
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 96 ~ Pertemuan
Karya R.D. Villam
---
Gadis berambut perak itu membuka matanya, dan selama beberapa saat hanya kegelapan yang bisa ia lihat di sekelilingnya. Tak mungkin, pikirnya. Matanya yang tajam seharusnya bisa melihat sesuatu!
Ia bangkit dan dan menatap berkeliling. Dinding-dinding batu. Ya, ia masih berada di dalam gua. Ia berdiri sambil berusaha mengingat-ingat. Apa yang terjadi? Apa yang ia lakukan terakhir kali sebelum ini? Dan tiba-tiba ketakutannya kembali mencuat. Ia takut telah kembali kehilangan ingatannya.
Tidak, itu tidak mungkin; ia meyakinkan diri. Jika ia kehilangan ingatannya sekarang, ia tidak mungkin ingat bahwa ia telah kehilangan ingatan dulu, dan yang pasti, ia tidak mungkin ingat bahwa dirinya adalah Teeza.
Cahaya putih benderang tampak di ujung lorong. Teeza termangu, ragu, tapi kemudian memutuskan untuk mendekatinya. Ia berjalan merapat ke dinding, waspada. Ia harus siap menghadapi apa pun yang ada di balik cahaya. Sayangnya ia tak punya senjata sama sekali. Tetapi lari mestinya sama sekali bukan pilihan.
Lalu terdengar suara, “Teeza …”
Gadis itu tertegun. Jantungnya berdebar kencang. Segera ia menoleh ke belakang. Matanya memicing. Dalam remang tampak seseorang. Berambut dan berkulit gelap.
Dia … “Ramir …?!”
Bocah itu berdiri tak lebih dari lima langkah darinya, tersenyum dan mengangguk. “Ya, aku,” kata pemuda tanggung itu. “Kau ingat aku, Teeza?”
Teeza mendekat, hampir tak percaya, kemudian ikut tersenyum. “Tentu saja ... Aku ...” Sesuatu bergejolak dalam hatinya begitu ia berdiri lebih dekat di hadapan bocah itu. “Aku tak mungkin lupa. Kau … kau yang dulu menyelamatkan aku, di sungai. Di desa itu.”
“Y—ya.” Ramir mengangguk gugup.
“Dan kau memangggilku Teeza, bukan Elanna, atau Zylia?”
“Teeza namamu yang sebenarnya.” Tiba-tiba Ramir tampak ketakutan dan mundur selangkah. “Kau … kau sudah ingat … siapa dirimu, kan?”
“Aku sudah ingat siapa diriku sebenarnya. Jangan khawatir.” Teeza tersenyum lagi, namun kemudian menatap Ramir tajam. “Tetapi bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah gua ini …” Ia menatap berkeliling, dan teringat. “Ini gua gharoul!”
“Ini bukan gua gharoul. Ini …” Ramir masih tampak ragu. “Mmm … ya, mungkin. Tetapi yang pasti kau harus segera bangun!”
“Bangun? Apa maksudmu?”
“Kau sedang bermimpi, dan aku masuk ke dalam mimpimu.”
“Mimpi?” Teeza terdiam, lalu tertawa. “Mimpi?”
__ADS_1
“Kau tidak percaya?”
“Bagaimana aku bisa percaya? Sepertinya ini nyata.”
“Kau harus percaya,” jawab Ramir. “Dan kau harus segera bangun. Ratu gharoul mengancammu di luar sana. Elanna juga, dia dalam bahaya!”
Teeza mengernyit. “Elanna? Kau kenal Elanna?”
“Ya! Elanna!” teriak Ramir kesal. “Tetapi jangan minta aku bercerita sekarang. Kita harus cepat. Kau harus cepat bangun!”
Teeza belum sepenuhnya percaya, tapi ia mengangguk, masih sambil menatap Ramir dengan tajam. “Baik, aku akan bangun. Bagaimana?” Ia menoleh ke belakang. “Ke cahaya putih itu?”
Ramir meringis. “Aku tak tahu itu ke mana. Cubit saja lenganmu. Seperti itu biasanya, kan? Kalau hendak bangun dari mimpi?”
“Ya …” Teeza tertawa kecil. “Baik.”
“Tunggu!” Ramir memegangi lengan gadis itu.
Wajah mendongak pemuda itu—ya, pemuda; tiba-tiba Teeza tidak lagi melihatnya sebagai seorang bocah—kini begitu dekat. Teeza merasakan jantungnya berdegup kencang, menghangatkan tubuhnya seketika. Dan sepertinya tingkah pemuda itu juga cukup aneh. Dia ingin Teeza buru-buru pergi, tetapi juga masih ingin menahannya. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu ragu.
“Kenapa, Ramir?” Teeza pun bertanya lirih.
“Kau … kau tidak marah aku masuk ke dalam mimpimu?”
Teeza termangu. “Kau benar-benar bisa masuk, dengan sengaja?”
“Biasanya?”
“Ya. Maksudku …” Ramir kembali tampak kebingungan. “Aku pernah … mmm … beberapa kali … masuk ke mimpi orang lain, tetapi biasanya tidak sengaja. Tadi ini berbeda. Aku memaksa diriku, mengeluarkan tenagaku sampai aku lelah, dan aku memohon, pada kakekku dan … Tuhan, supaya aku bisa masuk ke dalam mimpimu, dan … begitulah. Aku sendiri tidak percaya ini benar-benar bisa—”
“Sebentar. ‘Tuhan’, kau tadi bilang?” Teeza memandangi Ramir lekat-lekat. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih jauh tentang itu, tetapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat. “Baik.” Ia mengangguk. “Maaf, aku belum paham ceritamu, tetapi tidak masalah. Aku tidak marah kau masuk ke dalam mimpiku, kalau memang benar begitu.”
Ramir menelan ludah. “Ini bukan kejadian yang pertama kali, maaf, kalau kau ingin tahu. Aku pernah masuk ke dalam mimpimu yang lain.”
“Kau …” Teeza menatapnya tajam, “... serius?”
Ramir mengangguk. “Malam sebelum aku membawamu dari sungai, saat dulu kau terluka, aku juga masuk ke dalam mimpimu. Aku tak tahu apakah kau ingat atau tidak. Mungkin tidak, karena itu hanya mimpi, dan mimpi gampang terlupakan. Bahkan aku juga sempat lupa. Kau bermimpi tentang dirimu. Di negerimu, yang dingin. Ada danau es. Kau, dan teman-temanmu … bermain dengan papan kayu. Kemudian, kau hampir tenggelam di danau itu ...“
“Tunggu.” Teeza meletakkan telunjuknya di bibir Ramir. Ia menatap pemuda itu beberapa saat, lalu mengangguk. “Ya ... mungkin aku ingat ... Wajahmu. Kau … yang menarikku, keluar dari danau itu.” Ia tersenyum. “Ya, aku rasa itulah jawabannya, kenapa selama ini aku selalu merasa terganggu! Itu karena aku pernah melihatmu sebelumnya. Rupanya di mimpi itu. Terima kasih, Ramir …”
“Aku datang karena kau yang memanggilku.”
“Aku memanggilmu?”
Ramir mengangguk. “Kau tidak ingat apa yang kaukatakan saat itu? Dalam mimpimu?”
__ADS_1
Teeza terdiam, lalu menggeleng. “Tidak. Apa?”
“Arante …” Ramir menggenggam lengan gadis itu dan mengucap lambat-lambat, “Arante rei kui tanara.”
Teeza terpana. Sepotong kalimat itu, sebuah doa, sudah lama sekali tak pernah ia dengar, bahkan dari mulutnya sendiri. Ia tak ingat kapan terakhir kali mengatakan itu. Ketika menghabiskan berbulan-bulan waktu pelarian bersama Naia, ia tak pernah lagi mengucapkannya. Tidak juga saat ayah Naia tewas di Ebla. Setelah semua kejadian buruk yang menimpanya Teeza sudah hampir tidak yakin pada pertolongan dan berkat dari Tuhan.
Kini Ramir berkata bahwa Teeza mengucapkannya baru-baru ini, dalam mimpi?
“Kau tidak percaya ucapanku ...” kata Ramir lirih.
“Sulit.”
“Kenapa?”
“Terlalu … aneh bagiku. Kau yakin, Ramir, aku mengucapkan kata-kata itu?”
“Aku …” Ramir menunduk. “Sebenarnya hanya kalimat pertama yang kuingat jelas. Kata-kata berikutnya, Putri Naia yang kemudian memberitahuku.”
“Kau kenal Putri Naia juga?”
“Y—ya.”
Teeza termangu. Ia ingin bertanya lebih jauh soal Naia, apakah gadis itu baik-baik saja, tetapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat juga. Lagi pula keraguannya terhadap kata-kata Ramir justru mulai timbul. “Benar kau mendengar kata-kata itu dariku? Atau sebenarnya hanya Naia yang bilang padamu? Kau tidak membohongiku, kan?”
“Tidak! Aku benar-benar mendengarmu mengatakan itu!”
“Begitu? Baik. Sudahlah.” Teeza menarik dirinya menjauh dari Ramir, lalu memaksa dirinya tersenyum. “Lupakan saja. Kita ada urusan lebih penting, bukan? Kau bilang tadi aku harus segera bangun?”
“… Ya, betul.”
“Baik. Tetapi ...” Teeza menoleh lagi ke belakang. “Tidakkah menurutmu seharusnya aku mencoba masuk ke dalam cahaya terang itu, Ramir? Jika aku ingin bangun?”
“Jangan.” Ramir menggeleng. “Cahaya itu hanya akan membawamu masuk ke ... mmm ... mimpi yang lain.”
“Kau bilang tadi kau tidak tahu itu,” tukas Teeza. “Ternyata kau tahu?”
Ramir menggaruk-garuk kepalanya. “Tidak, aku tidak tahu.”
“Ah, sudahlah.” Teeza mendengus. “Mungkin itu bukan apa-apa. Sekarang aku ikuti cara kunomu saja. Mencubit lenganku untuk membuatku terbangun!”
“Itu bukan cara kuno. Aku juga biasa melakukannya.”
Teeza tak menanggapi ucapan Ramir yang terakhir, dan melakukannya. Mencubit lengannya sendiri, dan merasakan sakitnya menyebar hingga ke sekujur tubuh.
__ADS_1