Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 58 ~ Perpecahan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 58 ~ Perpecahan


Karya R.D. Villam


 


---


 


Semua orang di sekitar Fares menoleh kaget. Mata mereka terbelalak, mulut ternganga. Fares menikmatinya. Ia meniup peluitnya semakin kuat. Suaranya melengking makin tinggi dan terdengar oleh ratusan prajurit yang sedang berlari, bahkan oleh para gharoul. Monster-monster buas di kejauhan itu tertegun, menatap lurus ke arah Fares.


Makhluk-makhluk itu tetap diam bahkan setelah Fares menghentikan tiupannya.


“Kau membuat mereka berhenti, Fares!” seru Naia dengan suara gembira tertahan.


“Ha! Menarik.” Rifa menyeringai. “Bagaimana kalau kau suruh mereka kemari? Supaya kita bisa membantai mereka tanpa sisa!”


“Bagaimana caranya?” tukas Fares.


“Nyanyikan!” balas Rifa. “Buat suara yang mengalun!”


“Nyanyikan? Kau pikir gampang?”


Tetapi lengkingan peluit karquri yang pertama kembali terdengar. Dari kejauhan. Kali ini lebih keras, sehingga bisa terdengar asalnya. Jauh sekali di utara, di dalam hutan semak. Para gharoul kembali begerak, menuju suara tersebut.


“Tiup lagi, Fares!” seru Naia. “Balas! Tiup lagi!”


“Y—ya!” Bergegas Fares meniup kembali peluitnya.


Dua suara melengking tinggi beradu. Para gharoul kebingungan, tetapi di saat terakhir mereka melanjutkan larinya ke arah utara.


“Kejar!” seruan Javad menggema. “Bunuh!”


Ratusan prajurit mengejar penuh semangat. Namun alih-alih mendapat sasaran, ratusan titik hitam yang lebih gelap daripada malam tiba-tiba terlontar dari jauh, mendekat. Panah, begitu cepatnya menghantam tubuh-tubuh ratusan prajurit Elam itu.


“Ada serangan!” seruan Mehrdad menggeledek. “Perisai! Formasi!”


Ribuan prajurit sayap kanan berderap.


“Pasukan pemanah! Serang!”


Ratusan panah pasukan Elam terlontar ke arah hutan semak di utara. Satu, dua, tiga gelombang. Jerit kesakitan terdengar bersahutan dalam kegelapan. Tak jelas berapa orang, dan monster yang tewas di sana. Serangan panah balasan terlontar dua kali, namun tak banyak menemui sasaran. Lalu berhenti.


Setelah situasi tenang Javad memerintahkan dua ribu prajuritnya bergerak menyisir wilayah pepohonan lebat di utara. Namun tak lama setelah mereka berangkat, datang kejutan berikutnya. Lonceng-lonceng kembali berdentang, kali ini dari arah desa.

__ADS_1


“Yang Mulia! Ada serangan lagi di sayap selatan!”


“Jadi begitu rupanya.” Javad menggeram kesal, tetapi wajahnya masih tampak tenang. “Kita mendapat serangan susul-menyusul di kedua sayap. Seharusnya bisa kuperkirakan. Ini resiko jika kita masuk ke wilayah musuh.”


Fares dan rekan-rekannya bergegas kembali ke desa. Komandan selatan melaporkan, serangan panah musuh sejauh ini masih bisa diatasi, seperti halnya serangan di utara. Namun saat tengah malam muncul laporan berikutnya. Pasukan Akkadia  lainnya muncul dari arah barat, menyerang pertahanan Elam di garis depan dan kini bergerak menuju desa. Jumlahnya ribuan.


“Mereka berani menyerang kita?” seru Rifa tak percaya saat para komandan berkumpul. “Bukankah kita lebih banyak?”


“Belum tentu,” tukas Javad. “Bisa saja itu pasukan baru dari Akkad. Pasukan cadangan yang tidak kita kenal. Ini … cukup berbahaya.”


“Tapi ...” Fares memandangi Naia dengan gelisah, “jika mereka semua menyerang bersama-sama, berarti gerombolan gharoul itu juga bekerja untuk Akkadia? Bangsat. Aku tak tahu mana yang lebih terkutuk di antara keduanya!”


“Aku juga tak mengira ...” gumam Naia. Ia tampak bingung bercampur marah. “Selama ini kupikir kita bertempur melawan gharoul dan orang-orang Akkadia untuk dua alasan berbeda. Ternyata mereka musuh yang sama?”


“Yang Mulia,” Mehrdad berkata. Di antara mereka yang sedang bingung dia tetaplah yang paling tenang dan mempunyai kepercayaan diri paling meyakinkan. “Akan kukirim tiga ribu prajurit untuk menghadang pasukan Akkadia. Anda setuju?”


“Aku lebih senang jika bisa ikut maju bersamamu,” jawab Javad sambil mengeraskan rahangnya menahan emosi.


Mehrdad menggeleng. “Anda tunggu saja di sini. Biar aku yang pergi. Akan kukirim beritanya nanti kepada Anda.”


“Lakukan, Mehrdad. Kau yang paling kupercaya. Faruk akan membantuku mengawasi.” Javad mengangkat tangan kirinya. Burung elang itu mengembangkan sayap, bersiap untuk terbang. “Semoga pasukan pemanah Akkadia tidak menjadikannya sasaran.”


Mehrdad pergi memimpin tiga ribu prajurit bergerak ke arah barat, menembus kegelapan.


Di tengah desa Javad dan rekan-rekannya menunggu, bersama raja-raja Elam lainnya.


“Yang Mulia.” Seorang prajurit melapor dengan wajah tegang. “Kapten Mehrdad berpesan, Yang Mulia sebaiknya segera mundur ke timur bersama sisa pasukan yang lain. Kami di barat akan menahan pasukan Akkadia selama Anda mundur. Anda tak perlu khawatir, kami baik-baik saja.”


“Mehrdad tidak berkata benar!” tukas Javad. “Kalian terdesak di sana. Kalian tidak baik-baik saja! Jika aku mundur, kalian semua juga harus mundur. Jika kalian bertempur, aku juga akan bertempur!” Ia menghentakkan tombaknya ke lantai dan menatap semua orang. “Siapkan diri dan juga pasukan kalian. Kita akan bertempur!”


Sebagian kecil raja-raja Elam menyambutnya antusias, tetapi sebagian besar yang lain ternyata tak setuju. Mereka pun saling memandang ragu.


Kudur, raja dari Anshan, berkata pada Javad, “Beri tahu dulu apa sebenarnya yang telah dilihat altros itu, dan dikatakannya pada Anda.”


Naram, raja Susa menyahut, “Tuanku Javad, kuharap Anda ingat, kami bertanggung jawab atas nyawa prajurit dari negeri kami. Ingatlah, bukan hanya orang-orang Awan yang sedang berperang. Jadi tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, baru kami akan mengikuti Anda. Kami tak ingin ada lebih banyak lagi yang mati!”


Fares memandangi raja-raja itu, lalu melirik Naia. Keduanya bersitatap. Sebagai orang ‘asing’ di antara penguasa negeri Elam, keduanya tak ingin memperkeruh suasana. Bahkan Rifa yang biasanya berani berkata keras pun kali ini memilih diam.


Javad menahan kegeramannya. “Akan kukatakan, dan setelah itu kuharap kita semua tetap bersatu dan teguh seperti sebelumnya. Akkadia datang dengan enam ribu prajurit. Saat ini mereka memang terus mendesak tiga ribu prajuritku di barat, tetapi jika kita semua bergabung, kita bisa mengalahkan dan menghancurkan seluruh pasukan musuh!”


“Anda pasti tahu, tak mungkin Akkadia berani menyerang dengan jumlah prajurit yang lebih kecil daripada kita!” seru Naram. “Paling tidak mereka pasti punya sepuluh ribu prajurit. Mereka pasti pasukan baru dari Akkad! Sekali lagi kami harap Anda mengatakan yang sebenarnya, Tuanku Javad.”


“Itulah yang sebenarnya! Untuk apa aku menyembunyikan ini dari kalian? Kita tak punya waktu berdebat. Jika kalian semua masih memandangku sebagai panglima, kuharap kalian bersedia ikut bersamaku ke barat. Di sana kalian akan melihat bahwa aku berkata jujur! Kita berhasil menang sebelumnya, dan kita bisa menang lagi!”


“Anda tidak pergi ke sana untuk menang,” kata Kudur ketus. “Anda pergi untuk mati bersama para prajurit Anda!”


Javad menatapnya tajam dan menegaskan ucapannya, “Aku pergi untuk menang. Tetapi jika memang aku ditakdirkan mati, di sana, maka aku akan menerimanya.”

__ADS_1


“Anda salah! Jika para dewa tidak menginginkan kita untuk mati di sana, mengapa kita harus pergi?” balas Naram. “Kapten Anda menyarankan Anda dan kita semua untuk mundur ke timur. Dia tahu apa yang terjadi. Kenapa kita tidak mengikuti sarannya?”


“Mehrdad memiliki niat baik, tetapi sebagai panglima aku punya pertimbangan dan perhitungan sendiri,” jawab Javad. “Kataku, kita harus pergi ke barat untuk bertempur!”


“Anda terlalu memaksa, dan akan menjerumuskan kita semua,” sahut Naram sambil menggeleng. “Menurutku, sebaiknya kita kembali ke timur dan membuat kubu di tepi Sungai Tigris, seperti yang sebelumnya kuusulkan setelah kita menang di pertempuran pertama.”


Ucapan raja Susa itu persis seperti yang dikatakan Fares pada Javad semalam. Sebuah pilihan yang sebenarnya paling aman. Apakah Javad akan menyetujuinya sekarang?


Ternyata raja Awan itu menggeleng. “Tuanku Naram, saat kita masih berada di Awan Andalah yang paling bersemangat menyerang musuh ke barat. Anda begitu yakin kita mampu menaklukkan Akkadia. Kita baru saja menang kemarin, kenapa sekarang tiba-tiba Anda berubah pikiran dan memilih untuk mundur?”


“Jangan berkata seolah-olah Anda lebih berani dibanding aku, Tuanku Javad,” tukas Naram. “Aku sudah pernah bertempur bahkan saat Anda masih berada dalam gendongan Tuanku Kirvash. Aku dan ayah Anda adalah sahabat baik, tetapi di sini, aku merendahkan diri dan bersedia mengikuti Anda. Kemarin kita memang berhasil memenangkan pertempuran, tetapi taktik Anda juga membuat kita kehilangan separuh pasukan. Aku kehilangan ribuan prajurit, demikian pula raja-raja yang lainnya! Anda berhasil meyakinkan kami untuk terus bergerak ke barat, tetapi malam ini terbukti keputusan Anda salah. Pasukan Akkadia tetap berani menyerang, tentu saja, karena ini adalah tanah mereka! Mereka tahu setiap sudutnya. Mereka sengaja memancing kita untuk terus bergerak ke barat. Mereka menjebak kita! Betapa bodohnya jika kita terus membiarkan diri terperosok semakin dalam. Aku punya alasan kenapa aku berubah pikiran, kenapa aku memilih mundur!”


Semua orang kini terdiam. Tak satu pun yang berani berbicara.


“Tuanku Naram,” Javad menjawab. “Mengenai para prajurit kita yang gugur, aku mungkin lebih sedih daripada Anda. Aku berharap sebenarnya, agar kematian mereka tidaklah sia-sia, dengan cara mempersembahkan kemenangan berikutnya. Anda telah menjelaskan alasan Anda, dan aku mengerti. Namun beberapa hal, seperti pikiran, bisa berubah, sedangkan beberapa yang lain, seperti hati, tidak. Di sini aku memilih mengikuti hatiku. Naluriku. Aku memutuskan akan tetap pergi ke barat bersama sisa pasukanku, karena aku tak bisa meninggalkan para prajurit kita yang masih bertarung di sana.”


Rahang Naram mengeras. “Maaf, Tuanku, aku tak bisa ikut. Ini terlalu berbahaya.”


“Aku akan membawa pasukanku ke timur,” sahut Kudur.


Naram mengangguk, menjawab lirih. “Ya, aku juga.”


Suasana kembali hening. Fares memperhatikan Naia dan Rifa. Wajah kedua gadis itu memerah. Sudah jelas mereka tak mampu menyembunyikan amarah, namun tahu pula tak sepatutnya bicara saat ini. Ini adalah waktunya raja-raja berbicara.


Javad menghela napas panjang. “Dan kalian?”


Ia memandang berkeliling. Para raja lainnya yang ditanya saling berpandangan, lalu satu per satu memberikan keputusan. Sebagian kecil tetap bersedia mengikuti Javad ke barat, tetapi sebagian besar mengikuti Naram dan Kudur kembali ke timur.


“Jadi begitu.” Javad tersenyum getir. “Menyedihkan, di saat-saat genting kita justru tidak bisa sepakat.”


“Anda masih bisa mengubah keputusan Anda,” kata Naram.


“Demikian juga Anda, masih bisa mengubah keputusan Anda,” balas Javad. “Tetapi keputusan sudah dibuat, dan semua sudah setuju, tak perlu dipertanyakan lagi.”


“Kalau begitu kami akan menunggu Anda di Sungai Tigris,” kata Kudur.


Javad memandangi raja Anshan itu beberapa lama, lalu menjawab, “Semoga dewa memberkati mereka yang berani.”


Dan mengampuni mereka yang pengecut.


Fares yakin, jika tidak di depan banyak orang, Javad juga akan mengatakan itu.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2