
Hanif menggendong putrinya menuju kamar sang anak. Ia merebahkan Alika di atas ranjang dengan pelan. Dibelainya rambut sang anak dengan lembut hingga bocah itu mulai tenang.
"Sayang, tadi bermain apa aja?" tanya Hanif.
"Tadi Alika diajarin gambar pemandangan, Pah. Sambil gambar Kakak bercerita tentang kisah Nabi Nuh ...," tutur bocah itu dengan tersenyum senang.
"Oh ya? coba ceritakan, Papa juga kepingin tahu dong ceritanya!" tanya Hanif berpura-pura tidak tahu. Namun, ia penasaran apa yang diajarkan gadis bercadar itu pada putrinya.
"Kakak bilang dahulu pada zaman Nabi Nuh ada orang-orang salih yang meninggal dunia. Lantas kaumnya membuat patung yang menyerupai wajah mereka untuk mengenang kebaikan mereka. Tapi, lambat laun orang-orang menyembah patung-patung itu dan tidak lagi beriman kepada Allah. Patung kan bukan Allah, jadi nggak boleh disembah. Terus ..., Nabi Nuh mengajak untuk menyembah Allah. Eh, orang-orang itu enggak mau dan malah memusuhi Nabi Nuh!" celoteh anak itu dengan muka masam.
"Oh ya? terus gimana, Sayang?" tanya Hanif menanggapi.
"Allah memerintahkan Nabi Nuh membuat kapal yang sa-ngat besar! Tapi orang-orang yang menyembah patung tadi malah mengejek Nabi Nuh, Pah. Pokoknya mereka nggak mau percaya kalau Allah itu ada, Pah!"
"Kalau Alika percaya tidak Allah itu ada?" tanya Hanif.
__ADS_1
"Percaya dong. Kata kakak meskipun tidak bisa dilihat, Allah itu selalu ada di mana pun kita berada!" tutur Alika mantap.
"Pinter anak, Papa!" ucap Hanif seraya mengacak gemas rambut putrinya. "Oh ya ..., terus buat apa kapalnya, Sayang?" tanyanya lagi.
"Entar dulu dong, Pah! ceritanya panjang. Alika haus...," tukas Alika meminta minta minum.
"Oke, Papa ambilkan, Sayang!" Hanif segera keluar untuk mengambilkan minum.
Beberapa saat kemudian Hanif sudah kembali dengan membawa segelas air putih untuk putrinya.
"Makasih, Papa!"
"Sama-sama, Sayang. Terus gimana lanjutannya?" tanya Hanif dengan lembut.
"Terus, Allah menurunkan hujan yang sa-ngat lebat hingga berhari-hari selama emm ...." Alika nampak seolah berpikir keras mengingat-ingat kisah yang tadi diceritakan oleh Syifa. "Alika lupa, besok Alika tanya kakak lagi, pokoknya banyak hari, Pah!" celoteh sang anak yang membuatnya semakin gemas.
__ADS_1
Hanif manggut-manggut seraya tersenyum gemas mendengar putrinya yang semakin pintar berceloteh.
"Terus, semua orang bingung karena terjadi banjir di mana-mana. Kemudian, disaat itu Nabi Nuh mengajak orang-orang untuk menaiki kapal yang udah dibuat tadi, Pah. Tapi, yang mau ikut cuma sedikit. Bahkan anak dan istri Nabi Nuh pun tidak mau ikut dan lebih memilih naik ke gunung. Akhirnya musibah pun terjadi, hingga mereka semua tenggelam kecuali orang-orang dan hewan yang berpasangan yang berada di kapal Nabi Nuh. Anak dan istri Nabi Nuh pun tidak selamat karena tidak mau dengar ajakan Nabi Nuh!" pungkas Alika menyelesaikan ceritanya.
"MasyaaAllah hebat sekali anak Papa! Ceritanya sangat bagus, Sayang. Kisah ini mengingatkan Papa agar terus menjaga keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Sebab, tidak ada satu orang pun yang dapat menolong kita kecuali atas ridho Allah!" ucap Hanif seraya mencium gemas pipi Alika. Ia bangga dengan kemampuan daya ingat putrinya yang cukup baik menyampaikan cerita yang dia dengar dari Syifa.
"Pah, Alika janji akan jadi anak yang baik supaya bisa berkumpul di surga sama mama dan Papa!" ucap anak itu.
"Iya, Sayang. Tumbuhlah menjadi anak yang solehah, dan semoga kita dapat menjaga ketaqwaan kita kepada Allah hingga akhirnya nanti!" Hanif memeluk putrinya dengan sendu. Ia tidak menyangka jika kedekatan Alika dengan Syifa dapat memberi pengaruh yang baik bagi putrinya.
Malam harinya saat Alika sudah tidur Hanif menyempatkan untuk berbicara dengan ibunya perihal rencananya pada Syifa. Farida menyetujui usulan Hanif itu. Ia juga bisa melihat jika Syifa adalah gadis yang baik.
"Baiklah, nanti Ummi akan berbicara dengan Syifa dan mamanya. Aku rasa mereka pasti akan menyetujuinya!" ucap Farida dengan mantap.
..._______Ney-nna______...
__ADS_1