
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 89 ~ Gua Gharoul
Karya R.D. Villam
---
Ketika Teimush dulu memberi petunjuk di mana letak gua gharoul, ia mengatakan tempat itu berada di balik tebing dan tertutup hamparan hutan lebat. Intinya, tersembunyi.
Namun yang dilihat oleh Teeza tidak sepenuhnya seperti itu. Mulut gua memang terletak di kaki tebing yang menghadap ke utara. Tak tampak dari jauh dan untuk sampai ke sana harus memutari lereng gunung berbatu dan menyeberangi jurang dalam. Walau demikian hamparan pepohonan di sekitarnya jarang dan tidak pula tinggi, atau tidak begitu lebat hutannya. Dan yang mengejutkan adalah adanya ratusan tenda prajurit Akkadia di sekitar tempat itu. Pasti lebih dari lima ratus prajurit. Walaupun dari kesemuanya hanya separuhnya yang tampak, yaitu mereka yang sedang berjaga atau beristirahat di luar tenda.
Teeza dan Rahzad mengamati ratusan prajurit itu dari lereng bukit. Mereka tiba di sana setelah berjalan kaki lebih dari satu hari, dan kini Rahzad menggeleng-geleng tak percaya.
“Bargesi tak pernah berhenti membuatku terkejut,” kata mantan panglima Akkadia itu. “Apa yang sedang ia buat di tempat jauh dan sepi begini? Coba membuat markas baru?”
“Ingat apa yang dikatakan oleh Teimush kemarin, tentang ratusan tawanan Elam yang dibawa kemari? Tentunya para prajurit inilah yang membawa mereka,” jawab Teeza, dengan sedikit menggerutu. “Tetapi, ya, jika melihat tenda-tenda itu, tampaknya mereka memang hendak berdiam di sini cukup lama. Pasti ada tujuan khusus. Ini bukan tempat biasa.”
“Mereka juga bukan prajurit biasa,” balas Rahzad. “Lihat umbul-umbul merah di sebelah sana itu? Mereka prajurit tombak elit, pasukan pengawal khusus Bargesi di Akkad.”
“Maksudmu, mereka sedang mengawal seseorang? Bargesi sendiri, mungkin? Dia ada di sini juga? Rasanya tak mungkin ia pergi jauh-jauh kemari hanya ditemani lima ratus prajurit. Mestinya ada lebih banyak.” tukas Teeza, yang kemudian ragu. “Tapi, mungkinkah?”
“Ia mungkin saja pergi tanpa pengawalan satu orang pun, jika punya maksud terselubung. Ada banyak kemungkinan, jadi lebih baik kita mennggu saat yang tepat untuk mengetahuinya. Malam nanti.”
Teeza menoleh dan memberi Rahzad tatapan tajam. “Ingat, Niordri, aku bukan lagi bawahanmu dan akulah yang punya tujuan kemari. Kau tak berhak mengaturku. Dan ingat bahwa tujuan kita bukan mencari Bargesi, melainkan menyelamatkan orang-orang Elam.”
__ADS_1
“Baik, baik.” Rahzad mengangkat bahu. “Kau punya rencana?”
“Kita tunggu sampai malam.”
“Berarti sama saja dengan rencanaku, kan?”
“Paling tidak akulah yang membuat keputusan.”
Rahzad menyeringai, lalu tertawa pendek. “Kupikir kau akan langsung menyerang. Aku justru senang kalau harus bertempur. Tanganku sudah gatal. Mereka prajurit yang tangguh, pasti pertarungannya seru nanti.”
“Aku tak ingin membunuh lebih banyak lagi.”
“Harapan yang indah. Harapan kosong yang indah.”
Rahzad tertawa lagi, sementara Teeza mendengus.
Maka sejak siang hingga sore hari itu Teeza dan Rahzad hanya menunggu di lereng bukit, mengamati keadaan kubu pasukan Akkadia dari kejauhan. Tak banyak hal menarik yang bisa dilihat. Setelah berlatih tombak para prajurit beristirahat dan bergurau sambil mulai menghidupkan api unggun. Menjelang petang Rahzad menunjuk salah satu tenda yang terletak di dekat mulut gua, yang tampak sedikit lebih besar daripada tenda-tenda lainnya.
“Kau tentunya tidak sebodoh ini, kan? Kau tetap mengira Bargesi tinggal di sana dan hanya dijaga oleh empat prajurit?” tukas Teeza.
“Aku tidak bilang Bargesi, walau bisa saja memang daia. Toh ini bukan daerah perang utama, di mana dia butuh banyak pasukan penjaga.”
“Hei, aku bilang lagi, sebaiknya kita langsung masuk ke dalam gua, dan tak usah mempedulikan tenda-tenda itu!” jawab Teeza geram.
“Kalau menurutku, kita lumpuhkan para penjaga dan periksa tenda itu dulu. Percayalah, tak akan lama. Setelah itu kita bisa masuk ke dalam gua dengan lebih santai. Betul?” Rahzad memandangi Teeza, lalu tertawa sambil mengangkat bahu. “Tapi, ah, terserahlah.”
“Baik.” Teeza akhirnya setuju setelah berpikir sejenak. “Kita ke sana.”
Mereka menunggu lagi sampai hari benar-benar gelap, setelah itu berjalan menyusuri punggung bukit, dan akhirnya tiba di bibir tebing. Yakin bahwa tak ada seorang pun prajurit di bawah yang bisa melihat mereka, keduanya lalu merayap menuruni tebing, lincah seperti laba-laba atau kadal gunung, walaupun untuk itu Teeza terpaksa meninggalkan tombaknya di atas. Tak apa, ia masih membawa dua belati panjang di pinggangnya.
__ADS_1
Mereka melompat dan mendarat tanpa suara di belakang tenda. Dua penjaga terdekat dilumpuhkan dengan tangan kosong, lalu dua yang lain. Teeza berharap Rahzad masih punya hati untuk tidak membunuh mereka. Ia bersyukur, sepertinya mereka hanya pingsan. Keempat prajurit itu ditarik ke belakang tenda dan disembunyikan. Tentu saja mereka akan ditemukan nanti, namun paling tidak Teeza dan Rahzad punya sedikit waktu.
Rahzad membuka tirai kemah yang menjadi incarannya dan masuk. Tanpa ragu Teeza menyusul. Kedua belati di tangannya siap menghadapi kemungkinan terburuk. Tetapi di dalam ia tertegun. Ia melihat punggung Rahzad yang berdiri tanpa berkata-kata. Teeza bergeser, dan akhirnya melihat apa yang membuat lelaki itu terdiam.
Di atas karpet kulit rusa yang terhampar di rerumputan tergeletak sebuah pedang. Gagangnya berwarna tembaga dan sarungnya terbuat dari kulit tebal kecokelatan. Baik Rahzad maupun Teeza mengenalinya. Napas Teeza tertahan.
“Itu pedang Elanna. Dia … dia di sini?!”
Rahzad mengangguk. Ia tak lagi menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya, sama dengan Teeza. Keduanya tahu Elanna tak mungkin meninggalkan pedangnya begitu saja. Kecuali, terjadi hal yang sangat buruk padanya.
“Ia dibawa ke gua,” Rahzad menggeram.
“Dia juga hendak dijadikan …?” Teeza takut meneruskan ucapannya, dan Rahzad pun tak berniat menjawab.
Cepat lelaki itu mengambil pedang Elanna lalu menyerahkannya pada Teeza, kemudian berbalik keluar. Teeza bergegas mengikutinya, memperhatikan sekelilingnya, memastikan tak ada yang melihat. Namun Rahzad seolah tak peduli. Dengan satu lompatan lelaki itu sampai di hadapan dua prajurit yang berjaga di mulut gua. Sebelum kedua orang malang itu berteriak Rahzad sudah menghantam wajah mereka, sampai mereka pingsan seketika. Teeza terpana, jelas itu bukan pukulan sembarangan.
Teeza cepat-cepat melompat ke mulut gua dan menahan lengan Rahzad, “Hei, tenanglah! Kita marah, tetapi tak perlu membunuhi mereka. Mereka ini hanya prajurit biasa. Kita bebaskan Elanna, dan juga orang-orang Elam itu, lalu pergi. Itu sudah cukup.”
Rahzad mendengus dan menatap Teeza tak percaya. “Aku heran kau masih saja berpikir sebodoh ini. Bagaimana caranya mengeluarkan ratusan orang tanpa membuat para prajurit ini tahu? Mau tidak mau kita harus membunuh mereka.”
“Kau bisa melumpuhkan mereka, kalau kau mau,” tukas Teeza berusaha sabar. “Kau lebih ahli soal ini. Lagi pula jika kita menyerang dan membuat keributan, itu hanya akan membuat orang-orang di dalam panik. Malah bisa berbahaya buat Elanna.”
“Ssst.” Rahzad tak menanggapi dan menarik Teeza merapat ke dinding. Dari dalam gua tampak enam orang prajurit berjalan mendekat. Dua prajurit terdepan membawa obor.
Rahzad menoleh. Dalam gelap sorot matanya tampak begitu kejam. “Teeza, kita tak mungkin membiarkan mereka keluar dan menemukan para penjaga yang pingsan. Kita harus menyerang. dan jangan kau pikir melumpuhkan tanpa membuat keributan itu mudah.”
Teeza tak sempat menjawab. Para prajurit sudah semakin dekat. Begitu mereka lewat, Rahzad melesat, menghadang dan menghantam dengan tangan kosong. Teeza mengikutinya. Rahzad benar, ini sama sekali tidak mudah. Suara pukulan dan erangan yang terdengar, walaupun singkat, menghasilkan gema yang mungkin meluncur hingga ke dalam gua.
Rahzad menginjak kedua obor, mematikan apinya. Senyuman masamnya terlihat. “Di kesempatan berikutnya sebaiknya kau mengikuti caraku, Teeza, atau kau akan menghancurkan rencanamu sendiri.”
__ADS_1