Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 93 ~ Semakin Dalam


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 93 ~ Semakin Dalam


Karya R.D. Villam


 


---


 


Fares bersama Naia, Rifa, dan Ramir, serta Davagni yang berjalan paling belakang, akhirnya sampai di ujung lorong gua. Di sebuah ruangan yang cukup benderang berkat nyala api obor di dinding-dindingnya. Dan yang harus mereka hadapi ternyata adalah puluhan prajurit yang tertegun begitu melihat kedatangan mereka. Kejutan yang tidak begitu bagus.


Fares melambai sambil meringis. “Hai.”


“Serang!” pekik seorang komandan.


Seluruh prajurit langsung mengacungkan tombak dan berlari menyerang.


“Davagni!” panggil Fares sekuatnya. “Jangan biarkan aku membantai mereka!”


“Minggir! Minggir!”


Bumi bergetar. Fares dan ketiga rekannya menepi.


Davagni muncul dari mulut lorong sambil meraung-raung ganas. Ia mengibaskan tangan mematahkan baris-an tombak. “Cepat tentukan pilihan kalian!” serunya.


Fares melirik dua lorong di depannya sambil mengayunkan gada dan obornya. “Naia! Ke mana?”


“Ke kanan?” Naia malah balik bertanya.


“Kiri! Kiri!” seru Ramir.


“Hah? Kau yakin?”


“Ya!”


Fares sesaat heran, bagaimana bocah itu bisa yakin? Namun ia pun memutuskan untuk mengikuti petunjuk itu. “Kiri, Davagni, kiri!” serunya.


Si makhluk raksasa mencerai-beraikan kerumunan di sebelah kiri dan mendorongnya ke sisi lain. Jalan terbuka, Fares dan ketiga rekannya berlari menuju lorong selanjutnya. Tinggi lubangnya lebih kecil daripada tubuh Davagni, kurang dari dua tombak.

__ADS_1


“Hamba akan tinggal di sini dan menahan mereka,” kata makhluk itu. “Maaf, jika nanti hamba terpaksa harus membunuh.”


“Kami mengerti.” Naia mengangguk. “Semoga para prajurit ini tidak bodoh sampai memaksamu melakukan itu. Jaga dirimu, Davagni.”


“Jaga dirimu juga, Tuan Putri, dan kalian juga.”


“Naia, cepat!” Fares bergegas masuk ke dalam lorong.


Naia dan Ramir mengikutinya, dan yang paling belakang adalah Rifa. Jantung Fares berdetak kencang. Ia harus mengakui kini ia merasa lebih takut daripada sebelumnya. Davagni tak lagi bersama mereka; itu penyebabnya. Ternyata makhluk itu memang sangat dibutuhkan. Jika saja mereka memilih masuk lorong sebelah kanan yang lebih besar, Davagni akan bisa ikut dengan mereka! Apa yang membuat Ramir tadi yakin mereka harus ke kiri?


Fares menguatkan hatinya. Ia harus berani. Kini ialah yang harus bisa melindungi tiga orang di belakangnya, apa pun lawannya nanti, ke mana pun mereka pergi. Ke pusat sarang gharoul sekalipun.


Napas Fares tertahan. Sepertinya mereka sudah sampai. Sosok makhluk buruk ‘favorit’nya, dengan kepala botak, kulit berbulu, mata hitam dan bau busuk mereka, tampak tak jauh di depannya. Ada tiga di ujung lorong. Makhluk-makhluk itu kini menoleh dan meraung.


Ini saatnya.


“Heaaa!” Tanpa pikir panjang Fares meneruskan larinya dengan gada siap terayun. Suara lari ringan terdengar di belakangnya. Naia dan Rifa.


Para gharoul ikut meraung garang dan berlari menyambut mereka. Fares menerjang. Gada Geledek terayun vertikal dan mendarat telak tepat di atas batok kepala makhluk terkutuk yang ada di tengah, memecahkannya seketika. Kedua makhluk di kiri kanannya menjerit marah dan mengayunkan cakar mereka. Beruntung Fares bisa bergerak lebih cepat, mundur satu langkah. Sebelum ia kembali menyerang, dua gadis melesat dari kedua sisinya.


Naia berhasil melukai gharoul dengan pedangnya, sementara Rifa dengan tombaknya. Kedua gharoul yang marah berusaha membalas, tetapi Fares sudah menemukan kesempatan berikutnya. Gadanya terayun, membuyarkan isi kepala satu ekor. Ayunan kedua menghantam dada makhluk terakhir. Gharoul itu jatuh terjengkang, dan sebelum ia bisa bangkit Gada Geledek menghancurkan kepalanya.


Fares meringis kepada dua gadis di sampingnya. “Sejauh ini tidak ada masalah. Kalian tidak perlu takut. Ramir, sudah aman, kau bisa keluar dari persembunyianmu.”


Mereka terus berjalan. Ruangan tempat mereka bertempur tadi ternyata hanyalah satu bagian lorong yang lebih luas daripada sebelumnya. Lorong itu lalu kembali menyempit, dengan jalan yang sedikit menurun. Bebatuan dan tanah yang mereka injak lebih licin hingga mereka harus berpegangan pada dinding gua, yang juga licin, jika tidak ingin tergelincir. Benderang obor tampak lagi di kejauhan.


“Pertempuran berikutnya,” gumam Fares. “Bersiaplah.”


Suara geraman menyambut mereka. Lalu raungan, yang lebih keras, dan lebih banyak daripada sebelumnya. Fares melihat tiga. Tidak, lebih. Ada lagi di belakangnya. Empat, lima … enam!


Fares menguatkan tekad, dan terus berlari seraya memutar gadanya, menghantam tubuh seekor gharoul dan menghempaskannya ke dinding. Gharoul lain tidak tinggal diam dan menerjang punggungnya. Fares tersungkur. Untunglah, sebelum tubuhnya tercabik-cabik, tombak Rifa datang menghunjam tepat ke wajah gharoul itu. Lolongan panjang terdengar sebelum makhluk itu tewas.


Di dekatnya Naia beraksi. Gadis itu menghindar dengan lincah dari dua cakaran lalu menebas perut seekor gharoul hingga isinya terburai. Bau busuk menyengat. Fares cepat bangkit untuk kembali bertarung. Masih ada tiga gharoul yang harus dibantai. Seekor makhluk meraung, lalu maju melompat. Fares mengayunkan lagi gadanya, menghantam telak.


Tiba-tiba suara melengking terdengar.


Dua gharoul yang tersisa menggeram lalu melangkah mundur.


“Apa? Kalian mau kabur?!” bentak Fares.


“Peluit itu, Fares!” seru Rifa cepat-cepat. “Kau juga punya, kan?”

__ADS_1


“Ah, ya! Peluit karquri!” Fares merogoh kantung di bagian dalam pakaiannya, dan mengeluarkan peluit miliknya. Ia menyeringai. “Kita lihat, apakah kalian akan kabur sekarang.”


Ia meniup peluit tersebut. Suaranya melengking tinggi. Dari suatu tempat jauh di depannya, peluit lain membalas. Di tengah-tengah, kedua gharoul berdiri kebingungan.


“Kita bunuh mereka, Rifa!” Naia berseru. “Selagi mereka bingung.”


Kedua gadis itu melompat. Rifa menghunjam dengan tombaknya, Naia menebas dengan pedangnya. Sama sekali tak tertahan, berkat ketololan kedua gharoul. Begitu sepasang makhluk itu roboh, bayangan hitam berkelebat tak jauh di belakangnya. Seseorang, lari.


Itu pasti si pawang gharoul!


Rifa dan Naia langsung secepatnya mengejar. Fares melepaskan peluitnya dan mengikuti. Gawatnya jalanan semakin menurun, dan ternyata cukup licin. Naia langsung tergelincir dan jatuh terjungkal. Untungnya tidak fatal. Terbaring, gadis itu hanya meringis sambil memberikan tanda bahwa ia baik-baik saja. Fares mengangguk dan meneruskan larinya. Di depan, Rifa yang sudah tidak sabar akhirnya melemparkan tombaknya. Benda itu mendesing, melesat, kemudian menghantam bahu kanan orang yang mereka kejar. Orang itu menjerit dan tersungkur.


Sesaat kemudian Rifa dan Fares sudah berada di dekat orang itu. “Kuharap kau tak membunuhnya,” tukas Fares khawatir. “Kita butuh informasi!”


Dengan wajah masam Rifa mencabut tombaknya, dan sekali lagi suara jeritan terdengar. Gadis Elam itu menyeringai. “Tidak, ia belum mati.”


Fares menarik tubuh lelaki malang itu lalu mendorongnya ke dinding gua, mendekatkan wajahnya ke obor yang terpasang di dinding. “Baik, tuan pawang, kami punya beberapa pertanyaan. Pertama, siapa namamu? Jawab dengan baik, maka gadisku yang kejam ini tidak akan mengeluarkan isi perutmu.”


Ia teringat pengalamannya saat menginterogasi Torek bersama Davagni. Harus ada seseorang yang dianggap mengerikan, dan di antara mereka saat ini Rifa kelihatannya yang paling cocok untuk peran itu.


Si pawang meringis dengan gaya mengejek. “Kalian? Kejam? Kalian tidak ada apa-apanya dibanding makhluk-makhluk terkutuk di dalam gua! Kalian pikir sudah hebat karena berhasil membunuh segelintir gharoul? Kalian salah! Ada kekejian yang sesungguhnya di dalam sana!”


“Dari ucapanmu kelihatannya kau pun tidak suka berada di tempat ini,” kata Naia yang sudah bergabung bersama mereka. Ramir berdiri di belakangnya. “Ayolah, Tuan, anggap kami sebagai teman yang akan menolongmu, maka kami pun akan menganggapmu sebagai teman. Kami akan membawamu keluar dari tempat terkutuk ini, tetapi kami butuh bantuan. Dan jangan khawatir dengan pasukan Akkadia, kami akan mengatasi mereka.”


Lelaki itu termangu, tampaknya ia suka dengan kata-kata Naia yang kedengarannya cukup masuk akal. Ia masih meringis kesakitan, tetapi wajahnya tak lagi menunjukkan permusuhan. “Baik. Namaku Bashek. Apa yang kalian inginkan?”


“Kami mencari seorang gadis,” jawab Naia. “Berambut warna emas. Baru saja dibawa kemari. Aku ingin kau membebaskannya.”


Bashek tertegun. “Dia …”


“Oh, kuharap tidak terjadi apa-apa dengannya!” sahut Rifa begitu melihat perubahan di wajah Bashek. “Jika tidak, maka kau tak berguna, dan aku akan membunuhmu!”


“Maaf, Bashek.” Naia mengangguk. Wajahnya menggelap. “Temanku ini benar.”


“Dia baik-baik saja!” jerit Bashek. “Ya, dia baik-baik saja, sejauh ini ...”


“Jadi Elanna memang benar ada di sini?” gumam Ramir pelan dari belakang.


“Apa maksudmu, Bashek, ‘sejauh ini’?” tukas Fares.


Si pawang menarik napas, lalu menjawab, “Ratu gharoul belum memakannya, sejauh ini.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2