
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 66 ~ Perintah Sargon
Karya R.D. Villam
---
Selepas perpisahannya dengan Elanna, Teeza kembali ke bukit tempat ia sebelumnya tersadar. Rahzad sudah menunggunya di sana dengan api unggun dan beberapa potong daging bakar. Teeza makan dengan lahap dan cepat, karena ia memang benar-benar sudah lapar, dan juga karena mengira Rahzad akan langsung mengajaknya pergi malam itu juga.
Namun ternyata laki-laki itu memutuskan lain.
“Sebaiknya kau beristirahat lagi setidaknya satu malam,” katanya.
Teeza memandangi laki-laki itu, belum yakin dengan kata-katanya. “Kupikir kau hendak kembali secepatnya ke Akkad. Elam memenangkan pertempuran dua hari yang lalu, pasti mereka akan melanjutkan serangan ke barat. Pasukanmu mestinya membutuhkanmu, bukan?”
Ucapan Teeza tak setajam biasanya. Ia benci mengakui, tampaknya kebaikan Rahzad memberinya makanan dan memperlakukannya membuat hatinya sedikit melunak.
“Aku tidak khawatir soal itu,” Rahzad menjawab. “Elam akan hancur jika memaksakan diri menyerang jauh sampai ke Akkad. Raja Sargon punya pasukan cadangan di sana. Rencanaku kembali lebih untuk membangun pasukanku menjadi lebih kuat.”
Teeza tidak peduli. Baginya, ikutnya ia bersama Rahzad bukan untuk urusan peperangan lagi. Ia hanya ingin membantu Rahzad melawan Nergal. Selain itu ia tak ingin tahu.
Tanpa banyak bicara mereka lalu tidur dan terlelap hingga fajar.
Ketika matahari terbit keduanya berangkat dengan menunggangi Aragro. Rahzad duduk di depan, sehingga mau tak mau Teeza harus memegangi pinggangnya. Yang membuat Teeza kesal adalah kenyataan bahwa ia harus membiarkan dirinya duduk di punggung seekor barion. Hewan inilah yang dulu telah membuatnya jatuh dari atas tebing dan kehilangan segala-galanya. Teeza menahan amarahnya. Ia sadar hanya dengan cara ini ia bisa menempuh perjalanan dua kali lebih cepat dibanding kemampuan terbaik larinya. Untung ada satu hal membuatnya gembira. Luka di dadanya tak lagi terasa.
Aragro melesat dengan kecepatan tinggi sepanjang pagi, tetapi di tengah padang tandus tiba-tiba Rahzad menghentikan lajunya. “Ada yang aneh,” katanya. “Ada banyak jejak kaki yang belum tersapu oleh angin. Sebagian mengarah ke timur, sebagian ke barat. Jejak yang terakhir sepertinya mengarah ke barat. Aku yakin pasukan Elam sudah bergerak ke sana dua hari yang lalu, jadi ini sekarang jejak kaki siapa?”
“Mungkin pasukan tambahan dari Elam,” kata Teeza. “Hadapilah kenyataan, Niordri, pasukan Akkadiamu akan hancur sebentar lagi.”
Rahzad mendengus. “Elam bisa menang karena menggunakan makhluk terkutuk. Dan sekarang tinggal tersisa Nergal. Jika kita bisa membunuh dia, maka bereslah semuanya.”
“Bukankah kau sendiri yang bilang kemarin, makhluk-makhluk itu belum tentu mati? Mereka hanya lenyap sesaat. Kau hanya membunuh hantu!”
__ADS_1
“Ah, kenapa kau jadi begitu pesimis sekarang?”
“Aku hanya sedang menghitung peluang, mana yang kira-kira akan mati lebih dulu, kau atau Nergal,” tukas Teeza. “Setelah itu siapa yang harus kubunuh.”
Rahzad tak menanggapi sindirannya. Ia kembali memacu Aragro. Barion raksasa itu melolong, lalu berderap kencang. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan apa yang mereka cari. Saat tengah hari sekelompok prajurit tampak di kejauhan. Baik Rahzad maupun Teeza terkejut, karena orang-orang itu ternyata adalah prajurit Akkadia.
Rahzad membawa Aragro mendekat dan berhenti di depan mereka. Orang-orang itu langsung menunduk hormat begitu melihat siapa yang datang, dan tampak gembira, tetapi Teeza curiga, sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu di balik wajah mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Rahzad garang. “Tiga hari yang lalu aku memerintahkan seluruh prajurit untuk mundur ke barat dan bertahan di sana. Apa yang kalian lakukan di sini sekarang? Mana pasukan lainnya? Mana komandan kalian?” Ia menatap semua orang, lalu berkata pada seorang prajurit yang paling dikenalnya. “Kau, ceritakan!”
“Ampun, Tuan. Kami telah mematuhi perintah Anda tiga hari yang lalu, mundur dan bertahan di barat. Namun dua malam berselang, kami diperintahkan maju lagi dan menyerang pasukan Elam yang terjebak di celah tebing. Kami pikir itu perintah Anda.”
Rahzad terdiam sesaat. “Apa yang terjadi?”
“Kami mengalahkan mereka, Tuan, lalu mengejar ke timur, dalam gelap, hingga akhirnya kami mengurung mereka di sebuah puncak bukit, tengah malam tadi. Kami sebenarnya membunuh begitu banyak, hingga mereka hampir binasa seluruhnya. Namun saat itulah, tiba-tiba sesuatu yang mengerikan terjadi.”
“Apa?”
“Aku hanya berada di barisan belakang, Tuan, jadi tak bisa melihat apa yang terjadi, dan karenanya bisa selamat. Tetapi kata beberapa rekanku, yang muncul dan membunuhi pasukan kita adalah seorang gadis, yang mampu mengeluarkan cahaya mematikan dari dalam matanya.”
Rahzad menoleh ke belakang memandangi Teeza yang kini menahan napas, dan mendengus. “Putri Naia. Seperti katamu tadi, Teeza, pasukanku hancur. Tetapi sayangnya, bukan Nergal ataupun pasukan Elam penyebabnya, melainkan bekas junjunganmu itu. Sang terkutuk.”
“Oh ya? Sayangnya, seseorang dinilai dari perbuatannya, bukan dari kata-katanya,” tukas Rahzad. “Jangan khawatir, Teeza, aku tidak mempermasalahkan itu. Membunuh dalam perang itu biasa. Jika punya kekuatan serupa, aku pun akan menggunakannya.”
“Justru itulah yang membedakanmu dengannya. Niat! Niatmu adalah membunuh sebanyak mungkin orang, sedangkan dia tidak!”
Rahzad tertawa pendek. “Mungkin kau keliru menilai dirinya. Atau mungkin dia sudah berubah. Menjadi seorang pembantai kejam.”
Teeza naik pitam. Ia hampir saja mengatakan bahwa Naia pasti tidak akan melakukan itu jika sang putri bisa menolak, tetapi kemudian ia teringat, itu adalah rahasia. Rahzad hanya tahu Naia bisa mengeluarkan cahaya putih setiap bulan purnama, tetapi tidak tahu apa penyebabnya. Walaupun Naia bukan lagi junjungannya, Teeza tidak akan membongkar rahasia itu dan memancing pertanyaan dari Rahzad. Ia menahan diri, tak menjawab.
“Dendam bisa membuat orang berubah dan tak bisa lagi berpikir jernih,” Rahzad berkata, membuat Teeza tertusuk dan hampir meledak lagi, tetapi lelaki itu kemudian mengangkat bahu. “Tetapi ya, mungkin saja kau benar. Yang jelas pasukanku tidak beruntung, atau mungkin memang bodoh, karena mendatanginya pada saat yang tidak tepat.” Ia berbisik, “Tengah malam saat purnama. Jika aku yang memimpin pasukan, aku tak akan sebodoh itu. Aku akan menunggu, sedikit lebih lama, sampai ia melemah, baru kemudian memukul.”
Teeza tertegun kaget. Jangan-jangan lelaki itu sudah tahu seluruh rahasia Naia, bahwa gadis itu akan pingsan selepas tengah malam di bulan purnama!
Sang panglima menoleh dan berkata lagi pada prajuritnya, “Jadi berapa sisa pasukan kalian yang selamat, dan apa perintah yang terakhir untuk kalian?”
“Dari pasukan awal kita, seribu orang berhasil selamat, Tuan. Tetapi ada ribuan prajurit lain dari Akkad yang ikut mengejar pasukan Elam. Sebagian dari mereka ikut terbantai, dan kini mereka pulang dengan dua ribu orang. Kami semua diperintahkan untuk bertahan di desa tak jauh di depan.”
__ADS_1
“Siapa yang memimpin pasukan cadangan ini?”
“Kapten Arphal. Bukannya Anda ... yang memerintahkan dia datang?”
Rahzad menggeram, sepertinya karena ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Tanpa bertanya lagi ia kemudian memacu Aragro meninggalkan para prajuritnya yang terbengong-bengong.
Pada kesempatan berikutnya mereka kembali menemui sekelompok prajurit Akkadia, dan kemudian kelompok-kelompok lainnya yang terpecah dalam jarak ribuan tombak. Semua berjalan tersaruk-saruk sambil menyeret tombak. Lelah, lapar dan haus. Rahzad terus melaju. Baru setelah menemukan rombongan besar yang tengah beristirahat di desa, saat matahari telah condong ke barat, mereka melambat.
Rahzad memandang berkeliling, memperhatikan ribuan mayat di kejauhan. Tampaknya ini adalah sisa pertempuran yang terjadi di tepi desa. Ia lalu berseru pada seorang komandan yang berjaga, “Mana Kapten Arphal?”
“Di rumah itu, Tuan.”
Rahzad dan Teeza turun dari punggung Aragro lalu berjalan menuju rumah yang ditunjukkan oleh sang komandan. Sebarisan prajurit bertombak yang tengah duduk beristirahat langsung berdiri memberi hormat begitu mngenalinya.
Rahzad sudah hendak masuk ketika seorang penjaga mendahuluinya berkata, “Tuan, Kapten Arphal menunggu di dalam.”
“Menungguku? Dia tidak mau repot-repot menyambutku di depan?” Rahzad tampak tersinggung. “Baik! Asal dia sudah siap dengan akibatnya.” Sang panglima memasuki rumah, diikuti oleh Teeza.
Di dalam rumah, seorang perwira muda bertubuh tegap dan berambut rapi menunduk memberi hormat. Dia Arphal, kapten yang memang selama ini memegang pasukan cadangan.
“Selamat datang, Jendral,” kata laki-laki itu. “Aku senang bisa bertemu dengan Anda di sini. Dan denganmu juga, Kapten Zylia.”
Teeza mengangguk pendek sambil berusaha menutupi perasaannya. Kebenciannya timbul mendengar ia dipanggil dengan nama yang bukan namanya.
“Langsung saja, Arphal,” sahut Rahzad ketus. “Siapa yang memberimu perintah untuk menggerakkan pasukan cadangan dan kemudian mengejar pasukan Elam tanpa menunggu komando dariku? Kau tentunya takkan berani bertindak sembarangan.”
“Tentu saja tidak, Jendral. Aku melakukannya karena perintah tersebut datang langsung dari …” Arphal menunjukkan sebuah benda yang tergantung di lehernya. Medali berbentuk bundar berwarna emas, berukir kepala singa dengan tiga ekor ular di mahkotanya. “… Yang Mulia Raja Sargon Yang Agung.” Kapten itu menunduk dengan takzim setelah mengucap nama itu, lalu mengangkat wajahnya lagi dan menatap Rahzad tanpa ragu.
Teeza merasakan hening yang menakutkan menyelimuti ruangan. Rahzad menatap Arphal. Ekspresinya dingin, tetapi ada hawa membunuh yang keluar.
“Apa lagi yang diperintahkan Yang Mulia?” tanya Rahzad.
“Ada beberapa perintah,” kata Arphal, yang kini tampak lebih tenang. “Pertama, aku harus menyampaikan pesan, bahwa Anda diminta untuk datang segera ke Akkad menemui Yang Mulia Sargon. Kedua, aku diperintahkan untuk mengambil alih kendali seluruh pasukan Akkadia yang ada di wilayah timur Akkad, dalam hal ini adalah pasukan cadangan, dan juga seluruh pasukan yang Anda bawa sebelumnya untuk bertempur melawan Elam. Ketiga, aku diminta untuk bertahan dengan seluruh prajurit yang berada di bawahku itu di tempat ini, sampai aku diperintahkan untuk membuka perintah yang keempat.”
Ini benar-benar pukulan yang mengejutkan! Rahzad dilepaskan dari pasukannya dan disuruh pulang?! Teeza bingung, berusaha menebak-nebak apa yang terjadi. Mungkinkah raja kecewa karena Rahzad kalah, sehingga panglima itu dicabut dari posisinya?
Apa pun, kelihatannya ini tidak akan berakhir baik.
__ADS_1