Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 82 ~ Tempat Persembunyian


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 82 ~ Tempat Persembunyian


Karya R.D. Villam


 


---


 


Pegunungan Zagros yang sepi di utara menjadi tujuan pelarian Teeza dan Rahzad setelah mereka berhasil kabur dari kejaran pasukan Akkadia.


“Itu tempat yang bagus untuk bersembunyi,” Setelah beberapa lama terdiam Rahzad menjelaskan rencananya pada Teeza. “Di sini sepi dan jauh dari kota Akkad. Tetapi … tentu saja ini hanya untuk sementara,” suaranya berubah geram. “Saat waktunya tepat aku akan kembali ke Akkad, dan menghancurkan semua musuh-musuhku.”


Pada akhirnya dia tetap orang yang ambisius. Teeza paham sepenuhnya. Rahzad tidak akan pernah berubah, walau saat ini tengah berada di saat-saat tersulit dalam hidupnya. Ini bukan soal dendam, walaupun Rahzad menyebut kata-kata ‘musuh’. Lelaki itu memang punya tujuan hidup besar, yang bahkan mungkin melebihi tujuan hidup Sargon sang Raja Sejati.


Teeza tak menolak pendapat laki-laki itu, karena diam-diam ia pun memendam keinginan lain yang membuatnya mau ikut pergi ke utara. Jika nanti Rahzad memutuskan untuk kembali ke Akkad, Teeza akan memisahkan diri dan melanjutkan perjalanannya lebih jauh ke utara. Melewati banyak negeri, juga danau besar, hingga akhirnya tiba di Negeri Es. Teeza ingin pulang. Ia punya impian, dan tak seperti Rahzad yang punya banyak ambisi, hanya sesederhana itu impiannya. Pulang.


Jika ditanya, sebenarnya Teeza tak bisa menjawab dengan pasti apa yang sebenarnya ia cari. Sebagian hatinya bahkan melarangnya untuk pulang. Ia sudah tak punya lagi keluarga, dan di negerinya ia hanya akan menemukan sebuah kenyataan pahit. Hanya ada sisa-sisa orang mati di sana. Namun sebagian yang lain dalam hatinya terus mendorongnya. Sesuatu yang belum ia pahami, yang mungkin, hanyalah sebuah kerinduan belaka pada masa lalunya.


Teeza memutuskan untuk memelihara kerinduan itu. Ia berusaha mengumpulkan kembali kenangan-kenangan masa lalunya yang sempat pecah dan hilang, karena hanya itulah satu-satunya yang mampu mengobati kekosongan hatinya. Ia berharap, semoga suatu hari nanti ia bisa bertemu lagi dengan Elanna. Bersama-sama mereka berdua akan pulang ke utara.


Namun Teeza terkejut, ketika tiba-tiba Rahzad pun menyinggung nama gadis berambut emas itu. Saat itu sudah malam, dan mereka baru saja menyantap daging terakhir di depan api unggun.


“Kau tahu, Teeza, suatu hari nanti aku berharap kita bisa bertemu lagi dengan Elanna. Aku ingin berbincang dengannya, kali ini dengan lebih baik.”


“Buat apa?” tanya Teeza.


“Ia kakakku. Aku mencintainya.”

__ADS_1


“Ia membencimu.”


“Ya ...” Rahzad manggut-manggut. “Tapi barangkali kau tahu caranya, Teeza, bagaimana membuat ia bisa mencintaiku lagi?”


“Melihatmu mati, mungkin?” jawab Teeza sekenanya. “Elanna akan mencintaimu setelah kau mati.”


Rahzad tertawa sekeras-kerasnya sambil merebahkan punggungnya di rerumputan. “Akan kupertimbangkan itu.” Matanya kemudian terpejam. Entah bagaimana, sekarang laki-laki itu tampak lebih santai dan damai. “Kau hendak berjaga lebih dulu, Teeza? Lakukanlah. Bangunkan aku jika kau ingin tidur.”


“Kau mau api unggunnya kumatikan?”


“Terserah.”


“Kupikir kau ingin bersembunyi. Kenapa kau bersikeras membuat api unggun?”


“Karena …” Rahzad tertawa lagi, kecil sekarang. “… kadang aku justru berharap para pembunuh itu datang. Supaya aku bisa menghabisi mereka secepatnya, dan kita tak akan diganggu lagi sesudahnya.”


“Selama kita belum mati, mereka akan datang."


Teeza mendengus. “Dan yang seperti ini yang kau sebut sebagai bersembunyi?”


Rahzad tak menanggapinya kali ini. Mungkin dia sudah mulai bosan dengan kecerewetan Teeza yang tak seperti biasanya, walaupun Teeza lebih suka menyebut itu sebagai kekhawatiran. Atau mungkin … lelaki itu memang sudah tertidur.


Di sisi api unggun Teeza membelai mata tombaknya sambil memperhatikan Rahzad. Lelaki itu tidur dengan tangan terlipat di dada. Pedang besarnya tergeletak di samping tubuhnya. Sebenarnya ini kesempatan yang sangat bagus untuk membunuhnya, dan lelaki itu seolah membiarkannya begitu saja, sama sekali tidak takut jika Teeza bermaksud membunuhnya.


Atau mungkin Rahzad sudah menilai, bahwa dendam Teeza tak lagi sebesar dulu? Ya, dalam hal ini Teeza terpaksa mengakui, membunuh Rahzad memang bukan lagi prioritas utamanya. Pikiran itu terus terang masih ada, tetapi tidak lagi menjadi keinginan terbesarnya.


Teeza mendesah, lalu meletakkan tombaknya. Jubahnya yang sudah terkoyak berkat sisa-sisa pertmpuran dililitkan ke tubuhnya. Cukup untuk membuatnya hangat di tengah hembusan angin dingin yang mengalir di kaki pegunungan. Ia mengedarkan pandangan sekali lagi. Sudah dua hari dua malam tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka sedang dikejar oleh para pembunuh. Mudah-mudahan malam ini pun sama. Tetapi jika mereka tetap datang, ia sudah siap.


Api semakin kecil, dan Teeza tak hendak menambahkan kayu bakar. Ia menutup kepalanya dengan kain, lalu menunduk. Akan tampak seperti seseorang yang tertidur saat duduk, tetapi sebenarnya ia tak kehilangan kewaspadaannya.


Ketika api akhirnya benar-benar padam, selintas gerakan tertangkap oleh matanya yang awas. Di sebelah kiri, di balik pepohonan.

__ADS_1


Bukan apa-apa. Hanya bayang-bayang biasa.


Teeza menunggu sambil tetap menunduk. Entah berapa lama, mungkin sampai tengah malam. Kantuk mulai menerpa. Namun saat berpikir hendak membangunkan Rahzad, ia mendengar langkah kaki tipis di belakang. Cepat tangannya menggenggam erat gagang tombaknya, dan ia pun ia melompat sambil berputar.


Tombaknya teracung siap meminta korban. Seorang lelaki berdiri di sana, tertegun, atau mungkin ketakutan. Tubuhnya tegap, kepalanya botak.


Teeza terkejut. Ia mengenali orang itu. “Teimush?!”


Dia yang dulu menjadi lawannya dalam pertarungan api Ishtar di kota Akkad.


“Kap—kapten Zylia?!” orang itu mengangkat tangannya gugup.


“Bangsat. Kau kaget melihatku sekaget aku kaget melihatmu?” Teeza mengarahkan mata tombaknya ke leher Teimush sambil melirik ke kiri dan kanan. Tampaknya lelaki itu sendirian. “Kau punya penjelasan sebelum aku membunuhmu, kenapa kau mendatangi kami diam-diam?” Ia mengamati lagi lelaki botak itu. “Kau tidak membawa senjata, jadi mestinya kau tidak dikirim Bargesi buat membunuh kami. Mungkin hanya untuk mematai-matai. Benar? Baik, aku sudah menemukan jawaban, jadi aku bisa membunuhmu sekarang.”


“Tidak, tidak, Kapten, itu tidak benar!” Teimush cepat-cepat mengangkat kedua tangannya lebih tinggi dan menggeleng-geleng dengan wajah ngeri. “Aku kemari hanya ingin mencari pertolongan!”


“Pertolongan?” Teeza mengernyit, belum bisa percaya. “Kau sengaja datang padaku untuk meminta pertolongan? Tidak usah bohong! Sejak kapan kau mengikuti kami?”


“Tidak, tidak. Aku cuma melihat cahaya api unggun kalian dari atas bukit. Aku tidak menyangka kalau ini ternyata dirimu. Kenapa … kenapa kau bisa ada di sini?”


“Aku yang bertanya, Teimush! Apa yang kau lakukan di sini?”


Teimush tampak ragu sejenak, lalu berkata, “Zylia, mungkin kau mengira aku masih menjadi pengawal Raja. Tetapi sebenarnya, sudah dua minggu kini aku ditugaskan di utara, di kaki gunung ini. Di sana, tak jauh di sebelah timur sana.”


“Oh, betul.” Teeza mengangguk-angguk sambil tersenyum mengejek. Tombaknya diturunkan. “Ya, kau sudah mengatakannya dulu, saat mabuk.” Ia tertawa melihat Teimush melongo. Tampaknya lelaki itu lupa kalau dulu dia pernah kelepasan bicara. “Kau bilang pekerjaan barumu akan mempengaruhi nasibku, nasib semua orang. Dari yang kulihat, sepertinya nasibmulah yang berantakan. Kenapa? Kau benci bos barumu?”


“Oh, mengerikan, Zylia!” jawab Teimush histeris. “Semuanya mengerikan. Kusarankan … sebaiknya kita semua lari. Ya! Menjauh dari sini secepatnya!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2