
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 70 ~ Sandera
Karya R.D. Villam
---
“Apa?!” Isfan meradang mendengar ucapan Kudur, sang raja Anshan, yang hendak mengambil Ramir dan membawanya ke negeri mereka. “Anda sadar kalau tindakan Anda ini bisa memicu perselisihan dengan Yang Mulia Javad?!”
“Biar kupikirkan itu nanti. Dengan sang ahli waris gerbang ada di tanganku, Javad bakalan berpikir dua kali jika hendak berselisih denganku. Lagi pula, itu pun jika dia selamat dari pertempurannya di barat.” Kudur menyeringai.
“Tuan, jangan kira Anda bisa melewati kami dengan mudah!” Zandi mengacungkan tombaknya. Isfan mengikuti gerakannya.
“Kalian tak perlu gegabah,” tukas Kudur. “Aku tidak seburuk yang kalian duga.” Ia mengayunkan tangan. “Ringkus mereka!”
Seratus prajuritnya melesat, lalu mengepung Ramir dan para pengawalnya. Dengan ganas Isfan, Zandi dan dua puluh pengawal bertahan dalam formasi melingkar, lalu mengayunkan tombak, menghantam tombak-tombak musuh yang datang dari segala penjuru. Di tengah-tengah kericuhan Ramir meringkuk ketakutan bersama Toulip sambil menutupi kepala. Pekik prajurit, jerit kesakitan dan denting logam beradu menggedor-gedor telinganya tanpa henti. Benar-benar mengerikan! Ini pertama kalinya ia berada tepat di tengah pertempuran!
Dan hasilnya sungguh buruk. Para prajurit Anshan berhasil menjatuhkan tombak Isfan dan Zandi, juga melumpuhkan kedua puluh pengawal lainnya dari negeri Awan. Sebagian pengawal itu terluka dan terkapar di rerumputan, dan sisanya dipaksa berlutut.
“Kalian berdua, dan juga para pengawal, silakan pergi dari sini,” kata Kudur pada Isfan dan Zandi. “Aku tak butuh kalian, tetapi juga tak akan membunuh kalian. Sudah kubilang, aku tak seburuk yang kalian duga. Aku hanya ingin jaminan supaya Javad tidak berani macam-macam denganku di masa depan. Sementara itu, kau, Ramir, silakan ikut aku sekarang. Percayalah, aku takkan mencelakaimu, dan lebih dari itu, kau akan aman di Anshan.”
Ramir tak bisa menolak. Di bawah acungan tombak di punggungnya ia terpaksa berjalan mengikuti Kudur menyeberangi jembatan ajaib yang sebelum ini ia buka dengan sihirnya. Toulip meringkuk dalam pelukannya. Ramir bersyukur Kudur mengizinkannya membawa hewan itu. Di belakang, seratus prajurit Anshan menjadi rombongan yang menyeberang paling akhir.
Di ujung jembatan Ramir berbalik, lalu meletakkan telapak tangannya kembali di sungai untuk menutup kembali jembatan yang dibuatnya. Air sungai mengalir deras dari kiri dan kanan, dan Sungai Tigris pun kembali tampak seperti sediakala. Ia memperhatikan Isfan, Zandi dan kedua puluh pengawal yang masih ada di seberang sungai. Kesedihannya tak tertahankan, tetapi cepat berganti dengan rasa khawatir, dan takut. Anshan. Di mana negeri itu? Mungkinkah sejak ini ia bakal tinggal di negeri tak dikenal itu? Berpisah dengan seluruh teman yang telah melindunginya selama ini, selamanya? Dan melupakan semua yang ia cari?
__ADS_1
Keberadaan Ramir disembunyikan oleh Kudur di tengah-tengah barisan prajurit, sehingga tak mungkin diketahui oleh Naram maupun raja-raja Elam lainnya yang telah menyeberang lebih awal dan sudah berada cukup jauh di timur. Tak lama kemudian, pasukan Anshan yang berjumlah sekitar seribu orang itu berpisah dengan pasukan dari negeri-negeri Elam lainnya. Orang-orang Anshan menyusuri tepi sungai untuk menuju negeri mereka di selatan.
Saat petang mereka berhenti di sebuah desa. Para prajurit menyalakan api unggun dan membakar daging maupun ikan milik para penduduk. Mereka juga merampas botol-botol minuman; tak banyak, tetapi cukup untuk menjadi modal untuk berpesta. Mereka tertawa-tawa bagaikan orang yang baru kembali dari medan pertempuran dengan kemenangan besar di tangan. Ramir berusaha menjauh dari mereka, tetapi tentu saja tidak bisa lari ke mana-mana.
Esok paginya perjalanan menuju Anshan dilanjutkan. Mereka kembali melewati beberapa desa, lalu berhenti lagi saat petang. Sekali lagi pesta diadakan. Tahu bahwa Ramir tetap tak suka berkumpul bersama para prajurit, Kudur mengajak pemuda itu ke dalam tendanya.
“Kenapa kau tak ikut bergembira bersama kami, Ramir?” Raja itu terkekeh sambil mengangkat botolnya. Sudah jelas ia setengah mabuk.
“Apa yang harus kurayakan?” jawab Ramir.
“Hmm … Karena … kau akan pulang ke rumahmu yang baru. Kau setuju?” Kudur tertawa semakin keras. “Aku serius, sebaiknya kau … bergembira dan membiasakan diri. Percayalah, Anshan adalah negeri yang indah … dan akan membuatmu betah.”
“Aku akan bergembira kalau aku mau.”
Kudur menggeleng-geleng sambil tertawa. “Dasar bocah tolol kurang ajar. Kalau orang lain yang berkata seperti itu padaku, pasti sudah kupenggal kepalanya. Tetapi … hatiku sedang senang saat ini, jadi … tak ada gunanya marah-marah.”
“Kenapa terburu-buru? Makanlah, dan minum lagi. Jangan bilang kau tidak suka. Ini pesta yang menyenangkan. Hanya …” Kudur terkekeh. “ada yang kurang. Ya, tak ada seorang gadis pun di sini.” Ia mengangkat botolnya dan menenggak isinya sampai habis. Begitu selesai, ia bersendawa keras dan tiba-tiba jatuh terjengkang. Matanya terpejam.
Ramir terhenyak, bingung, takut.
Untuk beberapa saat ia hanya bisa terdiam, sebelum kemudian berbisik ke sampingnya, “Toulip, apa yang terjadi?”
Si kucing aneh melompat ke atas dada sang raja, mengamatinya sesaat lalu menoleh. “Santai, Ramir. Dia hanya terlalu mabuk, dan tertidur.”
Dengkuran keras terdengar. Toulip menyeringai. “Benar, kan?”
Ramir lega. Tadinya ia mengira raja itu pingsan, atau bahkan lebih parah: mati tiba-tiba. Bisa gawat kalau para prajurit menemukan Ramir di samping raja mereka yang mati. Ia bisa langsung dibunuh saat ini juga.
“Kalau begitu aku bisa ke tendaku dan tidur sekarang.” Ia bangkit dan menyibakkan kain tenda, lalu tertegun, karena asap putih yang sedemikian pekat memenuhi pandangannya.
__ADS_1
Kabut? Bukan!
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, tiba-tiba kelopak matanya terasa begitu berat. Begitu juga kepalanya. Ia jatuh pingsan, atau tidur. Ia tak tahu.
Entah berapa lama kemudian, saat Ramir tersadar, sinar matahari telah menyorot tajam dari balik ranting dan dedaunan yang menjulang tinggi. Ia bangkit perlahan, masih bingung.
Sosok-sosok gelap tampak di sekelilingnya, masih kabur dalam pandangannya.
“Siapa kalian? Di mana aku?” Ramir menatap berkeliling.
Enam orang tampak berdiri di samping pohon atau duduk di atas batu. Semuanya menggunakan kain jubah berwarna kelabu pudar, yang menutup hampir seluruh tubuh, termasuk separuh wajah mereka.
Seseorang menjawab, “Karena kami telah membuatmu tertidur sepanjang perjalanan, tentunya akan sia-sia jika kini kami memberitahumu ada di mana. Yang jelas kita sudah cukup jauh dari orang-orang Anshan. Kudur raja bodoh yang mudah diperdaya, tetapi selalu merasa pintar. Tentang siapa kami, tak akan kami sembunyikan. Kami dari kelompok Kubah Putih. Kau pernah dengar nama itu?”
“Tidak.” Ramir menggeleng.
“Bagus. Nama kami memang hanya untuk diketahui oleh orang-orang yang perlu tahu, pada saatnya. Seperti kau sekarang,” orang itu berkata dengan nada yang sulit ditebak. “Kau, ahli waris Gerbang Sungai Tigris, yang diperebutkan para penguasa dari barat dan timur.”
“Kalian … mencari aku juga?” tanya Ramir, kembali ketakutan.
“Kami hanya membutuhkanmu untuk sementara. Bagi kami, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar dinding dan gerbang pemisah, atau pertempuran antara negeri barat dan timur.”
“Maksudmu?” Ramir merinding, merasakan bahaya mendekat lagi. Ia merasa sepertinya lawan bicaranya menyeringai dengan kejam di balik penutup wajahnya.
“Kami memerlukan sesuatu dari Putri Naia,” kata orang itu, “yang telah mengkhianati kami dan melepas begitu banyak makhluk terkutuk keluar dari dunia kegelapan. Kami akan bicara padanya, dan berharap dia mau menerima tawaran kami. Karena jika tidak, kami akan menyerahkan sesuatu yang sangat berharga kepada musuhnya di Akkadia. Dirimu.”
__ADS_1