Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 91 ~ Sang Dewa


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 91 ~ Sang Dewa


Karya R.D. Villam


 


---


 


Orang berjubah gelap itu tertawa. Panjang menakutkan.


“Rahzad yang malang, kenapa kau jadi setakut ini? Aku tetaplah Bargesi, perdana menterimu yang tercinta. Tetapi memang, sekarang aku berkali-kali lipat lebih kuat dibanding dirimu!” Ia tertawa makin keras. “Betapapun hebatnya, kau tetaplah seorang manusia. Sedangkan aku, kini memiliki kekuatan dewa di dalam tubuhku!”


Teeza tertegun. Nergal.


“Jadi … Nergal ini … dia masuk ke dalam tubuhmu, seperti dia masuk ke dalam tubuh Arphal, yang kemudian mati dengan begitu mudah?” Rahzad mendengus marah. “Maka kau sama bodohnya dengan Arphal!”


“Arphal? Cukup kukatakan bahwa bocah itu hanyalah kelinci percobaan. Dia tidak penting. Kekuatan sebenarnya ada di sini. Aku dan Nergal. Kami berdua punya perjanjian yang mengasyikkan, kalau kau mau tahu. Dengan bersatunya kami, aku akan mendapatkan kekuatan dewa, sedangkan ia akan mendapatkan kekuasaan di tanah Akkadia. Kami akan menguasai dunia, untuk … ya, waktu yang sangat lamaaa sekali. Sargon? Lupakan dia.” Bargesi tertawa. “Dan seperti halnya Sargon, aku tahu kau punya ambisi untuk menjadi penguasa dunia, Rahzad, tetapi maaf, impianmu itu hanya permainan anak kecil. Akulah yang memiliki ambisi dan rencana lebih besar, dan kekuatan yang lebih nyata. Aku lebih BESAR daripada kau!”


Teeza terhenyak. Saat Bargesi mengucapkan kata-kata terakhirnya, rupa perdana menteri itu sepertinya mengabur, berganti dengan tubuh dan wajah lelaki berjubah putih yang tampan tapi menakutkan itu, Nergal. Hanya sesaat, karena kemudian sosok Bargesi kembali muncul. Namun hal itu cukup membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh lelaki itu benar.


“Bodoh kau, Bargesi, apa kau tidak berpikir bahwa sebenarnya kau hanyalah boneka makhluk-makhluk terkutuk ini?” Rahzad membalas. “Nergal dan Ishtar, merekalah yang punya rencana lebih besar, dan sampai kau mati pun kau tidak bakalan tahu apa sebenarnya rencana mereka. Ya, kau memang sebaiknya mati sajalah! Karena sebenarnya kau juga tidak penting bagi mereka. Dan lagi … kau mungkin punya kekuatan dewa, Bargesi, tetapi tubuhmu tetaplah tubuh manusia yang memiliki darah dan daging. Aku akan menebas lehermu secepatnya.”


“Maka, cobalah, orang Kaspia keras kepala!”


Dua pedang terayun, saling menghantam dengan kecepatan serta kekuatan dewa dan setara dewa. Berdentang, bertalu mengguncang seisi gua. Rahzad dan Bargesi, atau Nergal, saling menyerang dengan kekuatan penuh, lalu berputar, melompat ke sana kemari. Hawa panas menjalar cepat, angin berputar-putar kencang, dan batu-batu gua yang menjadi penghalang hancur lebur pecah berhamburan.


Teeza mencoba tetap berdiri tegak sambil menggenggam erat pedangnya, siap menangkis seandainya datang tebasan nyasar ke arahnya. Namun pikiran buruknya terus menghantui sejak tadi. Di mana Elanna? Benarkah ia baik-baik saja? Dan betapa teganya ucapan Rahzad tadi yang sama sekali tak peduli jika kakaknya itu mati!


Teeza memaki dirinya yang begitu mudah tertipu oleh kepura-puraan Rahzad. Lelaki itu tetaplah seorang licik yang hanya peduli pada dirinya sendiri.


Teeza tahu ia harus segera menemukan jalan keluar dan menyelamatkan Elanna. Matanya sudah memperhatikan ke setiap sudut gua, dan ia yakin tak ada jalan lain di tempat ini selain lorong yang tadi dilewatinya. Di sana ia harus menghadapi ratusan prajurit Akkadia di sepanjang lorong, lalu masuk ke lorong lainnya di ruang tengah. Ya, ia yakin bisa melakukannya.


Tetapi bagaimana dengan Rahzad? Apakah lelaki itu memang harus ditinggalkan di sini?


“Teeza!”


Teeza menoleh, tertegun memandangi Rahzad yang mapasnya kini tersengal-sengal di atas panggung batu. Untuk pertama kali seumur hidupnya Teeza melihat lelaki itu menggenggam pedang dengan tangan bergetar. Biasanya musuh-musuh Rahzadlah yang seperti itu. Lima langkah di depan Rahzad, Bargesi berdiri tegak dengan pedang teracung, kokoh.

__ADS_1


“Teeza, kemarilah,” Rahzad memanggil lagi. “Ini kesempatan kita untuk membunuh Nergal. Kita serang dia bersama-sama! Ayooo!”


Teeza hanya membalasnya dengan tatapan tajam. Kebencian lamanya, yang selama beberapa hari ini terus coba ia kubur, tiba-tiba kembali meluap. Lelaki itu, Rahzad, adalah pembunuh ayahnya, saudara-saudaranya, dan juga junjungannya di Ebla. Seorang pengkhianat dan pendusta yang seharusnya Teeza bunuh sejak kemarin selagi ada kesempatan!


Dan sekarang berani-beraninya laki-laki bajingan ini meminta bantuan?!


Teeza menahan amarahnya. “Tidak. Aku akan pergi mencari Elanna.”


“Kita bunuh dia dulu!” Rahzad menunjuk Bargesi. “Setelah itu aku akan membantumu!”


“Cukup, Niordri!” bentak Teeza. “Aku tak mau lagi mendengar dustamu! Urusan kita berdua selesai di sini! Aku tak mau lagi membantumu, dan aku juga tak akan lagi mengincar nyawamu. Dengan ini kita anggap semuanya impas.”


Rahzad terperangah. “Kau ... kau bermaksud meninggalkan aku?!”


Teeza mengeraskan hati. “Ya. Aku tak mau lagi bertemu denganmu.”


“Apa kau lupa pada tanggung jawabmu sebagai penerus ayahmu?”


Teeza terdiam beberapa saat, lalu menjawabtegas, “Aku tidak lupa. Mungkin aku akan menyelesaikan tugasku nanti, tetapi jelas, tidak bersamamu.”


Rahzad kini tertawa, getir. “Kau pikir kau bisa keluar dari tempat ini tanpa aku?! Kau akan mati, Teeza! Kau akan menyesal!”


“Semua orang akan mati. Pada akhirnya. Setelah seratus tahun, bagiku, mungkin inilah saatnya. Aku tidak takut, dan jika aku harus mati untuk menolong seseorang yang aku cintai, aku tidak menyesal. Berarti memang hanya sampai di situlah takdirku, dan ayahku akan mengerti. Maaf, Niordri, aku tidak seperti kau.”


“Kau orang yang hanya peduli pada diri sendiri, dan hanya menyesal jika mati sebelum mencapai ambisimu.”


“Berarti kau salah! Kau sama sekali tidak mengerti!”


Teeza memandangi Rahzad, lalu mengangguk pahit. “Ya. Mungkin aku memang tidak akan pernah bisa mengerti.” Ia berpaling, tak mau lagi memandang wajah penuh amarah lelaki itu. Ia sudah tak peduli. Lorong gelap telah menanti di hadapannya.


Maut menanti di kegelapan sana, tetapi itulah jalan untuknya.


Ia melangkah. Tawa keras terdengar di belakang punggungnya. Tawa Bargesi. Kembali Teeza tak peduli. Orang itu sedang mengejek Rahzad, bukan dirinya.


Namun setelah beberapa langkah, hanya tinggal sedikit lagi Teeza sampai di mulut lorong, tawa Bargesi terhenti.


“Bagaimana sekarang, Rahzad? Apakah kau akan lari menyusul gadis itu dan membiarkan aku terus menertawai kepengecutanmu?”


Teeza terus berjalan, tak mau menoleh.


“Aku tak akan lari, kau makhluk terkutuk!”

__ADS_1


Rahzad menyerang, Teeza tahu itu. Bnturan keras dua pedang terdengar lagi di belakangnya. Sesuatu mengetuk hatinya, memintanya untuk menoleh, dan tak membiarkan Rahzad tewas di tangan Bargesi, namun sesuatu yang lain menahannya. Ia harus kuat. Ia telah mengambil keputusan yang benar, ia harus percaya itu. Teeza menggenggam erat pedangnya, dan berlari memasuki lorong sambil berteriak keras.


Mendadak firasat buruk menghampirinya. Ada musuh lain, bukan hanya Bargesi, di dalam ruangan ini. Sepasang pisau mendesing ke arah kepalanya, dari kiri dan kanan.


Cepat-cepat Teeza menunduk. Namun walaupun ia sudah menunduk, serangan yang sama pun datang. Ia melompat dan berguling ke depan, lalu melirik, berusaha mengenali siapa penyerangnya dan ada di mana mereka. Melihat serangan pisau tadi, mestinya mereka adalah kawanan pembunuh bayaran yang dulu menyergapnya di hutan.


Teeza tak punya banyak waktu. Ia harus menyerang, ke mana pun itu. Ia melompat ke kiri sambil mengayunkan pedangnya. Ada satu orang berbaju hitam yang terlihat, dan itulah sasarannya. Orang itu mundur dan berhasil menangkis hantaman pedang Teeza dengan sepasang pedang tipisnya. Dua orang lainnya melesat keluar dari balik batu-batu, di kiri dan kanan. Mereka menggenggam sepasang pedang.


Teeza berputar cepat, menghindar dua sabetan. Tanpa tertahan pedangnya menghunjam perut salah seorang. Jerit kematian orang itu melengking tinggi.


Teeza mencabut pedangnya, berbalik menangkis serangan dua orang lain. Ia terperangah, ketika dari belakang mereka muncul satu orang lainnya yang meloncat tinggi melewati kepala kedua rekannya. Pedangnya terangkat tinggi siap menghantam Teeza. Teeza melompat mundur, satu langkah, mengelak serangan lalu menyerang lagi. Sekali lagi pedangnya menemui sasaran, mengoyak perut seorang musuh. Cukup membuat Teeza menghembuskan napas lega, sesaat, sebelum dua lawan yang tersisa balas menyerang kalap.


Situasinya lebih sulit. Ruang gerak di belakang Teeza semakin sempit. Tanah dan batu yang dipijaknya licin dan menurun. Ia berusaha mempercepat gerak pedangnya, menangkis empat pedang lalu balik menebas. Erangan terdengar saat Teeza berhasil memotong lengan seorang musuh.


Menemukan kesempatan, Teeza melakukan tebasan berikutnya, telak menghantam leher musuhnya. Tetapi gerakan terakhirnya itu memberi ruang bagi pembunuh yang terakhir. Pedang orang itu menghunjam dada Teeza.


Teeza terdorong mundur, terkejut. Kakinya kehilangan pijakan.


Teeza terperosok jatuh ke sebuah lubang. Panik, ia berusaha memegang sebuah batu yang menonjol di dinding dengan tangan kiri. Lawan mendekat, siap menghabisi. Tanpa pikir panjang Teeza menghunjamkan pedang yang ia pegang dengan tangan kanannya, telak ke perut sang lawan. Ia berhasil membunuh musuh terakhirnya, tetapi akibatnya fatal. Pegangannya terlepas dan ia gagal menemukan batu lain yang bisa dijadikan pegangan.


Napas tertahan dan jantung seakan berhenti saat Teeza meluncur jatuh ke dalam lubang yang ternyata dalam tak terbayangkan. Dalam ketakutannya ia teringat kejadian yang hampir mirip seperti ini. Saat ia terjatuh dari bibir tebing ke derasnya arus Sungai Tigris. Sebelum ia kehilangan ingatan.


Tidak, ini tidak sama! Lubang gelap di perut gunung tidak sama dengan sungai besar yang berada di tempat terbuka. Ini lebih mengerikan.


Teeza sadar, kali ini ia tak akan selamat. Inilah akhir, yang sebenarnya.


Tiba-tiba, tubuhnya terguling saat ia meluncur, dan menghantam batu di bawahnya. Sakit merajam sekujur tubuhnya yang tertelungkup, dan kepalanya pusing bukan kepalang.


Teeza berusaha mengangkat kepalanya dan mengenali tempat ia mendarat.


Hanya gelap yang tampak; gelap bahkan oleh matanya yang awas.


Tetapi telinganya mendengar sesuatu.


Geraman. Gharoul. Sangat dekat.


Akhir … inilah saatnya.


Kemudian gelap.


 

__ADS_1


 


__ADS_2