
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 43 ~ Pemimpin Rakyat
Karya R.D. Villam
---
Naia menghela napasnya perlahan. Semua orang yang duduk di hadapannya di dalam ruangan itu, seluruh raja dari tanah Elam, tampak percaya diri, dan ia tak ingin membuat mereka tidak senang dengan menyatakan keraguannya. Bukannya Naia takut. Ia justru selalu berharap akan tiba waktu saat ia bisa membalaskan semua dendamnya. Hanya saja ia belum percaya bahwa menyerang musuh sekarang adalah langkah yang terbaik. Mereka semua belum pernah bertemu Rahzad! Mereka tidak tahu keganasannya seperti apa!
"Semua sudah kami perhitungkan, Naia," kata Javad. "Kau tak perlu khawatir."
Naia memandangi laki-laki itu, mencoba menebak isi kepalanya. Jika memang semua sudah direncanakan, untuk apa lagi ia diminta berada di sini? Kekesalannya tumbuh. Tetapi tentu saja ia tak boleh menunjukkannya di hadapan semua orang. Naia memilih tersenyum. "Jika memang semua sudah direncanakan dengan baik, itu bagus ..."
"Perwakilan pasukan dari masing-masing kerajaan telah berkumpul di halaman utara. Ikutlah bersamaku, Naia, supaya kau lebih yakin," ajak Javad.
Naia termangu. "Javad, aku sudah yakin, jangan khawatir. Dan aku akan senang jika bisa ikut pergi bersamamu melihat pasukan, tetapi bukankah sudah waktunya pula kita pergi ke gerbang selatan, untuk menjemput Fares dan Rifa?”
"Aku tidak lupa." Raut wajah Javad sedikit berubah, tetapi senyum tak hilang dari wajahnya. "Tetapi bukankah, sesuai jadwal, paling cepat Fares baru akan tiba empat hari lagi? Kita masih punya waktu. Kita bisa berangkat lusa."
"Aku akan berangkat lebih dulu," balas Naia.
Javad menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. Jelas ia sudah paham, sesuai sifat Naia, jika gadis itu sudah berkeinginan, seorang Javad pun tak akan mampu mencegahnya. “Baiklah, Naia."
__ADS_1
"Dan sebelum aku ke selatan, aku akan mengunjungi rakyatku dulu di padang rumput utara. Maaf, aku baru bilang padamu sekarang.”
"Aku mengerti. Sebenarnya, aku pun ingin ikut bersamamu menemui mereka.” Javad memandang berkeliling ke semua tamunya, lalu berkata lagi pada Naia, "Begini saja, aku hanya akan sebentar saja di benteng untuk memeriksa pasukan, setelah itu aku akan menyusulmu ke padang rumput. Besok siang kita bisa berangkat ke selatan untuk menjemput Fares dan Rifa bersama-sama. Bagaimana menurutmu?”
Naia tersenyum lebar. “Aku senang, Javad.”
"Bagus." Javad menatap seluruh tamu dengan wajah berseri. "Tuan-tuan, kita selesaikan segera pembicaraan kita, dan berangkat secepatnya.”
Tetapi Naia tak ingin menunggu. Selain karena kekesalannya akibat perkembangan rencana perang yang tidak diduga-duga, ia juga sudah rindu pada rakyatnya. Ia pergi terlebih dulu ke utara. Ditemani Mehrdad dan empat orang pengawal lain, ia berjalan meninggalkan Istana Awan, menuruni pegunungan dan menyeberangi lembah hingga akhirnya sampai di padang rumput yang luas menghijau saat tengah hari.
Danau dengan permukaan air berwarna keperakan terbentang di kaki langit. Di sebelah timurnya terdapat pepohonan lebat dan semak belukar, sementara di barat berdiri puluhan tenda cokelat berbentuk kerucut bagai tanaman asing yang tumbuh subur di hamparan padang rumput. Beberapa wanita di pemukiman itu sedang mengambil air, dan sebagian lagi berbincang di depan tendanya masing-masing. Kaum lelakinya berjalan membawa kayu bakar dari arah hutan, dan sebagian lagi menggembalakan ratusan domba berbulu putih yang dibiarkan merumput di tepi pemukiman.
Naia tersenyum melihat pemandangan tersebut. Pemandangan yang dulu biasa dilihatnya di kampung halamannya, dan telah lama musnah. Ia bergumam dengan bibir bergetar, “Rakyatku.”
Ia berlari kencang menerobos rerumputan tinggi, menepuk kepala setiap domba yang ia lewati, menikmati suara embikan mereka di telinganya, dan menyapa setiap orang yang langsung membungkuk dengan senyum lebar di wajah mereka. Begitu ia sampai ke pemukiman, hampir seluruh penduduk sudah berkerumun di sekelilingnya. Dengan gembira Naia menghabiskan waktu memeluk mereka satu per satu. Beberapa anak kecil memeluk kaki Naia erat sekali.
"Kami juga, Tuan Putri,” jawab seluruh rakyatnya, yang sebagian menangis karena terharu. “Kami sudah rindu padamu.”
Naia memandang berkeliling, lalu menyeringai. “Kuharap ... tendaku masih ada. Tak ada yang memakainya, bukan?"
Semua orang tertawa mendengar candanya. “Tentu saja tendamu masih ada, Tuan Putri. Mana ada yang berani memakainya?”
"Baguslah." Naia ikut tertawa, kemudian menatap jauh ke seberang danau di utara. "Isfan," Ia memanggil pemimpin pasukannya, yang segera mendekat. "Kau sudah memeriksa tanah di utara itu?"
"Yang ada di seberang danau?" Isfan mengikuti arah pandangan Naia. "Sudah. Lebih luas memang dibanding di sini. Ada rumput lebih banyak untuk ternak kita dan ada aliran sungai yang cukup jernih dari pegunungan utara. Ada juga gerombolan kuda dan rusa liar, yang bisa kita jinakkan. Yang jelas bakal menjadi tempat tinggal yang bagus untuk rakyat kita. Memang masih ada kawanan serigala yang berkeliaran, tetapi kita bisa mengatasinya."
“Bagus.” Naia mengangguk. "Itu akan menjadi negeri baru kita. Di sana kita bisa hidup lebih leluasa. Di sini … terlalu dekat dengan kota-kota Elam. Walau mereka baik, tapi … keberadaan kita, aku takut, belum bisa sepenuhnya diterima oleh mereka.”
__ADS_1
“Tampaknya ... kita memang tak mungkin kembali ke Ebla, ya?” kata Isfan dengan wajah sedikit murung.
“Mungkin suatu hari nanti, Isfan, anak cucu kita akan kembali ke barat. Tetapi tidak saat ini. Kita harus tetap hidup, dan tumbuh berkembang di mana pun kita berada. Kita akan memulai semuanya lagi dari awal. Jangan khawatir.” Naia tersenyum lebar, penuh semangat. Untuk sesaat ia melupakan dendam dan perang yang selalu memenuhi pikirannya. Berada bersama rakyatnya ternyata telah mendatangkan kesejukan di hatinya.
“Kapan … kau ingin kami pergi ke sana, Tuan Putri? Ke tanah utara itu.”
“Bersiaplah, mungkin tak lama lagi.” Naia teringat pada peperangan yang dihadapinya. “Aku akan melihat dulu perkembangan terakhir. Akan kuberitahu nanti pada waktunya, dan aku akan pergi bersama kalian.”
“Kau?” Alis Isfan terangkat. “Akan ikut kami ke utara?”
“Tentu saja.”
“Kau akan tinggal bersama kami?”
“Tentu saja, bodoh! Apa maksudmu?” Suara Naia meninggi, seolah-olah tersinggung. "Mulai hari ini, aku akan tinggal lagi di sini.”
Ucapannya langsung tersebar ke seluruh rakyat. Sebagian berubah cerah wajahnya. Tentu saja mereka gembira Naia akan tinggal lagi bersama mereka. Namun sebagian yang lain saling berpandangan tak mengerti. Naia melirik ke arah Mehrdad yang berdiri di luar kerumunan. Lelaki itu pun mengerutkan dahinya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Maksudku," Isfan menggaruk-garuk kepala, "nanti kau akan tinggal lagi di sini, bersama kami, selamanya?”
"Ya." Naia mengangguk dengan mantap sambil bertolak pinggang. Ia tersenyum tipis. "Ada yang tidak senang?"
"Demi semua dewa, tentu saja kami senang!" seru Isfan, yang lalu berpandangan dengan yang lainnya, sebelum kembali bertanya pada Naia, "Tetapi, bukankah kau akan menjadi permaisuri Awan? Dan akan tinggal di istana?”
"Itu soal nanti." Naia mengelak. "Sampai saat itu tiba, aku tetap pemimpin rakyatku, dan aku berhak tinggal bersama rakyatku, di mana saja dan kapan saja aku mau!"
__ADS_1