Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Bohong lagi


__ADS_3

Cekrett.


Pintu kamar pun kembali terbuka. seorang terapis yang tadi berada di dalam kamar Iqbal pun telah menyelesaikan tugasnya ia pun lalu berpamitan kepada Syifa dan mamanya untuk melanjutkan jadwal visitnya ke kamar pasien yang lain.


Syifa dan mamanya kemudian masuk ke dalam kamar Iqbal. karena ada mamanya di sana Syifa mengurungkan niatnya untuk bertanya apa yang sudah sejak tadi iya ingin tanyakan kepada Iqbal sebab ia tidak ingin mamanya kembali bersedih jika mengingat peristiwa yang dulu pernah menimpanya. Ia putuskan untuk menahan pertanyaannya kembali hingga waktu yang tepat tiba.


"Nak Iqbal, obatnya sudah di minum?" tanya Rossa setelah melirik ke arah nakas yang terdapat bungkusan obat di atasnya.


"Sudah, Tante. Tadi langsung diminta meminum obatnya saat kunjungan dokter. Sekarang saya merasa sangat mengantuk. Mungkin efek dari obat bius pasca operasi kemarin masih terasa hingga sekarang," tutur Iqbal yang sejak tadi menahan rasa kantuknya. Entah mengapa sejak tadi ia merasa selalu ingin memejamkan matanya.


"Baiklah kalau begitu beristirahatlah yang cukup. Kami akan tetap berjaga di luar, jika perlu apa-apa panggil saja kami!" ucap Rossa.


Iqbal terlihat menganggukkan kepalanya. "Terima kasih atas pertolongan keluarga kalian, Tante!"


"Sama-sama, Iqbal!" ucapnya seraya tersenyum.


Rosa dan Syifa pun lalu keluar dari kamar itu. Dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat atau membuat pemuda itu merasa canggung dengan kehadiran mereka.


Sebenarnya selain ia benar-benar mengantuk iya melakukan hal itu karena ada alasan lain, yaitu demi mengulur waktu untuk menghindari pertanyaan dari Syifa. Ia tahu jika Syifa sejak tadi menatapnya dengan tatapan tidak suka. Seolah-olah ingin menguliti habis dirinya. Ia yakin bahwa saat ini Syifa sudah mengenalinya. Dan, itu artinya cepat atau lambat Syifa pasti akan menanyakan kejadian di masa lalunya dua tahun silam. Iqbal belum siap untuk memberikan jawaban yang tepat bagi Syifa. Karena dia tidak ingin Syifa tahu apa yang sesungguhnya terjadi di antara mereka saat itu.


Iqbal lalu mencoba meraih handphone di atas nakas dengan tangan kirinya yang tidak terluka. Meskipun cukup sulit karena handphone itu berada di sebelah kanannya. Namun dengan perlahan ia memutar tubuhnya hingga pada akhirnya ia bisa mengambil handphonenya itu.


"Akhirnya ...!" gumamnya lega.


Iqbal kemudian melakukan panggilan telepon kepada salah seorang di balik teleponnya.


"Halo, saat ini aku sedang berada di rumah sakit xx dan cepat kamu datang ke sini dan bawa aku pergi tanpa ada yang tahu!" ujar Iqbal pada orang yang ada dalam teleponnya.


Setelah mengucapkan hal itu tak lama ia pun langsung menutup panggilan teleponnya. Ia hanya berharap semoga ia bisa segera melarikan diri dari rumah sakit itu tanpa diketahui oleh Syifa dan keluarganya.


Setelah itu dia memutuskan untuk memejamkan matanya karena ia benar-benar mengantuk dan ingin beristirahat. Ia akan memikirkannya kembali nanti bagaimana cara agar ia bisa keluar tanpa diketahui oleh Syifa dan keluarganya.


Beberapa saat kemudian Iqbal benar-benar tertidur. Syifa yang mengintip dari celah pintu melihat hal itu pun tak dapat mengganggunya. Ia tahu bahwa ia tidak boleh egois kepada Iqbal dan mengganggu waktu istirahatnya. Ia akan bertanya nanti saja ketika Iqbal sudah bangun dari tidurnya.


Siang harinya Iqbal baru bangun. Usai melaksanakan salat Syifa menggantikan mamanya berjaga.

__ADS_1


"Syifa, kamu tidak keberatan menyuapinya makan? Dia baru bangun jadi mama belum sempat menyuapinya makan tadi," tutur Rosa.


"Baiklah Mama tinggal saja, akan ku suapi dia!" ujarnya lirih seraya melirik ke dalam kamar melihat ke arah Iqbal yang tengah melihat ke arahnya juga.


"Ya sudah, Mama ke musala dulu ya?"


Syifa mengangguk mengiyakan.


Setelah kepergian mamanya Syifa pun masuk ke dalam kamar Iqbal tanpa menutup pintu. Ia biarkan pintu itu terbuka dengan lebar agar tidak menimbulkan fitnah.


Syifa mengambil kotak makan di atas makan lalu duduk di samping tempat tidur iqbal. Ia kemudian membuka kotak makan itu dan menyuap kan satu sendok makan ke depan mulut Iqbal.


"Bismillah!" ucap Syifa.


"Apa kamu yakin aku muslim?" tanyanya.


Syifa mengedikkan bahu. "Entahlah setahuku semua agama ada adab berdoa sebelum makan sesuai ajaran agamanya masing-masing. Tapi, kamu diam saja. Jadi ya aku tuntun berdoa menurut agamaku agar kamu tidak lupa berdoa!" tuturnya.


"Ck. Bawel. Ya sudah ayo suapi aku!" perintahnya.


Syifa pun kembali mengarahkan sendok ke arah mulut Iqbal.


Iqbal diam saja dan terus mengunyah makanannya tanpa mempedulikan pertanyaan Syifa.


Syifa menatap kesal pada Iqbal.


Setelah makanan di mulutnya habis Iqbal barulah berbicara. "Adab makan tidak boleh berbicara selagi makan!" kilahnya.


Syifa menghela nafasnya kasar.


"Sekarang sudah kosong kan, ayo jawab!" pintanya.


"Tidak mau, aku mau menghabiskan makananku dulu karena perutku sudah sangat lapar!" pungkasnya.


Astaghfirullah! sabar Syifa ..., sabar! gumamnya di dalam hati.

__ADS_1


Dia harus bersikap sabar dengan laki-laki di hadapannya saat ini. Ia bisa merasakan jika sesungguhnya Iqbal hanya mencoba mengulur waktu untuk memberi penjelasan padanya. Sebab ia yakin sekali jika Iqbal mengenalinya.


Dengan sabar Syifa pun mulai menyuap makanan suap demi suap ke mulutnya tanpa ada obrolan. Padahal tadi pagi saat dengan mamanya ia terlihat ramah. Ternyata aslinya dia sangat menyebalkan bagi Syifa. Sebab ia seperti sengaja makan dengan tempo yang sangat lama hingga pada akhirnya mama Syifa datang dan ia belum menyelesaikan makannya. Setelah kedatangan mamanya Iqbal terlihat dengan cepat mengunyah makannya. Dan, bersikap sangat ramah.


Dia seperti rubah saja kalau di depan mama! batin Syifa.


Akhirnya lagi-lagi Syifa tidak punya kesempatan untuk bertanya.


"Sudah minum obat?" tanya Rossa.


"Belum, Tante!" jawab Iqbal.


"Baiklah biar Tante bantu bukakan obatnya!" Dengan telaten Rossa membantunya meminum obat.


Syifa memilih beranjak berdiri dan membiarkan mamanya yang mengurusnya kini.


......................


Sesampainya di rumahnya tadi pagi, Edward sudah di sambut dengan kedatangan Ibu mertua dan ayah mertuanya. Ia pun akhirnya tidak jadi mengatakan yang sesungguhnya tentang Syifa karena kondisinya sedang tidak memungkinkan.


Edward harus menciptakan suasana rumah tangganya yang harmonis kepada mertuanya itu.


Begitupun dengan Mia. Ia membuang egonya untuk marah pada suaminya yang telah meninggalkannya dengan anak-anaknya kemarin. Ditambah semalaman Edward tidak pulang tentu saja ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada suaminya itu. Namun, akhirnya ia harus menahannya selama orang tuanya masih berada di rumahnya. Jarak rumah mereka yang agak jauh membuat orang tua Mia menginap di rumah mereka malam itu.


Barulah menjelang tidur Mia menanyakan pada suaminya itu ke mana saja ia pergi seharian kemarin.


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Mas?" tanya Mia.


"Em ..., kemarin anak buah ku mengalami kecelakaan. Dia yatim piatu dan tidak memiliki kerabat sama sekali. Mau tidak mau aku menungguinya semalaman di rumah sakit karena ia harus menjalani operasi patah tulang," tutur Edward yang tidak sepenuhnya berbohong.


"Benarkah?" tanya Mia dengan ketus tidak percaya.


"Apa perlu aku tunjukkan kartu parkir yang masih ada di dompetku agar kamu percaya?" tanya Edward.


Mia menghembuskan nafasnya pelan. Ia harus menahan amarahnya atau orang tuanya akan mendengar keributan yang ia ciptakan.

__ADS_1


Sebaiknya aku bersabar dulu. Besok aku akan cari tahu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Mas Edward! gumamnya di dalam hati.


..._______Ney-nna_______...


__ADS_2