
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 79 ~ Rencana Baru
Karya R.D. Villam
---
Faruk si elang gunung kembali ke tepi sungai tak lama setelah diperintahkan pergi oleh Javad. Sang raja Awan lalu menyampaikan berita yang dibawa burungnya itu pada yang lain,
“Ramir tidak lagi bersama Kudur,” ujarnya. “Dia sudah pergi entah ke mana, hilang tanpa jejak. Si raja bodoh itu kini uring-uringan sepanjang waktu, sepertinya marah bercampur panik.”
Fares belum yakin apakah itu adalah berita yang baik atau buruk. Ia menoleh ke arah Naia yang duduk di rerumputan di sampingnya, lalu bangkit berdiri dan bertanya pada Javad, “Berarti ada orang lain yang membawa Ramir pergi? Siapa?”
“Kita belum tahu pasti siapa, dan sayangnya aku tak mungkin mencari atau menunggu kabarnya lebih lama.” Javad memandangi seratus prajuritnya yang berdiri menunggu perintah di kaki tebing. Di samping mereka terdapat celah yang akan membawa mereka ke negeri Awan di timur. “Ada banyak sekali urusan yang harus kulakukan di istana.”
“Pulanglah, Javad. Biar aku dan Fares yang mencari Ramir,” Naia berkata.
“Sebenarnya aku berharap kau ikut denganku.”
Naia menggeleng. “Tidak sekarang.”
Javad memandanginya, lalu mengangguk.
“Aku ikut kalian,” Rifa menyahut, berkata pada Naia dan Fares.
“Kau yakin?” tanya Javad pada adiknya.
“Ya.” Si gadis Elam mengangguk, tanpa senyum. “Berdiam diri di Istana Awan tidak akan membuatku nyaman. Kau tahu.”
Javad membalas dengan anggukan lagi, sepertinya mengerti apa yang tengah dirasakan adiknya saat ini, yang masih kehilangan Mehrdad. “Baik, kalau begitu kita berpisah di sini.” Ia memutuskan. “Berhati-hatilah, kalian semua. Aku akan terus mengirim Faruk secara berkala. Kabari aku secepatnya jika terjadi sesuatu.”
Setelah mengucap salam sang raja dan para prajuritnya pergi kembali ke negeri Awan, meninggalkan Fares bersama Naia, Rifa, Isfan dan Zandi.
__ADS_1
Ketika rombongan besar itu menghilang sepenuhnya di balik tebing, Fares bertanya, “Tuan Putri, apa kita berangkat ke Anshan sekarang?”
“Untuk mencari Ramir?” Rifa yang menjawab, “Bahkan Kudur pun tak mampu menemukan jejaknya, apalagi kita.”
”Benar,” sahut Naia. “Makanya tadi kubilang aku punya rencana lain. Kita pergi ke Kubah Putih.”
“Kubah Putih?”
“Ya, Fares. Karena dua hal. Pertama, yang paling mungkin menculik Ramir tanpa bisa diketahui oleh Kudur hanyalah orang-orang Kubah Putih. Tak banyak yang tahu keberadaan kelompok ini, tetapi aku tahu mereka cukup ahli dalam hal menyusup atau semacamnya. Hanya saja aku belum paham apa maksud mereka melakukan ini. Aku harap bukan sesuatu yang buruk bagi kita. Lalu alasan kedua …” Naia menarik napas panjang. “Aku harus berbicara pada Davagni, yang tengah disekap di sana. Kuharap masih ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki keadaan.”
Fares senang mendengarnya. Di balik wajah murung yang terus ditunjukkan oleh Naia, ternyata semangat itu masih ada. Seharusnya Fares memang tak perlu meragukan hal itu. Naia seorang petarung, sama sekali bukan gadis lemah, walau sesekali keputusasaannya timbul.
Mereka melanjutkan perjalanan ke arah tenggara. Dari mereka berlima hanya Naia yang tahu di mana letak Kubah Putih. Naia berkata bahwa ia pernah pergi ke tempat itu saat masih kecil bersama ayah dan kakaknya. Ia lupa di mana posisi tepatnya, tetapi ia tahu di sisi gunung sebelah mana bangunan itu berada. Mereka akan sampai di sana dalam waktu dua hari.
Mereka menghabiskan hari pertama dengan mendaki pegunungan, kemudian saat petang mereka beristirahat di lereng di tepi hutan. Api unggun dinyalakan, dan saat malam Fares, Isfan dan Zandi bergantian berjaga. Binatang yang paling mereka takuti di daerah itu, macan hitam Elam, untungnya sama sekali tidak muncul.
Esoknya mereka bangun saat matahari terbit. Setelah menikmati sarapan singkat mereka melanjutkan perjalanan, dan mendaki lebih tinggi. Hutan semakin tipis, menyisakan lereng gunung berbatu yang tandus namun berhawa dingin. Naia semakin bersemangat dan berulang kali berkata, “Ini tempatnya, ini tempatnya.”
Namun sampai sore tempat yang mereka tuju belum ditemukan. Di hari kedua itu mereka pun kembali beristirahat.
“Lebih baik jangan, itu berbahaya,” jawab Naia. “Kubah Putih sudah dekat, aku yakin, dan karenanya lebih baik kita tetap bersatu. Jika mereka tidak suka kedatangan kita, dan mengancam kita, paling tidak kita bisa menghadapi mereka bersama-sama.”
Tiba-tiba Zandi berbisik, “Maaf, Tuan Putri.”
Naia tertegun.
“Apa?” Fares ikut berbisik.
“Bicara soal mereka yang tidak suka, sepertinya ada yang sedang mengamati kita. Di sana.” Zandi menunjuk ke arah batu-batu besar di sebelah timur.
Semua terdiam, belum tahu harus bagaimana.
Tak ingin terus bingung, Fares pun mengambil inisiatif. “Orang-orang Kubah Putih, ya? Baik. Biar kulihat. Supaya cepat urusannya,” tukasnya sambil berdiri.
Namun belum sempat ia melangkah seseorang lebih dulu menampakkan diri dari balik batu besar. Tidak, bukan satu, ternyata ada tiga orang. Seluruhnya lelaki berpakaian putih. Dua orang menyusul di belakang yang pertama. Sesaat Fares teringat pada Nergal yang juga selalu mengenakan jubah putih. Namun tiga orang ini berbeda. Yang ini pasti benar-benar manusia, bukan makhluk terkutuk. Mereka orang-orang Kubah Putih.
Naia dan yang lainnya mengikuti Fares berdiri, waspada. Sang putri menatap tajam ketiga orang yang baru datang. Tangannya naik ke gagang pedang di pinggangnya, tapi begitu melihat orang-orang Kubah Putih itu tidak mengeluarkan senjata, Naia menurunkan tangannya lagi.
__ADS_1
Seorang pemuda jangkung bertubuh tegap, yang tampaknya adalah pemimpin di antara ketiga orang itu, berkata, “Putri Naia, kau mendaki gunung ini karena memang ingin datang ke tempat kami?”
“Ya.” Naia mengangguk, jawabannya tegas, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak takut. “Aku ingin bicara dengan Tuan Parvez.”
“Tentu saja. Tuan Parvez memang sudah menunggumu,” balas pemuda itu tanpa senyum. “Namaku Nahim, dan aku akan mengantar kalian.”
Naia berpandangan dengan Fares sesaat, lalu dengan Rifa, Isfan dan Zandi. Tak satu pun yang bisa memberi pertimbangan apakah tawaran ini patut diterima atau tidak, atau apakah ini jebakan atau bukan. Akhirnya Naia memutuskan sendiri. Mereka berjalan mengikuti Nahim dan kedua prajuritnya, terus sampai sepanjang malam.
Saat malam hampir mencapai puncak sebenarnya Fares sempat berkata apakah tidak sebaiknya mereka beristirahat dulu. Namun Nahim tidak memberikan jawaban jelas dan terus berjalan, dan sepertinya Naia pun tidak keberatan.
Gadis itu malah berkata, “Sebentar lagi, Fares.”
Padahal Fares memberi usulan karena tidak ingin melihat Naia lelah, bukan karena dirinya yang ingin tidur!
Namun sepertinya Nahim dan Naia memang punya alasan. Setelah menuruni lereng berbatu mereka akhirnya tiba di bibir tebing yang berdasar gelap dan jauh tak terlihat. Sebuah jembatan kayu, yang panjangnya mungkin mencapai dua ratus langkah, melintang di atas jurang. Itu adalah tanda bahwa tempat yang mereka tuju memang sudah dekat.
Mereka berpegangan pada pegangan tali di kiri dan kanan, menyeberang dengan hati-hati, melawan hembusan angin dingin yang membuat jembatan bergoyang-goyang liar, menuju tebing lain di sebelah timur. Mereka lalu mendaki lagi, mengelilingi lereng dan melewati jalan sempit yang berkelok-kelok, hingga akhirnya sampai di tanah lapang.
Di seberang tanah lapang yang diapit tebing itu tampaklah dua bangunan berdinding batu, yang tampaknya adalah gerbang atau pos penjaga. Barisan obor menyala di sepanjang kiri dan kanan jalan, dan dua orang penjaga bertombak menyambut mereka. Nahim memberi salam, berbicara sebentar dengan para penjaga, lalu mengajak Naia dan rombongannya melewati gerbang.
Selewat gerbang, lapangan lain terbentang di depan mereka, yang kali ini lebih besar dan beralaskan batu-batu putih. Di seberangnya, tampaklah bangunan besar dengan empat buah menara di masing-masing sudutnya. Namun bukan menara itu yang membuat Fares dan rekan-rekannya—kecuali Naia—terpana, melainkan atap kubah putih raksasanya, yang benderang disinari cahaya rembulan.
Fares termangu. “Ini ... memang tempat menakjubkan, yang membuat kita … merinding. Kalian juga merasakannya?”
“Buatku, malam dan sepi yang membuat tempat ini menakutkan,” tukas Rifa. “Kuharap saat siang terasa lebih menyenangkan.”
“Saat siang memang lebih ramai,” Nahim menyahut, tanpa memberi penjelasan lebih jauh. Sepertinya ia memang enggan bercerita. Lelaki itu malah berkata soal lain, yang sebenarnya memang lebih penting, “Aku akan membawa kalian ke kamar tamu. Kalian boleh beristirahat sampai kapan pun kalian mau, tetapi aku yakin kalian juga ingin secepatnya menemui Tuan Parvez.”
Naia mengangguk. “Aku ingin secepatnya.”
“Kalian bisa menemui beliau saat tengah hari.”
Rombongan kecil mereka dibawa ke kamar yang terdapat di bagian barat Kubah Putih, tepat di samping koridor yang menghubungkan pintu utama dan ruang dalam. Koridor itu memiliki banyak cabang ke kiri dan ke kanan, dengan beberapa penjaga berjaga di tiap sudut. Sepertinya tempat yang menarik untuk dijelajahi, tetapi Fares tak mau menyia-nyiakan kesempatan tidur nyenyak di dipan kayu berlapis kain yang empuk. Toh ia yakin bisa menjelajah dan menikmati suasana besok pagi, atau siang, kalau memang perlu.
__ADS_1