
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 77 ~ Monster Pembunuh
Karya R.D. Villam
---
Rahzad merapatkan tubuhnya di belakang Arphal, dengan pedang menyilang di depan leher kapten itu. Teeza mengikuti sedikit di belakang, siap dengan tombak di tangan. Mereka berjalan keluar dari dalam kamar, menyeberang ruang depan, lalu Arphal membuka pintu. Secelah, kemudian semakin lebar.
Dari balik bahu lebar Rahzad, Teeza mengintip ke depan, ke kiri, ke kanan. Ucapan Arphal benar. Hanya ratusan prajurit yang terlihat. Mereka siap dengan busur di tangan, tapi pastinya ada lebih banyak lagi berlapis-lapis di lingkaran yang lebih luar. Anak panah mereka terarah seluruhnya ke tubuh tiga orang yang baru keluar dari dalam rumah.
Tidak ada celah sama sekali, Teeza menggeram. Pikirannya buntu.
Rahzad menggeser tubuhnya, merapatkan punggung di dinding, dan Teeza ikut bergeser ke sampingnya.
“Nah, Arphal,” Rahzad berbisik. “Sekarang apa rencanamu selanjutnya? Mereka semua akan menghabisi kita? Atau akan ada seseorang yang berbicara?”
“Yang kedua.”
“Jadi aku harus menunggu? Tidak. Aku akan bicara lebih dulu.” Rahzad mengangkat wajahnya, berkata garang pada seluruh prajurit, “Siapa pemimpin kalian? Siapa yang memberi perintah di sini?!”
Tak ada yang menjawab, bahkan bergerak. Ribuan anak panah tetap lurus terarah ke Teeza, Rahzad dan juga Arphal. Teeza memandang berkeliling, tak yakin apakah orang yang dimaksud itu ada di tempat ini.
“Siapa?!” teriak Rahzad sekali lagi. Senyuman mengejeknya muncul. “Keluarlah, jika memang berani, kau pengkhianat dan pengecut. Kalian semua prajurit tolol, begitu bodohnya diperintah oleh seorang pengkhianat dan pengecut! Akulah panglima, pemimpin perang kalian yang sebenarnya! Kalian sudah lupa, atau memang sudah berubah jadi tolol?!”
Satu jawaban akhirnya muncul.
“Rahzad, betapa tidak sabarnya dirimu!”
Barisan prajurit di depan terbuka. Dari belakang muncul sekelompok gadis berbaju merah. Ishtaran. Gadis-gadis itu menepi, lalu barisan prajurit lainnya berjalan maju, mengangkat tandu. Seorang lelaki berjubah hitam duduk di kursi di atasnya, tersenyum lebar dengan dagu terangkat. Ia bertubuh kurus dan berjanggut tipis panjang.
“Aku baru saja datang, Rahzad, sedikit terburu-buru,” seru laki-laki itu dengan cukup santai. “Sebagian besar prajuritku bahkan masih kutinggal di utara. Tentu saja kedatangan kami takkan terlihat olehmu. Maaf, sekarang kita harus bertemu seperti ini.”
__ADS_1
“Bargesi …” Rahzad mendengus. “Jadi kau pengkhianatnya? Sebelumnya kukira Ahaddeana. Atau ... dia juga ikut bersekongkol untuk melawanku?” Matanya menyipit. “Ya, pastinya begitu, karena ada para Ishtaran di sini. Mana perempuan itu?”
Bargesi, si Perdana Menteri Akkadia, tertawa. “Pertama, Rahzad, tolong kau sadari lebih dulu, kaulah pengkhianatnya di sini, bukan kami. Jangan menilai dirimu terlalu tinggi dan juga menipu dirimu terlalu lama. Kedua, tak hanya Dam Ahaddeana, melainkan kami semua, seluruh rakyat dan prajurit Akkadia, yang bersatu untuk melawanmu.”
“Apakah Sang Raja juga?”
“Tentu saja, Yang Mulia Raja Sargon juga.” Bargesi tersenyum mengejek. “Tetapi beliau cukup menunggu di Akkad. Begitu juga Ahaddeana.”
“Lalu? Dengan cara apa kalian hendak melawanku? Hmm? Hanya dengan panah dan tombak? Apa kalian yakin?” Rahzad balik mengejek.
“Jangan lupakan para Ishtaran yang hebat ini.”
Rahzad mendengus. “Kaupikir itu cukup? Aku tidak takut pada siapa pun yang ada di sini. Jika hanya ini rencanamu, kau bodoh. Kalian takkan bisa membunuhku.”
“Baiklah. Kita lihat saja.” Bargesi mengangkat tinggi-tinggi tongkat di tangan kanannya. Batu berwarna hijau di ujungnya menyala. “Pengkhianatan kalian sudah cukup untuk membuat kalian dihukum mati. Atas nama Yang Mulia, akan kuhukum kalian!”
“Sebentar!” Teeza berseru sambil melirik ke lelaki di sampingnya. “Kami punya sandera. Apa kalian hendak membunuh Arphal juga?!”
“Oh, dia sudah siap berkorban.” Bargesi menyeringai. “Pemanah! Siap!”
Rahzad berbisik, “Ikuti aku. Bersiaplah.”
Bersamaan dengan turunnya perintah “Panah!” dari Bargesi, sang panglima Akkadia itu menendang tubuh Arphal ke depan, sambil berteriak, “Buat dirimu berguna, Arphal!”
Tubuh Arphal melayang di udara, terhantam oleh ratusan panah yang datang. Tak ada jerit kesakitan yang terlontar dari mulutnya, sepertinya ia mati dengan cepat.
Teeza benar-benar tak menyangka. Sekali lagi ia heran bagaimana bisa Arphal rela mati seperti ini? Namun ia tak punya banyak waktu untuk berpikir. Di belakangnya Rahzad sudah melompat dan mengayunkan pedang. Tak hanya lewat senjatanya, gelombang maut dari ayunannya itu mampu merontokkan ratusan anak panah yang mendekat.
Teeza pun berteriak. Jadi beginilah akhirnya.
Jika ia harus mati, ia siap, tetapi ia takkan mati tanpa berbuat apa-apa.
Ia melenting ke samping Rahzad lalu dengan lincah memutar-mutarkan tombaknya. Ia berhasil menjatuhkan ratusan panah, tak mempedulikan anak panah yang menyerempet bahu, lengan ataupun kakinya. Selama kepala, leher, dada, perut atau kakinya tak tertembus, itu sudah cukup.
Rahzad mendarat di sampingnya, tetapi hanya sebentar. Mendadak dia melenting lagi, kini berbelok. Teeza mengikutinya. Pedang Rahzad terayun hingga menimbulkan angin kencang yang menerpa barisan prajurit di sebelah kanan. Mereka terlontar dengan tubuh terbelah. Rahzad mendarat di atas mayat-mayat itu, lalu mengayun lagi, membantai barisan berikutnya.
Di belakangnya Teeza bertahan, terus menggerakkan tombaknya secepat mungkin. Jerit kematian sahut-menyahut, berpadu dengan suara panah yang datang mendesing-desing dari berbagai arah. Panah para prajurit Akkadia itu sebagian malah membunuh rekan-rekan mereka sendiri, sehingga mereka lalu memutuskan melepaskan busur dan mengambil tombak.
__ADS_1
Walau terus bergerak, baik Teeza maupun Rahzad masih jauh dari posisi aman. Ada begitu banyak lapis pasukan Akkadia yang tak mungkin bisa ditembus dan dibuyarkan begitu saja. Apalagi, akhirnya, muncul serangan paling menakutkan. Bola-bola api terlontar dari tangan para Ishtaran. Teeza menatap ngeri karena tak tahu bagaimana caranya melawan.
Untungnya ada Rahzad. Lelaki itu berbalik, mengayunkan pedang magisnya menghantam setiap bola api yang datang. Teeza mengerti, ia kini yang harus menghadapi ratusan prajurit yang telah mengacungkan tombak ke arahnya. Ia memutar dan menghunjamkan tombaknya berkali-kali ke setiap musuh yang mendekat. Serangannya selalu menemui sasaran, tetapi ia tahu, ini sudah keterlaluan. Jumlah musuh terlalu banyak. Ia tak mungkin melawan mereka semua!
“Yakinlah, Teeza!” seruan Rahzad terdengar, seolah bisa merasakan hawa ketakutan dan keraguan yang menyelimuti Teeza. “Yakin!”
Ya. Membunuh, atau dibunuh.
Selintas benak Teeza terisi saat-saat ketika ia menjadi monster pembunuh di perang melawan pasukan Elam. Ternyata terbukti, betapapun ia ingin lepas dari peperangan dan pertempuran, ia takkan pernah bisa pergi. Di tempat semacam inilah ia hidup, dan nanti mati. Seperti Rahzad, menjadi monster pembunuh yang paling mematikan.
Bunuh, bunuh, bunuh.
“Teeza!”
Teeza merasakan tubuhnya didorong kencang ke samping hingga tersungkur. Sesaat kemudian sebuah bola api raksasa meluncur deras menghantam tanah tempat ia berdiri sebelumnya. Ledakan keras terjadi dan menghempaskan belasan prajurit di dekatnya. Lubang besar terbentuk akibat ledakan tersebut. Tak jauh di sampingnya berdiri Rahzad.
Lelaki itu baru saja menyelamatkan Teeza dari sergapan maut, tetapi Teeza terpana melihat kondisinya. Tubuh Rahzad penuh darah, bukan hanya darah ratusan orang yang telah dibunuhnya, tetapi juga darahnya sendiri. Luka-luka tampak di sekujur tubuhnya, termasuk beberapa luka bakar akibat lontaran-lontaran api Ishtaran dan juga ledakan tadi.
Tetapi bahkan dalam keadaan seperti itu Rahzad tetap bisa berdiri tegak. Ia melirik barisan prajurit yang tercerai-berai, lalu mengangguk ke arah Teeza. Teeza mengerti, keduanya telah berhasil menciptakan celah untuk kabur, dan mereka harus memanfaatkannya segera sebelum terlambat. Cepat-cepat Teeza berdiri, namun suara desisan aneh terdengar.
Teeza menoleh, ke tanah lapang di depan rumah tempat ia dan Rahzad semula terkepung. Di sana ada mayat Arphal. Mayat itu bergetar, dari kepala, badan, sampai ke ujung kaki.
Dan tampaknya bukan hanya Teeza yang terpaku menahan napas. Semua orang kini terdiam, sebagian menatap ngeri ke arah mayat Arphal.
“Hati-hati, Teeza,” Rahzad berbisik khawatir.
Asap putih keluar dari dalam mulut Arphal, panjang berputar-putar, tebal.
Tak lama. Asap itu kemudian menipis. Di baliknya pelan-pelan tampak sesosok lelaki berjubah putih, tersenyum dan menatap tajam ke arah Rahzad dan Teeza. Pedang panjang tergenggam di tangan kanannya. Nergal?!
Teeza terhenyak. Inikah makhluk terkutuk yang dulu bertempur bersama pasukan Elam melawan Rahzad? Makhluk ini sekarang ada di sisi pasukan Akkadia?!
Ini benar-benar kemungkinan yang paling tak bisa diduga, dan paling buruk!
__ADS_1