
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 41 ~ Musuh Dari Utara
Karya R.D. Villam
---
Tubuh Ramir bergetar hebat mendengar ucapan terakhir Elanna. Ia jatuh terduduk di rerumputan. Berbagai macam rasa bercampur di hatinya. Gembira, sedih, juga rindu. Sosok ibu yang selalu dirindukan walau tak pernah dikenalnya, kini akhirnya diketahuinya, walaupun beliau sudah meninggal.
Rifa memeluk bahunya dari samping, namun Ramir menunduk. Ramir tak mau gadis itu sampai melihat air matanya. Elanna, si wanita berambut Emas, ikut duduk di depannya.
"Kau tak perlu menutupi perasaanmu, Ramir,” kata Elanna. “Tidak apa-apa. Perasaanmu wajar. Kau pasti merindukan ibumu, kan?"
Ramir mengangkat wajahnya. “Ya.”
"Kau pasti ingin tahu juga seperti apa sosok ibumu. Saat ia dewasa, dia menjadi gadis yang sangat cantik. Rambutnya hitam bergelombang, panjang. Matanya indah, senyumnya menawan. Dia adalah bunga di pegunungan utara."
"Kau melihat ibuku tumbuh dewasa?"
"Saat ia lahir, dan saat ia telah menikah."
"Berarti ..." senyum Ramir mengembang, "kau tahu ayahku juga?"
Elanna memandanginya beberapa saat. Ia tak menjawab, dan malah berkata hal lain, "Ada hal penting yang harus kuceritakan terlebih dulu. Tak lama setelah aku bertemu Haladir, pengejarku dari Kaspia juga berhasil menemukan aku dan Teeza. Teeza dan Maravi lari membawa Teara, sementara aku dan Haladir melawan orang itu. Tetapi kami bukan tandingannya. Untunglah saat itu di Thalos ada dua sahabat Haladir. Kirvash, pangeran dari Awan, dan Talbrim, pangeran dari Ebla.”
"Kirvash itu ... ayahku," kata Rifa bangga.
"Ya .... Ayahmu." Elanna memandangi gadis Elam itu beberapa lama, seperti hendak menemukan kemiripan wajahnya dengan Kirvash. "Terima kasih untuknya, dan juga Talbrim. Berempat kami berhasil menaklukkan pengejarku itu, dan mendorongnya hingga terhanyut di Sungai Tigris.”
Ramir dan Rifa menahan napas sementara Elanna diam sejenak. Gadis berambut emas itu melanjutkan, "Tetapi aku tahu pasti, pengejarku bukan orang yang akan mati semudah itu. Ia terlalu tangguh, dan aku takut suatu hari nanti ia kembali menemukan aku. Kekhawatiranku semakin kuat, ketika esoknya Haladir berkata, bahwa ia baru saja melihat masa depan melalui mimpinya. Di sana ia melihat sosok pengejarku, yang dalam mimpi datang bersama ribuan prajurit, menyeberangi Sungai Tigris dan menaklukkan negeri-negeri Elam di timur. Haladir percaya, bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan."
Bermimpi. Kakekku punya kemampuan bermimpi seperti aku?
Paling tidak sekarang Ramir tahu dari mana kemampuan bermimpinya berasal!
"Ribuan prajurit?" Rifa bertanya lirih. "Pasukan apa?"
"Menurutmu, Rifa?"
"Akkadia?"
Elanna tersenyum. “Kau tahu, Rifa, tiga puluh tahun yang lalu Kerajaan Akkadia belum didirikan oleh Sargon. Makanya kami semua bingung saat itu, pasukan apa yang akan menyerang Elam. Awalnya aku berpikir itu adalah pasukan dari negeri utara, tempatku berasal. Namun Haladir tak sependapat. Menurutnya, jika dilihat dari bentuk wajah dan tubuhnya, prajurit-prajurit tersebut pastilah berasal dari tanah Sumeria, entah dari negeri mana."
__ADS_1
"Pasti Akkadia," sahut Rifa. "Begundal Sargon keparat! Mereka pikir bisa menaklukkan Elam?!”
"Ayahmu Kirvash percaya ramalan itu. Talbrim dari Elba juga. Mereka berdualah, bersamaku, yang lalu menjadi saksi, saat Haladir menciptakan Dinding dan Gerbang Sungai Tigris, yang diharapkan mampu melindungi Elam dari serangan Akkadia, suatu hari nanti.”
"Kau percaya ramalan itu akan jadi kenyataan?" tanya Rifa.
"Bahwa Akkadia akan menyeberangi Sungai Tigris dan menaklukkan Elam? Aku tak tahu. Tetapi, selama bertahun-tahun setelah dinding itu berdiri, kami percaya bahwa hal itu takkan terjadi. Kirvash dan Talbrim pulang ke negerinya dan hidup tenteram di timur dan di barat. Demikian pula Haladir, Teara dan Maravi yang tinggal di utara."
"Kau sendiri?"
"Aku dan Teeza melanjutkan pengembaraan ke negeri di lembah Sungai Nil, dan bahkan lebih jauh lagi ke negeri orang-orang hitam. Terus terang kami berdua masih takut terhadap pengejar kami, yang mungkin masih hidup, hingga selama bertahun-tahun kami memilih hidup di negeri-negeri yang jauh."
"Sampai berapa lama?" tanya Ramir.
"Lima belas tahun. Hanya lima belas tahun aku tahan.”
"Tahan?" Kening Rifa berkerut.
"Ya. Tahan untuk tak melihat Haladir. Karena kau tahu, Rifa, aku sudah jatuh cinta pada kakek bocah ini," Elanna melirik Ramir sambil tersenyum, "sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Selama lima belas tahun aku tak pernah mampu melupakannya. Aku tak tahan."
"Kau langsung kembali ke Pegunungan Zagros?" tanya Ramir.
"Tidak." Elanna menggeleng. "Aku dan Teeza mampir dulu ke negeri Ebla, di mana Talbrim kini sudah menjadi raja. Rupanya, setelah sekian lama tinggal di selatan yang panas, di negeri yang sejuk dan indah itu Teeza merasa betah. Sebaliknya Talbrim juga mengagumi keterampilan Teeza dalam berpedang dan memanah. Raja itu meminta Teeza tinggal, menjadi pelatih para prajuritnya, dan Teeza setuju. Sementara aku sendiri, tentu saja ..."
"Langsung pergi lagi ke timur?" sambung Rifa.
"Langsung ke rumah Haladir."
Elanna mengangguk. "Ibumu sudah menikah, dan bahkan kau sudah lahir."
Ramir melongo sesaat. “Ah … berarti ... kau juga bertemu dengan ayahku? Siapa namanya? Seperti apa dia?"
"Namanya Bardiro. Ia tampan seperti kau." Elanna tersenyum.
"Tapi tadi kau bilang aku mirip kakekku.” Ramir meringis.
"Kau lebih mirip ayahmu. Tetapi matamu mengingatkanku pada Haladir. Kalian semua bahagia. Haladir menerimaku dengan manis; dia pun merindukanku. Tetapi ..." Wajah Elanna berubah muram. “Kurasa kedatanganku selalu mendatangkan nasib buruk dan bencana.”
Ramir dan Rifa terdiam.
"Haladir berkata padaku bahwa ia takut ramalannya akan menjadi kenyataan. Pasukan yang dilihatnya dalam mimpinya dahulu telah muncul. Kerajaan Akkadia telah berdiri, dan Raja Sargon mulai menaklukkan kota-kota Sumeria di selatan. Hanya soal waktu ia bakal menaklukkan negeri-negeri lain di utara, barat maupun timur. Elam mungkin masih bisa terlindungi oleh Gerbang Sungai Tigris, tetapi Ebla di barat berada dalam bahaya. Saat itulah aku tahu mengapa Talbrim terus berusaha memperkuat pasukannya dan meminta Teeza menjadi pelatihnya."
"Untuk menghadapi kemungkinan serangan Akkadia?"
"Betul. Sebenarnya, Haladir sudah membuat langkah penting sebelum itu. Ia menciptakan duplikat kunci Gerbang Sungai Tigris—entah bentuknya seperti apa, aku tidak tahu—dan menyerahkannya pada Kirvash dan Talbrim. Dengan cara itu, jika nanti Haladir berhalangan, kedua sahabatnya itu bisa langsung melewati Sungai Tigris tanpa perlu kehadiran Haladir. Haladir menyarankan agar Talbrim berlindung di negeri Elam jika Akkadia benar-benar menyerang. Tetapi walaupun Kirvash bersedia menerimanya dengan senang hati, Talbrim menolak dan memilih bertahan di Ebla sambil terus memperkuat pasukan."
"Sepasang duplikat kunci itu kini sudah diwariskan, dari ayahku Kirvash kepada kakakku Javad, dan dari Talbrim kepada putrinya Naia," jelas Rifa. "Akkadia benar-benar menyerang Ebla dua tahun yang lalu, dan Naia menggunakan kunci tersebut untuk menyeberang ke Elam."
__ADS_1
"Aku juga sudah mendengar. Menyedihkan, akhirnya Talbrim tak mampu melindungi negerinya, dan tewas.” Elanna mendesah, menatap kosong ke arah lembah. “Tetapi jauh sebelum itu, kejadian menyedihkan lainnya sudah lebih dulu terjadi. Tampaknya itu gara-gara kedatanganku kembali di Thalos. Ada mata-mata Akkadia yang melihatku dan melaporkan pada panglimanya. Saat itu aku belum tahu kenapa mereka mengincarku, tetapi yang jelas akhirnya pasukan Akkadia datang mengepung rumah Haladir. Ayah dan ibumu ... tewas saat melindungimu, Ramir. Maafkan aku."
Kata-kata terakhir Elanna membuat hati Ramir bergetar. Ini kisah yang memang selalu ingin diketahuinya selama ini. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mengetahui siapa ayah dan ibunya, dan apa yang terjadi pada mereka. Mengetahui bagaimana keduanya meninggal karena melindunginya semakin membuat hatinya tergores dalam. Sebelum ini Abdar Rahtari pernah bercerita bahwa orangtuanya tewas di tangan pasukan Akkadia, tetapi tak pernah mampu menjelaskan lebih lanjut. Kini, akhirnya Ramir tahu.
"Elanna." Ramir mencoba tersenyum sambil berusaha menahan agar air matanya tak turun ke pipinya. "Apa yang sudah terjadi tak mungkin diubah. Aku rasa kau tak perlu menyalahkan dirimu atas kejadian yang menimpa ayah dan ibuku. Hidup dan mati kita sudah ditentukan oleh para dewa, bukan?”
"Ditentukan oleh Tuhan." Elanna menepuk bahu Ramir. "Ah, baru semuda ini, tetapi kau sudah hampir sebijak kakekmu."
"Ya, memang." Rifa menyeringai, menceriakan suasana. "Terlalu bijak untuk bocah seumurnya. Dari mana kau belajar ini, Ramir? Bikin takut saja."
"Takut?" tanya Ramir bingung.
Rifa terkekeh. Sementara Toulip tersenyum-senyum di kakinya.
Ramir bertanya lagi, “Lalu apa yang terjadi?”
"Haladir dan Maravi, sambil membawa dirimu, berhasil kabur dari kepungan pasukan Akkadia, dan bersembunyi di pegunungan. Sementara aku, karena tak ingin membahayakan mereka, memisahkan diri dan kabur lebih jauh ke utara. Itulah terakhir kali aku melihat Haladir, dan juga dirimu, Ramir. Tetapi tiga tahun kemudian setelah aku merasa suasana aman kembali, aku datang untuk menemui Haladir. Ternyata ia sudah meninggal. Demi Tuhan, umurnya belum lima puluh tahun! Seharusnya aku tahu ia menderita luka dalam parah saat kabur dari pasukan Akkadia! Ia tak mau memberitahuku karena tidak ingin membuatku khawatir! Aku memang bodoh!”
"Hei, jangan salahkan dirimu ....” Ramir merinding melihat Elanna yang sebelumnya begitu tenang ternyata bisa emosional juga.
“Tetapi Haladir seorang penyihir!” seru Rifa. “Biasanya penyembuhan adalah kemampuan paling dasar yang mereka miliki. Buktinya ada pada Ramir; ia tak mungkin bisa sehebat ini kalau hanya belajar dari Abdar Rahtari! Kemampuan Haladir diturunkan padanya. Kenapa Haladir tak bisa menyembuhkan dirinya sendiri?”
Elanna menghela napas. "Itu aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena lukanya sedemikian parah. Atau mungkin ada yang lain …”
“Selanjutnya bagaimana?” tanya Ramir.
"Di samping kubur Haladir, Maravi bercerita, setelah Haladir meninggal ia lalu membawa bayi Ramir ke Sungai Tigris dan menyerahkannya pada penyembuh tua bernama Abdar Rahtari. Tentu saja aku mengenali nama itu. Aku lega karena dialah yang akan merawat Ramir. Tetapi saat itu kesedihanku telah mengalahkan seluruh kegembiraanku, hingga aku tak pernah berminat mencarimu ke selatan dan memilih untuk pergi lagi ke utara. Aku membangun rumahku di hutan, tak jauh dari makam Haladir. Hidup seorang diri, sampai nanti kematianku pun tiba. Tadinya kuharap begitu."
"Sekarang ... tidak lagi?" tanya Rifa. "Semangatmu kembali sekarang?”
"Sedikit. Kelihatannya berkat kalian." Elanna tertawa kecil, tampaknya ketenangannya sudah kembali. "Pertama, karena mendengar kabar mengenai Teeza. Sudah sekian lama; aku tahu ia menyayangiku walau kami tak pernah bertemu lagi. Dan kedua, karena kau, Ramir. Aku melihat sosok Haladir di matamu, dan itu adalah penyemangat yang paling hebat. Dan terakhir, mungkin pada akhirnya aku tahu, aku tidak bisa terus bersembunyi. Aku harus menuntaskan dendamku. Sudah waktunya aku membalas, dan tampaknya, sekarang waktu yang paling tepat.”
"Dendam?" Ramir coba menerka. "Pada siapa?"
"Pada orang yang telah menghancurkan seluruh hidupku, dan juga seluruh bangsa di utara, barat dan selatan."
"Pengejarmu? Dari negerimu di utara?" Kali ini Rifa yang menebak. "Ya, betul. Hah! Ada di mana dia sekarang?”
"Oh, dia terkenal. Semua orang pasti mengenal namanya sekarang."
"Siapa?"
"Rahzad, panglima Akkadia."
Rifa ternganga. “Jadi dia sebenarnya ."
Elanna mendengus. "Nama sebenarnya Niordri. Dia adikku."
__ADS_1