
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 33 ~ Pegunungan Utara
Karya R.D. Villam
---
Ramir dan Rifa keluar dari gua sambil memperhatikan para prajurit Akkadia yang masih terlelap di dasar lembah. Seorang penjaga tampak sedang memandang ke atas bukit. Ramir memilih tak mempedulikannya, dan menyusul Rifa yang sudah berjalan mendahului. Mereka menyusuri lereng bukit yang sempit dan berbatu, dengan tebing curam di sebelah kiri, menuju ke utara. Sudah menjelang fajar, dan memang sudah waktunya melanjutkan perjalanan.
Setelah melewati bukit dan anak sungai, mereka akhirnya tiba di Turkar esok petangnya. Kota Turkar terletak di selatan Pegunungan Zagros, dan merupakan kota terjauh di utara yang dikuasai oleh Kerajaan Akkadia, paling tidak itulah yang selalu diakui oleh mereka. Pada kenyataannya, kota itu tidaklah sepenuhnya dikuasai Akkadia. Orang-orang Gutia dari pegunungan dapat bebas memasuki kota dengan membawa senjata tanpa takut. Selain bentuk kota yang menyebar di lereng pegunungan sehingga sulit untuk diawasi, pasukan Akkadia juga lebih banyak berkumpul di benteng mereka yang terdapat di barat. Itulah sebabnya mengapa Ramir dan Rifa kemudian juga lebih banyak bergerak di daerah perbukitan sebelah timur.
Mereka beristirahat sejenak di bawah pepohonan yang rindang di tepi sungai. Ramir menarik tas kulitnya, lalu mengeluarkan sebuah lempengan batu berwarna putih berbentuk bundar, mirip piring, dengan lebar sejengkal. "Kakekku memberikan ini sebelum aku berangkat. Dulu ini diberikan oleh orang asing yang menyerahkan aku pada kakekku."
"Apa itu?" Rifa menggeser duduknya mendekat. Ia melongok, memperhatikan gambar yang tertera di permukaan batu. "Peta?”
“Kau lihat ini?” Ramir menunjuk gambar segitiga di atas gambar bukit dan sungai yang berbentuk seperti petir. “Kurasa kita harus pergi ke sana.”
"Baik. Tetapi bagaimana caranya kita menemukan sungai berbentuk petir? Apa kita harus menyusurinya dari selatan sampai ke utara? Bisa berhari-hari!"
"Kakekku bilang tak jauh di utara Turkar. Kita naik ke bukit yang lebih tinggi, dan sungai berbentuk petir itu bisa terlebih jelas.”
Rifa mengangkat bahu. “Aku ikut saja. Tetapi kita harus hati-hati. Kita semakin jauh dari Turkar, masuk ke negeri orang-orang Gutia. Kita belum tahu perangai mereka seperti apa.”
Mereka berdua, bersama Toulip, mendaki bukit berikutnya. Mereka sampai di puncaknya saat matahari terbenam, sehingga tak mampu melihat apa pun dari sana. Baru esok paginya, ketika hari mulai terang, mereka bisa melihat ke arah sungai yang mengalir di lembah di utara. Dan benar, jauh di bawah mereka, tampaklah aliran sungai yang berbentuk patah-patah seperti petir, yang di kiri dan kanannya dipenuhi oleh batu-batu besar. Di seberang sungai terdapat hamparan pepohonan rimbun, lalu asap putih tipis yang membubung tinggi.
Ramir tersenyum lebar. “Itu yang kita cari. Sepertinya ada rumah di tengah hutan itu.”
Rifa mengangguk. "Kita menyeberang sungai lewat sana.” Ia menunjuk sungai yang menyempit di sebelah timur, yang lebih deras. Di tengah-tengah sungai itu terdapat beberapa buah batu besar yang bisa dilangkahi.
Mereka berjalan menuruni tebing dan lereng curam, sampai akhirnya tiba di tepi sungai yang berbatu, lalu dengan hati-hati menyeberang. Matahari sudah tinggi di puncak ketika akhirnya mereka sampai di seberang dan mulai menerobos hutan. Mereka bisa bergerak lebih cepat dan segera sampai di tempat asal asap yang tadi terlihat. Sebuah rumah kayu kecil tampak di antara pohon-pohon tinggi. Ramir mencium harum daging rusa bakar, yang tampaknya berasal dari arah belakang rumah.
"Uh." Tiba-tiba ia merasakan perutnya keroncongan.
Krriukk. Suara serupa terdengar. Ramir menoleh. Itu suara perut Rifa yang ternyata sama laparnya. Keduanya tertawa geli.
Rifa menyeringai. “Kita datang di saat yang tepat. Kau yakin ini rumah yang kaucari?”
Jantung Ramir berdetak kencang. Benarkah ini rumah yang ia cari? Tempat tinggal orang yang dulu menyerahkan dirinya saat bayi kepada kakeknya? Tempat ia akan mengetahui siapa dirinya sebenarnya?
Rifa menepuk lembut bahu Ramir, menenangkannya. “Ayo. Aku bersamamu.”
Ramir menoleh dan tersenyum. “Terima kasih, Rifa. Ayo.”
Keduanya berjalan ke arah rumah kayu. Toulip mengikuti. Setelah menarik napas untuk menenangkan hati, Ramir mengetuk pintu depan. Mereka menunggu beberapa lama.
__ADS_1
Tirai di balik jendela tersingkap. Tampaknya pemilik rumah itu sedang mengintip. Orang itu tentunya tidak biasa menerima tamu di tengah-tengah hutan seperti ini, dan pasti wajar jika ia berhati-hati. Ramir dan Rifa saling memandang. Tangan si gadis Awan merayap ke pinggang, mendekati belatinya.
"Tunggu, Rifa," kata Ramir lirih. "Jangan."
Rifa mengangguk kecil, tetapi tangannya tetap bersiaga.
Suara berderit terdengar kala pintu dibuka. Ramir menahan napas. Pikirannya lari ke mana-mana; membayangkan orang macam apa yang akan ditemuinya. Apakah dia seorang tua, seperti halnya kakeknya? Gagah dan berwibawa, sesuai dengan cerita kakeknya?
Ternyata yang muncul adalah seorang lelaki separuh baya bertubuh kecil, yang tampak biasa-biasa saja. Rambutnya cokelat, menunjukkan bahwa ia adalah seorang Gutia, bukan orang Elam seperti yang ia perkirakan sebelumnya.
Orang itu bertanya dengan nada waspada, “Siapa kalian?”
"Kami dari negeri Elam," jawab Rifa, "mencari seseorang."
Lelaki itu menatap bergantian ke arah Rifa, dan kemudian ke Ramir, cukup lama. “Siapa yang kalian cari?”
Ramir mengeluarkan batu putih dari dalam tasnya dan menunjukkannya. “Kami mencari seseorang yang dulu memberikan batu ini kepada kakekku.”
Ramir tahu ia sudah mengambil resiko besar dengan jujur menyebutkan maksud kedatangannya. Bisa saja orang di hadapannya ini adalah antek Akkadia, dan kemudian mencelakai Ramir begitu tahu soal negeri Elam dan batu putih ini. Tetapi Ramir pikir, sebaiknya ia mengambil resiko ini, jika ia ingin mencapai tujuannya. Untungnya Rifa juga mengerti bahwa ia harus bersiaga, berjaga-jaga jika terjadi situasi yang membahayakan.
Ekspresi wajah orang tua itu tak berubah saat menatap lempengan batu yang dipegang Ramir, tetapi perlahan senyumannya muncul. “Jadi tuanku dulu memberikannya pada kalian?”
"Tuanmu?" Senyum Ramir melebar.
"Ini simbol nama tuanku.” Orang itu menunjuk gambar kecil di bagian bawah batu putih. Sebuah gambar lingkaran dengan tiga buah pohon di dalamnya.
Ramir mengangguk-angguk. Sebelumnya ia sudah melihat tanda itu, tetapi belum tahu artinya. “Bisakah kami menemui tuanmu segera? Di mana dia?”
Berita itu membuat Ramir dan Rifa terkejut.
Masih kebingungan, keduanya lalu mengikuti Hazeem menerobos hutan lebih jauh ke utara. Sambil berjalan Hazeem bercerita bahwa tuannya bernama Maravi, seorang dari negeri Elam yang telah tinggal di hutan lebih dari lima belas tahun. Hazeem sendiri baru tinggal di rumah ini sepuluh tahun yang lalu, saat Maravi semakin renta dan melemah. Lima tahun yang lalu Maravi meninggal, dan mewariskan rumahnya kepada Hazeem, pelayannya.
"Kau tetap tinggal di tempat yang sepi ini selama lima tahun?” Rifa bertanya tak percaya.
"Ia memintaku.” Hazeem tersenyum. Kedua tangannya menyibak belukar. “Dia pernah menyelamatkan nyawaku, jadi wajar saja, bukan? Selain itu, aku betah tinggal di sini."
"Tetapi kau belum bercerita tentang siapa tuanmu sebenarnya," kata Ramir lirih. "Kenapa ia dulu menyerahkan aku, dan kenapa ia tinggal di sini."
"Kau akan tahu nanti, tetapi bukan dari aku."
Hazeem menjejak bebatuan besar dan mendaki lebih tinggi. Di atas ia berdiri diam, menatap takzim. Ramir dan Rifa penasaran. Mereka cepat-cepat mendaki pula. Ketika telah berdiri di samping Hazeem, keduanya melihat dengan jelas, dua gundukan memanjang berdampingan di kaki sebuah pohon besar, lima langkah di depan mereka. Tumpukan batu di ujung masing-masing gundukan menjelaskan bahwa keduanya adalah kuburan.
"Nah, aku sudah membawa kalian menemui tuanku. Tuanku Maravi ada di sebelah kiri.” Hazeem berjongkok di antara kedua kuburan dan merapikan tumpukan batunya.
Rifa ikut berjongkok, demikian pula Ramir. Sulit menggambarkan perasaan Ramir saat ini. Ia senang akhirnya bisa mencapai tujuannya di utara, tetapi sedih karena tak bisa bertemu orang yang mengetahui rahasia masa lalunya. Ia memandang kedua kuburan itu bergantian, lalu berkata lirih, “Tuan Hazeem, lalu kuburan siapa yang di sebelah kanan ini?”
"Aku tidak tahu.” Hazeem menggeleng. “Kuburan ini sudah sangat lama, lebih lama dari rumah yang dibangun tuanku Maravi. Ia tak pernah menceritakan siapa orang yang dikuburkan ini, tetapi ia selalu merawatnya dengan baik, dengan penuh rasa hormat.”
"Hormat?" gumam Rifa. "Pasti orang penting. Mungkin ..."
__ADS_1
Ucapannya yang menggantung membuat Ramir merinding. "Siapa?" tanyanya setengah berbisik. Namun gadis itu menggeleng. Tampaknya dia ragu dengan perkiraannya sendiri.
"Tetapi nona ini benar, Tuan Ramir," kata Hazeem. "Orang ini memang sangat penting. Menjelang kematiannya, tuanku Maravi berpesan kepadaku agar ia nanti dimakamkan di sebelah kuburan orang ini. Ketika aku bertanya siapa dia, tuanku Maravi menjawab, `orang ini adalah tuanku.'."
"Dia tuan dari Tuan Maravi?" Suara Rifa meninggi.
"Benar. Tetapi hanya itu yang kutahu. Tuanku tetap berahasia sampai kematiannya. Maaf, aku tidak bisa membantu lebih banyak.”
Ramir termangu. "Tidak apa, Tuan. Kau sudah berbuat sangat baik. Tetapi ... berarti ..." Ia menoleh ke arah Rifa dan Toulip bergantian. "Aku tetap tidak bisa tahu asal-usulku yang sebenarnya."
"Jangan menyerah," tukas Rifa. "Kita bisa mencari cara lain."
"Mungkin." Ramir coba tersenyum. "Atau mungkin sebaiknya aku pulang saja, hidup tenang di desaku, tidak usah memikirkan ini."
Toulip mengangkat kepalanya, tertegun.
"Itu tak seperti yang kita rencanakan." Rifa mengancam.
Ramir membalas tanpa takut, “Memang.”
"Hei." Hazeem mengangkat kedua tangannya menengahi. "Aku tak tahu apa yang kalian pikirkan atau rencanakan, tapi aku sudah membawa kalian kemari dan menceritakan semua yang kutahu. Untuk selanjutnya, terserah kalian. Aku akan kembali ke rumahku."
Ramir berdiri pula, disusul Rifa. "Tuan Hazeem, kau tadi sempat berkata bahwa kami nanti akan mengetahui semuanya, tetapi bukan darimu. Apa maksudmu itu?"
Hazeem terdiam. Ia memandang berkeliling ke arah pepohonan lebat, sebelum berkata lirih, “Karena ada orang lain, Tuan, di hutan ini.”
Ramir merinding. “Orang lain?”
Hazeem mengangguk. “Aku belum pernah melihatnya. Dia seperti hantu. Aku tak tahu di mana dia tinggal, tetapi aku tahu dia ada. Bahkan mungkin dia sudah ada di hutan ini jauh lebih lama daripada aku. Aku mengetahui keberadaannya lima tahun yang lalu, setelah tuanku Maravi meninggal. Suatu hari aku menemukan taburan bunga di atas kedua kuburan ini. Dan kemudian di setiap awal bulan, sampai sekarang. Taburan bunga, kalian mengerti?”
Mata Rifa membesar. "Itu berarti si hantu ini adalah orang dekat Maravi dan tuannya! Dia tahu siapa sebenarnya Maravi dan tuannya!”
"Dan juga ..." Ramir menyahut. "... mungkin tahu siapa aku.”
“Betul! Hazeem, kapan orang ini akan datang lagi, menurutmu?”
"Tepat malam nanti adalah bulan baru, Nona. Dia mungkin akan datang besok pagi, atau mungkin tengah malam.”
Rifa menyeringai. “Kalau begitu kita berdua akan menunggu dia datang, Ramir. Waktunya benar-benar tepat. Kita beruntung!”
Hazeem menggeleng. “Aku tak yakin apakah itu ide yang bagus. Aku saja tidak pernah berani melakukan itu selama lima tahun. Ada sesuatu yang misterius, dan berbahaya, dari orang ini. Kenyataan bahwa dia tak pernah mau menampakkan dirinya, sudah menunjukkan bahwa dia orang yang tertutup dan tak ingin diganggu orang lain.”
"Tetapi ini satu-satunya cara untuk membuka semua rahasia!" tukas Rifa. "Apa kau tidak ingin mengetahuinya juga, Hazeem?"
"Bagiku, beberapa rahasia sebaiknya dibiarkan saja tetap terkubur sampai akhir masa."
"Tetapi beberapa rahasia yang lain sebaiknya dibuka segera!" balas Rifa. Ia menoleh. "Kita menunggu di sini malam ini, Ramir!"
Rifa membuat keputusan untuk semua orang. Sekali lagi gadis itu menunjukkan sifat kerasnya. Ramir tak membantah, walau sebenarnya ia takut membayangkan seperti apa orang yang akan datang nanti. Tetapi jika ia ingin mengetahui siapa dirinya sebenarnya, ia harus mengambil resiko.
__ADS_1