Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Pulang


__ADS_3

"Ada apa, Fa?" tanya Rosa yang melihat perubahan mimik muka Syifa dari sudut matanya.


"Ma, Nafisa kirim pesan. Katanya akhir pekan ia akan melangsungkan akad nikah, Ma!" ujar Syifa dengan tersenyum senang.


Mendapati sahabatnya itu akan menikah, tentu hal itu membuatnya ikut merasakan bahagia atas kabar bahagia itu.


"Alhamdulillah! dengan siapa?" tanya Rosa turut penasaran dengan jodoh gadis baik itu.


"Nafisa bilang masih kerabatnya, Ma. Semoga kali ini adalah yang terbaik untuk Nafisa ya, Ma!" ujar Syifa berharap yang terbaik untuk sahabatnya itu.


"Aamiin. Kamu ingin hadir pada acara pernikahannya?" tanya Rosa.


"Iya, Ma. Jika Mama mengijinkan Syifa pengen ketemu sama Nafisa dan juga Antika, Ma. Syifa kange-n banget sama mereka!" selorohnya.


Sudah cukup lama Syifa tinggal di Surabaya. Tidak dipungkiri ia sangat merindukan tempat kelahirannya itu. Terutama rumah nenek Fatimah. Ia berharap ia masih bisa melihat rumah nenek Fatimah meski hanya bisa menatapnya saja dari jauh. Meskipun pernah terjadi hal buruk di rumah itu, namun kenangan indah bersama nenek dan juga mamanya jauh lebih banyak di rumah itu.

__ADS_1


Dia juga teringat kembali lorong di antara dua tembok besar yang menjadi tempat favoritnya. Di sana juga tempat pertama kalinya ia berjumpa dengan seorang muadzin yang bersuara merdu itu. Siapa lagi jika bukan Ilham. Juga saat rantai sepedanya putus :::: Ilham tiba-tiba datang menolongnya. Bahkan scraft baby pink yang Ilham berikan pun masih tersimpan dengan baik di almarinya.


Lalu, keseruan saat bersama Antika main di ruko sepulang sekolah. Jalan kaki berdua menuju halte dengan sahabatnya yang suka cerewet itu. Ngaji bareng dengan Nafisa di masjid agung, semua itu tidak masih jelas dalam ingatannya.


"Baiklah, kita pulang besok!" tukas Rosa dengan lantang.


"Beneran, Ma?" tanya Syifa dengan mata membulat sempurna.


"Tentu. Mama juga ingin pulang. Rasanya di sanalah rumah kita Syifa. Mama sangat merindukan tempat itu!" ujar Rosa seraya memandang jauh ke depan.


......................


Keesokannya Syifa dan mamanya sudah bersiap-siap untuk pergi. Mereka sudah mengemas beberapa baju ganti ke dalam tas dan juga segala sesuatu yang diperlukan untuk bepergian. Meski belum pasti berapa lama mereka akan berkunjung ke sana, namun Syifa membawa serta semua benda-benda penting miliknya.


"Kak, saya percayakan Mama padamu ya. Jika ada sesuatu tolong kabari aku! ucap Rossa pada Rosita.

__ADS_1


"Iya, Ros. Kamu hati-hati, ya!" ujar Rosita seraya memeluk saudari kembarnya itu.


"Ma, Rossa pamit ya! doakan segala sesuatunya akan baik-baik saja ya, Ma!" pamitnya pada Sofia.


"Iya, Ros. Kalian segera pulang, ya!" ujar Sofiya kepada Rosa maupun cucunya, Syifa.


Seusai berpamitan pada keluarga, keduanya menuju ke stasiun. Mereka akan menaiki kereta menuju kota XX. Beberapa saat kemudian keretanya tiba. Mereka segera masuk ke dalam salah satu gerbong dan meninggalkan kota itu.


......................


Sesampainya di kota XX, Syifa dan mamanya langsung menuju ke kampung arab. Mereka berdua berdiri menatap rumah nenek Fatimah yang masih sama sejak mereka tinggalkan, yang membedakan hanya semak belukar yang mulai tumbuh karena tidak terawat.


"Ma, sepertinya keponakan nenek hanya menggertak kita agar kita mengikuti kemaunnya itu. Buktinya rumah ini masih sama saja. Bagaimana kalau kita menyusup ke dalam rumah itu, Ma. Dan tinggal di rumah itu untuk beberapa hari ke depan!" usul Syifa.


...______Ney-nna_____...

__ADS_1


__ADS_2