Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 90 ~ Serangan Kilat


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 90 ~ Serangan Kilat


Karya R.D. Villam


 


---


 


Teeza ingin membantah, tetapi kelihatannya pendapat Rahzad benar. Kalau memang harus membunuh supaya mereka bisa cepat masuk ke dalam tanpa menimbulkan keributan, mungkin mereka memang harus melakukannya. Maka Teeza pun diam saja dan memilih mengikuti Rahzad berjalan masuk menyusuri gua. Di beberapa tempat deretan obor terpasang di dinding, menampakkan dengan jelas lorong yang mereka lewati. Sejauh ini dinding-dindingnya terlihat bersih dan kering, tidak lagi seperti gua alami. Tampaknya para pekerja telah menggali dan memperlebar lorong gua ini serta meratakan permukaan jalannya. Teeza merasa sedang memasuki sebuah kuil daripada menerobos perut gunung.


Ruangan besar dan benderang lalu terlihat di ujung lorong. Rahzad dan Teeza kembali merapat ke dinding dan mengamati. Dua prajurit tengah berjaga di ujung lorong, dan sepasang lagi di mulut lorong berikutnya.


“Ada dua cabang jalan lagi di sana,” bisik Rahzad. “Salah satunya mestinya menuju ke sarang gharoul, sedangkan satu lagi entah ke mana.”


“Untungnya mereka tidak mendengar keributan tadi,” bisik Teeza.


“Karena ada suara yang lebih keras. Dengarlah.”


Benar, tanpa perlu menajamkan pendengarannya Teeza bisa mendengar erangan yang lebih menyayat hati entah dari mana, dan suara geraman-geraman pendek yang menyusulnya. Gharoul dan mangsanya? Teeza berharap mangsa itu bukan Elanna!


Ia dan Rahzad saling memandang. Mereka sepakat tanpa berkata-kata dan langsung berlari kencang. Kedua prajurit yang tengah berjaga terperangah, namun tak sempat bereaksi. Tinju Rahzad dan Teeza lebih dulu datang menghantam rahang mereka.


Dua penjaga yang berjaga di sudut ruangan berseru, “Ada serangan!”


Kepalang basah. Rahzad dan Teeza melenting. Melihat dua tombak yang teracung mau tak mau keduanya mencabut pedang di udara, menghantam tombak-tombak itu ke samping, lalu menebas leher pemiliknya masing-masing. Keduanya kemudian bersitatap.


“Sebentar lagi seluruh prajurit datang. Pilih lorongmu, Teeza.”


“Ke sini.” Teeza berlari masuk ke lorong sebelah kanan, yang tampak lebih besar dengan tinggi langit-langitnya yang lebih dari dua tombak. Ia yakin, mestinya dengan ukuran yang lebih besar itu akan lebih cocok jika di ujungnya nanti terdapat sarang gharoul.


Teeza dan Rahzad melintasi beberapa obor lagi yang terpasang di dinding. Mereka berbelok ke kiri dan ke kanan secepat mungkin, sampai akhirnya menjumpai enam orang prajurit yang menghadang dengan tombak teracung. Tanpa basa-basi Teeza menghantam dua tombak terdekat lalu menghunjamkan pedangnya menembus perut salah satu prajurit. Dari belakang Rahzad melesat lebih cepat, dan berbuat sesuatu yang lebih mengerikan. Sabetan pertamanya membantai langsung dua prajurit, dan sabetan keduanya mencabut lagi tiga nyawa.


Rahzad dan Teeza saling memandang, lalu menatap ke depan. Hanya beberapa langkah lagi lorong berbelok ke kanan. Dan di ujung lorong itu sepertinya ada sesuatu. Ruangan lain.

__ADS_1


“Bersiaplah, Teeza. Lawan yang sesungguhnya ada di sana.”


Teeza mendengus. “Aku berharap Elanna yang ada di sana, dan baik-baik saja.”


Keduanya maju perlahan. Pedang tergenggam erat. Jeritan dan geraman masih terdengar walaupun tak sejelas sebelumnya. Teeza menebak-nebak, apakah berarti mereka salah jalan dan menjauh dari sarang gharoul. Namun seperti kata Rahzad, mungkin ada sesuatu yang lebih berbahaya di sini. Itu cukup untuk membuat jantung Teeza berdebar kencang.


Mereka berbelok, dan akhirnya tiba di ruangan dalam. Cukup luas, meskipun mata Teeza mampu menembus kegelapan, ia tetap belum yakin bisa melihat dinding-dinding di seberang ruangan. Batu-batu gua runcing dan panjang bagai pilar tampak di beberapa sudut. Di depan, pada jarak seratus tombak, ada panggung batu dengan sebuah kursi di atasnya.


Seseorang duduk di sana. Bertudung kepala dan berjubah panjang warna gelap. Seperti sedang … menunggu?! Teeza tertegun. Jangan-jangan ... ini semua jebakan lagi!


Rahzad justru tertawa kecil. Lelaki itu sepertinya tak peduli. Ia berjalan terus mendekati panggung batu. Teeza melirik ke kiri dan ke kanan. Tak ada orang lain satu pun. Hanya ada orang itu di tempat ini. Tapi ini pasti jebakan! Pasti ada orang-orang lain di sini.


“Niordri, tunggu,” Teeza coba menahan.


Rahzad berhenti, tapi bukan karena permintaan Teeza. Ia menatap tajam orang yang duduk di atas panggung, dan menyeringai. “Aku sudah datang. Bukalah topengmu, … Bargesi.”


Orang itu masih diam beberapa saat.


Kemudian orang itu bangkit dari kursinya, dan perlahan maju seraya membuka tudungnya. Benar, dia memang Bargesi. Perdana Menteri Akkadia itu tersenyum.


Teeza hanya mengangkat bahu, tak berminat menjawab.


“Kalian suka tempat ini?” lanjut Bargesi. “Indah sebenarnya, dan aku suka menyebut ini rumah. Sayangnya, kau menodainya dengan darah, Rahzad. Ya, bisa dimaklumi, kesukaan membunuh memang sulit dihilangkan.”


“Omong kosong tolol. Kau tak usah berbasa-basi,” tukas Rahzad. “Kami sudah tahu pembunuhan dan kekejian macam apa yang kaulakukan. Ada lebih banyak darah yang kau tumpahkan di sini. Tetapi katakan, sebelum aku membunuhmu, apa sebenarnya rencanamu?”


“Rencana? Ya, aku punya.” Bargesi mengangguk. “Yang pertama, memancing kalian datang, yang sepertinya tidak terlalu sulit jika melihat kepercayaan diri, atau kesombongan, kalian yang berlebihan. Itu berhasil, tetapi ya, kalian datang terlalu cepat, dan mengejutkan, sehingga sepertinya aku harus kehilangan beberapa prajurit di luar sana. Tak masalah, toh aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, dan sekarang kita bisa menuntaskan urusan. Kalian tak usah pusing memikirkan bagaimana cara kalian keluar nanti. Aku yakinkan kau, itu akan sangat sulit dibanding ketika kalian masuk tadi.”


Teeza menajamkan pendengarannya. Ada suara riuh jauh di belakang, mendekat. Sepertinya Bargesi tidak menggertak kosong. Sebentar lagi pasukan Akkadia akan menutup setiap lorong, dan mereka berdua takkan bisa keluar dari dalam gua.


Namun Rahzad tetap tertawa santai, seakan-akan tak peduli. “Ancaman yang bagus, Bargesi. Aku tak menyangka kau berani melakukannya. Tetapi tuntasnya urusan kita ditandai dengan kematian, bukan? Aku yakinkan kau, yang akan mati lebih dulu adalah dirimu, dan kau tak usah pusing memikirkan bagaimana kami keluar nanti.”


“Pintar.” Bargesi balas tertawa. “Selalu percaya diri. Kelihatannya kau begitu yakin bisa membunuhku. Tetapi aku punya sesuatu, Rahzad, yang akan membuatmu tunduk kepadaku.”


Elanna? Teeza merasakan bulu kuduknya merinding.


“Siapa?” Rahzad bertanya, tetapi tentunya ia mestinya sudah tahu jawabannya.

__ADS_1


“Seorang wanita Kaspia lain,” jawab Bargesi. “Yang bernama Elanna. Kakakmu sendiri, Rahzad, atau lebih baik kupanggil kau Niordri? Harus kuakui ternyata kau punya masa lalu yang menakjubkan. Kau ingin tahu dari mana aku tahu semuanya? Ya, katakan saja, aku punya banyak sumber.”


“Apa yang kaulakukan pada Elanna?” seru Teeza tanpa takut.


Bargesi kini menoleh, dan tersenyum. “Ah, senang akhirnya aku bisa mendengar suaramu. Elanna baik-baik saja, sampai saat ini. Dan asalkan Rahzad bersedia menyerah, dia akan tetap hidup. Aku tak sekejam lelaki Kaspia ini, yang amat sangat suka membunuh. Aku membunuh hanya jika aku memiliki tujuan. Dan buatku, wanita bernama Elanna ini hanyalah umpan untuk memancing kalian datang, tidak lebih. Aku tak akan membunuhnya jika tujuanku sudah tercapai.”


“Bebaskan dia!” Teeza melangkah marah.


“Tunggu, Kapten, jangan maju dulu, lalu menyesal kemudian. Rahzad, bagaimana pendapatmu?” Bargesi menunjuk. “Kau bersedia menjatuhkan pedangmu, dan tunduk di depanku? Aku akan membebaskan Elanna. Bagaimana?”


“Kau hanya meminta Rahzad yang menyerah? Aku tidak?” tanya Teeza.


“Untukmu, aku punya rencana sendiri.” Bargesi mengedip.


Rahzad mendengus. “Bargesi ... aku tak mengira kau sebodoh ini. Kau benar-benar yakin bisa menahan lehermu tidak tertebas oleh pedangku? Dan memintaku menyerah dengan menggunakan Elanna? Menyesallah, Bargesi, karena aku tak peduli! Kau boleh membunuhnya jika kau mau, dan setelah itu aku akan membunuhmu. Ya, akan kubunuh kau sekarang!”


Lelaki itu melenting dari tempatnya berdiri. Melayang di udara siap menghantam Bargesi dengan pedangnya. Di belakangnya Teeza terguncang. Rahzad tidak peduli pada Elanna?!


Tanpa terduga Bargesi mengeluarkan pedang dari balik jubahnya dan menangkis. Suara logam beradu berdentang kencang. Getaran dahsyatnya mampu mengguncang ruangan.


Rahzad terundur, berdiri di atas panggung sambil menatap musuhnya tak percaya.


Bargesi menyeringai.


Napas Teeza tertahan. Tidak mungkin! Tak seorang pun mampu menahan serangan Rahzad sebelum ini! Kecuali …


Teeza memandangi pedang di tangan Bargesi.


Itu … pedang Nergal?!


“Kau …” Rahzad menggeram. “Siapa kau?!”


Dia bukan Bargesi?! Teeza semakin kaget, dan kini ketakutan merayap datang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2