
Flashback beberapa hari menjelang persidangan perdana ...
"Bos, saya sudah mendapatkan info mengenai Bu Syifa. Di umur ke-25 Bu Syifa sempat akan menikah. Tanggal dan hari pernikahannya bahkan sudah ditentukan. Tapi, menjelang hari H terjadi musibah yang mengakibatkan calon mempelai pria mengalami sebuah kecelakaan. Kemudian entah apa alasannya namun menurut salah seorang warga pernikahan itu tidak jadi dilaksanakan. Belakangan diketahui ada beberapa laki-laki yang datang untuk mengajak berta'aruf namun tidak ada satupun dari mereka yang diterima oleh Bu Syifa," tutur asisten Tom.
Iqbal menjadi semakin penasaran dengan alasan Syifa tidak jadi menikah dan menolak semua laki-laki yang datang melamarnya itu.
"Menurutmu apa mungkin Syifa membatalkan pernikahannya karena calon suaminya cacat fisik usai mengalami kecelakaan itu, Tom?" tanya Iqbal mencoba menelaah.
"Bisa jadi Bos. Kebanyakan pasangan bisa jadi akan melakukan hal itu ketika pasangannya mengalami perubahan fisik yang signifikan. Tapi saya rasa Bu Syifa bukan tipe orang yang setega itu, Bos. Dia terlihat wanita yang murah hati. Tapi hati orang siapa yang tahu jika perubahannya begitu fatal hingga cacat permanen, Bos!" ujar Tom mengemukakan pendapatnya.
Iqbal mengangkat satu tangannya menopang dagu. Seperti apa yang dikatakan Tom, sejauh yang ia tahu tentang Syifa dulu ia adalah gadis yang baik dan murah hati.
Jika masalahnya karena fisik seharusnya Syifa tidak menolak laki-laki yang kemudian datang melamarnya, Tom. Apa mungkin sebenarnya Syifa tidak mau menikah dan terdesak untuk menerima pernikahan itu sehingga musibah yang terjadi menjadi peluang baginya untuk menolak menikahi laki-laki itu?" ujarnya lagi.
"Benar juga, Bos. Sungguh perempuan yang misterius!" gumam Tom lirih.
Bisa jadi ia menolak semua laki-laki itu karena mengira dirinya tidak virgin! Jika karena hal itu seharusnya kini ia mau menikah karena sudah tahu jika ia masih virgin! gumam Iqbal di dalam hati.
"Tapi Bos kenapa Anda sebegitu penasarannya ingin tahu tentang Bu Syifa? Apa anda jatuh hati padanya, Bos?" tanya asisten Tom menyelidik.
__ADS_1
"Jatuh Hati?! Jangan sembarangan bicara kamu Tom!" Kilah Iqbal sembari membenarkan letak dasinya yang sudah rapih.
Tom menyipitkan ujung matanya penuh curiga. Namun ia tak berani berspekulasi lagi khawatir kena marah bosnya. Ia juga sudah terlanjur nyaman dengan gaji yang cukup besar sebagai asisten pribadi Iqbal.
......................
Semenjak Syifa menjadi kuasa hukumnya, intensitas pertemuan antara Iqbal dan Syifa pun terbilang sering menjelang persidangan. Di sanalah Iqbal mulai terganggu dengan kehadiran Syifa.
Kini segala sesuatu tentang Syifa begitu mencuri perhatiannya. Seperti ada dorongan dalam dirinya ingin selalu melindungi dan menjaganya. Khawatir jika Devan akan mencelakainya lagi. Merasa ingin bertanggungjawab atas apa yang pernah ia lihat dari Syifa. Hal yang tidak seharusnya ia lihat.
Tanpa sepengetahuan asisten Tom, secara diam-diam Iqbal memesan sebuah cincin berlian dengan design khusus.
Tiba pada acara makan malam berlangsung Iqbal mencari kesempatan untuk bisa mengobrol empat mata dengan abi Imron. Saat semuanya sibuk mengobrol Iqbal mengajak abi Imron untuk berbicara empat mata. Di teras belakang Iqbal secara khusus mengungkapkan keinginannya.
"Sebelumnya saya mohon maaf karena mengatakan hal ini di rumah saya dan bukannya mendatangi rumah Anda selaku orang tua Syifa. Namun dengan sengaja saya mengundang Anda dan Tante Rosa pada acara makan malam kali ini karena ada maksud lain yang lebih penting yang ingin saya utarakan pada Anda. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya bersungguh-sungguh ingin mengkhitbah Syifa putri kalian. Cincin ini saya pesan khusus jauh-jauh hari untuk melamar Syifa. Dan saya rasa saat ini adalah waktu yang tepat bagi saya untuk mengutarakan keinginan saya untuk mengkhitbah Asyifa pada Anda selaku orang tuanya," ungkap Iqbal tanpa ragu sembari meletakkan sebuah kotak persegi yang menampilkan sebuah cincin berlian di dalamnya.
Imron mengambil cincin yang tergelak di meja tersebut. Ia dapat melihat keaslian cincin tersebut dan melihat sebuah nama yang terukir pada sisi bagian dalam cincin yang bertuliskan Asyifa. Hal itu membuktikan bahwa Iqbal memang mempersiapkan cincin ini jauh-jauh hari.
Imron meletakkan kembali cincinnya di tempat semula. Ia menatap lekat ke arah Iqbal yang masih tak bergeming untuk menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
Tidak banyak yang Imron ketahui tentang Iqbal. Dia hanya sempat mendengar sedikit cerita tentang Iqbal dari Rosa. Rosa juga sempat bercerita jika Syifa dan Iqbal dulunya sudah saling mengenal karena mereka bersekolah di tempat yang sama pada saat SMA. Rosa juga belakangan tahu jika Iqbal lah yang ternyata menyelamatkan Syifa dari tindak pelecehan yang dilakukan Devan kala itu. Namun Imron merasa bahwa ia tidak berhak menjawab lamaran ini sebelum ia bertanya pada Rosa dan Syifa sendiri.
"Maaf, Nak Iqbal. Dalam hal ini saya tidak bisa memberikan keputusan sebelum saya berdiskusi dengan istri saya dan juga Syifa. Dan kalau boleh tahu apa alasan kamu melarmar Syifa secara tertutup begini. Bukankah sebaiknya kamu secara terang-terangan melamar Syifa dihadapan Syifa dan mamanya juga keluargamu?" tanya Imron.
"Anda benar sekali. Awalnya itu yang hendak saya lakukan. Tapi saya mempunyai alasan mengapa saya berbuat demikian. Sebelumnya saya memohon maaf karena saya sempat mencari tahu tentang alasan Syifa yang belum menikah hingga kini. Saya mendengar rumor jika Syifa sempat batal menikah dan beberapa kali menolak lamaran yang datang. Namun saya tidak mengetahui apa alasan dibalik semua itu. Karena hal itu saya tidak ingin membuat Syifa merasa tidak nyaman atau mungkin ada trauma tersendiri bagi Syifa untuk melangkah pada jenjang pernikahan. Untuk itu saya putuskan untuk tidak datang ke rumah Anda secara langsung."
"Harapan saya dengan cara ini Syifa tidak perlu merasa terbebani dan juga tidak menimbulkan rumor jika tidak menerima lamaran dari saya. Dan saya bermaksud menyerahkan kepada Anda untuk menyampaikan lamaran saya kepada Syifa dan mamanya. Anda bisa mendiskusikan hal itu terlebih dahulu dengan keluarga besar Anda. Apapun keputusan kalian nantinya saya akan berusaha untuk menerimanya dengan lapang."
"Saya akan menunggu kabar dari Anda ketika kalian sudah siap untuk memberikan jawaban. Dan saya siap kapan pun untuk datang ke rumah Anda," tutur Iqbal seraya mengulurkan sebuah kartu nama yang juga tertulis nomor telepon yang bisa dihubungi.
"Baik Nak Iqbal, saya akan menghubungimu nanti usai berdiskusi dengan keluarga saya," ucap Imron seraya mengambil kartu nama itu dan memasukkannya pada saku kemejanya.
Setelah mengobrol mereka kembali ke tempat dimana semua orang berkumpul.
......................
Sesampainya di rumah Imron memberitahukan kepada Syifa dan istrinya tentang lamaran Iqbal. Sebuah cincin berlian dari Iqbal yang sempat ia bawa, ia letakkan di atas meja di hadapan Syifa.
Syifa seketika terkejut dengan apa yang dikatakan abi Imron tentang lamaran Iqbal. Selama ini Syifa tidak merasa sebuah pertanda apapun jika Iqbal hendak melamarnya. Hal itu benar-benar tidak terduga oleh Syifa mengingat sikap Iqbal yang selalu dingin. Bahkan Iqbal tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikannya pada Syifa.
__ADS_1
..._____Ney-nna_____...