Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 28 ~ Senjata Pusaka


__ADS_3

Akkadia: Gerbang Sungai Tigris


Bab 28 ~ Senjata Pusaka


Karya R.D. Villam


 


---


 


Istimewa? Seperti yang dulu pernah dibilang Ramir? Tidak mudah lelah, melompat seperti kucing, menombak ikan dengan mudah? Keistimewaan seperti itu? Zylia tak yakin apakah hal-hal tersebut lantas membuatnya menjadi istimewa. Dan juga, apakah itu penting.


"Maaf, Rahzad,” ia berkata, “kembali ke masalah awal, apakah semua ini ada gunanya untuk melawan Nergal nanti?”


Rahzad duduk kembali di kursinya. Kedua tangannya menggenggam bahu Zylia. “Justru ini maksudku. Keistimewaan menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang istimewa pula. Kita harus menjadi pemimpin, itu sudah jelas. Menjadi orang di pucuk kekuasaan, itu sudah pasti. Itulah yang harus kita lakukan, dan harus kita dapatkan.”


"Ya, tetapi ..." Zylia bingung harus berkata apa.


“Biar kuceritakan sedikit tentang aku. Kau tahu seberapa besar peluang seorang asing bisa menjadi panglima di Akkadia, atau negeri-negeri lain di tanah Sumeria? Kita, yang memiliki kepercayaan berbeda dengan mereka? Sangat kecil. Hampir tidak mungkin. Orang-orang ini akan lebih suka membunuh kita daripada tunduk. Tetapi aku punya rencana, dan aku juga telah mengamati selama bertahun-tahun. Di tanah ini dulu ada seorang raja kecil bernama Sargon, yang kutahu punya ambisi besar, dan sejalan denganku. Dia juga seorang yang berbeda, tidak mau tunduk begitu saja pada para pemimpin kuil seperti halnya raja-raja lain. Sebagai raja, ia ingin punya kekuasaan penuh, dan duduk lebih tinggi di hadapan pemimpin kuil. Tetapi untuk itu tentunya ia harus memiliki kekuatan sendiri. Maka kutawarkan bantuanku padanya—kekuatanku—dan ia bersedia. Berkat aku, ia menaklukkan banyak negeri. Setelah itu kau tahu ceritanya, tidak ada lagi orang yang tidak mengakui pencapaianku.”


Rahzad tersenyum, lalu melanjutkan, “Tetapi apa aku sudah puas? Tidak. Aku masih punya rencana. Untuk dunia. Untuk Akkadia. Untukku. Untuk kita berdua. Seluruh langkah besar ini baru awal. Masih banyak lagi yang harus kita lakukan. Zylia, kita tak bisa membiarkan Nergal menghancurkan seluruh dunia. Semua yang sudah kita bangun dengan susah payah. Seluruh rakyat bergantung kepada kita. Inilah tanggungjawab kita kepada dunia. Melawan dan menyingkirkan Nergal, serta seluruh makhluk terkutuk lain di baliknya."


"Ya, tetapi bagaimana?" sahut Zylia. “Dari tadi kau belum menjelaskan bagaimana caranya mengalahkan Nergal.”


Rahzad bangkit, kemudian berdiri di tepi jendela menerawang ke luar. “Sejauh iniaku tak terkalahkan. Tetapi terus terang, aku khawatir dengan makhluk bernama Nergal ini. Ishtar telah memperingatkan aku, dia berbahaya. Ishtar berjanji mengirimkan Ishtaran lebih banyak untuk membantu, tetapi aku harus memikirkan cara lain. Dan ini, tergantung padamu.”


"Aku?" Zylia menarik diri. Rasa takut tiba-tiba menyelimutinya.


Rahzad berjalan perlahan ke belakang Zylia. Tangannya menyentuh kedua bahu gadis itu, membuat Zylia merinding. Tidak. Ini sensasi yang aneh. Ada rasa nyaman juga.


Zylia terpejam. Pikirannya berputar-putar.


"Zylia, kau benar-benar tidak ingat siapa dirimu? Kau adalah putri pemimpin bangsa Kaspia, Zailan yang Bijak. Dia—"


"Ayahku?" Zylia menegang. Pikirannya bergerak cepat. Zailan Zarkaef? Itukah nama ayahnya? Seperti apa dia?

__ADS_1


"Ya. Mendiang ayahmu." Rahzad mengangguk. "Guruku."


"Kau?" Zylia tertegun.


Rahzad membelai rambutnya. “Zylia, ayahmu pemimpin besar, dengan kekuatan fisik dan keluasan ilmu yang tak tertandingi siapa pun. Ia menurunkan banyak ilmunya itu kepada murid-muridnya, termasuk aku. Dan juga senjata-senjatanya, mulai dari pedang sampai busur dan panah. Tetapi semua orang tahu, ia hanya menurunkan senjata utamanya—senjata rahasia itu—kepada putri bungsu yang paling disayanginya. Kau, Zylia."


"Senjata apa?" Zylia menoleh, bulu kuduknya merinding saat merasakan wajah Rahzad begitu dekat di belakangnya.


"Tak ada yang tahu seperti apa bentuk senjata pusaka ini. Itulah kenapa disebut rahasia." Rahzad tersenyum. "Kecuali dia, dan kau."


"Kalau tak ada yang tahu, bagaimana mereka percaya itu ada?"


"Itu ada, karena kita percaya.”


"Aku tetap belum mengerti."


"Zylia." Desah napas Rahzad terasa semakin hangat. "Ini sesuatu yang dipercayai setiap orang Kaspia, diturunkan dari generasi ke generasi sejak ribuan tahun yang lampau, bahwa setiap pemimpin mewarisi senjata pusaka tersebut dari para pendahulu mereka. Kita juga percaya, bahwa senjata itu adalah senjata pamungkas untuk melawan makhluk jahat paling utama, yang akan datang di akhir jaman. Kita sekarang tentu paham, siapa yang dimaksud makhluk jahat ini."


Zylia mengatur napasnya yang mulai tak teratur. "Nergal?"


Zylia memejamkan matanya. “Tetapi aku tidak ingat ....” Sebenarnya, selain tidak ingat, ia juga tidak bisa berpikir jernih. Rahzad sudah begitu dekat dengannya sekarang, membuat dirinya gelisah. Sesuatu membuatnya takut, sekaligus nikmat.


"Ya, itu masalahnya. Kau tidak ingat." Suara Rahzad tetap terdengar tenang. Jemarinya membelai telinga Zylia, turun hingga ke lehernya, dari belakang ke depan. Dada Zylia berdebar kencang. Darahnya berdesir tak keruan. Napasnya memburu. Tubuhnya memanas.


"Aku ... ya, aku harus mengingatnya dulu ..."


"Aku berharap, bisa membantumu teringat, dengan cara ini."


Rambut panjang Zylia tersibak, dan ia merasakan bibir Rahzad mencium lehernya. Tubuh Zylia bergetar. Kedua tangannya meremas kain lembut penutup kursinya. "Rahzad ... aku ..."


"Cara yang dulu biasa kita lakukan." Kedua tangan Rahzad memeluk tubuh Zylia erat-erat. Zylia terlena, menikmati sensasinya.


Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia hampir saja runtuh, ketika tiba-tiba wajah seorang lelaki muncul di hadapannya, dalam bayangan. Hanya sebentar. Tetapi Zylia mampu melihat dengan jelas wajahnya yang tampan, rambutnya yang berwarna perak, serta mata birunya yang menatap tajam. Ayah?


"Tidak, Rahzad. Tidak!" Zylia melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Kepalanya berdenyut keras, namun tenaga dan kesadarannya pulih. "Kumohon ..."


Lelaki di belakangnya tertegun. Napasnya memburu, namun suaranya tenang. “Kenapa, Zylia? Kau kini menolakku?”

__ADS_1


"Maaf ... aku ..." Zylia menegakkan tubuhnya. "Tidak bisa.”


Rahzad termangu, lalu berjalan ke tepi jendela, dan bersandar. “Kenapa?”


"Karena … semuanya terasa begitu cepat. Begitu banyak hal yang membingungkan, dan aku tak bisa mengingatnya!” Gadis itu melepaskan emosinya.


"Baik, aku mengerti." Rahzad mengangguk. "Mungkin ini terlalu cepat untukmu. Sayang sekali. Maaf, aku terlalu memaksa."


"Kau hanya ingin membantuku, bukan?"


"Ya. Tentu saja."


"Kurasa ..." Zylia berdiri dengan canggung. "Lebih baik aku kembali ke tendaku."


Rahzad menatapnya tajam. “Kau yakin?”


Zylia mengangguk. “Sebaiknya aku istirahat. Mudah-mudahan ingatanku bisa pulih.”


"Kau yakin tidak butuh bantuanku?" Suara Rahzad mengalun lembut ke telinganya.


Zylia balas menatap lelaki itu. Ia berusaha mengendalikan dirinya. "Ya ... mungkin, kau bisa membantu. Kau bisa meminjamkan aku ... busur dan panah? Aku sudah meminta pada prajuritku, tetapi sampai sekarang belum ada juga."


"Untuk membantumu mengingat? Tentu saja." Rahzad menoleh ke kiri. Di salah satu dinding ruangan tergantung sebuah busur panjang dan sekantong anak panah.


"Ambillah," ia berkata.


Zylia coba menerka isi kepala Rahzad. Tetapi ia tak bisa menemukan apa pun di balik mata biru laki-laki itu, sehingga ia lalu memutuskan untuk mengambil senjata-senjata tersebut. Ia berjalan mendekati dinding dan meraih busur dengan tangan kirinya.


Busur. Panah, dengan bulu berwarna perak.


Indah. Mematikan. Di tangannya.


"Nah, Zylia." Rahzad menyeringai. "Kau ingat sekarang?"


 


 

__ADS_1


__ADS_2