
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 11 ~ Sang Terpilih
Karya R.D. Villam
---
Naia membuka matanya, tetapi kembali memejam. Ranting dan dedaunan yang tebal berlapis-lapis ternyata tetap gagal menghalangi sinar matahari pagi memancar ke wajahnya. Suara air yang mengalir deras lalu sampai di telinganya. Naia mengerti, ia masih berada di atas perahu.
Pikirannya bekerja cepat mengingat kejadian-kejadian terakhir. Pertempuran melawan gerombolan gharoul, dan terhempasnya ia ke dinding tebing. Ia meluruskan lengan, kaki dan punggungnya. Masih terasa nyeri, tetapi untunglah tidak ada yang patah. Pelindung tubuh di balik bajunya cukup menolong semalam. Padahal biasanya ia selalu ingin melepaskan bemda itu karena terlalu berat. Ia tetap belum bisa seperti Teeza yang mampu mengenakan baju perang setebal apa pun tanpa kehilangan kelincahan.
Teringat Teeza, seluruh kewaspadaan Naia kembali. Ia tersadar. Di mana rekannya yang lain? Kenapa tidak ada suara mereka?
Naia terduduk. Ia lega, rekan-rekannya masih ada di dekatnya, tertidur. Tampaknya kelelahan setelah bertarung mati-matian dan mendayung sampai ke tempat ini. Tetapi, di mana Fares? Kenapa dia tidak ada? Apakah pemuda itu tidak selamat tadi malam?
Naia mendekati Isfan yang tertidur di belakang. Ia menggoncang tubuh lelaki itu. ”Isfan!”
Isfan tetap tertidur seperti bayi. Naia mendekati prajurit lain. Namun walaupun ia menggoncang tubuh, dan bahkan menampar wajah mereka, tetap saja mereka tak terbangun. Naia mulai panik. Tetapi mungkin lebih baik ia memeriksa keadaan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia berdiri perlahan di atas perahu. Setelah yakin tubuhnya baik-baik saja, ia melompat ke sebuah batu di tepi sungai.
Naia menerobos belukar dan melewati rapatnya pepohonan. Awalnya ia bingung dan hanya berusaha mencari dataran yang lebih tinggi. Ia berjalan, membabat semak dengan pedangnya, melompati beberapa batang pohon yang tumbang, dan mendaki. Lalu ia mulai berpikir, mungkin ia terlalu bodoh karena melakukan hal ini. Memangnya apa yang ia cari? Namun daripada berdiam diri di perahu, ini lebih baik. Dan akhirnya, tampaknya itu adalah keputusan yang tepat. Naia mendengar suara orang berbicara terbawa oleh angin. Ada beberapa orang di balik batu besar tempatnya berdiri.
Naia merayap di atas batu, mendekat, lalu mengintip ke bawah. Tujuh lelaki berbincang di tanah lapang, mengelilingi batangan kayu bekas api unggun yang telah menghitam. Jika dilihat dari pakaian mereka yang seperti rakyat biasa, mereka bukanlah prajurit Akkadia. Naia menajamkan pendengarannya, tetapi sayang suara mereka terlalu pelan.
Ia pun merayap mundur, lalu mengelilingi batu besar sambil tetap bersembunyi di balik pohon. Sedikit lagi Naia akan tahu siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan pada para prajuritnya. Dari balik pohon ia mengintip.
Saat itulah sebuah telapak tangan membekap mulutnya dari belakang. Naia mencoba mengangkat tangan dan memberontak, namun orang yang menyergapnya mampu memeluknya sedemikian rupa hingga ia tak mampu bergerak sedikit pun.
Sambil meronta Naia hanya mampu menjerit dalam hati.
Namun orang itu berbisik, "Tenang, Tuan Putri. Tenang. Ini aku.”
Fares? Fares!
Seluruh ketakutan Naia sirna. Jantungnya berdetak cepat, tetapi kini karena terpicu rasa lega. Ia membiarkan tubuhnya berada dalam pelukan Fares. Pemuda itu lalu melepaskan tangannya dari mulut Naia, juga pelukannya. Sesuatu yang membuat Naia sedikit kecewa.
"Tuan Putri, kau ... ehm, tubuhmu sudah baikan?" Fares bertanya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja!" Naia menegakkan tubuh. Selesai mengatakan itu ia merasa sedikit malu karena suaranya terdengar kasar. Ia pun merendahkan lagi suaranya dengan perasaan bersalah, "Apa yang terjadi, dengan rekan-rekan kita yang lain?"
Fares mengangguk. “Akan kuceritakan semuanya singkat saja. Setelah berhasil meloloskan diri dari celah itu ... mmm ... sebelumnya Davagni menahan Rahzad. Tetapi kita belum tahu kabarnya lagi.”
"Tidak apa. Lanjutkan.”
"Habik membawa kita menyusuri sungai. Saat kau pingsan ia menawari kita minuman. Para prajurit minum, tetapi diam-diam aku membuang air di mulutku ke sungai. Itu karena aku sempat curiga padanya, walau saat itu aku masih belum yakin. Tak lama kemudian seluruh rekan kita tak sadarkan diri.”
"Racun?" Naia memandang sekelompok orang yang tengah berbincang jauh di depannya. "Habik meracuni kita?"
"Lebih seperti obat tidur. Pengaruh yang kulihat pada mereka adalah rasa kantuk, bukan sakit. Nah, saat mereka tertidur, aku mulai mengerti. Aku tidak langsung menyerang Habik saat itu. Kupikir lebih baik aku melihat apa yang hendak dilakukannya. Maka aku pura-pura tertidur.”
"Pintar, Fares."
Fares tersenyum lebar, dekat sekali di samping Naia. “Ya, kadang-kadang aku bisa menggunakan otakku juga, kan?”
Naia tersenyum. “Ya, hanya kadang-kadang saja kau tampak bodoh. Lalu?"
"Habik menghentikan perahu di sini. Ia turun dan berjalan kemari. Aku mengikutinya diam-diam. Sejak matahari terbit kurasa.”
"Tidak begitu jelas." Fares menggeleng. "Mereka membicarakan sesuatu yang aneh, seperti ... Sang Terpilih."
Sang Terpilih? Napas Naia tertahan.
Fares menatapnya. “Kau tahu ... maksudnya?”
"A—aku ..." Naia menggeleng ragu. Ia tahu beberapa hal, tetapi ... apakah itu benar?
"Mata-mata!" Seruan keras tiba-tiba terdengar.
Secepat kilat Fares mencabut gada dari samping pinggangnya dan memutarnya ke belakang. Beberapa orang muncul dari balik batu dan pepohonan. Naia sempat berpikir bahwa tindakan Fares itu benar-benar ceroboh, tetapi ternyata itu cukup berhasil mengagetkan orang-orang yang baru muncul.
"Kepung!" Suara lebih keras terdengar lagi entah dari mana.
Dalam sekejap sepuluh orang berdiri di sekeliling Naia dan Fares, bersiaga dengan tombak masing-masing. Sebagian adalah orang-orang yang tadi berbincang.
Belum ada yang berani maju, begitu mereka melihat Fares mengacungkan gadanya. Sepertinya mereka cukup gentar melihat senjata itu. Naia sendiri belum mencabut pedangnya. Ia memilih memperhatikan pengepungnya satu per satu. Ia belum khawatir, karena dari wajah orang-orang itu justru terlihat rasa takut dan ragu.
__ADS_1
Dari sebelah kanan seorang pria berlari mendekat. "Hentikan!" serunya pada para pengepung. "Turunkan tombak kalian!"
Fares melihat orang itu, dan langsung menggeram. "Habik, kau pengkhianat!"
"Kau Habik?" Naia mencoba mengenali orang yang baru datang itu. Ia sudah hampir lupa wajahnya. Terakhir kali ia bertemu dengannya sekitar tiga bulan lalu, saat ia baru keluar dari Gerbang Sungai Tigris.
Habik mengangguk dengan canggung. "Maaf, kami menyambutmu seperti ini."
Naia tak membalas senyuman laki-laki itu, dan membentak, "Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau menyamar jadi prajuritku?"
"Mengapa kau menjebak kami?!" Fares bertanya lebih garang.
"Tuan Putri, aku tidak menjebakmu! Aku tidak bermaksud jahat sama sekali. Aku pun tidak mencelakai Isfan dan yang lainnya. Mereka hanya tertidur. Akan kukatakan segalanya," Habik melirik ke arah Fares, "tetapi padamu saja, tanpa pengawalmu."
"Berani kau macam-macam lagi?! Aku belum bisa percaya kata-katamu!" Fares mengancam lagi dengan acungan gadanya.
"Fares." Naia menenangkannya, lalu berkata pada Habik, "Aku bersedia mendengarmu, tetapi katakan dulu siapa kalian."
"Kami dari Kubah Putih.”
Naia berdiri tegak, tak mempedulikan Fares yang menatap heran di sampingnya. Sebenarnya Naia sudah bisa memperkirakan orang-orang ini berasal dari Kubah Putih begitu Fares tadi menyebutkan kata ‘Sang Terpilih’, namun ia tetap bertanya pada Habik karena ingin melihat apakah mereka berani menyebut diri mereka secara terbuka.
Ia pun berkata, “Baik, Habik, sekarang ceritakan apa yang kalian lakukan.”
"Tuan Putri, kami hanya bisa bercerita kepadamu. Mari kita bicara di sana.” Habik menunjuk tempatnya tadi berbincang-bincang.
"Fares ikut denganku," jawab Naia tegas, sengaja. Pertama, karena ia ingin tahu sampai di mana batas kedisiplinan orang-orang Kubah Putih, yang selalu merahasiakan diri dari orang-orang lain. Yang kedua, selama ini Naia selalu merasa tertekan dengan desakan-desakan mereka, dan saat ini—melalui sosok Fares—ia memiliki sedikit cara untuk menekan balik mereka.
Habik melirik Fares, lalu menggeleng-geleng. "Tuan Putri menyulitkan kami.”
Naia kini tahu ia berada di atas angin. “Kenapa? Kau takut?”
"Bukan begitu, tetapi ..."
"Sudahlah, Habik," kali ini seorang pria lain berbicara. Dia berambut tipis yang sebagian sudah memutih, dan tampaknya berkedudukan lebih tinggi dibanding Habik. “Pengawal Tuan Putri boleh ikut mendengar pembicaraan kita. Aku rasa dia pemuda yang bisa dipercaya. Tuan Putri, perkenalkan namaku Jarraf. Aku mewakili ketua kami, Tuan Parvez. Beliau menitipkan salam untukmu. Beliau berharap bisa menemuimu nanti.”
Naia memandangi laki-laki tua itu. Dalam hati ia mulai waswas. Orang-orang Kubah Putih ini mungkin akan memintanya melakukan sesuatu yang tidak mungkin ia tolak.
__ADS_1