Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 97 ~ Siksaan Kabut


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 97 ~ Siksaan Kabut


Karya R.D. Villam


 


---


 


Teeza terbangun. Dalam gelap yang lain. Dalam sakit yang nyata.


Akhirnya benar-benar terbangun.


Ia mengangkat wajahnya dari dasar gua yang basah, memandang sejauh yang bisa ia lihat. Inilah gua gharoul yang sebenarnya. Sayangnya, ia merasakan telinganya belum berfungsi baik. Suara mendengung masih terdengar dari dalam kepalanya, yang terasa begitu sakit seperti baru saja dihantam martil.


Dalam gelap ia melihat sosok makhluk berbulu tak jauh di depannya, terbaring kaku dengan darah membanjir di sekitar tubuhnya.


Ratu gharoul?


Dan sudah mati? Siapa yang membunuhnya?


Apakah Davagni?


Teeza melihat makhluk kelabu yang terkapar tak jauh darinya.


Bagaimana makhluk batu itu bisa ada di sini?!


Atau … siapa itu …?

__ADS_1


Itu … Rahzad?!


Dan di sana … Elanna?!


Perasaan bingung dan takut campur aduk menyergap Teeza seketika. Sesuatu yang buruk baru saja terjadi di tempat ini, dan gadis itu bisa merasakannya, semua ini belum selesai.


Suara tawa terdengar mengisi rongga gua, makin keras. Teeza lega pendengarannya sudah kembali pulih, tetapi rasa takut kini menyelimuti dirinya. Ramir tadi bilang yang mengancamnya adalah ratu gharoul. Rasanya tidak. Yang ini lebih menakutkan.


Seseorang berdiri di balik tubuh raksasa Davagni, tengah mengacungkan pedang sambil menggeleng-geleng. Dia Bargesi, sang Perdana Menteri Akkadia, sekaligus juga bukan. Sosoknya tak lagi seperti perdana menteri kerempeng itu, tetapi sudah hampir sejangkung dan sekekar Rahzad. Wajahnya, walaupun masih berjanggut, sekarang tampak jauh lebih muda, dengan mata berkilat-kilat. Teeza merinding. Dia bukan lagi Bargesi. Dia Nergal.


“Adik ...” Nergal berkata pada Davagni sambil mengucap satu kata dalam bahasa asing, yang bisa jadi adalah nama asli si makhluk batu. “Apa yang harus kulakukan padamu sekarang?” lanjutnya dalam bahasa kuno orang-orang utara yang kini bisa dipahami Teeza. “Membunuhmu begitu saja, hingga kau lenyap tak berbekas? Atau cukup mengirimmu pulang? Hukuman di sana akan menyakitkan, sangat menyakitkan, tetapi paling tidak kau punya kesempatan menunjukkan kesetiaanmu lagi, menjadi dirimu yang sesungguhnya. Yang mana? Apa pilihanmu?”


Tawa kecil Davagni terdengar. Tanduknya terangkat. “Terserah kau ...” ia pun menyebut Nergal dengan nama asing. “Kau mau membunuhku? Lakukan. Tetapi apa kau benar-benar berpikir bisa melenyapkan aku? Tidak, kau tahu kau tidak bisa. Mengirimku pulang? Ya, itu memang menyakitkan. Tetapi di kesempatan berikutnya, kau yakin aku tak akan mendatangimu, dan ganti menyakitimu? Jangan terlalu yakin, Kakak. Yang mana? Apa pilihanmu?”


Kesempatan, pikir Teeza. Nergal tampaknya belum menyadari keberadaan dirinya.


Ia pun merayap perlahan, mendekati pedang Rahzad yang tergeletak tak jauh darinya, sambil berharap Nergal terus disibukkan oleh Davagni.


“Ah,” suara Nergal terdengar, “kenapa kau memilih memusuhiku? Betul, kan? Kau sudah mengatakannya tadi. Aku heran, kenapa sekarang kau menjadi lemah seperti manusia? Ayo, katakan, katakan semua alasan remehmu itu, dan biarkan orang-orang malang ini mendengar. Ya, termasuk dia ... Rahzad. Kau, Adik, yang sepanjang masa begitu ditakuti, kini menjatuhkan diri menjadi manusia rendah.”


“Huh. Kau benar-benar bodoh, atau apa?” balas Nergal. “Pengkhianatan adalah permainan kita sehari-hari. Permainanmu juga dulu, yang membuatmu tersohor, sebelum kau menjadi lemah seperti manusia. Kita tak perlu membahas ini. Kau benar tadi, pedangku akan membunuhmu di sini, tetapi tak akan bisa melenyapkanmu selamanya. Kalau begitu kita sepakat, pilihan kedua, bukan? Bagus.”


Nergal mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, teracung lurus ke atas. Gua bergetar seakan hendak runtuh. Kepalanya mendongak memperhatikan kabut putih yang berputar-putar semakin besar di langit gua. Ia tersenyum lebar.  “Dan kau pikir setelah mengalami siksaan nanti kau akan berani menentangku lagi? Bodoh, kau tak akan seberani dan sebodoh itu. Kau akan kembali setia padaku, adikku, sudah pasti. Sampai jumpa. Salam untuk Ayah.”


Ia menurunkan pedangnya, menunjuk ke arah Davagni.


“Aaarrrggghhh!” Makhluk kelabu itu meraung kesakitan saat sebarisan sinar putih turun dari pusaran kabut dan menerangi tubuhnya.


Nergal mengangkat kembali pedangnya. Tubuh raksasa di hadapannya terangkat dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, seolah ditarik sepasang tangan raksasa. Prosesnya lambat sesuai keinginan Nergal, dan justru itulah yang membuatnya menyakitkan.


Nergal seperti tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menyiksa musuh, atau adiknya itu. Telapak kaki Davagni hancur sedikit demi sedikit, kemudian penghancur yang tak tampak mata itu merayap turun ke mata kaki, lalu ke lututnya. Sedikit demi sedikit, perlahan tetapi pasti. Nergal menikmati setiap batu dan debu yang berhamburan dan terhisap ke dalam kabut cahaya sambil tertawa terbahak-bahak. Davagni terus meraung kesakitan.

__ADS_1


“Makhluk terkutuk, lepaskan dia …”


Tawa Nergal terhenti. Tersentak, makhluk itu menoleh cepat, ke arah Teeza.


Gadis itu berdiri tak jauh darinya, di antara tubuh gharoul dan Rahzad, dengan pedang di tangan kanan. Nergal bergegas menarik pedangnya. Tubuh Davagni terhempas. Erang kesakitan terdengar dari mulut makhluk kelabu itu, tetapi dia selamat sementara ini. Masalah Nergal kini telah berpindah ke Teeza.


“Kau,” Nergal menatap tajam, “di sini rupanya.”


Teeza terdiam, tiba-tiba merasa tenang. Ciuman kematian beberapa kali mendekati dirinya sepanjang seratus tahun hidupnya, dan selama itu pula ia menolak menerima. Ia selalu berjuang sampai titik batas kemampuan, dan selalu berhasil lolos dari lubang maut.


Kali ini berbeda. Anehnya Teeza tak lagi merasa takut. Mungkin pada akhirnya ia sadar, bahwa memang sudah waktunya ia mati. Mungkin memang sebaiknya ia biarkan saja maut datang. Rahzad mati, Elanna mati, apa lagi tujuan hidupnya yang tersisa?


Atau ... mungkinkah sebenarnya masih ada yang lain?


Karena, jika tidak mestinya ia tak akan berusaha meraih pedang yang ada di tangannya  kini dan berdiri lagi dengan tegak di hadapan Nergal. Nalurilah yang menggerakkannya, yang menunjukkan bahwa ia masih ingin hidup, dan naluri itu pasti karena ada suatu tujuan di dalamnya, walaupun ia belum paham apa itu.


Mungkin, untuk membunuh Nergal? Itukah tujuan hidupnya yang terakhir?


Cukup satu itu sajakah?


Teeza mempererat genggaman pedangnya, mengangguk. “Ya, aku di sini,” ia menjawab tanpa ragu.


Nergal menggeram. “Orang Kaspia. Aku sudah tahu sejak lama, pada akhirnya kaulah yang akan jadi lawan terakhirku.” Ia maju satu langkah, kini jaraknya tak lebih dari lima langkah di depan Teeza. “Dari semua musuhku, kau yang paling berbahaya. Kau tahu kenapa? Hmm? Atau mungkin tidak?”


Ia menatap Teeza dalam-dalam, seakan hendak mengorek keluar isi hati gadis itu, dan akhirnya tertawa. “Ah ... sepertinya tidak, ya? Kau sama sekali tidak tahu siapa dirimu. Ternyata ketakutanku selama ini tak beralasan. Kau telah menunjukkan sendiri, baru saja, bahwa kau sama sekali bukan ancaman.”


Teeza kebingungan dan mengangkat pedang milik Rahzad, terarah lurus ke wajah Nergal. Apa sebenarnya maksud kata-kata makhluk itu? Teeza sendiri yang telah menunjukkan bahwa ia bukan ancaman bagi makhluk terkutuk itu?


“Kau pikir begitu?” Teeza coba balik mengancam. Ia tak ingin menunjukkan kebingungannya di depan musuhnya. “Padahal, mungkin rasa takutmu itu benar. Akulah orang yang akan menghancurkanmu!”


“Tidak.” Nergal menggeleng. “Kau lemah, selemah manusia-manusia yang lain. Dan seperti yang lain, kau akan mati.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2