Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 22 ~ Anak Bodoh


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 22 ~ Anak Bodoh


Karya R.D. Villam


 


---


 


Di sisa malam Fares melanjutkan tidurnya. Saat pagi menjelang, setelah ia memakan rotinya yang terakhir, ia beranjak pergi mengikuti Niordri. Ketika mulai berjalan, Fares mencoba merasakan beberapa bekas luka di tubuhnya, yang ternyata tak terasa lagi. Kelihatannya ramuan yang diberikan Niordri manjur. Aneh juga, karena setahu Fares, penyembuhan dengan memakai ramuan baru bisa membuat tubuh benar-benar pulih setelah beberapa hari.


Atau jangan-jangan ... Niordri juga menggunakan sihir?


Fares tak sempat berpikir lebih banyak. Niordri berjalan cepat di depannya. Tubuhnya jangkung—benar, dia ternyata lebih jangkung setengah kepala dibanding Fares—dan kepalanya tertutup penuh oleh kain panjang berwarna cokelat. Padahal tadi Fares ingin melihat apa sebenarnya warna rambut lelaki itu jika terkena cahaya matahari; benarkah cokelat juga?


Sebelum berangkat Fares hanya menyebutkan sekilas letak kedai Kaszhar, dan kelihatannya Niordri paham. Lelaki itu langsung berjalan menerobos jalanan sempit yang ramai di saat pagi hari. Ia tampaknya sangat mengenal kota Akshak. Kemarin Niordri bilang ia seorang pengembara; mungkin ia cukup lama mengembara di sini.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di kedai. Fares teringat. Baru dua hari yang lalu ia masuk ke kedai ini, tetapi rasanya seperti sudah lama. Ah, tidak, ia masih ingat dengan baik, terutama pada seorang pengemis dengan ularnya di depan kedai. Dan Fares tetap berusaha tak mempedulikan beberapa orang yang menatapnya dengan pandangan menyelidik.


Atau seharusnya, ia harus lebih memperhatikan mereka?


Fares masuk ke dalam kedai, sementara Niordri memilih berdiri di sudut jalan yang gelap. Fares berkata pada seorang pelayan, ”Aku ingin bertemu dengan Kaszhar.”


Pelayan itu pergi. Fares menunggu di sudut ruangan, sampai akhirnya Kaszhar muncul. Ia pun menceritakan secara singkat kejadian yang dialaminya kemarin, kemudian bertanya, ”Kau tahu siapa kira-kira yang membawa Naia, Kaszhar?”


”Mungkin Isfan. Maaf, Fares, aku benar-benar tidak tahu.”


Kelihatannya Kaszhar memang tidak bisa diandalkan untuk menghimpun informasi dari dalam kotanya sendiri. Ia tidak banyak membantu dua hari yang lalu, begitu pula sekarang. Ia malah hampir mencelakai Fares dan Naia. Fares lalu berkata dengan kesal pada Niordri yang menunggunya di luar, ”Orang itu tidak bisa membantu kita. Benar-benar tidak berguna.”


”Mungkin kita perlu mencari ke tempat lain.” Niordri menurunkan kain di depan dahinya, sehingga wajahnya semakin gelap tak terlihat. Ia menoleh ke arah jalan besar yang tampak di antara celah-celah rumah penduduk. ”Tetapi hati-hati. Semakin siang, prajurit Akkadia juga semakin banyak berkeliaran.”


Tiba-tiba terdengar suara berbisik. ”Fares!”


Jantung Fares berhenti sesaat. Ia menoleh ke belakang. Seorang pria berbaju kumal seperti pengemis berdiri tak jauh di belakangnya, di sudut dinding rumah di samping kedai. Ia juga mengenakan kain panjang untuk menutupi kepala dan tubuhnya.


”Letnan Isfan!” seru Fares. Ia melangkah mendekati lelaki itu, tetapi begitu melihat lebam di wajahnya, ia terkejut. ”Apa yang—”

__ADS_1


”Nanti.” Isfan mengangkat tangannya. Ia berbisik lagi, ”Akan kuceritakan nanti. Tetapi sekarang kita harus pergi.”


”Ke mana?”


”Ke rumah persembunyian di utara. Tuan Putri ada di sana.”


Naia! Fares tersenyum lebar, tak mampu berkata-kata karena begitu leganya mendengar Naia selamat. Kemudian ia melihat Isfan yang menatap ke arah Niordri tanpa berkedip.


”Ini Niordri, Letnan. Dia yang menyelamatkan aku kemarin.”


Isfan mengangguk ragu, lalu tersenyum. ”Ini menggembirakan, Fares. Kami semua sudah takut kau tidak selamat malam itu. Putri Naia sudah cerita. Aku tadinya kemari hendak mencari kabar apa yang sebenarnya terjadi padamu, atau mayatmu—jujur saja.”


Fares menyeringai. ”Mayatku?”


”Ya. Putri Naia sangat sedih, kalau kau mau tahu. Ternyata kau baik-baik saja.” Isfan menepuk pundak Fares. ”Kau juga harus cerita. Tetapi sambil kita jalan saja.”


Fares menoleh ke arah Niordri. ”Kau mau ikut?”


”Kalau kau tidak keberatan.”


”Tentu saja tidak. Ayo.”


Semua terdengar begitu menggembirakan buat Fares—di luar kematian tiga rekannya yang lain, yang dijadikan mangsa barion. Bagaimana Naia bisa selamat, tiga rekannya: Isfan, Zandi dan Habik selamat, dan juga kabar bagus lainnya: Teeza ternyata juga selamat.


“Kapten bilang dia akan menyusul kita,” kata Isfan. “Benar-benar luar biasa, kan? Kita bisa berkumpul lagi. Ditambah Raja Javad dan para prajuritnya. Kelihatannya tidak semua berakhir buruk. Keberuntungan kita mulai membaik. Mungkin ini titik balik kita, Fares!”


”Aku setuju.” Fares tersenyum lebar. ”Tetapi, bagaimana kau, Zandi dan Habik sampai bisa menemukan Putri Naia?”


”Orang-orang Awan itu yang menemukan kami, saat fajar tadi. Keberuntungan juga tampaknya. Kami sedang kebingungan di dekat kedai yang sama tadi pagi, dan tiba-tiba sekelompok prajurit Awan datang. Kami bertemu Putri Naia di pinggir kota. Zandi dan Habik ikut dengannya, sementara aku kembali ke kota.”


”Bagus,” jawab Fares. Ia sudah tak sabar bertemu dengan Naia. Ia teringat, malam itu ia sudah pasrah tak akan bisa lagi bertemu dengan gadis itu. Ah, ya ... ada sesuatu yang dikatakan Naia saat itu, yang rasanya sedikit aneh. Tentang sesuatu yang ’berbeda’? Sayangnya, Fares tidak ingat. Ia kesal. Lain kali seharusnya ia lebih menyimak perkataan orang lain.


”Ah, itu dia rumahnya!” seru Isfan.


Fares memperhatikan jalan yang ia lewati. Jalan setapak kering, rimbun semak belukar di kiri kanannya, batu-batu tajam di bawah telapak kakinya, dan juga suara air sungai dari sebelah timur. Belasan orang pria tampak berdiri di sekitar rumah, dan ada pula yang duduk di atas batu atau batang pohon tumbang. Hampir seluruhnya berkulit cokelat gelap, kecuali Zandi dan Habik yang ada di antara mereka. Fares memeluk keduanya tanpa ragu. Kemudian pada seorang laki-laki tampan yang sama jangkung dengan dirinya, Fares membungkuk hormat. Dialah Raja Javad dari Awan.


”Yang Mulia, senang bisa bertemu Anda lagi,” kata Fares.


”Aku juga, Fares, sahabatku.” Javad memeluk Fares tanpa ragu. ”Naia pasti senang bisa bertemu lagi denganmu.”

__ADS_1


Fares tersenyum lebar. ”Di mana dia?”


”Di belakang.” Javad melirik sebentar. ”Dia sedang berbicara dengan ... makhluk itu.”


Davagni. Fares mengangguk. "Sebaiknya kutunggu."


Terdengar derap lari dari samping rumah, mendekat ke arah mereka. Wajah khawatir Naia adalah yang tampak pertama kali. Namun begitu melihat Fares, rautnya berubah cerah.


Gadis itu tersenyum lebar. ”Fares!”


Fares belum sempat menjawab, ketika wajah cantik itu kemudian berubah pucat kembali. Sangat pucat. Tubuh Naia bergetar, dan terhuyung ke belakang. Sesosok tubuh raksasa berwarna kelabu muncul di belakangnya, menahan tubuh Naia agar tidak terjatuh.


”Anak bodoh!” Makhluk itu, Davagni, melotot ke arah Fares. ”Kenapa kau bawa dia?”


Darah serasa menyurut dari wajah Fares. Sesaat ia belum mengerti apa maksud perkataan Davagni, tetapi rasa takut yang menyergapnya tanpa tertahan membuat ia paham.


Lelaki jangkung di sampingnya, yang sedari tadi menyertainya sepanjang perjalanan, melepaskan kain penutup kepalanya. Kini Fares bisa melihat dengan jelas warna rambut sebenarnya, yang tebal berkibar-kibar, ternyata cokelat keemasan. Senyuman dingin menghiasi wajah tampan laki-laki itu.


Sial! Sial! Sial!


Fares gemetar. ”Jadi, dia ...?”


Jeritan Davagni membahana, ”RAHZAD!”


 


---


 


Sekilas Info:



Bagi yang tertarik, buku terbaru saya yang berjudul The Emperor (penerbit Elex Media Komputindo) sudah terbit dan bisa didapatkan di Toko Buku Gramedia dengan harga Rp. 75.000.


Atau boleh juga kalau mau pesan lewat saya. Hubungi saya lewat Whatsapp di nomor 087880274851. Harganya sama Rp. 75.000, tapi belum termasuk ongkos kirim. Bonusnya tanda tangan. :D


Terima kasih.

__ADS_1


Villam


__ADS_2