Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 102 ~ Harapan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 102 ~ Harapan


Karya R.D. Villam


 


---


 


Nahim dan pasukan kecil dari Kubah Putih, juga Isfan dan Zandi, menjemput Fares dan rombongannya di hari kedua perjalanan setelah mereka berhasil keluar dari Gua Gharoul. Bersama-sama mereka lalu terus ke timur, dan setelah beberapa hari akhirnya mereka tiba di Gerbang Sungai Tigris. Di sana Javad sudah menunggu dengan pasukan yang lebih besar, dan seperti kata Davagni, selama itu pula tak ada pasukan Akkadia yang mengejar. Tampaknya makhluk kelabu yang kini menyatu dengan bumi itu telah menakuti-nakuti orang-orang Akkadia sedemikian rupa sehingga mereka tidak berani lagi mendekat ke Sungai Tigris. Jadi, ini seharusnya menjadi perjalanan pulang yang menyenangkan.


Tetapi Fares harus jujur pada dirinya sendiri, ia punya kegelisahan. Selama tiga hari ia belum sempat berbincang dengan Naia. Selama perjalanan gadis itu lebih banyak diam, dan saat beristirahat pun lebih banyak melamun, memandang jauh entah ke mana. Awalnya Naia melihat ke barat, dan Fares berpikir bahwa dia sedang terbayang pada negeri mereka yang telah hancur di sana, tetapi kemudian dia memandang ke timur, dan Fares tak tahu.


Mungkin sebaiknya ia memang tak perlu menebak. Berkata langsung pada Naia akan lebih baik. Tetapi sayangnya kesempatan untuk berbicara itu belum datang, atau mungkin, tak akan pernah datang. Fares memukul kepalanya sendiri. Ia tahu, ia harus menghilangkan segala macam keraguan, dan kembali menjadi dirinya yang dulu, yang selalu ceria dan banyak omong. Jika ia ingin berbicara, ia harus membuat kesempatannya sendiri.


Maka siang itu di puncak bukit Fares memberanikan diri. Mereka telah menyeberangi Sungai Tigris kemarin petang, dan tidur nyenyak sepanjang malam. Juga, Javad telah berbincang lama dengan Naia seusai sarapan, maka tentunya sekarang adalah hak Fares, bukan?


Di tempat sepi Naia tengah duduk memeluk kedua lututnya, sambil memandang lembah luas jauh di utara. Terik matahari terhalang oleh rindang pepohonan di atas kepalanya. Ketika mendengar Fares mendekat, gadis itu menoleh dan memberinya senyuman manis.


Fares gembira, karena itu tandanya Naia cukup senang menerima kehadirannya.


“Kau ingin bicara, Fares?” Mata gadis itu menatapnya lekat.


“Ya.”


“Kenapa baru sekarang?”


“Kenapa ...?” Fares duduk di sebelah Naia sambil meringis. “Karena … hmm, ya karena sepertinya kau tidak ingin berbicara padaku sebelum ini. Jadi bukan sepenuhnya salahku.”


Naia termangu, tidak menjawab. Ia kembali menerawang jauh, lalu terdiam.

__ADS_1


Fares membiarkannya beberapa saat, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang mulai meningkat lagi. Melihat suasana hati Naia, Fares tahu sebaiknya ia menemukan kata-kata yang benar saat berbicara, tapi di sisi lain tetap santai dan tidak terlalu serius.


Pelan-pelan ia berkata, “Kali ini kau melamun ke utara, jadi kutebak saja, kau sedang teringat pada rakyat kita yang ada di sana. Jangan khawatir, kurasa mereka baik-baik saja.”


Naia mengangguk. “Sudah cukup lama kita pergi, aku hanya ingin bertemu mereka .... Tetapi … sepertinya belum bisa sekarang. Masih lama, aku tidak tahu …”


“Jadi benar, kau akan kembali ke Kubah Putih?”


“Besok pagi. Dan maaf, Fares, kau tidak ikut.” Naia menoleh. Ia menghela napas panjang. “Kau tentunya tahu, itu syarat mereka. Aku harus pergi sendiri, hanya ditemani Nahim dan orang-orang Kubah Putih lainnya. Lagi pula kau tak bisa melihatku lagi di sana. Aku harus masuk ke ruang suci, dan tak boleh bertemu siapa pun selama aku berada di dalam.”


“Kau akan tinggal di sana? Sampai kapan?”


“Entahlah. Mungkin sampai Tuhan mengampuniku, dan mengembalikan diriku seperti semula. Tanpa kutukan itu lagi.”


“Ya, tetapi sampai kapan?”


Naia seketika menoleh, tampak sedikit kesal. “Aku juga tidak ingin lama-lama!”


Gadis itu menghela napas lagi dalam-dalam. “Aku … minta maaf juga. Parvez bilang cara menyucikan diri semacam itu bisa menolongku. Jadi tidak perlu lagi alat semacam Medali Putih, yang ternyata terbukti hanya berguna sementara. Memang prosesnya sekarang akan lebih lama, tetapi kemungkinan bisa berhasil menghilangkan kutukan itu sepenuhnya.”


“Ya ... itu bagus. Sepertinya memang hanya itu jalannya.” Fares termenung, walaupun sebenarnya ia belum begitu paham. Ia memandang ke bawah, ke arah lelaki jangkung berkulit gelap yang sedang berbicara dengan para prajurit di kaki bukit. “Dia … Javad, tidak keberatan?”


“Hmm? Memangnya kenapa dia?”


“Maksudku, mmm ... bukankah dia hendak menikahimu, segera? Tentunya—”


“Memangnya apa pedulimu?” Naia bertanya dengan suara lebih tinggi.


Kening Fares berkerut. Ia memandangi Naia yang menatapnya tajam, lalu berusaha menjawab, “Aku? Tentu saja aku senang, jika kau senang.”


“Begitu? Kau senang aku segera menjadi permaisurinya? Dan tinggal selamanya di istananya, bersamanya?”


Fares tercenung, lalu tersenyum pahit. “Dan setelah itu, aku … tidak akan pernah bisa menemuimu lagi, dan berbincang-bincang, seperti sekarang?”

__ADS_1


“Ya, kelihatannya begitu. Kau senang seperti itu?” Sorot mata Naia meredup. “... Atau sebenarnya tidak?” Ia menggeleng-geleng sedih. “Mungkin ... sudah waktunya kau berkata apa sebenarnya yang kau pikirkan, Fares. Atau … mungkin kau memang senang.”


“Aku tidak senang, Naia!” seru Fares akhirnya.


Gadis itu kembali menatapnya. “… Kenapa?”


“Karena aku menginginkanmu, demi Tuhan!” Dada Fares naik turun kala ia berusaha menahan emosi. Awalnya ia gugup, namun setelah kalimat pertama terucap ia merasa lebih lepas. Mungkin, ia memang harus melepaskan semua yang ingin ia katakan. “Ya, seperti itulah, jika kau ingin tahu. Tetapi apakah perlu diucapkan, sementara kita tahu itu tak mungkin? Pernikahanmu dengan Javad penting, bukan hanya karena ayahmu menginginkannya, tetapi juga karena rakyatmu membutuhkan itu. Kerajaan Awan adalah pelindung rakyatmu, dan kau selalu bilang bersedia mengorbankan apa pun demi mereka. Bukan begitu?”


Naia menggeleng-geleng. “Fares …”


“Ya, Naia?”


“Kau senang menyakiti aku?”


“Apa? Tentu saja tidak! Tak pernah aku terpikir untuk menyakitimu!”


“Maka berhentilah mengucapkan kata-kata panjangmu tadi! Semua itu benar, tentu saja aku tahu! Tetapi aku tak ingin mendengarnya, atau memikirkan itu sekarang! Aku … hanya ingin mendengar kalimatmu yang pertama. Bahwa kau menginginkan aku ...”


Fares memandangi gadis itu beberapa lama. Perlahan ia tersenyum, mengangkat tangannya, dan membelai lembut pipi kanan Naia. “Ya, maafkan aku, Naia.”


Naia menggenggam telapak tangan Fares dengan kedua tangan dan memejamkan matanya. “Aku ingin hal itu saja yang kita ingat, di sisa waktu kita saat ini.”


Fares terdiam, lalu mengangguk. “Ya.”


“Dan mungkin ... ini pun bukan akhir.” Senyum Naia tiba-tiba melebar. Matanya membuka dan kembali bercahaya. “Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, bukan? Pada akhirnya, Tuhan mungkin akan memberi kita jalan, siapa tahu. Kita hanya perlu berusaha, dan berdoa, lalu menyerahkan pada takdir. Kita ...” bibir gadis itu bergetar dan matanya berair, “masih punya harapan, bahwa suatu hari nanti … kita mungkin akan bersama.”


“Harapan.” Fares mengangguk. “Ya, mungkin. Tapi seperti kau bilang, itu pun sebaiknya jangan kita pikirkan sekarang. Cukup satu ini saja yang kau ingat, sekarang, dan sampai kapan pun nanti.” Ia memeluk tubuh gadis itu erat-erat. “Bahwa aku mencintaimu.”


Dengan lembut ia mencium kening Naia.


 


 

__ADS_1


__ADS_2