Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 94 ~ Sang Ratu


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 94 ~ Sang Ratu


Karya R.D. Villam


 


---


 


“Ratu gharoul?!”


Fares dan ketiga rekannya langsung terperanjat.


“Ya, dia.” Bashek meringis lagi, antara takut dan mungkin senang karena melihat Fares dan teman-temannya kaget. “Akhirnya kalian tahu siapa yang paling mengerikan di tempat ini. Bukan kalian. Kalian tidak ada apa-apanya!”


“Antarkan kami ke sana!” seru Naia. “Kita harus segera membebaskan Elanna!”


“Ke sana?” Bashek langsung menggeleng ketakutan. “Tidak mungkin! Sarang ratu ada di bagian terbawah. Sekali turun ke sana, kita tidak akan bisa naik lagi!”


Fares melotot. “Maksudmu, Elanna tidak bisa naik lagi ke atas? Ke sini?”


“Gadis itu? Y—ya … kelihatannya begitu. Nasib dia sudah—”


“Omong kosong!” Rifa mengacungkan tombaknya ke leher Bashek dengan gaya mengancam. “Bawa kami ke sana! Jangan macam-macam! Aku tetap lebih suka membunuhmu daripada menganggapmu sebagai teman!”


Sepertinya gadis itu tidak hanya sedang menikmati perannya sebagai ‘orang kejam’; dia memang serius dengan ucapannya.


Bashek tak bisa lagi mengelak. Ia juga tak mungkin bisa kabur. Si pawang akhirnya membawa Fares dan rekan-rekannya masuk gua lebih dalam. Setelah menyusuri jalanan yang menurun dan licin mereka tiba di ruangan panjang yang lebih luas, dengan langit-langit yang tinggi dan penuh dengan bebatuan runcing. Ruangan ini cukup besar untuk Davagni jika makhluk raksasa itu hendak melayang-layang di sini.


Bashek menoleh dan menatap Naia takut-takut. “Benar … kalian nanti akan membawaku pergi dari sini … setelah aku mengantar kalian?”


“Kau bisa pegang kata-kataku,” jawab Naia keras. “Jika memang kau jujur dan benar-benar menolong kami, maka kami pun akan menolongmu.”


“Terima kasih.” Bashek meringis lagi.


“Sini, biar kututup lukamu.” Fares menyobek baju Bashek lalu menggunakannya untuk membebat bahu dan punggung si pawang yang luka akibat tusukan tombak. Ikatan sederhana, tetapi cukup untuk menutup lukanya sementara ini.


“Kita ke sana?” Rifa, si pelaku penusukan itu, tak sabar menunjuk satu lorong di seberang ruangan. “Aku mendengar suara-suara. Ada orang di sana?”


Bashek memandangi gadis itu, lalu menjawab hati-hati, “Ada banyak orang, tetapi … bukan di sana sarang sang ratu gharoul.”


“Ada banyak orang? Dan semuanya buat makanan para gharoul ini?!” Fares melotot lagi. “Kau bajingan, Bashek. Bebaskan mereka, atau kulempar kau ke sarang sang ratu!”

__ADS_1


“Ampun!” Bashek, di luar dugaan, tiba-tiba menangis. “Tuan, bukan mauku melakukan pekerjaan keji seperti ini! Rekan-rekanku sudah kabur lebih dulu, tinggal aku sendirian sekarang! Aku juga ingin kabur, tetapi tidak bisa!”


“Aku rasa masih banyak yang kausembunyikan dari kami,” kata Naia tajam. “Kau akan ceritakan semuanya nanti. Sekarang bebaskan dulu orang-orang itu, lalu tunjukkan di mana Elanna berada.”


“Orang-orang itu pasti marah padaku. Kalau mereka kubebaskan, mereka pasti akan membunuhku!”


“Mungkin memang itulah nasibmu,” tukas Fares kesal. “Tetapi kalau kau mau meminta maaf, mungkin mereka akan mengampunimu.”


“Mereka tak akan mengerti ucapanku. Mereka orang asing!”


“Maksudmu?”


“Mereka orang-orang Elam.”


“Bangsat!” Rifa langsung menghajar wajah Bashek, berkali-kali, dan jika tidak ditahan Fares, gadis itu pasti akan membunuh si pawang saat itu juga.


Naia cepat-cepat menahan Rifa, dan membelai pipi gadis Elam itu dengan lembut. “Rifa, tenanglah. Kita masih punya tujuan di sini, jangan emosi. Kita pergi ke sana, dan kau bicaralah pada orang-orang negerimu itu, dan minta mereka memaafkan Bashek. Kau bisa?”


Walaupun geram, Rifa setuju. Rombongan mereka bergerak memasuki lorong di seberang ruangan, dan tak lama masuk ke ruangan berikutnya. Ruangan luas dengan ceruk besar membentang di bawah, gelap. Mulanya tak tampak apa pun, tetapi setelah Bashek menyalakan beberapa obor di dinding, terlihatlah sebuah pintu berjeruji logam dengan wajah-wajah lelah dan ketakutan di baliknya.


Rifa langsung menghambur dan berteriak-teriak dalam bahasa Elam. Orang-orang itu membalas dengan teriakan-teriakan lega. Tak sedikit yang menangis gembira. Sekitar lima puluh orang dibebaskan. Lega sekaligus juga marah. Mereka ternyata para prajurit yang sebelumnya berhasil ditawan oleh pasukan Akkadia. Rifa memerintahkan orang-orang itu untuk keluar melalui lorong yang sebelumnya dilewati oleh Fares dan kawan-kawan.


“Kurasa Davagni akan lebih membutuhkan mereka,” Rifa menjelaskan tindakannya pada Fares, Naia dan Ramir. “Betapapun kuatnya Davagni, pada akhirnya pasukan Akkadia pasti akan menemukan cara untuk melewatinya.”


“Setuju,” kata Naia. “Ratu gharoul biarlah menjadi urusan kita. Lagipula kita butuh jalan keluar nanti. Biar Davagni yang menjaga jalan itu.”


Bashek menunjuk ceruk kecil di dinding seberang. “Di sana, tempat teman kalian.”


“Aku tak melihat apa pun,” kata Fares. Ia mencoba menajamkan penglihatannya, dan akhirnya melihat. Memang ada seseorang yang meringkuk di dalam ceruk, kini bergerak sedikit.


Rambut panjangnya … tak mungkin salah.


“Elanna …” Ia menatap Bashek tajam. “Cepat, kau bebaskan dan bawa dia kemari!”


“Aku ... aku tak bisa.” Bashek menggigil.


“Apa maksudmu tidak bisa?!” bentak Naia. “Kau bisa membawanya ke sana, maka kau bisa membawanya kemari!”


“Bukan aku yang membawanya ke sana, tetapi salah seorang Elam itu.”


“Dan di mana orang itu sekarang?” tanya Rifa.


“Sudah dimakan.”


Fares cepat-cepat menahan Rifa agar gadis itu tak menghajar Bashek lagi.

__ADS_1


Rifa meraung. “Biar kulempar bajingan ini ke bawah, Fares!”


“Tenang, Rifa!”


“Siapa yang memakan—?” Naia bertanya.


“Dia.” Ramir menunjuk ke sisi lain.


Sosok gelap tampak merayap di sudut gua. Seekor gharoul, tetapi dengan ukuran tubuh dua kali lebih besar. Makhluk itu sepertinya sedang tertarik pada sesuatu. Kedua tangannya menggapai-gapai ke dalam sebuah celah sempit. Geramannya terdengar.


“Ratu gharoul .... Sedang apa dia?” tanya Naia.


“Ada orang lain di sana, Bashek?” tanya Fares. “Selain Elanna?”


“Tidak, tidak ada ...” jawab Bashek tidak yakin. “Mungkin …”


“Sudah waktunya kau cerita semua yang kau tahu, Bashek!” kata Naia tajam. “Kau cuma pesuruh! Jadi pasti ada yang menyuruhmu. Ada seseorang yang membuatmu takut lebih daripada ketakutanmu kepada ratu gharoul. Siapa? Tuanmu itu ada di sini?”


Bashek terdiam beberapa saat, lalu menjawab, “Bargesi, Perdana Menteri Akkadia. Dia ada sini ...”


“Di lorong yang satu lagi,” tebak Fares, begitu ia teringat pada cabang lorong yang tadi mereka lewati sebelum sampai ke tempat ini. “Betul? Tuanmu itu ada di lorong yang sebelah kanan. Para prajurit itu tadi berkumpul karena ada kekacauan di sana!”


Naia termangu. “Kami tidak kenal Bargesi, tetapi tentunya ia orang yang sangat penting. Aneh, bukan? Apa yang ia lakukan di tempat ini?”


Bashek menggeleng-geleng putus asa. “Dia pernah bahwa bilang dia sedang menunggu seseorang. Mungkin orang itu sudah datang sekarang.”


“Huh! Kita membuang-buang waktu!” seru Rifa. “Kataku, kita buang orang ini segera ke bawah, dan biarkan ia mencari jalan untuk membebaskan Elanna!”


“Rifa benar.” Fares mengangguk. “Tali. Kita butuh tali! Bashek, kau—”


Belum selesai ucapannya, sesuatu yang menge-jutkan terjadi. Suara gemuruh menggema, disusul suara-suara dentuman entah dari mana. Batu-batu berguguran dari dinding gua di seberang.


Fares dan seluruh rekannya saling menatap panik. Gempa di dalam perut gunung? Apa ada yang lebih buruk daripada ini?!


Kelihatannya ada.


Di bawah, Elanna terbangun dari pingsannya. Gadis itu berdiri di ceruknya, menatap bingung batu-batu yang berguguran, lalu ke arah ratu gharoul tak jauh di depannya. Sejauh ini ia aman di dalam ceruk. Ratu gharoul tak bisa menjangkaunya di sana. Namun dengan gempa ini mungkin terpaksa gadis itu harus keluar dari ceruknya.


Ratu Gharoul sendiri sepertinya belum mempedulikan Elanna. Makhluk itu bergerak mundur beberapa langkah sambil mendongak. Batu besar di depannya rontok dan jatuh di dekat kakinya. Lubang sempit yang tadi menjadi incarannya kini terbuka lebar.


Fares dan ketiga rekannya terhenyak begitu melihat sosok orang yang terbaring tak sadarkan diri di sana, di balik dinding batu yang kini sebagian terbuka.


Seorang perempuan lain, yang juga berambut panjang.


“Teeza!” Naia menjerit. Suaranya menggema.

__ADS_1


 


 


__ADS_2