
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 61 ~ Dendam Masa Lalu
Karya R.D. Villam
---
Wanita berambut emas di hadapannya itu berjalan mendekat, memandang beberapa lama, kemudian tersenyum. “Teeza, kau masih ingat aku?”
Kegembiraan Teeza meluap tak terkira. Ia bergerak hendak memeluk Elanna, tetapi keraguannya kemudian timbul. Setelah berpisah sekian lama sampai bertahun-tahun, apa yang membuat Elanna muncul dan menemuinya di sini?
Elanna tampaknya ikut melihat keraguan itu. Ia tersenyum semakin lebar, lalu membentangkan kedua tangannya. Tangisan Teeza pun tak tertahan. Ia melompat dan memeluk gadis berambut emas itu erat-erat. Elanna membalas pelukannya. Keduanya menumpahkan kerinduan.
“Teeza, adik kecilku yang manis,” Elanna berkata sambil menepuk kedua pipi Teeza yang basah. “Bagaimana kabarmu?”
“Aku …” Teeza bingung harus menjawab apa, karena tiba-tiba kegalauannya kembali datang. “… baik. Kau sendiri, Elanna, apa yang terjadi? Kau tak pernah lagi terdengar sejak meninggalkan aku di Ebla, bertahun-tahun yang lalu. Itu sudah …”
“Lebih dari lima belas tahun, Teeza. Memang sudah lama sekali.”
“Kau dulu berjanji mengunjungiku! Ke mana kau selama ini?”
Elanna termangu, lalu mengalihkan pandangannya seolah mengelak. “Ada sesuatu yang terjadi. Yang menyakitkan, dan sempat membuatku kehilangan arah. Maafkan aku, Teeza. Kuharap kedatanganku saat ini bisa membayar hutang janjiku.”
Teeza kembali tersenyum. “Oh! Kedatanganmu sangat berarti! Tuhan memberkatiku. Dia mendatangkan kau saat aku ... aku tak tahu harus apa ....”
“Aku tahu apa yang terjadi padamu,” Elanna menyahut. “Biarkan aku membantumu.”
“Apa yang kau tahu?” tanya Teeza ragu.
“Bahwa kau kehilangan ingatan.”
“Dari mana kau tahu? Dari Putri Naia?”
“Bukan.” Elanna menggeleng. “Aku mengenal ayahnya, tetapi aku tidak kenal dia. Aku tahu dari seorang pemuda bernama Ramir.”
Jantung Teeza berdesir. “Ramir …”
Elanna tersenyum, seolah melihat sesuatu dalam diri Teeza. “Kau mengingatnya?”
“Ya. Aku ingat.”
“Dia ingin bertemu denganmu. Sangat ingin.”
Teeza tersenyum lebar, entah kenapa tak bisa menahan kegembiraannya. “Aku juga.”
“Teman-temanmu yang lain juga. Fares, Rifa.”
__ADS_1
“Kalau mereka … mereka sudah bertemu denganku, dua hari yang lalu,” kali ini Teeza menjawab pahit. “Dan mereka ingin membunuhku. Apa kau bersama mereka juga, Elanna?” tanyanya sedikit curiga. “Kenapa aku tidak melihatmu di antara pasukan mereka?”
“Aku tidak ikut bersama mereka, Teeza. Aku sama sekali tak ingin terlibat dalam peperangan mereka semua. Itu bukan urusanku. Tetapi aku yakin kejadian yang menimpamu itu pasti hanya sebuah kesalahpahaman. Teman-temanmu tidak berniat membunuhmu.”
“Bagaimana kau tahu kalau kau tidak ada di sana?” balas Teeza sedikit kesal.
“Aku memang tidak berada di tengah pertempuran, tetapi aku mengamati terus dirimu dari jauh. Aku sedih melihatmu bertempur dan membunuh, dan takut saat melihatmu terkepung dan terhantam tombak, tetapi aku hanya bisa melihat. Lagipula aku tidak bisa muncul begitu saja dan membawamu pergi, walau sangat ingin. Aku takut, dan kau tahu kenapa.”
“Niordri?”
“Ya. Dia. Aku selalu punya dendam dan amarah kepadanya, tetapi kau tahu, sejak dulu rasa takutku selalu lebih besar. Padahal dia adikku sendiri …”
“Jangan pikirkan dia sekarang. Kita … kita bisa pergi!” seru Teeza penuh semangat. “Itu maksudmu datang, kan? Elanna? Membawaku pergi?”
“Jika kau siap.”
“Aku siap!”
Elanna menatapnya lekat-lekat, lalu menggeleng. “Kau yakin?”
“Aku yakin! Ya, mm … ke mana menurutmu sebaiknya kita pergi? Ke utara, ke barat, atau ke timur? Seperti dulu, Elanna! Kita berdua. Bukankah itu menyenangkan?”
“Tak begitu menyenangkan, sebenarnya,” gumam Elanna. Ia menatap Teeza lagi dengan pandangan menyelidik. “Aku tak tahu, Teeza, sepertinya tadi aku melihat keraguan di wajahmu. Ada sesuatu di dalam hatimu. Apa ... yang baru saja dikatakan Niordri kepadamu?”
“Bukan apa-apa.” Teeza mengelak.
“Sudah begitu lama kita berpisah, jangan perlakukan aku seperti ini, Teeza! Jujurlah padaku, jika memang ada sesuatu.”
“Ya, tetapi hanya dari jauh. Aku tak mungkin bisa lebih dekat lagi, atau barion raksasa itu akan mencium keberadaanku.” Elanna menatap Teeza beberapa saat. “Apa yang dikatakan laki-laki itu?”
“Dia bercerita tentang kejadian di utara. Menjelaskan, bahwa bukan dialah penyebab pertumpahan darah itu, dan bahwa dialah yang berdiri bersama rakyat, dalam kebenaran. Dan bahwa siapa pun yang mengatakan sebaliknya padaku, maka orang itu salah karena telah menghasut.”
“Aku yang dulu mengatakannya padamu, jadi aku yang salah?” tanya Elanna lirih. “Demi Tuhan, Teeza, kau percaya kata-katanya? Sekali lagi dia telah menyebarkan kebohongan, dan kau percaya?”
“Aku tidak bilang aku percaya! Aku hanya bercerita apa yang ia katakan padaku,” tukas Teeza, walau sebenarnya dalam hati ia ragu. Jika diminta jujur, ia akan bilang bahwa ia cukup terpengaruh pada ucapan Rahzad.
“Dia telah membunuh ayah dan kakakmu!” seru Elanna. “Dia juga telah membunuh abangku, kakaknya sendiri! Dan juga ratusan orang lainnya! Dia telah melakukan perbuatan terkutuk yang takkan termaafkan sampai kapan pun!”
“Aku juga mengatakan itu padanya!”
“Dan apa kau tidak ingat, Teeza, dia mengejar-ngejar kita dulu? Dia pun hendak membunuh kita!”
“Soal itu, kau salah, kakakku!” Suara lantang tiba-tiba terdengar.
Teeza dan Elanna terperanjat. Darah langsung menyurut dari wajah, jantung bagai berhenti berdetak, saat mereka melihat sosok Rahzad muncul dari balik tebing.
Rambut emas lelaki itu berkibar, mata birunya menatap tajam. Teeza mempunyai kemampuan mendekati seseorang tanpa terdeteksi, tetapi ia tak tahu Rahzad juga ahli dalam soal ini. Di sampingnya, Elanna hendak mencabut pedang, tetapi kemudian mengurungkan niatnya begitu melihat kilat pedang besar yang tergantung di pinggang lelaki itu.
“Kau salah.” Rahzad menatap tajam. “Aku tidak ingin membunuh kalian. Aku hanya ingin bicara. Kaulah yang selalu berasumsi seperti itu, Elanna, dan kau mempengaruhi Teeza.”
“Kau pembohong!” jerit Elanna. “Kau menyerang kami di Pegunungan! Dan kau mencelakai teman-temanku hingga tewas!”
__ADS_1
“Kalianlah yang menyerangku lebih dulu! Aku hanya mempertahankan diri!” Rahzad menggeleng. “Sudahlah, mungkin itu memang salahku juga. Ya, salahku. Maaf, seharusnya memang tidak seperti itu kejadiannya. Dengar, Elanna, sebenarnya kami berbicara banyak hal tadi. Kalau saja kau berdiskusi dengan kami sejak awal, tidak terus bersembunyi, tentunya bisa mengerti. Semua kejadian buruk itu patut disesali, tetapi kukatakan tadi tidak ada gunanya lagi mengungkit dendam. Kalian punya dendam, aku juga punya, tetapi apa gunanya? Ada masalah lain yang lebih penting saat ini. Kutawarkan tadi pada Teeza, agar ia bergabung denganku untuk melawan Nergal, si makhluk terkutuk. Dialah musuh kita sekarang, musuh semua orang, yang sesungguhnya. Teeza sebagai penerus ayahnya punya sesuatu untuk mengalahkan makhluk itu. Itulah tanggung jawabnya, dan ia tidak bisa lari.”
Teeza dan Elanna terdiam, lalu saling memandang.
Rahzad tersenyum. “Bagaimana, Kakak, kau bersedia ikut kami?”
“Kami?” Teeza mendengus, sudah bisa lepas dari keterkejutan dan ketakutannya. “Aku belum memutuskan untuk ikut denganmu!”
Rahzad tertawa kecil. “Benar. Tetapi aku yakin, kau sudah setuju.”
Elanna menoleh, dan memandangi Teeza. Ia tampak kaget. “Benarkah? Kau setuju?”
“Aku belum memutuskan apa pun!”
“Aku rasa sebenarnya kau sudah memutuskan,” sahut Rahzad.
“Diam!” Teeza menunjuk lelaki itu tanpa takut.
“Baik.” Rahzad mengangkat tangan. “Lebih baik kalian bicara berdua saja. Sejak dulu kakak tersayangku ini memang membenciku, tak pernah mau mendengar kata-kataku, jadi lebih baik kau saja, Teeza, yang berkata padanya. Aku akan menunggumu di tempat kita berbincang sebelum ini.” Ia melemparkan tatapan tajam, lalu berbalik dan berjalan pergi.
Angin berhembus perlahan, menyibak rambut emas dan perak kedua gadis yang selama beberapa lama hanya saling memandang. Matahari telah turun hingga ke kaki langit. Cahaya jingganya tersembunyi di balik tebing.
Lembut, Elanna kemudian berkata, “Tadi kau begitu semangat ingin pergi bersamaku.”
“Aku memang ingin,” jawab Teeza lirih. “Ingin sekali.”
“Tetapi kau memutuskan sebaliknya. Kau memilih melupakan perbuatan jahat Niordri. Kau memilih untuk memaafkannya.”
“Tidak. Aku tidak memaafkannya, juga tidak melupakannya!” seru Teeza. “Aku masih punya dendam, aku masih ingin membunuhnya. Tetapi tidak sekarang. Ia berkata benar, Nergal adalah musuh yang harus dihadapi saat ini. Hanya jika aku bergabung dengan Niordri, makhluk terkutuk itu bisa dikalahkan.”
“Jadi kau akan pergi bersamanya?”
“Ya, malam ini.”
“Bergabung kembali dengan pasukan Akkadia?”
Teeza termangu sesaat. “Tetapi tidak untuk berperang lagi bersama mereka.”
Elanna menggeleng-geleng. “Kau tahu dia. Niordri akan tetap membawa pasukannya berperang melawan orang-orang Elam. Jika kau ikut dengannya, suatu hari nanti kau akan berhadapan kembali dengan teman-teman lamamu, termasuk Naia, bekas junjunganmu.”
“Mungkin aku bisa memaksa Niordri untuk tidak memerangi mereka lagi. Jika ia menolak, aku akan meninggalkannya. Kau lihat, justru dengan berada jauh dari teman-temanku, aku bisa memberi manfaat.” Teeza tersenyum lebar, berusaha meyakinkan diri. “Ya, aku bisa melakukan itu. Dan juga, mungkin nanti aku bisa punya kesempatan membunuh Niordri.”
“Aku berdoa, semoga kau benar-benar bisa.” Elanna membalas senyumannya, walaupun mungkin sedikit terpaksa. “Tetapi maafkan aku, Teeza, aku tak bisa ikut denganmu.”
“Aku tahu. Kau sudah bersumpah tak akan menerimanya lagi sebagai adikmu.” Teeza mendesah. “Oh, Elanna, aku yang harus minta maaf. Kau yang telah bersusah payah menemui aku ke sini, tetapi aku memilih tidak ikut denganmu.”
“Jangan khawatirkan itu. Jalan kita memang bercabang, kita sudah tahu sejak dulu. Tetapi aku percaya, dan kau pasti juga, bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu lagi di titik yang sama, untuk melewati sisa jalan kita bersama lagi.” Senyuman Elanna yang kini tulus mendatangkan kesejukan di hati Teeza.
“Benar.” Teeza mengangguk. “Seperti dulu lagi. Aku percaya, Elanna, dan terima kasih karena telah mempercayaiku saat ini.”
__ADS_1