
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 95 ~ Adik dan Kakak
Karya R.D. Villam
---
Suara teriakan Naia membuat Elanna yang berada jauh di seberang gua berpaling. Wajahnya tampak terkejut. Namun hanya sesaat. Gadis berambut emas itu berdiri, lalu melompat turun ke dasar gua, di belakang si ratu gharoul.
Fares memaki. “Dia hendak memancing gharoul itu supaya tidak mendekati Teeza! Aku harus turun juga sekarang! Membantu dia! Ke mana jalannya, Bashek?!”
“Ada—ada tangga di sini, Tuan.” Gugup, Bashek menunjuk ke celah sempit di sebelah kiri. “Tetapi di tengah tebing kau harus melompat turun juga. Dan begitu sampai ke dasar kau tak akan bisa naik lagi kemari, karena dasarnya terlalu dalam.”
“Ini berbahaya ...” Naia menggeleng khawatir. “Kita harus pikirkan dulu—“
“Aku tahu, tapi tak mungkin aku membiarkan Elanna dan Teeza di bawah!” balas Fares.
“Tali! Bashek, kau pasti punya tali di sini!” seru Naia. “Cari! Sekarang!”
“Y—ya,” jawab orang itu gugup.
“Aku ikut Bashek,” tukas Rifa. “Sebenarnya aku lebih senang turun bersama Fares, tetapi masalahnya aku tidak percaya pada orang ini!”
“Ya. Dapatkan talinya, Rifa,” kata Fares setuju. “Atau aku tak akan bisa naik lagi nanti.”
Bashek dan Rifa pergi untuk mencari tali, sementara Fares mulai menapaki anak tangga di dinding gua. Sempit dan licin, ia merayap turun, dan harus berhati-hati supaya tidak sampai tergelincir. Setelah turun beberapa langkah ia melongok ke bawah, mencari di mana ia harus melompat. Namun sekali lagi getaran keras terjadi. Kakinya tergelincir. Cepat-cepat ia meraih sebuah batu yang menonjol di dinding, berpegangan sekuat tenaga.
Naia mengulurkan tangannya. “Naik, Fares! Naik saja! Kau tak mungkin turun sekarang. Tak ada jalan lagi. Lebih baik kita menunggu tali dari Rifa!”
Apa boleh buat, tampaknya pendapat Naia benar. Fares meraih tangan gadis itu lalu berusaha naik lagi ke bibir tebing. Ramir ikut membantu menariknya. Berhasil. Di atas Fares kembali menatap ke bawah. Elanna dan ratu gharoul kini sudah saling berhadapan.
“Dia butuh senjata!” Fares menggeram. “Gadaku takkan bisa membantu. Di tangannya itu hanya akan menjadi tongkat besi biasa!”
“Kalau begitu pedangku,” sahut Naia. “Elanna! Pakai ini!”
Ia melemparkan pedangnya. Pedang itu melayang, dan jatuh tak jauh di dasar gua, di sebelah kanan wanita Kaspia itu.
Sesaat Elanna tertegun, kemudian cepat-cepat mengambil pedang itu sambil melempar senyum. “Terima kasih,” gadis itu berteriak, “siapa pun kau, Nona!”
“Aku Naia!”
“Putri Naia?” Elanna berseru seraya mengangguk. Senyum pendeknya tersungging. “Aku kenal ayahmu.”
Ratu gharoul, yang selama beberapa saat sepertinya masih bingung melihat semua yang baru saja terjadi, kini meraung, marah melihat musuh di depannya yang kini memegang senjata. Makhluk itu menunduk, siap melompat. Sambil meraung dia menerkam. Elanna cepat-cepat menghindar ke kiri, namun gharoul raksasa itu langsung mengayunkan lengan kanannya begitu mendarat. Beruntung Elanna masih sempat mundur, sehingga cakar sang makhluk hanya menyentuh tipis di depan dada gadis itu.
Cakar kiri ratu gharoul ikut terayun. Kali ini Elanna menunduk, lalu menebasnya ke atas secepat kilat dengan pedangnya. Ia terkejut ketika melihat serangannya itu ternyata tidak mempan. Tak ada goresan sedikit pun di lengan si makhluk terkutuk! Gharoul itu bahkan membalas dengan dua buah ayunan lagi. Elanna berhasil menghindari yang pertama, tetapi ayunan yang kedua, cakarnya, menghantam telak dadanya.
__ADS_1
Gadis itu menjerit kesakitan. Tubuhnya terlempar jauh di udara lalu menghantam dinding gua. Ia jatuh berguling-guling. Terkapar, tak sadarkan diri dengan luka besar di dada.
“Elanna!” Naia menjerit ketakutan.
“Siaaal! Aku harus turun!” seru Fares.
“Kau tak bisa turun! Kakimu bisa patah!”
“Sialaan!” Fares memaki sekali lagi. Ia mengambil sebuah batu besar, lalu cepat-cepat melemparkannya jauh ke bawah, jatuh di samping gharoul raksasa itu. Ia lalu melempar sekali lagi, kali ini tepat mengenai batok kepala makhluk tersebut. “Ya, rasakan itu, keparaaat! Kemari kau, makhluk jelek! Kemari, kau!”
Ratu gharoul itu menoleh, menatap Fares, lalu meraung kencang.
Napas Fares dan Naia tertahan.
“Menurutmu, dia bakalan kemari?” gumam Naia, terdengar sedikit khawatir.
“Aku tak tahu,” jawab Fares. “Ya, mudah-mudahan saja. Seperti gharoul lainnya dia pasti bisa naik merayap dinding tebing, tetapi dia juga pasti tahu tak bakalan bisa melewati celah sempit ini. Mungkin ia tak akan tertarik ...”
Makhluk itu kembali menoleh ke arah Elanna.
“Ya, benar, dia tak tertarik. Sial!” Fares kembali melempar sebuah batu. “Hei! Kemari kau! Sialan! Mana Rifa? Kenapa dia lama sekali?”
Ia menoleh ke belakang, dan tertegun ketika melihat Ramir. Ramir tengah menangkupkan kedua tangannya, terbuka ke atas di depan dadanya. Ada sedikit air di sana, dan beberapa potong kecil daun. Asap tipis mengepul, seolah daun-daun itu tengah terbakar.
“Ramir? Apa yang kaulakukan?”
Ramir tak menjawab. Matanya tertutup, tubuhnya menggigil, mulutnya mengucapkan sesuatu. Dan tiba-tiba ia terjatuh, pingsan.
Ia dan Naia saling memandang, dan akhirnya memilih tak peduli, untuk sementara. Dibanding Ramir, ada yang lebih penting diperhatikan di bawah sana. Ratu gharoul hendak mendekati Elanna kembali, dan sekali lagi Fares melempari kepala botaknya dengan batu.
“Elanna! Teeza!” Naia berteriak terus. “Bangun! Tee … Fa—Fares, apa itu? Kau lihat itu?!” Naia menunjuk ke arah Teeza.
Fares tertegun. Ada orang lain di samping Teeza, kini berjongkok di samping gadis itu sambil membelai wajahnya. Lelaki jangkung bertubuh tegap dan berambut warna emas.
“Itu …” Suara Naia tercekat. “… Rahzad.”
Fares mengerjap beberapa saat, kebingungan. Ia berusaha memahami situasi terbaru ini. Lalu ia mengangguk. “Jadi ... Rahzad inilah orang yang ditunggu Bargesi? Dia … dia mestinya akan melindungi Teeza, kan? Juga Elanna? Wanita itu kakaknya!”
“A—aku tak tahu,” suara Naia pelan, ketakutan. “Yang jelas dia melihat kita.”
Keduanya terpaku melihat Rahzad yang tengah menatap lurus ke arah mereka. Lelaki itu kemudian berdiri dengan susah payah. Pedang besar tergenggam di tangan kanannya. Yang mengejutkan, ternyata luka besar tampak juga di dada, perut, lengan dan kakinya. Tubuhnya bersimbah darah, wajahnya letih. Rahzad benar-benar seperti seseorang yang baru saja lolos dari maut, entah apakah itu menang, atau justru kalah perang.
“Hei! Makhluk keparat!” Lelaki jangkung itu berseru pada si ratu gharoul. Begitu lawannya itu menoleh, ia mengacungkan pedangnya. “Akulah lawanmu sekarang!”
“Grrraaahhh!” Si gharoul raksasa meraung keras. Ia menatap Rahzad, sepertinya paham bahwa lawannya kali ini punya kekuatan yang jauh berbeda dibanding yang lainnya.
Makhluk itu menunduk dan merayap tiga langkah, seperti berusaha mencari celah untuk menyerang, kemudian mendadak berlari dan lompat menerjang.
Terhuyung-huyung, Rahzad berhasil menghindar ke kiri sambil mengayunkan pedangnya ke samping. Ia gagal melukai gharoul itu, hingga lawannya itu punya kesempatan menyerang lagi. Cakarnya menghantam Rahzad. Lelaki itu pun terpelanting.
Fares dan Naia tertegun, tak percaya melihatnya. Bahkan Rahzad, yang dikenal sebagai manusia paling perkasa di dunia, kini pun kepayahan menghadapi makhluk ini?
__ADS_1
Fares melirik gadis di sampingnya. Gadis itu tampak ragu.
Apakah Naia berharap Rahzad hidup, atau mati?
Ratu gharoul kembali meraung. Dia melompat lagi dan menerkam. Dia mendarat di atas tubuh Rahzad. Sepasang taring tajamnya mendekati leher lelaki itu. Tetapi lenguh kesakitan kemudian tersembur dari dalam mulutnya.
Suara hentakan keras terdengar. Rahzad rupanya balik meninju perut makhluk itu, lagi dan lagi, berkali-kali. Setelah beberapa pukulan, ia kemudian menendang dengan kedua kaki hingga tubuh gharoul itu terlempar ke belakang.
Rahzad bergeser, menggerakkan tubuhnya yang terbaring dengan susah payah sambil meringis kesakitan. Ia lalu merayap, coba meraih pedang yang tergeletak tak jauh di dekatnya.
Terlambat. Ratu gharoul rupanya sudah sadar pula. Dia kini bangkit, menggeram dengan tatapan marah ke arah Rahzad, dan kembali menerkam. Rahzad menangkis dengan tangan kanan seraya menghajar rahang lawannya. Namun pukulannya sudah melemah jauh dibanding tadi. Makhluk itu bergeming seolah tak merasakan apa-apa, lalu menggigit tangan Rahzad.
Rahzad menggeram, menahan sakit. Tangan kirinya menggapai-gapai, dan akhirnya berhasil meraih pedang incarannya sejak tadi. Ia langsung mengarahkannya ke makhluk di atasnya, lalu menghunjamkannya, telak di dada makhluk itu. Jerit kesakitan sang ratu gharoul melengking tinggi. Mulutnya terbuka, seperti berusaha menggigit untuk yang terakhir kali. Segera Rahzad menendang tubuh makhluk itu, kemudian bergeser menjauh ke samping.
Rahzad mengangkat wajah, melihat Elanna yang terkapar di depannya, lalu merayap mendekat, tak sadar bahwa sang ratu rupanya belum mati. Pedang memang masih menancap di perut makhluk itu, tetapi ia punya tenaga untuk berdiri. Makhluk itu menerkam lagi dari belakang. Rahzad tersungkur. Darah muncrat begitu taring gharoul menancap di tengkuknya.
Rahzad sekarat, tetapi ia menolak menyerah. Sikutnya ditarik menghantam perut lawan di belakangnya. Kesakitan, makhluk itu melepaskan gigitannya. Mendapat kesempatan, Rahzad memutar tubuh. Ia meraih dan menggenggam gagang pedangnya yang masih menancap, lalu menusuk dada lawannya lebih dalam. Jeritan gharoul semakin keras, tapi Rahzad belum selesai. Ia menggeser pedangnya, membuat lubang yang semakin besar hingga ke perut makhluk itu.
Suara ratu gharoul meredup. Rahzad mencabut pedang lalu bersiap menghantam.
Namun ternyata ia menahan diri, dan akhirnya memilih melemparkan pedang di tangannya. Rupanya makhluk itu sudah tewas. Rahzad keluar dari himpitan mayat raksasa itu, lalu merayap mendekati Elanna, yang masih belum sadarkan diri.
Fares dan Naia terpana, karena di sana, Rahzad menangis.
Selama beberapa saat laki-laki itu memeluk tubuh Elanna, membelai rambut emas dan menepuk kepala kakaknya. Kemudian menunduk, baru setelah itu ia menoleh ke arah Teeza. Ia mencoba berdiri, dengan darah mengalir deras dari seluruh luka di tubuhnya, terutama lehernya. Tertatih-tatih Rahzad berusaha menyeret kakinya, lalu kembali tersungkur.
Saat bersamaan, gua bergetar sekali lagi, dan kali ini lebih keras.
Suara hentakan terdengar di dinding seberang. Beberapa kali, semakin keras, dan akhirnya dinding itu meledak. Batu-batu besar berhamburan, terlontar jauh bahkan mencapai tebing di bawah Fares dan Naia. Satu sosok kelabu muncul dari balik debu, melayang, kemudian jatuh terhempas, tak jauh di dekat Rahzad.
“Davagni!” Naia menjerit.
Makhluk kelabu itu terkapar tak bergerak. Tubuh batunya hancur di sana-sini, berlubang dan berongga di sayap, punggung, lengan atau kakinya.
“Kenapa dia bisa ada di—?”
Pertanyaan Fares tak berlanjut. Di bawah sana pelan-pelan tanduk tunggal Davagni bergetar, dan kepalanya terangkat. Makhluk itu dan Rahzad saling menatap, lalu keduanya mendongak, memandangi lubang besar di di dinding tempat Davagni tadi keluar.
Seseorang yang lain muncul melesat, melompat dan mendarat di dasar gua.
Fares dan Naia terhenyak. Mereka tak mengenali wajah orang yang baru datang itu, yang tubuhnya jangkung dan memakai jubah warna gelap, tetapi mereka mengenali pedang di tangannya.
Nergal. Itu Nergal, walau wajahnya kini tampak jauh berbeda.
Makhluk itu memandang bergantian ke arah Davagni, Rahzad dan Elanna. Semua yang terkapar tak berdaya di depannya. Ia tersenyum, tertawa pendek, kemudian panjang dan keras membahana.
“Aku menang!” serunya. “Aku menang!”
__ADS_1