
Syifa terduduk lesu di sudut kamar mandi seraya memeluk lututnya yang terlipat. Air matanya mulai surut saat sekian lama menangis. Tenggorokannya terasa kering setelah berteriak-teriak meminta tolong, namun tidak ada yang mendengarnya. Kini dia hanya bisa pasrah atas nasib buruk yang menimpanya.
Klek klek klek!
"Kok, tumben kamar mandinya terkunci, yah?"
"Masa, sih?"
Klek klek klek!
"Eh, iya bener. Ya udah ke toilet yang lain aja sih!"
Syifa seketika bangkit saat mendengar ada suara dua orang yang sedang berbincang.
Bug bug bug!
"Tolong! tolong buka pintunya! siapa pun tolong buka pintunya!" seru Syifa dari dalam kamar mandi.
Juna dan Yudi yang hendak beranjak pergi mengurungkan niatnya dan seketika berhenti saat mendengar seruan dan gedoran dari balik pintu.
"Please! buka pintunya! aku terkunci di dalam, hiks ... hiks ...!" ujar Syifa seraya terisak.
Juna dan Yudi saling berpandangan untuk memastikan bahwa keduanya mendengar hal yang sama.
"Yud, sepertinya ada yang meminta tolong deh barusan!" ujar Juna.
"Suara jeritan cewek di kamar mandi cowok? jangan-jangan hantu nih, Bro!" Yudi nampak bersembunyi di belakang tubuh juna sembari berancang-ancang berlari jika prasangkanya benar.
"Ish, dasar penakut! gue yakin itu suara manusia. Bentar!" Juna berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi itu untuk memastikan.
"Tolong bukain pintunya! aku terkunci ... tolong buka pintunya!" Syifa tak henti-hentinya berseru khawatir jika mereka tidak mendengarkannya.
"Kamu cewek 'kan? ngapain di toilet cowok?" tanya Juna saat berada di depan pintu.
"Aku dihukum untuk bersihin toilet, tapi ada temanku yang mengunci pintunya. Siapa pun kamu, aku mohon tolong bukain pintunya!"
"Oke, tunggu sebentar aku cari kuncinya dulu! kamu tenang aja aku pasti bantuin ke luar dari sana!" Juna kemudian segera meminta bantuan Yudi untuk membantunya mencari kuncinya di sekitaran kamar mandi. Dia yakin kuncinya di buang tidak jauh dari kamar mandi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mencari akhirnya Juna menemukannya di semak-semak rumput. Juna kemudian meminta Yudi untuk membuka kuncinya. Pintu terbuka dan nampaklah Syifa dari balik pintu.
Sejenak keduanya terkesiap saat melihat Syifa. Yudi tidak menyangka anak terpopuler di kelas X berada di depan matanya. Sedangkan Juna tidak menyangka jika yang ditolongnya adalah gadis yang tempo hari membantunya membuka tutup botol di depan minimarket.
Syifa mengusap air matanya kemudian melangkah berjalan ke luar dari kamar mandi.
"Terima kasih, Kak!" ujarnya seraya sedikit membungkukkan badannya ke hadapan Yudi dan Juna.
"Iya, sama-sama," jawab Yudi dengan tertegun melihat Syifa.
"Kamu pasti capek berada di sana sejak tadi, ayo duduk dulu di sana!" ujar Juna seraya menunjuk ke arah teras di depan kelas.
"Yud, belikan dia minum di warung depan sekolah. Kasihan Dia, Dia pasti haus sekali!" Juna merogoh dompetnya dari saku celananya, kemudian memberikan uang lima puluh ribuan kepada Yudi. "Sekalian buat anak-anak yang lain!" tambahnya.
Sebelumnya Juna, Yudi dan teman mereka yang lainnya tengah bermain basket di belakang aula. Sedangkan Juna menonton di pinggir lapangan. Beberapa saat kemudian Yudi merasakan ingin buang air kecil. Dia mengajak Arjuna untuk ikut serta ke kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi yang terletak di ujung kelas X dan berada paling dekat dengan lapangan basket, tanpa disangka mereka malah menemukan Syifa yang sedang terkunci di kamar mandi.
"Yah, baru aja pengen ngobrol sama Syifa, udah disuruh-suruh aja sama lo, Jun!" sungut Yudi.
"Syifa? namanya Syifa?" tanya Juna berbisik pada Yudi.
Juna terkesiap mendengarnya, dia tidak menyangka jika gadis yang ditemuinya di depan mini market adalah gadis yang dimaksud oleh teman-temannya sebagai anak baru yang populer di sekolahnya. Namun, menurut Juna, Syifa memang pantas jika menjadi populer, selain sangat cantik Syifa juga ringan tangan.
"Ya udah gih sana beliin minumnya dulu!"
"Iye gue beliin, tapi awas ya jangan lo deketin, lo udah bilang nggak bakalan suka sama anak populer!"
"Ish, berisik banget sih lo, Yud!" Juna mendorong pelan punggung Yudi hingga dia beranjak pergi.
Juna melirik ke arah Syifa yang tengah duduk terdiam sembari menunduk. Tatapannya nanar pada ruang hampa di hadapannya.
"Em ... namaku Juna, kita pernah ketemu di depan minimarket, inget nggak?" sapa Juna sembari duduk di samping Syifa.
Syifa menoleh kemudian sesaat memandang ke arah Juna dari wajah hingga berhenti pada tangan juna yang terbungkus kain penyangga siku.
"Oh iya inget, yang waktu itu kesulitan membuka tutup botol kan?"
"Iya, nggak nyangka kita ketemu lagi dan ternyata kamu sekolah di sini juga," ujar Juna seraya tersenyum senang.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih udah nolongin aku, Kak!" ujar Syifa lirih.
"Sama-sama. Anggap aja kita impas sekarang, dulu kamu yang nolongin aku sekarang aku yang nolongin kamu. Tapi, siapa yang mengunci mu di sini?" tanya Juna heran. Bagaimana gadis baik seperti Syifa bisa dijaili seperti ini.
"Temen sekelas aku, Kak!" jawab Syifa dan kembali muram mengingat perlakuan Nida. Syifa kemudian menceritakan kejadian yang sesungguhnya terjadi di antara dia dan Nida sebelumnya, hingga sampai pada saat Nida menguncinya di kamar mandi.
Juna terkesiap mendengarnya. Bagaimana mungkin ada anak sejahat itu yang tega melakukan hal ini kepada Syifa setelah kebaikan yang pernah Syifa berikan kepada mereka. Juna benar-benar geram kepada Nida yang bertindak membahayakan nyawa orang.
Sebab, jika sampai pagi Syifa terperangkap di kamar mandi hingga pagi, entah apa yang akan terjadi kepada Syifa. Dia tidak habis pikir gadis baik seperti Syifa diperlakukan dengan buruk oleh temannya. Digaannya Nida hanya iri kepada Syifa.
Setelah Yudi kembali Juna menyuruh Syifa untuk minum terlebih dahulu agar dia tidak dehidrasi. Sebab Syifa sudah satu jam lebih berada di dalam kamar mandi.
Juna kemudian mengantar Syifa pulang dengan memesan taxi online.
"Rumah kamu di dekat mini market yang kemarin 'kan? ayo gue antar!" ujar Juna.
"Biar gue aja Jun yang anter, gue bonceng pakai motor aja yuk Syifa?" tawar Yudi.
Syifa menjadi bingung, sebenarnya dia ingin naik bus saja daripada merepotkan mereka, terlebih dia belum pernah dibonceng oleh laki-laki, hal itu membuatnya tidak nyaman.
"Maaf, Kak. Syifa tidak biasa naik motor dengan dibonceng laki-laki. Biar saya naik bus saja, Kak," tolak Syifa dengan halus.
"Ini udah sore Syifa, naik bus masih setengah jam lagi datangnya. Aku udah pesan taxi online, kok. Tunggu ya, bentar lagi juga nyampe taxinya!"
Syifa akhirnya setuju untuk naik taxi, setidaknya dia tidak harus duduk berdekatan dengan laki-laki yang asing baginya.
Tak berapa lama taxi datang, Syifa dan Juna kemudian masuk ke dalam taxi. Juna tahu bahwa Syifa tidak terlalu suka terlalu dekat dengan laki-laki, akhirnya Juna duduk di jok depan di samping pengemudi agar Syifa nyaman duduk di belakang. Dan, beruntungnya rumah mereka ternyata searah, karena rumahnya melewati rumah Asyifa.
"Kak, berhenti di dekat masjid, ya. Rumah Syifa sudah dekat dari sana," tutur Syifa.
"Oh, oke!" Juna tidak akan memaksa Syifa jika tidak ingin di antar sampai ke rumahnya. Setidaknya dia sudah tahu jika rumah Syifa berada di sekitaran masjid Jami di kampung Arab. Sebenarnya juna agak heran wajah Syifa yang kebule-bulean bisa tinggal dikampung Arab.
Setelahnya Juna melaporkan kejadian sore itu kepada bu Endah dan guru BP. Keesokannya Nida dan teman-temannya dipanggil untuk hadir di ruang BP untuk diinterogasi. Pihak sekolah juga menelepon pada orang tua mereka dan memintanya agar datang ke sekolah atas tindakan yang tidak terpuji pada anak-anak mereka.
Setelah mengadakan rapat antar guru yang bersangkutan, kepala sekolah dan juga orang tua wali murid, akhirnya Nida dan kedua temannya dikenai pelanggaran poin yang cukup tinggi. Dan diberi hukuman untuk membersihkan kamar mandi selama seminggu.
...________Ney-nna_______...
__ADS_1