Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 52 ~ Penyergapan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 52 ~ Penyergapan


Karya R.D. Villam


 


---


 


Naia tersenyum, senang karena Javad bisa mengerti bahwa dalam urusannya dengan Davagni, ia merasa lebih nyaman jika ditemani Fares saja. Naia melanjutkan langkahnya, Fares mengikuti. Di samping belukar dan dan dua batang pohon besar Naia melongok.


Tampak sosok gelap bertubuh raksasa itu, Davagni, yang sedang duduk dengan tangan terlipat dan mata terpejam. Dia sepertinya bisa merasakan kehadiran Naia walau gadis itu datang tanpa suara. Dengan tenang makhluk itu membuka matanya dan tersenyum.


Suara beratnya terdengar. “Tuan Putri, bagaimana kabarmu?”


“Aku? Bosan.” Naia meringis, kemudian duduk di depan Davagni. “Kau sendiri, kenapa sembunyi? Ada sesuatu yang menakutkanmu?”


“Hamba sedang menunggu Tuan Putri. Itu saja.”


“Mungkin dia memang takut, entah pada apa. Tingkahnya aneh beberapa hari terakhir,” celetuk Fares, memberikan laporan pribadinya. “Kurasa rasa tinggi hatinya membuat ia tak mau bercerita padaku.”


Naia menyeringai. “Begitu rupanya.”


“Hamba hanya ingin berkata pada Tuan Putri, karena anak muda ini tak akan punya kemampuan untuk memahami hamba.”


“Nah, lihat, kan? Kau ingin aku pergi?” jawab Fares santai.


“Kau tetap di sini, Fares,” kata Naia tegas. “Dan katakan apa pun yang ingin kaukatakan, Davagni.”


“Apakah Tuan Fares sudah bercerita, bagaimana ia bertempur melawan gharoul dalam perjalanannya?”


Naia menggeleng. “Belum. Kita semua baru saja bertemu, bagaimana bisa?”


“Baik. Kalau begitu biar hamba yang menceritakan.”


Davagni bercerita bagaimana Fares bertempur melawan gharoul di hutan di utara, lalu mendapatkan informasi tentang sarang gharoul dari seorang pawang bernama Torek.


Naia manggut-manggut berusaha memahaminya. “Jadi kita mendapat satu lagi bukti, bahwa seseorang memang tengah berusaha membiakkan gharoul dan mengumpulkannya di sarang. Tetapi untuk tujuan apa?”


“Itu yang hamba belum tahu. Maafkan hamba.”


“Kau bisa mencari tahu lagi,” sahut Naia. “Aku akan meminta anak itu—Ramir—untuk membuka kembali gerbang utara. Kau bisa kembali ke Akkadia dan mendapatkan informasi lebih banyak.”


“Terima kasih, Tuan Putri, tetapi …”


“Kenapa? Apa yang kau pikirkan?”


“Dengan senang hati hamba akan melaksanakan perintahmu.”


“Aku tahu, tetapi katakan apa yang menyebabkanmu gelisah. Aku bisa melihatnya, Davagni. Kau tak bisa berbohong dariku.”

__ADS_1


“Hamba hanya tak mengerti. Hamba merasakan ada sesuatu yang berbahaya tengah mendekat. Tetapi hamba belum tahu apa itu, ada di mana, dan kapan itu akan benar-benar datang.”


“Apa? Kau …” Naia menggeram, “... mau membuatku takut, Davagni? Bilang semuanya sejelas mungkin, maka mungkin aku bisa membantumu!”


“Tetapi hamba juga belum tahu, Tuan Putri. Hamba bukan peramal! Hamba hanya bisa merasakan.” Davagni bersikeras.


Naia memandanginya, lalu menoleh. “Fares, apa pendapatmu?”


“Dia sedikit menyebalkan, terus terang,” Fares menyeringai. “Tetapi dari pengalamanku pergi bersamanya, kurasa Davagni bisa dipercaya, dan sangat membantu. Kalau menurutku, bahaya itu ada kaitannya dengan pasukan Akkadia. Lebih tepatnya lagi, Rahzad. Karena siapa manusia yang paling berbahaya di dunia ini kalau bukan Rahzad?”


“Sepertinya kau benar.” Naia mengangguk, walaupun belum begitu yakin. “Bahaya yang kau rasakan itu Rahzad. Mungkin itu petunjuk bahwa suatu hari nanti kau akan bertempur satu lawan satu lagi dengannya.”


“Rahzad?” Davagni mencibir. “Kalau hanya dia, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Riwayatnya tak akan lama lagi.”


Fares tertawa. “Semoga begitu.”


Naia tidak bisa terlalu senang. Sejak dulu sudah terlalu banyak orang yang meremehkan Rahzad. Kenyataannya, mereka semua mati lebih dulu. Namun ia tak ingin membahas ini. Membicarakan Rahzad seringkali terlalu menyakitkan. “Baik, kalau begitu tidak ada masalah. Kapan kau bisa kembali ke barat?”


“Malam ini juga tak masalah,” jawab Davagni.


“Mmm … tidak, besok pagi saja. Malam ini biar kita beristirahat. Dan kita bisa bercerita lebih banyak.”


“Tetapi,” Fares menyela. “Bukankah Yang Mulia Javad bilang kita hendak langsung kembali ke Awan malam ini?”


“Ya ...” Naia mengangguk-angguk. “Biar kutanyakan dulu.”


Ia menemui Javad yang tengah mendengarkan cerita Rifa dan Ramir. Kepada sang raja Awan, Naia menjelaskan keinginannya untuk bermalam, supaya mereka semua bisa beristirahat.


Javad termangu sejenak, sebelum menjawab, “Kalau kau menginginkan begitu, aku akan menurutinya, Naia. Walau sebenarnya aku punya alasan kenapa sebaiknya kita secepatnya kembali ke Awan.”


“Ada apa?”


Javad kelihatan begitu bersemangat. Tak tampak sedikit pun keraguan dalam rencananya untuk menyerang Akkadia. Naia selalu merasa gelisah setiap kali Javad mengungkapkan rencana agresifnya, tetapi di sisi lain ia juga tak mau mengganggu optimisme itu. Naia pun mengangguk. “Kau bisa berangkat lebih dulu. Aku akan menyusul besok.”


“Kau tidak apa-apa, Naia, aku pergi lebih dulu?”


“Aku akan baik-baik saja, Javad.”


Javad ternyata setuju. Ia dan pasukannya kembali ke Awan, sementara Naia beristirahat bersama Fares dan rombongannya.


Mereka menyalakan api unggun, kembali saling bercerita. Naia merasakan kegembiraan yang sudah lama tak dirasakannya. Senyum tersungging di wajahnya sepanjang malam. Bukan hanya karena ia bisa langsung mendengar petualangan Fares dan kawan-kawan, tetapi karena bermalam di dekat api unggun membuatnya teringat pada kehidupan lamanya selama berbulan-bulan, yang walaupun pahit dan menyakitkan, tetapi penuh kenangan yang selalu ia rindukan, saat ia masih bisa bersama para prajuritnya sebelum mereka meninggalkannya.


Naia kemudian mendapat informasi penting lain, kisah panjang di masa lalu mengenai Haladir si ahli sihir, dan juga ayahnya, Raja Talbrim dari Ebla. Naia kini paham ada rahasia besar di balik kekuatan yang dimilikinya sebagai salah satu ahli waris Gerbang Sungai Tigris, dan juga membuatnya lebih paham mengenai musuh besarnya, Rahzad. Namun ia yakin sebagian informasi ini sebenarnya sudah banyak diketahui oleh Teeza, mantan kapten kepercayaannya, yang selalu menyembunyikannya dari Naia entah karena alasan apa. Tetapi berhubung Teeza sudah berkhianat saat ini, mudah-mudahan dia tetap belum tahu soal letak gerbang-gerbang di Sungai Tigris, baik yang berada di utara maupun selatan.


Seluruh cerita disampaikan dan diperbincangkan hingga tengah malam. Sadar bahwa pembicaraan mengenai itu bakal tak habis-habisnya, sementara Fares, Rifa dan Ramir membutuhkan istirahat, Naia akhirnya memutuskan bahwa mereka sebaiknya tidur. Mereka berbaring di rerumputan, dan dalam waktu singkat terlelap.


Sesaat sebelum Naia tertidur, hanya tinggal satu orang yang masih terjaga menahan kantuk. Mehrdad, yang tetap duduk dengan gagah di atas batu besar, tak pernah kehilangan kewaspadaan.


Naia sempat berkata padanya, “Tidurlah. Tak ada musuh di sini. Kau juga butuh istirahat.”


Lelaki itu menjawab, ”Aku akan tidur nanti. Jangan khawatir.”


Naia tahu Mehrdad pasti berbohong. Lelaki itu sama sekali tak berniat untuk tidur. Akhirnya Naia tak peduli.

__ADS_1


Entah berapa lama ia tertidur. Mungkin tak lama, karena malam masih sangat gelap dan bulan seperti belum bergerak dari tempatnya semula, kala tiba-tiba terdengar teriakan keras entah dari mana.


“Heaaa!!!”


Naia langsung terduduk. Di depannya Mehrdad berdiri dengan wajah tegang menghadap ke utara, bersiaga dengan tombaknya.


“Ada apa?” Fares, yang ternyata sudah berdiri tak jauh di samping Naia, bertanya. Rifa, Isfan, dan para prajurit lain juga sudah terduduk, sebagian terbangun karena dibangunkan rekannya. Hanya Ramir yang masih terlelap.


“Mehrdad, ada apa?” tanya Naia.


Prajurit gagah itu menggeleng. “Sepertinya suara itu dari balik pepohonan di utara. Terus terang tadi aku pun sudah setengah tertidur, aku tak tahu apa ada suara-suara lain sebelumnya.”


Naia mengangguk, memaklumi. Rupanya Mehrdad juga menunjukkan kalau ia hanya manusia biasa. Ia bisa tertidur!


Kapten negeri Awan itu menoleh pada tiga prajurit yang menyertainya. “Kalian, coba periksa ke utara. Lihat ada apa.”


Ketiga prajurit menuruti perintahnya, bergegas pergi menembus pepohonan, lengkap dengan membawa tombak. Sementara menunggu, Naia memandang berkeliling khawatir. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


“Davagni,” cetusnya. “Mana dia?”


Semua orang celingukan, kebingungan. Fares cepat-cepat berlari ke balik batu besar tempat Davagni tadi bersembunyi. Tak lama pemuda itu kembali sambil menggeleng.


“Dia tidak ada,” katanya. “Tidak ada di mana-mana.”


Kekhawatiran memenuhi pikiran Naia. “Mungkinkah …?”


“Suara tadi, ada hubungannya dengan Davagni?” tanya Rifa.


“Lebih baik kita menunggu,” kata Mehrdad datar hampir tanpa emosi, menunjukkan kalau ia adalah orang yang paling tenang sekaligus waspada di tempat itu.


Namun mereka menunggu cukup lama. Naia sudah hampir kehilangan kesabaran dan hendak menyusul ke utara, ketika tiga orang prajurit yang tadi dikirim oleh Mehrdad akhirnya kembali dan memberikan laporan.


“Kami tertahan menjelang keluar dari hutan. Sekelompok orang berjubah putih menghadang, meminta kami kembali. Jumlah mereka  banyak, dan semuanya bersenjata. Kami tak mau mengambil resiko.”


“Orang-orang Kubah Putih?” Naia terkejut. Semua menoleh ke arahnya, tertular kekhawatirannya. “Apa lagi yang mereka katakan?”


“Mereka bilang mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari, dan tak ingin melukai siapa pun. Keparat!” Seorang prajurit menggeleng kesal. “Mereka ... berani melakukan itu di negeri kita?!”


“Akan kubereskan mereka,” balas Mehrdad geram.


“Tuan Putri,” Fares berkata gundah. “Menurutmu, mereka …”


“Ya, Fares,” jawab Naia getir. “Mereka berhasil menangkap Davagni. Sepertinya mereka sudah mengamati keberadaan kita cukup lama.”


“Inikah yang selama ini dikhawatirkan Davagni?” Fares menggeram. “Tak adakah yang bisa kita lakukan sekarang?”


“Orang-orang Kubah Putih cukup terampil. Entah sihir apa yang mereka pergunakan, tetapi mereka mampu bergerak cepat, tak peduli sebesar atau seberat apa pun Davagni.” Naia menghela napas panjang. “Tak ada yang bisa kita lakukan.”


“Kita bisa minta tolong pada Tuanku Javad untuk menggerakkan pasukannya mengejar orang-orang Kubah Putih ini,” tukas Fares.


Naia terdiam, lalu menjawab. “Tidak, lebih baik tidak. Lebih baik ini tetap menjadi urusan kita, dan kita tak perlu menyusahkan Javad.” Ia kemudian mengangguk. “Jangan khawatir, mereka hanya menangkap Davagni, tidak lebih. Kita memang harus rela kehilangan Davagni, tetapi … untuk sementara ini saja.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2