Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 36 ~ Kuil Ishtar


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 36 ~ Kuil Ishtar


Karya R.D. Villam


 


---


 


Kota Akkad, ibukota Kerajaan Akkadia, adalah tempat di mana cerita ini seharusnya dimulai. Itu jika dilihat dari sudut pandang Sargon sang Raja Sejati, begitulah dia menyebut dirinya. Terletak di tepi barat Sungai Eufrat, di seberang kota tua Sippar, Akkad adalah simbol kejayaan, kekuasaan dan kebesaran Sargon. Tentu saja, jika dilihat dari sudut pandang musuh-musuhnya, Akkad adalah simbol kerakusan dan kebinasaan.


Kisah kehidupan Sargon berkembang dari mulut ke mulut bagai legenda. Tak jelas mana yang benar, mana yang bohong dan mana yang dibesar-besarkan. Menurut kisah itu, Sargon dilahirkan di pegunungan utara, kemudian dibawa ke selatan dan diangkat anak oleh seorang tuan tanah di kota Kish. Ketika ia dewasa, raja Kish mengangkatnya sebagai pelayan, lalu mempromosikannya sebagai penjaga taman kerajaan yang bertanggung jawab atas seluruh lahan pertanian dan irigasi. Berhasil menanamkan pengaruh pada kaum pekerja, Sargon lalu menggunakan tenaga mereka untuk memberontak, dan dengan tangannya sendiri ia membunuh sang raja. Dari Kish, Sargon melanjutkan penaklukkannya ke Sippar, Uruk dan kerajaan-kerajaan Sumer lain di sekitarnya, lalu mendirikan Akkad sebagai ibukotanya.


Ini kali pertama Zylia menginjakkan kaki di kota ini. Setidaknya itulah yang bisa ia ingat. Ia terkagum-kagum dengan penampilan fisik kota Akkad, pada tembok besarnya yang mengelilingi kota, pada bangunan-bangunannya yang megah, dan terutama pada kuil-kuil raksasanya. Kuil terbesar di Akkad, sesuai dengan nama kota itu yang berarti ‘mahkota api Ishtar’—sang Dewi Cinta dan Perang—adalah Kuil Ishtar. Gerbangnya setinggi lima tombak, dijaga dua buah patung raksasa hewan berkaki empat yang bersayap dan berwajah mengerikan. Untuk mencapai kuil itu setiap pengunjung harus mendaki seratus anak tangga.


Zylia naik ke atas kuil bersama Rahzad dan belasan perwira lainnya, pada malam pertama mereka di Akkad setelah menempuh perjalanan selama tiga hari. Mereka sampai di halaman luas di tengah kota, di mana di pusatnya terdapat dua batu besar berbentuk lingkaran selebar dua tombak. Kedua batu besar itu terpisah sejauh seratus langkah. Di atas kedua batu itu berdiri tegak masing-masing sebuah obor raksasa setinggi tiga tombak bernyalakan api abadi, yang dari jauh terangnya mampu mengalahkan seluruh lentera api di sekeliling halaman itu.


Sebarisan pendeta—di Akkad semuanya adalah wanita—yang seluruhnya bergaun panjang warna merah darah berdiri di samping gerbang kuil, dan satu orang lagi berdiri di antara kedua obor abadi dengan kedua tangan terbuka ke atas dan kepala menunduk ke bawah. Kalimat-kalimat doa meluncur deras dari mulut pendeta itu. Suaranya mengalun indah, menyihir ribuan orang yang ada di sekeliling halaman, membawa suasana magis ke seluruh penjuru kota.


Namun Zylia tak memperhatikan para pendeta itu, dan juga setiap pengawal bertombak yang berdiri gagah di sekitarnya. Pandangannya lebih tertuju ke panggung berhiaskan permadani berwarna merah, cokelat dan emas, yang berada tepat di muka gerbang kuil. Di atas panggung itu terdapat kursi besar dan megah dengan sandaran tinggi berukir dua ekor ular. Melihat suasananya, jelas akan ada orang sangat penting yang hadir di Kuil Ishtar malam ini.


Hening. Semua orang terdiam. Hanya terdengar suara hembusan angin dan kobaran api yang menari-nari, kala orang yang ditunggu-tunggu itu datang. Langkah kaki terdengar dari dalam kuil. Sepasang pria dan wanita menaiki tangga panggung dan berdiri di samping kursi. Setelah itu, beberapa saat kemudian, datang seorang lelaki lain, yang langsung duduk di kursi megah di atas panggung. Tongkat emas berkepala ular tergenggam di tangan kanannya.


“Kau bisa mengenali mereka?” Ibbsin berbisik di samping Zylia. Tanpa menunggu jawab, laki-laki itu langsung melanjutkan, “Yang duduk itu adalah Yang Mulia Sargon Yang Agung, jika kau belum bisa mengingatnya. Wanita di sebelah kanannya Dam Ahaddeana, Pendeta Tinggi Kuil Ishtar. Dan pria di sebelah kirinya Perdana Menteri Bargesi.”


Sargon bertubuh besar dengan janggut tebal bergulung hingga ke dadanya yang bidang. Alisnya tebal, sorot matanya tajam. Jubahnya panjang berwarna biru gelap, dan mahkota emas bertatahkan batu mulia hijau menghiasi kepalanya. Sosok gagah dan berwibawanya tak tertandingi di tempat itu, kecuali, mungkin, oleh Rahzad, panglimanya sendiri.


Wanita yang bernama Ahaddeana berwajah cantik dengan hidung lancip dan senyum tipis memikat. Ia dipanggil ‘Dam’ yang berarti kepala pendeta wanita. Rambut panjangnya digulung dan diikat di atas kepala. Seperti halnya para pendetanya, ia mengenakan gaun panjang merah dengan lengan terbuka, menunjukkan warna kulitnya yang putih tak bernoda.


Sementara pria yang bernama Bargesi bertubuh jangkung dan langsing. Umurnya mungkin sekitar empat puluh tahun. Ia memiliki kumis dan janggut tipis panjang, dan mengenakan jubah berwarna hitam. Dengan sorot matanya yang lembut ia tampak seperti pria yang baik dan dapat dipercaya. Terlihat pantas sebagai seorang perdana menteri.

__ADS_1


Rahzad, dengan rambut emasnya yang berkibar tertiup angin, berjalan seorang diri ke depan panggung. Di hadapan sang raja ia membungkuk memberi hormat, yang langsung diikuti oleh Zylia dan belasan perwira lain yang berbaris rapi jauh di belakangnya.


Dengan pendengarannya yang tajam, dari jauh Zylia dapat mendengar ucapan Sargon di atas panggung dengan cukup jelas, “Rahzad, panglimaku, aku senang melihatmu lagi. Kau sendiri yang memutuskan untuk ikut mengejar musuhmu sampai ke Sungai Tigris. Sekarang tentunya kau membawa kabar baik, bukan?”


Zylia memperhatikan bagaimana Rahzad memandangi wajah Sargon hampir tanpa ekspresi. Tentu saja Sargon sudah tahu bahwa Rahzad tidak berhasil mendapatkan Putri Naia, kunci untuk membuka Sungai Tigris. Namun entah karena alasan apa Sargon tetap menanyakan hal tersebut. Apakah sang raja bermaksud menyindir Rahzad di hadapan Ahaddeana dan Bargesi? Bisa jadi, dan jelas Rahzad tidak suka. Namun untungnya sang panglima cukup pintar untuk tidak memperlihatkan perasaannya.


Zylia melirik para perwira lain di sekelilingnya. Tak seperti dirinya, mereka semua tak mampu mendengar pembicaraan di atas pangggung. Tetapi dari yang Zylia dengar, sudah menjadi rahasia umum di kalangan perwira kerajaan bahwa Rahzad dan Bargesi memang tengah berebut pengaruh untuk menjadi penguasa kedua di Akkadia setelah Sargon. Selama bertahun-tahun, berkat prestasinya Rahzad telah berhasil menjadi anak emas Sargon. Namun dengan kegagalannya saat ini, ambisinya itu mungkin terhambat. Bargesi berada di atas angin.


Rahzad menjawab ucapan rajanya dengan tenang, “Yang Mulia, jika kegagalan hamba telah membuat Anda kecewa, maka hamba memohon ampun. Tetapi hamba yakinkan Anda, bahwa kita terus melangkah maju dalam rencana penyerbuan kita ke Elam. Detilnya akan hamba sampaikan secara pribadi pada Anda segera.”


Zylia tersenyum tipis mendengar jawaban percaya diri dari Rahzad, yang sekaligus merupakan pesan kepada Sargon bahwa Rahzad tetap bawahan terbaik dan paling dapat dipercaya dibanding Bargesi.


Sargon tak langsung menjawab. Sehingga Bargesilah yang kemudian berkata, “Yang Mulia, Panglima Rahzad telah berjasa bagi kerajaan, menaklukkan banyak musuh dari barat sampai ke utara dan selatan. Jika Yang Mulia berkenan memberi penghargaan untuknya, hamba akan segera menyiapkannya.”


Sargon mengangguk kecil. Tatapannya terarah lurus ke arah panglimanya.


Rahzad membalas tatapan itu, lalu mengangguk pada Bargesi. “Terima kasih, Perdana Menteri,” kata Rahzad.


Zylia mengerutkan kening. Dari yang dilihatnya, tampaknya Bargesi seorang yang baik. Bagaimana bisa Ibbsin dan perwira lain mengatakan bahwa perdana menteri itu adalah musuh Rahzad? Mungkin mereka semua hanya iri. Ataukah ini hanya basa-basi?


“Ah, Anda telah mendengar rupanya, bagaimana prajurit kita dikalahkan oleh makhluk jahat bernama Nergal.” Rahzad sepertinya tak berusaha menutup-nutupi.


“Ya.” Sargon memandanginya tajam.


“Kedatangan makhluk itu memang mengejutkan. Tetapi, Yang Mulia, kekuatan kita lebih dari cukup untuk mengalahkannya. Apalagi jika …” Rahzad melirik ke arah Ahaddeana, “kaum Ishtaran bisa kembali membantu, seperti saat dulu kita menyerang negeri Ebla.”


Ahaddeana tertawa dengan suaranya yang mengalun indah. “Ah, Rahzad, akhirnya kau mau mengakui bahwa berkat para pendetakulah kau dulu mendapatkan kemenanganmu di barat?”


“Tentu saja, Dam.” Rahzad tersenyum. “Aku selalu mengakuimu. Kenapa kau mengira aku berpikir sebaliknya?”


“Hmm. Bukan kerendahan hati semacam ini yang biasanya kau tunjukkan,” balas Ahaddeana tajam.


“Cukup.” Suara tegas Sargon mengeras. Wajah setiap orang di kuil berubah tegang. Sang raja memandang ketiga orang kepercayaannya, lalu menoleh, menatap lagi api abadi yang menari-nari. “Tentu saja Ishtaran bersedia membantu dengan senang hati. Karena Ishtar menginginkan yang terbaik bagi kita. Kejayaan! Ke empat penjuru dunia! Aku telah menaklukkan Sumer di selatan dan Ebla di barat. Sebentar lagi Elam di timur dan Gutia di utara. Aku akan menjadi penguasa dunia, dengan bantuan Ishtar! Itulah mengapa kita berada di sini, untuk memberi penghormatan kepadanya. Dengan cara Ishtar.”

__ADS_1


Itu adalah kata-kata yang penuh semangat dan gairah, walaupun Zylia masih berusaha mencerna keterkaitan antar kalimatnya. Namun paling tidak Zylia mengerti sekarang kenapa Sargon mengumpulkan mereka semua di Kuil Ishtar. Maka Zylia kemudian menjadi bingung saat tiba-tiba Rahzad menunjuk ke arahnya, memintanya maju.


Sesaat Zylia tertegun. Awalnya ragu, kemudian di bawah tatapan semua orang, ia berjalan menuju panggung dengan jantung berdebar, mencoba menegaskan langkahnya.


Di depan panggung ia berhenti dan mengangguk hormat pada sang raja.


Rahzad berkata, “Yang Mulia, hamba perkenalkan kapten yang akan mewakili hamba dalam penghormatan untuk Ishtar hari ini. Zylia Zarkaef.”


Mewakili Rahzad?


Antara takut, tegang dan ingin tahu, seluruh perasaan itu bercampur dalam hati Zylia. Ia memberanikan diri memandang wajah para pembesar di hadapannya: Sargon yang bersorot mata tajam, Rahzad yang menatapnya penuh kepercayaan, Ahaddeana yang bersenyum tipis angkuh, dan Bargesi yang memiliki pandangan menyelidik.


“Seorang Kaspia lagi?” suara datar Sargon terdengar, sepertinya sedikit tidak suka.


“Benar.” Rahzad menatap bergantian ke arah Sargon dan Zylia. “Dulu hamba membawanya dari negeri hamba jauh di utara. Anda belum pernah melihatnya, karena selama ini hamba menugaskannya ke tempat lain.”


“Baik.” Tampaknya Sargon tak terlalu tertarik dengan latar belakang Zylia. Atau mungkin memang lebih karena tidak suka. “Jadi, dia yang akan mewakilimu dalam pertandingan kali ini?”


“Betul.” Rahzad mengangguk. “Dia yang akan bertanding. Dia lebih hebat daripada hamba dalam soal ini, lihat saja.”


“Bagus. Semoga dia mampu menandingi juara kita.” Sargon menoleh ke arah Bargesi. “Bargesi, mana jagoanmu? Panggil dia sekarang.”


Bargesi mengangguk hormat kemudian berteriak lantang, “Teimush!”


Suara derap langkah berat terdengar. Dari balik barisan pasukan pengawal di sebelah kanan panggung muncul seorang lelaki berkulit gelap. Tubuhnya jangkung dan tegap. Kepalanya plontos, namun misai dan janggut tebal menghiasi wajahnya. Di tangan kirinya tergenggam busur yang panjangnya lebih dari setengah tombak. Lelaki itu berdiri di samping Zylia. Keduanya saling bertatapan sejenak, dan entah mengapa Zylia menjadi merinding. Tatapan lelaki itu demikian dingin, seolah hendak menguliti gadis itu.


Zylia mulai waspada, menebak-nebak pertandingan macam apa yang akan ia lalui. Mungkin memanah, jika melihat busur yang dibawa lelaki itu. Tetapi memanah apa?


Bagaimanapun, memanah mestinya lebih baik daripada mengadu pedang dengan lelaki berbahaya ini. Di balik keraguannya Zylia masih bisa menemukan rasa percaya dirinya.


Aku akan siap. Apa pun yang terjadi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2