Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 87 ~ Peringatan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 87 ~ Peringatan


Karya R.D. Villam


 


---


 


Ramir memperhatikan sosok kakeknya, Haladir, yang kini berdiri di samping Elanna.


Haladir menyentuh dahi perempuan itu dengan telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Sinar putih benderang terpancar keluar dari kedua titik sentuhan itu, semakin besar menutupi seluruh wajah, dan akhirnya menyelimuti pandangan. Menyilaukan. Ramir terpaksa menutup matanya.


Ketika matanya terbuka, seluruh alam di sekitarnya sudah berubah. Hutan lebat, dua gundukan tanah di samping kanan, dan Elanna yang menatapnya terperangah di sebelah kiri. Melihat kemunculan Ramir yang tiba-tiba, wanita itu duduk terkaget-kaget. Serta merta tangannya meraih gagang pedang-nya yang tergeletak di tanah.


“Elanna, tunggu!” Ramir berseru. Walaupun dalam mimpi, ia tak mau wanita itu sampai menebas lehernya!


Elanna terdiam mematung beberapa lama, lalu berkata, “Ramir, kenapa kau bisa muncul di sini? Ini sihir?!”


“Tidak, tidak, ini bukan sihir! Ini mimpi. Mimpimu! Aku masuk ke dalam mimpimu. Y—ya, seperti itu.”


“Mimpiku?” Elanna menatap tajam. “Ini mimpiku?”


“Ya …”


Wanita itu tertawa lepas. “Jika ini mimpi, tentunya aku bisa melakukan apa saja, bukan? Apa pun yang kuinginkan.”


“Mestinya.” Ramir mengangguk. “Cobalah. Kau ingin melihat sesuatu, atau seseorang, ada di sini sekarang?”


Elanna menatapnya dengan pandangan aneh. “Seseorang? Baik. Aku ingin … aku ingin melihat Haladir sekarang!” Ia menggerakkan tangannya, dan tiba-tiba, entah muncul dari mana sosok lelaki lain muncul di sampingnya. Wanita itu melongo beberapa saat, kemudian tersenyum. “Ya! Betul! Ini mimpi.”


Ramir terkejut. Itu memang Haladir! Hanya saja tampak sedikit lebih muda daripada Haladir asli yang kini duduk di samping Ramir. Ramir teringat pada cerita Elanna dulu. Sepertinya memang begitulah sosok Haladir terakhir yang dulu dilihat wanita itu.


Ramir bergantian memandangi kedua sosok lelaki itu, lalu cepat-cepat berkata, “Elanna, lelaki itu hanya khayalanmu. Haladir yang asli ada di sini sejak tadi, di sampingku!”


Elanna tertawa lagi sambil menatap bingung ke arah Ramir dan ruang kosong di sampingnya. “Apa maksudmu, Ramir?”


“Akan kukatakan padamu, tetapi singkat saja,” jawab Ramir. “Aku tak bisa berlama-lama. Aku hanya ingin kau percaya, bahwa ini adalah aku yang sesungguhnya, bukan hanya khayalanmu. Dan aku bisa datang kemari karena pintu dunia mimpimu dibuka oleh kakekku Haladir. Dia ada di sini, tetapi sayang kau tak bisa melihatnya.”


Elanna tercenung beberapa saat, sepertinya berusaha untuk percaya. Ia menatap tajam, sedikit mengancam. “Kuharap Sang Penguasa Mimpi tidak sedang mempermainkanku, dan kau tidak sedang menipuku, Ramir. Aku benar-benar berharap Haladir ada di sampingmu.”


“Dia ada!”


“Katakan, Ramir,” Haladir berkata, “bahwa aku mencintainya.”


Ramir menoleh, merasa sedikit kesal. “Kalau itu … hei, Kenapa kau tidak langsung saja mengatakannya? Ya, aku punya ide, bagaimana jika kau masuk ke dalam sosok palsu itu, dan katakan semuanya pada Elanna? Ia akan percaya jika melihat sosokmu!”


“Kau tak mengerti, Ramir,” tukas Haladir. “Elanna tak bisa melihatku, dan tidak bisa juga mendengar suaraku!”


“Hei! Apa sih yang sedang kaubicarakan?!” Elanna berseru menengahi, dan menatap Ramir. “Baik, sosok palsu ini memang hanya khayalanku. Jadi biarlah ia lenyap. Aku tak membutuhkannya.” Sekejap, sosok Haladir palsu menghilang dari pandangan. Elanna tersenyum masam. “Karena kau minta aku untuk percaya, bukan? Bahwa Haladir yang sebenarnya ada di sampingmu. Baik, aku percaya. Lalu? Apa yang ingin dikatakan olehnya, Ramir?”


“Dia … dia bilang, dia mencintaimu.”

__ADS_1


Ramir dan Elanna saling menatap.


Wanita itu terdiam lagi sampai beberapa lama, lalu ekspresi wajahnya berubah. Ia tersenyum. Bibirnya bergetar. “Aku pun mencintainya.”


Haladir mengangkat tangannya, membelai wajah wanita itu perlahan. Entah bagaimana Elanna seolah tahu, dan merasakan sentuhan itu; ia memejamkan mata.


Ramir membiarkan mereka berdua, yang dengan cara masing-masing berusaha saling mendekatkan diri, berusaha merasakan kehadiran satu sama lain.


Ia menunggu, sampai Haladir kemudian menoleh. “Kita tak bisa lebih lama. Katakan padanya, Ramir, ada sekelompok pembunuh di dekatnya, dan ia harus segera bangun.”


Ramir kaget, dan menyampaikannya cepat-cepat pada Elanna.


Kerutan langsung tampak di dahi si wanita Kaspia. “Kenapa mereka mencari aku?”


“Karena itu, bangunlah, dan cari tahu.”


Elanna menggeleng ragu. “Jika aku bangun, mungkinkah aku bisa bertemu lagi dengan Haladir?”


Ramir melirik sejenak ke arah kakeknya, lalu menjawab, “Waktu kalian akan datang nanti, tetapi bukan sekarang. Mmm … itu kata kakekku.”


“Maka aku berharap itu akan datang secepatnya,” tukas Elanna.


“Apa maksudmu?” tanya Ramir.


Elanna tak menjawab, dan Ramir pun naik pitam.


“Kau berharap kau mati sekarang?!”


“Mungkin .... Kau tahu, aku sudah hidup terlalu lama.”


“Bodoh! Kau bodoh, Elanna! Kau tidak bisa berharap seperti itu!”


Minta Elanna membantunya? Membantu apa?


Ramir berpikir keras, dan tiba-tiba teringat sesuatu. “Bagaimana dengan Teeza, Elanna? Kau dulu berjanji padaku untuk menolongnya, dan membawanya kembali ke tanah Elam, untuk menemuiku!”


“Kau mengenal Teeza juga, Ramir?” Haladir bertanya kaget.


“Teeza ...” Dahi Elanna kembali berkerut. Ia menggeleng. “Aku sudah bertemu dengannya, dan ia memutuskan tidak ikut denganku. Ia bersama Rahzad sekarang, dan mungkin sudah kembali ke Akkad.”


“Jadi Teeza belum ingat siapa dirinya?” tanya Ramir.


“Ia sudah tahu, tetapi itulah keputusannya. Ia punya alasan sendiri kenapa memutuskan tetap pergi ke Akkad, dan aku tidak bisa membantunya lagi.”


“Ini belum selesai, Elanna!” seru Ramir kesal, dan khawatir. “Kau masih bisa membantunya! Membantuku. Aku harus bertemu dengannya!”


Elanna tercenung.


Ramir dan Haladir saling memandang.


Akhirnya wanita itu mengangguk dan mengangkat wajahnya. “Baik. Aku akan membantu mencarinya lagi. Tetapi bukankah kau sebaiknya ikut denganku?”


Ramir tersenyum. “Bangunlah dulu, Elanna, dan lari!”


“Lari? Dari orang-orang yang mengincarku?” Elanna menyeringai. “Aku akan melawan mereka.”

__ADS_1


“Apa—?!”


Belum selesai ucapan Ramir, sinar putih menyilaukan menerpa wajahnya, memaksanya memejamkan mata. Hanya sekejap. Begitu matanya terbuka, ia dan Haladir sudah kembali ke tempatnya semula, tempat di mana Elanna tadi tertidur. Perempuan itu sudah terbangun kini, berdiri dengan pedang terhunus, dan menatap berkeliling penuh kewaspadaan.


“Sekarang kita hanya bisa melihat, Ramir, apa yang terjadi,” kata Haladir gelisah. “Ia tak bisa lagi melihat kita.”


Padahal saat itu Ramir sudah ingin berteriak. Ia melihat sesosok orang berpakaian hitam-hitam mengendap di balik batu besar di belakang Elanna. Orang itu membawa pedang ganda.


“Elanna! Awas di belakangmu!” Ramir tetap berteriak.


Namun seperti kata Haladir, peringatannya itu sia-sia. Elanna tak bisa mendengarnya, dan lelaki berpakaian hitam-hitam itu kini melompat dengan kedua pedang terangkat, siap membacok punggung Elanna.


Untungnya perempuan itu bisa merasakan bahaya. Ia berputar dan menangkis serangan dengan pedangnya. Bahkan dengan tenaganya yang besar ia balik menghantam dan mendesak si penyerang. Gawatnya, kemudian muncul tiga orang lagi yang juga berbaju hitam. Mereka berlompatan mengurung Elanna.


“Heaaa!” Elanna menggereng dan berputar cepat. Ia menyerang ke satu sudut dan berhasil melukai seorang penyerang. Namun lawannya sungguh bukan orang sembarangan. Ramir yakin mereka lebih terampil daripada para prajurit Akkadia yang pernah dilihatnya. Mereka berhasil melukai lengan Elanna, kemudian punggung dan kakinya. Saat perempuan itu terhuyung, sebuah tendangan mendarat di punggungnya. Lalu sebuah pukulan melesat ke rahangnya. Elanna roboh tak sadarkan diri.


“ELANNA!” Haladir berteriak parau.


“Bagaimana kita menyelamatkannya?!” seru Ramir panik. “Kita harus menyelamatkan dia! Haladir! Bagaimana?!” Ia bergidik, membayangkan apa yang bakal dilakukan para pembunuh itu.


Keempat orang berbaju hitam itu mengelilingi Elanna.


Dan ternyata, mereka tidak membunuhnya, hanya mengikat tangan dan kaki perempuan itu. Seorang dari mereka lalu memanggul tubuhnya.


“Mereka membawanya ...” kata Haladir lirih.


“Ke mana?” tanya Ramir.


“Entahlah. Aku tidak tahu .... Jika Elanna selama berpuluh-puluh tahun hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan orang lain, mestinya ia tidak mempunyai musuh. Atau …” Haladir menggeleng khawatir. “Ya, musuh lamanya itu. Bisa jadi dia.”


“Rahzad? Atau Niordri, adiknya itu?”


“Kau tahu juga soal ini, Ramir?”


“Ini satu hal yang pernah diceritakan oleh Elanna dulu. Tetapi bagaimana sekarang, apa yang harus kita lakukan?”


“Kau harus segera bangun, dan minta bantuan teman-temanmu untuk mengejar orang-orang ini. Cepat, kita tidak boleh terlambat!”


Kembali Haladir membawa Ramir melalui jalan sinarnya.


Dini hari menjelang dan kabut tebal menyelimuti pegunungan. Tubuh Ramir yang asli ternyata baru saja dibawa masuk ke dalam sebuah kamar, dan kini dibaringkan di atas dipan. Teman-temannya ada di sana, begitu pula beberapa pemimpin Kubah Putih. Mereka semua menatap diri Ramir yang tengah terlelap.


Haladir berjalan ke samping dipan, lalu mendekatkan jemarinya di dahi tubuh tersebut. Ia berhenti sejenak, memandangi Ramir yang berdiri di sebelahnya. “Sebentar lagi kau bangun, Ramir, dan mungkin kita tak akan bisa bertemu lagi, sampai akhir masa nanti.”


Ramir tersenyum lebar. “Dan di akhir masa itu, aku yakin kau akan lebih dulu mencari Elanna dibanding aku.”


Haladir tertawa. “Ya, memang. Bersiaplah, Ramir. Satu pesan dariku sebelum kita berpisah: ini baru awal dari perjalanan hidupmu yang sesungguhnya. Jalani, dan buka setiap kunci. Cari, ilmu yang memang telah disiapkan untukmu. Semoga Tuhan memberkatimu.”


“Semoga ... Tuhan memberkati kita semua.”


Haladir menyentuhkan jemarinya. Sinar putih benderang memenuhi ruangan, menutupi pandangan.


Ketika Ramir membuka mata, ia sudah terbaring di atas dipan. Ia tersenyum, dan seketika itu pula Rifa memeluknya, juga Naia dan Fares.


Mereka tertawa-tawa, dan semua orang berseru lega.

__ADS_1


 


 


__ADS_2