Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 71 ~ Setelah Pembantaian


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 71 ~ Setelah Pembantaian


Karya R.D. Villam


 


---


 


”Tuan Putri, kau sudah sadar?”


Suara lembut itu membuat Naia membuka matanya lebar-lebar.


Senyuman di wajah polos Fares adalah yang pertama kali dilihatnya, dan sungguh itu adalah pembuka hari yang paling membahagiakan. Gadis itu balas tersenyum.


“Selamat pagi, Naia,” sapaan lain terdengar. Naia melirik. Di samping Fares duduk lelaki lain, yang ikut tersenyum pula. Javad. “Bagaimana keadaanmu, baik-baik saja?”


“Aku …” Naia terpejam lagi, begitu ia teringat apa yang telah terjadi semalam.


Ia tahu apa yang dilakukannya, jika benar itu tadi malam, bukan malam sebelumnya. Ia membinasakan begitu banyak orang, dengan cara yang sangat kejam. Walaupun mereka yang dibunuhnya itu musuh, tetap saja itu tindakan mengerikan yang hanya mungkin bisa dilakukan oleh makhluk terkutuk, bukan manusia!


Naia terdiam. Rasanya tak mungkin ia menjawab dirinya baik-baik saja!


Setelah beberapa saat ia baru membuka matanya dan balik bertanya, “Apa yang terjadi, setelah aku …” Tidak, ia tak mau mendengar apa yang telah ia lakukan. Ya, ia berharap tak ada seorang pun yang bercerita tentang itu. “Apa yang terjadi … kemudian?”


“Seratus prajurit kita selamat dari pertempuran di bukit,” Javad menjawab dengan hati-hati. “Tetapi lebih banyak yang gugur. Termasuk Mehrdad.”


“Mehrdad …” Naia sedih membayangkan lelaki gagah itu akhirnya gugur. Ia beringsut, lalu bangkit. Tak jauh di sebelah kirinya Rifa duduk. Gadis berambut pendek itu termenung, memandang rerumputan di depannya. Luka di dadanya sudah ditutup.


“Rifa,” Naia memanggil, dan adik raja Awan itu pun mengangkat wajahnya. “Aku ikut menyesal.”


Rifa mengangguk. Rahangnya mengeras. “Mehrdad sudah dikuburkan, di sana, tak jauh dari sini. Tadinya aku berharap bisa membawa jenazahnya sampai ke Awan, tetapi mungkin aku terlalu berlebihan. Jiwanya akan lebih cepat sampai kepada para dewa dengan cara ini. Lagi pula …” Ia mencoba tersenyum. “… tidak masalah bagiku jika harus mengunjungi makamnya ke sini suatu waktu nanti. Tentunya kau bersedia menyeberangkan aku kemari, bukan?”

__ADS_1


“Ya.” Naia membalas senyumnya. “Tentu saja aku bersedia.”


Ia menoleh, memandangi Javad dan Fares, lalu menatap berkeliling. Para prajurit Awan berdiri di kejauhan, sebagian duduk beristirahat di atas batu di samping pepohonan rimbun. Mereka semua menatap ke arahnya, dan itu membuat Naia malu. Entah apa yang mereka bicarakan tentang dirinya. Seorang manusia terkutuk, pastinya. Ia membuang muka.


“Tuan Putri,” Fares memanggil. “Kau lapar?”


Pemuda itu terkekeh sambil menyodorkan sepotong ikan bakar. Dengan senang hati Naia menyambutnya. Ia bisa sedikit lega, walaupun kemarin ia melakukan sesuatu yang mengerikan, tetapi seluruh rekannya tetap bersikap baik padanya. Mungkin ia terlalu menilai buruk dirinya sendiri. Toh mereka berhasil selamat dari kejaran prajurit Akkadia, dan itu karena dirinya. Di balik sesuatu yang buruk, mestinya ia harus tetap bisa bersyukur.


Naia pun mencoba bersikap seperti biasa di hadapan Fares dan yang lainnya. “Sudah berapa lama kita beristirahat?” ia bertanya. “Apakah sungai masih jauh?”


“Jika kita berjalan lagi sekarang, tengah hari kita akan sampai di Gerbang Sungai Tigris,” jawab Javad. “Asalkan kau sudah siap.”


“Aku siap,” jawab Naia. “Lebih cepat kita sampai, akan lebih baik. Bukankah Raja Naram dan Raja Kudur juga telah menunggu kita di sana?”


“Benar, mereka pasti sudah menunggu.” Javad mendongak, menatap burung elangnya yang berputar-putar di udara. “Aku melihatnya di mata Faruk, pasukan mereka sudah tiba di sungai beberapa hari yang lalu. Kita bisa menemui mereka segera.”


Mereka melanjutkan perjalanan, mendaki dan menuruni bukit, lalu menyeberangi padang rumput. Perjalanan terasa lebih ringan, dan tanpa harus diisi dengan kekhawatiran karena dikejar orang-orang Akkadia.


Belum sampai tengah hari Sungai Tigris telah tampak di balik tebing.


“Di mana mereka?” Geraman Rifa terdengar.


“Jangan-jangan … mereka sudah menyeberangi sungai lebih dulu.” Walau marah Javad tetap mampu menjaga ketenangannya. “Itu satu-satunya jawaban.”


“Ramir …” gumam Naia khawatir. “Apa yang terjadi dengan ...?”


“Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk,” tukas Fares kesal. “Hei, aku melihat beberapa orang di sana. Isfan, Zandi dan para pengawal!”


Tanpa menunggu perintah pemuda itu berlari ke tepi sungai. Naia menyusul, demikian pula Javad, Rifa dan seluruh prajurit Awan. Isfan, Zandi dan para pengawal mengangguk hormat, tampak lega melihat kedatangan Naia dan rekan-rekannya.


“Apa yang terjadi?” tanya Naia begitu mereka bertemu.


“Raja-raja itu, Naram dan Kudur, memaksa Ramir membuka gerbang,” jawab Isfan. “Oh, maafkan kami, Yang Mulia Javad, mereka benar-benar memaksa, dan bahkan melukai kami. Raja Kudur membawa Ramir bersama pasukannya menuju Anshan.”


“Apa?! Dia berani melakukan itu?” Javad melotot. Ia tampak begitu gusar. “Akan kuhajar mereka!”

__ADS_1


“Sebentar, tenang dulu, Javad,” kata Naia berusaha tenang, walau sebenarnya ia masih bingung. “Sebaiknya … kita berhati-hati jika hendak bertindak keras pada Kudur, karena tampaknya Naram pun berpihak padanya. Kita tak mungkin berselisih dengan mereka sementara Akkadia masih mengancam dari barat. Maafkan aku, tapi kuyakin kau lebih tahu.”


“Aku tahu! Tetapi kita tetap harus bertindak. Tak mungkin kita membiarkan Ramir jatuh ke tangan orang-orang licik seperti Kudur. Jika Kudur berani berkhianat sekarang, dia bisa berkhianat lebih jauh nanti, dengan membuka gerbang kepada orang Akkadia!”


“Mungkin lebih dari itu,” gumam Naia yang ikut gundah. “Ramir adalah sang ahli waris Gerbang Sungai Tigris. Suatu hari nanti, setelah ia dewasa dan memiliki kemampuan sihir seperti Haladir, jika dipaksa, ia bisa melakukan lebih daripada sekadar membuka gerbang. Ia bisa menghancurkannya dindingnya sekalian.”


“Kita harus menyeberang sungai sekarang,” usul Fares tak sabar. “Jika kita tak mau melakukannya secara terang-terangan, kita bisa minta Faruk terbang ke Anshan untuk mencari informasi apa yang sebenarnya dilakukan Kudur. Jika situasinya memungkinkan, kita pergi ke sana diam-diam dan merebut Ramir kembali. Aku bisa pergi.”


“Dan aku ikut denganmu,” sahut Rifa cepat.


Naia memandanginya. Tampaknya Rifa menawarkan diri pergi tidak hanya karena ia dekat dengan Ramir, melainkan juga untuk mengobati hatinya yang telah kehilangan Mehrdad.


“Kudur mengenali Faruk, dan akan langsung memanahnya jika elang itu mendekat,” kata Javad. “Tetapi itu usul yang bagus. Jika Faruk hati-hati, mungkin bisa berhasil. Dia bisa pergi. Sementara itu kita kembali ke Awan untuk menyusun kekuatan.”


Mereka bergegas pergi ke tepi sungai. Javad berjongkok dan memasukkan kedua tangannya ke dalam air, siap membuka gerbang. Naia menunggu di belakangnya, dan tiba-tiba ia melihat sesuatu. Bayangan putih berkelebat di atas sungai di depan mereka, kemudian melesat, berputar, pindah ke belakang. Naia menoleh, mengikuti gerakan makhluk itu.


“Javad,” ia lalu memanggil. “Tunggu sebentar.”


Javad tertegun. Semua orang menoleh, menatap gadis itu tak mengerti.


Naia tak hendak menjelaskan. Ia hanya berpaling lalu berjalan menuju pohon besar tak jauh dari sana, di kaki sebuah bukit.


“Tunggu di sini,” Javad berkata pada para prajurit.


Langkah kaki berat terdengar di belakang. Naia mengenalinya. Itu Fares. Lalu langkah-langkah lainnya menyusul. Naia terus berjalan, hingga akhirnya sampai di kaki bukit. Ia berputar mengelilingi pohon. Di baliknya, sesosok lelaki tampan berjubah putih sedang duduk bersila di rerumputan, menanti dengan kedua tangan terlipat di dada.


Lelaki itu tersenyum begitu melihat Naia. “Selamat siang, Tuan Putri.”


Nergal.


Naia menahan gejolak emosinya yang kembali meletup-letup. Ada begitu banyak pertanyaan darinya untuk makhluk tersebut, yang harus dijawab.


 


 

__ADS_1


__ADS_2