahan. Ia yakin, demikian pula halnya rekan-rekannya yang lain, bahwa mungkin mereka tidak akan akan suka dengan syarat yang akan diajukan oleh Parvez.
Naia menatap tajam sang pemimpin Kubah Putih.
Gadis itu mengangguk. “Katakan.”
“Mulai sekarang kau harus tinggal di sini bersama kami.”
Ekspresi wajah Naia tak berubah, termasuk saat ia bertanya, “Sampai kapan?”
“Sampai kami mengijinkanmu untuk pergi.”
“Fares …” Naia menegur.
“Tuan Putri, kau tak boleh menerima syarat ini!” Fares semakin panas. “Ini penghinaan buatmu, dan juga buat kami semua!”
“Tenang, Fares. Jangan berpikir terlalu jauh. Mereka bukan ingin menahanku. Dan aku juga mengerti syarat-syarat mereka ...” Naia menarik napasnya lambat-lambat, “dan mungkin akan melakukannya.”
Fares tercengang. “Kau tahu apa yang akan mereka lakukan padamu nanti di tempat ini?”
“Ya, aku tahu, jangan khawatir. Mereka tak akan mncelakaiku.” Naia menoleh kembali ke depan. “Tuan Parvez, aku menerima tawaranmu.”
Parvez memandanginya beberapa lama, kelihatannya ia pun sedikit heran. “Tuan Putri, aku tak menyangka ... kau akan menerima tawaran kami secepat ini. Tadinya aku berpikir kita akan melakukan tawar menawar, yang hasilnya mungkin bisa buruk untuk kita semua. Aku senang kau langsung setuju.”
Naia termangu, kemudian mengangkat wajahnya. “Anggap saja itu penebusan untuk semua kesalahanku.”
“Maka, semoga Tuhan mengampunimu, dan juga mengampuni kita semua.” Kali ini Parvez tersenyum dan mengangguk penuh hormat. “Tuan Putri, silakan, kau boleh menemui Davagni.”
Fares belum puas. Naia berhutang penjelasan pada ia dan rekan-rekannya yang lain! Fares tetap belum yakin pada pilihan Naia, dan terus bertanya-tanya dalam hati, tetapi ia belum akan mendapatkan jawaban. Sehabis pertemuan mereka diajak Parvez melewati lorong panjang ke arah utara. Jarraf, Nahim dan empat orang prajurit menyertai mereka.
Tak lama mereka sampai di beranda luar, yang berpemandangan lembah luas yang hijau di sebelah kiri dan kanan. Para pengawal berjaga di beberapa sudut. Di salah satu halaman berlantai batu itu puluhan prajurit tengah berlatih memainkan tombak. Rombongan Fares melewati jembatan batu yang tak begitu panjang dan masuk lagi ke ruangan lain yang lebih kecil, kembali melalui sebuah lorong panjang yang diterangi sebarisan obor.
Mereka tiba di mulut sebuah gua raksasa. Fares dan seluruh rekannya terpana. Bahkan Naia, yang semestinya sudah pernah masuk ke tempat ini saat ia masih kecil, pun tak kalah kagum.
__ADS_1
Rifa bergumam sambil memandang berkeliling, “Aku sudah melewati gunung tinggi di utara, dataran rendah penuh darah di barat, dan kini masuk ke perut gunung. Waktu-waktu yang luar biasa, sebagian menyedihkan, tetapi ada pula yang menyenangkan. Aku tak akan meminta lebih ...”
Fares tertawa. “Tak akan meminta lebih, Rifa?” Ia yakin sudah pernah melihat lebih banyak daripada Rifa, dan kenyataannya ia selalu ingin lebih. Tetapi karena tugasnya sebagai pengawal Naia, ia jarang punya kesempatan bepergian sesukanya, tak seperti Rifa yang lebih bebas pergi ke mana pun gadis itu mau. “Kau tidak serius, kan?”
“Hei, kalian tak berpikir ini adalah tempat yang mengerikan?” kata Zandi. Suaranya terdengar gugup. “Ini tempat aneh ...”
“Kau takut?” sindir Isfan.
“Tidak! Hanya saja—”
“Teman-teman,” tegur Naia. “Hentikan sejenak canda kalian.”
Semuanya langsung menurut. Fares mengikuti Naia menuruni anak tangga di samping dinding gua. Parvez dan Jarraf sudah berjalan di depan, sementara yang lainnya menyusul di belakang, termasuk Nahim dan para prajuritnya. Di dasar gua mereka mereka menyusuri jalan kecil berkelok yang diapit oleh batu-batu tajam menjulang tinggi, hingga akhirnya sampai di sebuah mulut gua lainnya yang lebih kecil dan gelap, tak tampak apa pun di dalamnya.
“Davagni ada di dalam sana?” tanya Fares. Bulu kuduknya merinding. “Sedang apa dia? Tidak mungkin tidur, aku yakin.”
“Sedang menunggumu, mungkin, dengan penuh dendam,” sindir Rifa.
“Kalau dendam pada orang-orang Kubah Putih …” Fares melirik Parvez dan Jarraf. “… itu bisa dimengerti. Tetapi padaku, ia akan lebih menganggapku sebagai teman. Kami berdua pasangan penyelidik yang serasi.” Ia menyeringai lebar.
“Davagni adalah makhluk licik, Tuan Fares,” Jarraf menukas dengan gayanya yang serius. “Sebaiknya kau jangan gegabah menganggapnya sebagai teman.”
“Ya, ya, aku tahu.” Fares mendengus sebal. “Jadi, sekarang, apa?”
“Aku bisa masuk?” Tanpa ragu Naia mengambil obor dari tangan seorang prajurit.
“Aku akan membuka gerbang sihir di mulut gua ini, dan kau bisa masuk ke dalam,” jawab Parvez. “Masih ada satu sihir lagi yang membelenggu Davagni, jadi kau akan aman di dalam sana, aku yakin.”
“Dari suaramu, sepertinya kau tak begitu yakin,” tukas Naia. “Apa pun, aku memang harus masuk, dan mungkin hanya aku. Davagni tak akan mau berbicara jika ada orang-orang Kubah Putih di dekatnya.”
“Bisa saja mau, kalau memang ia merencanakan sesuatu,” balas Parvez. “Tetapi mungkin kau benar. Jadi silakan, Tuan Putri.”
“Aku ikut,” kata Fares cepat.
“Aku juga,” sahut Rifa. “Makhluk itu mengenalku juga.”
“Baik.” Naia mengangguk. “Kita bertiga.”
Isfan dan Zandi, walaupun meminta ikut, ditolak oleh Naia. Keduanya harus puas berjaga di luar bersama orang-orang Kubah Putih.
Parvez mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan mantra dengan suara pelan. Tak tampak perubahan di mulut gua itu, tetapi pemimpin Kubah Putih itu kemudian mengangguk. “Kalian bisa masuk sekarang. Jika terjadi sesuatu, seandainya saja terjadi, kalian bisa berteriak, atau melakukan hal lain yang kalian bisa. Kami akan masuk. Berhati-hatilah.”
Entah mengapa, peringatan itu malah membuat Fares khawatir. Ia mulai tidak yakin apakah sosok Davagni sekarang ini masih sama dengan yang dikenalnya sebelum ini. Jangan-jangan makhluk terkutuk itu sudah kembali kejam seperti sediakala. Tetapi Fares tahu ia tidak boleh ragu. Ini memang langkah penting yang harus diambil Naia, dan juga dirinya.
__ADS_1