
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 54 ~ Pertempuran Berdarah
Karya R.D. Villam
---
Malam terlewati. Seakan begitu cepatnya matahari kemudian datang, dan dengan teriknya yang menyambar melalui celah tenda langsung menerpa ke wajah Zylia.
Zylia terlompat, melempar selimutnya, dan pikirannya bergerak cepat. Hari ini adalah hari pertempuran. Saat seluruh nafsu dan energi dibakar. Saat darah ditumpahkan. Ketika ia keluar dari tenda para prajuritnya telah mempersiapkan makanan terakhir. Zylia duduk dan ikut sarapan, setelah itu menyiapkan pasukan dan memeriksa senjata-senjata mereka. Tombak, perisai, belati, panah. Semuanya berkilat tertimpa sinar matahari pagi.
Lengkingan tipis terdengar, beberapa kali.
Para prajurit Akkadia saling memandang dengan wajah tegang. Semuanya berdiri tegak dalam barisan seraya memegang erat senjata masing-masing. Mereka tahu itu suara apa. Jauh dari arah timur, itulah suara terompet-terompet Elam. Sangkakala Akkadia membahana sebagai balasan, disusul hentakan tambur dan lengkingan terompet. Ini saatnya.
Zylia bersama para komandan berteriak-teriak mengobarkan semangat ribuan prajurit, yang membalas dengan seruang lantang dan acungan tombak ke angkasa. Dari kaki bukit sebelah utara hingga selatan pasukan Akkadia bergerak maju dalam empat kelompok. Sayap kiri dan kanan, juga pasukan depan berisi masing-masing dua ribu prajurit. Pasukan inti di belakang dipimpin langsung oleh Rahzad, hanya terdiri atas dua ribu prajurit, tapi di dalamnya termasuk gerombolan barion, pasukan pemanah elit, Ishtaran dan juga pasukan Zylia.
Di depan prajuritnya Zylia berjalan perlahan mendaki punggung bukit, berdebar-debar menanti apa yang akan ia lihat setelah ia sampai di sana. Pastinya tidak akan seindah taburan titik api seperti yang terlihat saat malam kemarin. Ketika sampai di puncak, ia pun merinding. Lembah tandus berumput terhampar luas, di saat biasa akan tampak indah dan mendamaikan hati. Tetapi sekarang sama sekali bukan itu yang terasa. Ketegangan datang, begitu Zylia melihat lautan prajurit Elam yang memenuhi cakrawala sejauh mata memandang.
Benar kata Rahzad, jumlah mereka sekitar sepuluh ribu orang, yang dibagi dalam tujuh kelompok: tiga di sayap kiri membentuk segitiga, tiga di sayap kanan membentuk segitiga pula, dan satu yang paling besar di belakang. Formasinya seperti seekor kepiting dengan sepasang capit raksasa. Setiap prajurit bersenjatakan tombak dan belati. Umbul-umbul dan panji mereka beraneka warna dan melambai-lambai tertiup angin. Semua prajurit musuh itu bergerak mantap mendekat, dengan derap langkah berirama yang menggetarkan seisi lembah. Mereka kemudian berhenti pada jarak sekitar delapan ratus langkah dari barisan pasukan Akkadia.
Rahzad menghentikan Aragro, barion jantan tunggangannya yang memiliki panjang tubuh lebih dari dua tombak, tepat di puncak bukit. Seluruh prajuritnya mengambil posisi bertahan dengan perisai dan tombak teracung. Pasukan pemanah merentangkan busur, siap melontarkan anak panah kapan pun diperintahkan. Para barion menggeram dan meraung-raung, mempertontonkan sepasang gigi belati mereka, siap untuk mencabik siapa pun musuh yang mendekat. Siapa pun yang memiliki darah dan daging, serta patut menjadi mangsa.
Zylia memicingkan matanya, memanfaatkan indera penglihatannya yang tajam hingga maksimal. Pandangannya menyapu perlahan dari kiri ke kanan, mencoba mengenali sosok-sosok di antara ribuan prajurit Elam.
__ADS_1
Naia, Javad, serta yang lainnya, dan juga lelaki tampan berjubah putih itu, yang bersosok manusia namun bukan manusia, adakah mereka di sana? Ratusan kereta kuda terselip di antara ribuan prajurit bertombak Elam. Itu kendaraan yang biasanya dinaiki para perwira, pemanah elit ataupun penyihir. Tetapi Zylia tidak bisa melihat wajah-wajah yang dikenalnya di sana. Apakah mereka tersembunyi di barisan belakang, atau memang tidak ada? Apakah berarti mereka tidak ikut menyeberang Sungai Tigris?
Zylia menoleh ke arah Rahzad tak jauh di puncak bukit. Tombak hitam berulir sang panglima teracung ke angkasa. Ujungnya yang berkilat adalah benda tertinggi di tempat ini. Zylia bertanya-tanya apakah Rahzad punya pertanyaan dan kekhawatiran yang sama seperti dirinya. Tampaknya tidak sama sekali, maka Zylia pun menenangkan diri, kembali memusatkan perhatiannya pada tugasnya.
Lengkingan terompet dan sangkakala mengalun di kejauhan memecah keheningan. Sorak sorai membahana terlontar dari setiap mulut prajurit Elam. Ribuan tombak teracung. Tambur bertalu-talu menggoyang lembah, dan ribuan prajurit dari timur itu pun berderap lagi.
Zylia merasakan ketegangan para prajuritnya muncul dan merebak ke mana-mana, menular begitu cepatnya.
Seluruh pemanah Elam mengambil posisi, sementara para prajurit bertombaknya mulai berlari, membelah menjadi tiga bagian, siap mencapit formasi berlian pasukan Akkadia. Jarak antara kedua pasukan kini tinggal tiga ratus langkah. Suara lolongan pasukan Elam terdengar saat mereka datang membanjir ke kaki bukit.
Mendadak sebuah lembing berwarna gelap meluncur kencang di udara, dari puncak bukit di belakang Zylia menuju pasukan Elam yang bergerak maju. Maut datang bersama desingannya. Begitu cepat sehingga sasaran yang dituju sama sekali tak sempat bereaksi. Lembing itu menghantam telak wajah seorang prajurit Elam yang berlari paling depan, menembus kepalanya, lalu menembus lagi dada seorang prajurit di belakangnya, menembus lagi perut prajurit ketiga di belakangnya, hingga akhirnya berhenti menancap di tanah.
Bahkan Zylia pun merinding. Tetapi sama seperti ribuan orang lainnya, baik kawan ataupun musuh, ia tak sempat berpikir banyak saat melihat kejadian mengerikan itu. Ia hanya tahu satu hal: hanya satu orang di dunia yang bisa melempar lembing dan membunuh orang semudah itu dari jarak yang sedemikian jauh. Rahzad. Lembing itu bukanlah tombak hitam yang tadi teracung di puncak bukit, tetapi Zylia tak perlu menoleh untuk yakin.
Seruan lantang Rahzad terdengar, “BUNUH!”
Bersamaan itu pula panah-panah Elam balas terlontar. Awan lebih gelap datang menerjang barisan prajurit bertombak Akkadia di kaki bukit, dan sebagian ada pula yang menuju lereng.
“Awaaas!” para prajurit Akkadia berseru.
Mata tajam Zylia melihat ujung-ujung logam yang mengarah ke tubuhnya. Ia bisa menghindar atau menangkis dengan busur. Tetapi beberapa prajurit di sekitarnya tak seberuntung dirinya. Mereka mencoba berlindung di balik perisai atau tubuh teman-teman mereka, tetapi hujan panah yang begitu deras berhasil menerobos di sela-sela perisai, menghantam bagian-bagian tubuh yang tak terlindungi. Jerit kesakitan terdengar sahut-menyahut.
“Busur!” Zylia mengeraskan hati. “Panah!”
Panah-panah Akkadia menyambar sekali lagi. Kali ini gumpalan asap putih muncul bergulung-gulung dari barisan belakang pasukan Elam, berputar-putar di angkasa, melindungi mereka dari terpaan hujan panah. Sebagian panah berhasil diredam di udara oleh sihir itu, hancur menjadi debu hitam. Hanya sebagian yang berhasil turun dan mencabut nyawa sasarannya.
Di bagian depan, pasukan Elam sudah berada begitu dekat di kaki bukit. Tinggal beberapa langkah mereka sampai di ujung-ujung tombak barisan pertama pasukan Akkadia. Mereka seolah tak peduli pada gelombang panah berikutnya. Disertai lolongan melengking tinggi para prajurit Elam menerjang. Hentakan ribuan tombak dan perisai beradu memekakkan telinga, menggelegar, menggetarkan seisi lembah.
Pasukan Elam menyerang bersamaan di tiga penjuru: depan, kiri dan kanan.
__ADS_1
Ke tiga arah itulah Zylia melontarkan panah-panah mautnya. Ia belum ikut dalam pertempuran brutal di kaki bukit. Bersama dua ribu prajurit di lereng, bersama Rahzad, mereka masih terus menghujani musuh dengan panah, berusaha menerobos perisai asap putih yang berputar-putar menjadi perisai di udara. Posisi Zylia dan rekan-rekannya di atas bukit lebih menguntungkan, karena mereka bisa menjangkau lebih jauh dibandingkan para pemanah Elam. Dalam hati Zylia bertanya-tanya. Para penyihir Elam sudah keluar mempertontonkan ilmu mereka, apakah berarti para Ishtaran juga akan segera beraksi?
Kelihatannya tidak. Rahzad masih menyimpan para prajurit misteriusnya, mungkin untuk saat yang lebih penting nanti. Sang panglima tampaknya percaya bahwa dengan kekuatan pasukannya yang sekarang mereka akan mampu mengalahkan pasukan Elam.
Sejauh ini Rahzad benar. Menjelang tengah hari pertempuran mulai memasuki titik balik. Pasukan Elam gagal membongkar pertahanan pasukan Akkadia dan bahkan terdorong mundur oleh gerak maju pasukan Akkadia di tiga penjuru. Pasukan Akkadia berjalan perlahan dengan tombak teracung, mantap melewati ribuan mayat Elam maupun tubuh rekan-rekan mereka sendiri. Para prajurit Elam berteriak-teriak panik, dan formasi mereka goyah.
”Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh!”
Zylia menoleh. Rahzad telah memerintahkan sebagian pasukan barionnya turun gelanggang. Empat ratus barion terbagi dua, berlari kencang menuruni lereng bukit di utara dan selatan, mendekati sayap kanan dan kiri pasukan Elam yang kacau-balau. Dalam waktu singkat hewan-hewan buas itu, beserta pengendaranya yang bersenjatakan tombak panjang, telah tiba di hadapan musuh. Mereka menerobos barisan pasukan Elam yang panik, menerkam, mencabik-cabik, melumat setiap daging yang terlewat.
Sayap kanan dan kiri Elam hancur. Ratusan prajuritnya yang selamat lari berhamburan. Para penyihir mengeluarkan badai-badai pasir bergulung-gulung untuk menerjang gerombolan barion, tetapi tak banyak menolong. Hewan-hewan buas itu sudah mencium bau darah dan daging. Mereka tak bakal bisa dihentikan dari naluri dasar mereka untuk berburu, mengejar dan membunuh, kecuali diperintahkan oleh sang pemimpin barion.
“OW-OUUWGH!”
Lolongan Aragro membahana. Bayangan hitam melesat bagai kilat di samping Zylia. Derap lari yang menggetarkan bumi mengiringinya. Rahzad dan sisa pasukan barionnya, yang paling mengerikan, bergerak menuruni lereng bukit. Zylia segera berlari kencang mengikuti gerak hewan-hewan hitam itu. Ribuan prajurit ikut berlari di belakangnya. Rahzad membawa pasukannya menyisir sisi kanan pasukan depan Akkadia. Para prajurit Elam panik melihat kedatangannya dan berusaha membentuk formasi tombak bertahan, tetapi sudah terlambat. Begitu tombak Rahzad datang berputar, tubuh-tubuh musuhnya langsung terbelah dan terlontar ke segala penjuru.
Aragro yang mengerikan tak mau kalah. Hewan buas raksasa itu menerobos berlapis-lapis pasukan Elam, mematahkan barisan tombak dengan kulit kerasnya. Semakin mengenaskan buat musuh, karena ratusan barion lainnya dari kedua sayap bergabung. Namun pasukan Elam tampaknya tidak ingin takluk begitu saja. Mereka telah kehilangan ribuan prajurit, tapi pasukan inti mereka membentuk garis pertahanan di tengah, untuk melindungi para panglima dan penyihir mereka di garis belakang. Sekitar seribu prajurit berpedang kembar, kelihatannya pasukan elit, memimpin pertahanan. Mereka berhasil menahan gerak maju pasukan Akkadia.
Namun hanya untuk sementara. Jumlah prajurit Akkadia kini sudah lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dua ribu prajurit Elam yang masih bertahan. Matahari sudah tergelincir di langit barat. Menjelang petang dipastikan pasukan Elam akan terpukul mundur sampai ke tepi Sungai Tigris, dan di sana mereka bakal habis terbantai.
Zylia bertarung tepat di pusat pertempuran. Ia menyimpan busurnya di punggung dan berputar-putar dengan pedangnya, menebas setiap prajurit musuh di dekatnya. Darah membasahi sekujur tubuh. Saat pertama tadi ia membunuh dengan panahnya ia merinding dan berusaha mengeraskan hati. Tetapi kini saat jiwa-jiwa itu tercabut begitu dekat di sekelilingnya, hatinya semakin lama semakin mengeras. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal: bunuh, atau dibunuh. Ucapan Rahzad semalam sempat terlintas; begitu Zylia beraksi ia akan segera mengenali dirinya kembali. Rupanya inilah dirinya. Monster pembunuh. Ia mendobrak maju, membunuh beberapa prajurit elit Elam yang berusaha menghadangnya, tak tertahan.
Suara sangkakala terdengar. Membahana, sahut menyahut. Seluruh prajurit Elam maupun Akkadia menghentikan pertempuran brutal mereka. Semua berpaling ke utara, termasuk Zylia. Mendapat kesempatan lolos dari pembantaian, para komandan Elam memerintahkan sisa prajuritnya untuk mundur ke timur. Para prajurit Akkadia membiarkan pergerakan itu, bahkan Rahzad pun berhenti menyerang.
Sang panglima termangu di atas barion raksasanya, atau lebih tepatnya, terperangah.
__ADS_1