Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 83 ~ Pekerjaan Mengerikan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 83 ~ Pekerjaan Mengerikan


Karya R.D. Villam


 


---


 


“Lari dari siapa?”


Saat Teeza masih berusaha mendengarkan ucapan Teimush yang semakin histeris, suara Rahzad terdengar dari arah belakang. Lelaki jangkung itu rupanya sudah bangun.


Serta merta Teimush duduk terperangah, lalu menggigil dengan kedua tangan terangkat begitu melihat laki-laki itu berjalan mendekatinya. “Jenderal … am—ampun …”


“Hei!” tukas Teeza seraya menggerakkan tombaknya, berusaha mengembalikan perhatian Teimush padanya. “Pemabuk busuk! Tadi kau bilang hendak minta tolong, sekarang kau minta kita lari. Aku tak tahu mana ucapanmu yang bisa kupercaya.”


“Kau tak akan percaya apa yang kulihat!” seru Teimush.


“Kalau begitu mudah saja, aku akan membunuhmu sekarang.”


“Tunggu! Demi Ishtar, aku tak tahu mengapa nasibku seburuk ini! Oleh Perdana Menteri aku ditugaskan menjadi penjaga di markas makhluk terkutuk! Gharoul!” Teimush menjerit semakin keras. “Kalian pernah mendengar, atau melihat makhluk ini?”


Gharoul?


Teeza dan Rahzad saling menatap. Teeza pernah sekali melihat makhluk yang disebutkan itu, dulu sekali, berpuluh-puluh tahun yang lampau. Makhluk berwajah mengerikan. Mirip, tapi bukan manusia. Dan berbau busuk. Lebih menyebalkan daripada barion. Ia tak tahu apakah Rahzad juga pernah melihatnya. Mestinya pernah juga.


Ia menjawab datar, “Memangnya kenapa mereka?”

__ADS_1


“Mengerikan! Pertama kali melihat mereka, aku hampir mati ketakutan! Makhluk-makhluk ini dikumpulkan di gua, dan aku ditugaskan memberi mereka makan. Ayam, rusa, kerbau, bahkan bangkai manusia!”


Alis Teeza terangkat, belum bisa percaya. “Omong kosong.”


Namun Rahzad sepertinya percaya. “Jadi itulah rupanya pasukan rahasia Bargesi?” ia berkata sambil menyeringai. “Selama ini kupikir keberadaan mereka saat ini hanya desas-desus, ternyata memang benar-benar ada. Berapa banyak mereka?”


“Lebih dari lima ratus! Tetapi itu sebelum mereka diberangkatkan ke selatan untuk bertempur melawan pasukan Elam. Aku tak tahu apa yang terjadi, kalian mestinya lebih tahu. Makhluk-makhluk itu terbantai, hanya puluhan yang kembali.”


“Lalu apa masalahnya sekarang?” tanya Teeza yang masih skeptis.


“Karena mereka tak akan berhenti sampai di sini!” seru Teimush. “Selama ini aku tak tahu dari mana makhluk-makhluk ini berasal. Penjaga lain bilang mereka bukan dari dunia kita; mereka bisa masuk entah dengan cara apa. Tetapi kemarin, akhirnya aku tahu. Puluhan tawanan dari negeri Elam, sebagian terluka, dibawa masuk ke bagian gua terdalam, dan tak sengaja aku melihat. Seekor gharoul betina yang belum pernah kulihat sebelumnya, tubuhnya dua kali lebih besar, menggigit seorang tawanan itu. Tadi pagi, bulu hitam tebal dan menjijikkan tumbuh di sekujur tubuh tawanan itu. Dia telah berubah menjadi gharoul! Ini cara baru mereka!”


“Apa?!” Teeza ternganga.


Bahkan Rahzad tak kalah terkejut. Laki-laki itu mengerutkan dahi.


“Jadi gharoul ini awalnya adalah manusia biasa? Hmm. Rupanya Bargesi membuat pasukan gharoul jenis baru.” Rahzad tiba-tiba tertawa. “Mengagumkan, harus kuakui. Ia benar-benar berusaha keras. Bayangkan, Teeza, tak perlu repot-repot melatih prajurit, kini ia cukup menggunakan seekor gharoul betina, dan jadilah pasukan itu dalam waktu sekejap!”


“Menyedihkan,” Rahzad hanya menyindir.


“Begitulah. Aku melihat mereka, dan mereka melihatku. Kepala penjaga memerintahkan makhluk-makhluk ini menangkapku. Aku, yang sebulan lalu masih menjadi kepala pengawal Raja Agung, kini menjadi tawanan dan bakal menjadi makhluk semacam itu?! Mengerikan!” Teimush memandangi Teeza penuh amarah. “Kau! Kaulah yang membuatku seperti ini, perempuan! Kaulah yang telah menghancurkan hidupku!”


“Diam!” bentak Teeza. “Kaulah yang tolol, bangsat! Prajurit tolol tak berguna! Tak perlu menyalahkan aku! Aku akan membantumu, tetapi ceritakan dulu bagaimana kau bisa kabur!”


“Aku menemukan jalan untuk kabur, itu saja yang bisa kukatakan,” tukas Teimush, campuran antara marah, takut dan malu. “Walaupun kuceritakan lebih banyak, kau tetap tak akan mengerti. Yang jelas aku berhasil kabur dari gua dan lari menuruni gunung. Beberapa gharoul lalu disuruh untuk mengejarku. Aku berhasil menjauh, dan akhirnya sampai di sini.”


“Lalu pertolongan apa yang kauharapkan?” tanya Teeza lagi.


“Aku … aku …” Teimush kebingungan.


“Sudahlah, kau bisa lanjutkan perjalananmu ke selatan. Kau tak mau lagi ke barat dan ditangkap oleh Bargesi, bukan?” kata Rahzad. “Sementara itu kami akan terus ke utara.”

__ADS_1


Teeza menoleh, memandanginya, setengah tak percaya. “Niordri, mungkin ... kita harus pergi ke gua itu.”


“Untuk apa?” balas Rahzad dingin.


“Demi Tuhan, Niordri, apa kita akan membiarkan orang-orang Elam itu digigit dan menjadi makhluk terkutuk?”


Rahzad menggeleng kesal. “Mereka bukan siapa-siapa. Beberapa hari lalu kita bahkan menempur mereka, sebagai musuh. Mereka bukan urusan kita.”


Teeza menatapnya tajam, lalu mengangguk pendek, begitu sadar bahwa mungkin ia memang tidak bisa mengharapkan apa dari laki-laki bajingan di sampingnya itu. “Terserah apa katamu, tetapi aku akan pergi ke sana.” Ia menghentakkan tombaknya ke tanah. “Aku tak mungkin membiarkan orang-orang itu mati.”


“Kau tidak dengar tadi? Mereka tidak mati. Mereka hanya …” Rahzad menyeringai, setengah mengejek. “… berubah. Ya, berubah.” Raut wajahnya lalu berubah menegas lagi. “Teeza, kau tidak tahu apa yang bakal kau hadapi di sana. Mungkin saja sangat berbahaya.”


“Apa pedulimu?” Teeza mendengus. “Aku tak peduli dengan rencanamu, Niordri, lalu mengapa kau harus peduli dengan rencanaku?” Ia mengacungkan lagi tombaknya ke arah si laki-laki botak. “Teimush, kau ikut denganku, tunjukkan jalan ke gua itu.”


“Apa?” Teimush terperanjat. “Kau gila! Aku tak mau pergi lagi ke sana!”


“Bukankah kau tadi butuh pertolongan? Nah, itulah pertolongan yang bisa kuberikan. Kau akan aman jika ikut bersamaku.”


“Omong kosong!” seru Teimush. “Pertolongan macam apa itu? Aku akan pergi ke selatan saja, seperti usul Jenderal tadi!”


Teeza memandangi lelaki botak itu, menyadari bahwa ia memang tidak bisa memaksa orang itu lebih jauh. Lagi pula Teimush bisa jadi malah akan merepotkan nanti, jika Teeza harus bertarung melawan makhluk-makhluk terkutuk itu. Walau Teimush ini dulunya adalah seorang prajurit handal, tingkah lakunya sekarang menunjukkan kalau dia hanya seorang pengecut yang tak berguna, Akhirnya Teeza pun mengangguk setuju. “Baik, kita berpisah di sini. Kau bukan urusanku.”


“Ya.” Teimush tersenyum lega. “Lebih baik begitu. Terima kasih, Zylia.”


Rahzad memandangi Teeza beberapa saat, lalu tertawa. “Seharusnya aku tahu, Teeza, kau akan sekeras kepala ini. Ada sesuatu dalam dirimu yang tak berubah.”


Teeza membuang muka, dan Rahzad kembali tertawa.


“Baiklah, setelah kupikir-pikir, aku ikut denganmu,” kata Rahzad kemudian. “Ya, benar. Mungkin di gua itu aku juga bisa mendapatkan sesuatu, untuk menyerang balik Bargesi.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2