
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 72 ~ Makhluk Terpilih
Karya R.D. Villam
---
“Selamat siang, Nergal.”
Naia duduk di depan makhluk itu dan melirik sejenak ke belakang. Fares, Javad, Rifa, Isfan dan Zandi ikut duduk. Namun mereka hanya memandanginya, tak berani mendekat. Naia memandangi Nergal lagi. Selama beberapa saat keduanya hanya saling menatap.
“Hamba lihat Tuan Putri akan segera kembali ke tanah Elam,” akhirnya Nergal berkata.
“Tak ada lagi yang bisa dilakukan di sini. Kami sudah kalah,” balas Naia tajam. “Tadinya aku berharap kau bisa membantu kami memenangkan perang. Memang sempat berhasil, tetapi hanya di awal. Setelah pertempuran pertama kau pergi. Kupikir kau akan mampu membunuh Rahzad. Namun sepertinya tidak. Pasukan Akkadia memukul balik dan menghancurkan kami. Di mana kau selama itu?”
“Tuan Putri, kau mengira Rahzad yang memimpin pasukan Akkadia yang terakhir itu? Yang menghancurkan kalian?”
Naia terdiam, lalu menggeleng. “Aku tidak yakin. Jika Rahzad yang memimpin pasukan, dia pasti akan berada di garis depan. Kami tidak melihat sosoknya. Lalu, apa yang terjadi? Apakah dengan tiadanya dia aku bisa percaya bahwa kau telah membunuh Rahzad?”
“Apakah kau percaya?”
Naia tertegun mendengar pertanyaan balik Nergal. Apakah ia percaya?
Tetapi ia lalu teringat hal lain. “Ingat, selain membunuh Rahzad, aku pun memintamu, memerintahkanmu, untuk membawa Teeza padaku hidup-hidup. Apakah kau melakukannya juga?”
“Apakah kau percaya?”
“Apa maksudmu aku percaya?!” Kekesalan Naia langsung memuncak. “Aku bertanya apakah kau melakukannya atau tidak? Sesuai perintahku! Seharusnya kini giliranmu yang bercerita, apa yang sebenarnya terjadi selama ini!”
__ADS_1
“Hamba akan bercerita.” Nergal mengangguk-angguk. “Hamba bukannya tidak berusaha membunuh Rahzad. Hamba memburunya, bersama anak buah hamba yang tersisa. Tetapi ternyata dia tangguh melebihi dugaan, dan mampu membunuh seluruh anak buah hamba. Jadi maafkan hamba, jika tidak berhasil memenuhi keinginan Tuan Putri.”
“Apakah itu berarti kau tidak berguna?”
“Hati-hati, Tuan Putri.” Nergal balik menatap tajam, membuat Naia merinding. Ada sesuatu yang berbahaya di sana, di balik sorot mata merah makhluk itu.
Tetapi kemarahan Naia telah menutupi rasa takutnya. Ia kembali berseru, “Apakah berarti sia-sia aku memanggilmu? Atau justru kau … menyembunyikan sesuatu? Ingatlah bahwa aku yang telah memanggilmu. Kau seharusnya patuh! Jadi jangan mengancamku!”
Nergal menggeleng. “Hamba tidak mengancam, hamba hanya mengatakan hal itu demi kebaikan Tuan Putri sendiri. Ketika hamba bilang ‘hati-hati’, maksud hamba adalah supaya Tuan Putri benar-benar berhati-hati, supaya Tuan Putri tidak lagi mendatangkan bencana, seperti saat tengah malam kemarin.”
“Apa …?” Naia tertegun. “Kau … tahu?”
“Tentu saja hamba tahu. Ribuan manusia … semuanya binasa oleh mata itu. Matamu. Hamba melihatnya.” Senyum Nergal melebar. “Dan hamba tertawa.”
Tertawa? Naia terhenyak. Jantungnya berdetak kencang semakin kencang. Rasa takutnya kini mencuat. Bibirnya bergetar. “Apa … apa maksudmu tertawa?”
“Persis seperti itulah maksud hamba. Hamba melihat, dan tertawa. Kau sendirian berhasil membunuh lebih banyak orang dalam satu kesempatan dibandingkan yang pernah hamba lakukan sebelum ini.” Nergal menyeringai. “Seribu nyawa tercabut, itulah rekor hamba, dan itu sudah lama sekali, untuk ukuran kalian. Beratus-ratus tahun yang lampau. Bayangkan. Tak disangka, ternyata Tuan Putri yang berhasil memecahkan rekor itu sekarang.”
“Kenapa tidak? Bukankah mereka yang mati itu musuhmu?”
“Ya ... Tetapi …”
“Kalau begitu apa yang membuatmu gundah? Bukankah seharusnya kau senang, karena bisa pulang dengan selamat? Apakah kau sedih karena telah menjadi … makhluk terkutuk?”
Naia terpana. “Kau … kaulah yang terkutuk!”
Nergal tertawa. “Hamba tak akan membantah itu. Memang seperti itulah hamba. Dan itu pula dirimu, Tuan Putri. Bukan begitu? Kau telah kembali menjadi seperti dulu.”
“Tidaaak!”
“Ya, sebenarnya memang tidak begitu. Istilah ‘terkutuk’ itu toh hanya buatan kalian, para manusia. Namun hamba lebih tahu yang sebenarnya. Kita bukan makhluk terkutuk, Tuan Putri Naia. Kita makhluk terpilih, kalau kau mau tahu.”
“Tidak!” Naia mulai menangis.
__ADS_1
“Tuan Putri,” Nergal menggeleng tak sabar. “Hamba sarankan Tuan Putri untuk tetap tenang, dan cobalah untuk lebih menerima kenyataan. Hamba tak punya waktu menemanimu, hamba harus pergi. Urusan kita berdua sudah selesai.”
“Rupanya ... kalian memang telah menjebakku,” kata Naia penuh emosi. “Kau, dan Davagni! Kalian berdua bersekongkol, membuatku memanggilmu keluar dari duniamu. Terkutuk! Jangan kau kira urusan kita berdua sudah selesai. Aku akan menghancurkan Davagni, kemudian menghancurkan dirimu!”
“Seperti niatmu menghancurkan Rahzad, dan juga pasukannya?” Nergal mencibir. “Berhasilkah? Lihat, begitu banyak dendam yang ada pada dirimu. Yang terjadi kemudian kau justru memupuk dendam pada begitu banyak orang yang kini membencimu. Apakah hamba menjadi tidak suka? Justru hamba senang. Hamba suka orang-orang yang penuh dendam.” Nergal tertawa keras, lepas namun dingin. “Lalu kau ingin melampiaskannya pada hamba? Ketahuilah, Tuan Putri, kau bukan lagi lawan sepadan untuk hamba. Kau telah menghancurkan satu-satunya benda yang bisa menyakiti hamba. Medali Putih yang dulu ada di lehermu. Kaupikir bisa mendapatkan benda lain untuk menggantikannya? Tidak, tak ada yang lain. Orang-orang Kubah Putih tak bisa lagi membantumu, itu pun jika mereka masih ingin membantu. Cerita kalian sudah tamat. Selanjutnya adalah ceritaku. Duniaku.”
Naia terdiam. Ketakutan benar-benar mencengkeramnya saat ini. Ketakutan yang berbeda dibanding rasa takut yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ketakutan membayangkan dirinya sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kehancuran dunia. Ia mengangkat kepalanya, bertanya lirih, “Nergal, apa yang sebenarnya kau inginkan?”
Nergal tertawa. “Sederhana saja. Aku ingin membuat lebih banyak orang seperti dirimu. Ya, itu hanya salah satu, masih ada yang lain. Tetapi hal yang lain itu pun sama saja. Intinya hamba ingin membuat sesuatu yang bisa membuat hamba tertawa bahagia, seperti sekarang. Tentunya hamba berharap itu sampai akhir masa, di mana hamba ingin menjadi makhluk yang tertawa paling akhir. Karenanya, bagaimanapun hamba harus berterima kasih padamu, Tuan Putri. Jika bukan karena dirimu, hamba tak akan bisa lagi turun ke tanah manusia dan berbuat sesuatu yang nyata. Hamba berutang budi. Tetapi jangan salah, hutang itu sudah terbalas kemarin.” Nergal melepaskan tatapannya dari Naia dan memandangi orang-orang di belakang gadis itu. “Hamba berkata pada komandan pasukan Akkadia agar tak lagi mengejar kalian dan kembali ke barat. Itulah kenapa kalian bisa bebas pergi dan selamat sampai ke sungai ini. Hamba tak membutuhkan ucapan terima kasih, tentu saja. Anggap saja kita impas.”
“Kau …” Naia tercengang, “... bekerja sama dengan Akkadia?”
“Tidak.” Nergal menggeleng, meremehkan. “Komandan pengecut itu hanya takut pada hamba, makanya dia setuju. Seperti hamba bilang tadi, hamba punya tujuan lebih besar daripada sekadar peperangan kalian. Selain juga bahwa hamba adalah sosok yang pemurah.”
“Kau terkutuk!”
“Ya, ya, ya.”
“Tuhan mengutukmu! Mungkin bukan aku … ya, pasti bukan aku … tetapi seseorang yang lain. Dia akan menemukan cara untuk menghancurkanmu. Bukan kau yang akan tertawa paling akhir!”
“Ya, mungkin.” Nergal termangu. “Memang ada satu orang yang berbahaya.”
“Rahzad. Kau takut padanya.”
“Rahzad?” Nergal langsung mencibir dan tertawa. “Haha! Tidak. Kalau dia, aku akan menemukan cara untuk membunuhnya nanti. Itu akan membuatmu gembira juga pada akhirnya, bukan? Tetapi sebenarnya itu bukan urusanmu lagi, Tuan Putri. Itu urusan hamba, yang membuat hamba terpaksa harus bekerja. Ya, bekerja. Maaf, hamba harus pergi sekarang.”
Makhluk itu berdiri, dan tiba-tiba Naia merasa malu. Ia kini tak mungkin berani lagi memandang wajah Fares, Javad, Rifa dan semua temannya yang lainnya.
“Oh, dan tentang Davagni, yang kaubilang akan kauhancurkan tadi, Tuan Putri, hamba punya pesan terakhir. Berhati-hatilah. Kau tentu tak ingin membuat kesalahan berikutnya.”
__ADS_1