
Pengajian telah usai pukul 04.00. Nenek Fatimah berjalan santai untuk pulang ke rumahnya sesampainya di depan gerbang pekarangan rumahnya iya mendapati gerbangnya sudah terbuka. Padahal seingatnya tadi ia sudah menutupnya.
"Apa mungkin tadi ada tamu?" gumam nenek Fatimah. Ia lalu masuk ke pekarangan rumahnya. Ia melihat pintu rumahnya pun terbuka sebagian.
"Assalamual'aikum," ucap nenek Fatimah saat memasuki teras rumahnya.
Ketika masuk ke dalam rumah, ia seketika terperangah ketika menyaksikan apa yang dilihatnya. Syifa terlihat tak berdaya di sofa ruang tamunya.
"Syifa ...! innalillahi wa inna ilaihi raajiuun!" pekik nenek Fatimah. air matanya seketika luruh. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Syifa, bangun Fa! Syifa!" Ia mengguncang tubuh Syifa, namun Syifa tidak kunjung bangun. Fatimah menangis sejadi-jadinya melihat cucu kesayangannya tak sadarkan diri dengan luka di kepala. Lebih miris lagi ketika mengetahui Syifa tak mengenakan baju dibawah lembaran jaket dan roknya yang ditaruh secara asal di bagian atasnya.
Fatimah menangis tersedu-sedu. Hatinya bagai disayat sembilu melihat keadaan Syifa. "Apa yang terjadi padanya ya Allah. Mengapa ini harus terjadi pada cucuku!" gumam nenek seraya memukul dadanya yang terasa perih.
"Assalamu'alaikum," ucap Rosa yang baru datang.
"Innalilahi, Syifa-a!" pekik Rosa. "Ummi, apa yang terjadi pada Syifa?" tanya Rosa yang tak kalah kagetnya melihat putrinya dalam keadaan tak berdaya.
Tidak berbeda dengan nenek Fatimah, air matanya seketika berlinang di kedua pipinya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping menyaksikan keadaan Syifa. Terlebih nenek Fatimah yang hanya bisa menangis tanpa suara.
__ADS_1
"Ummi, siapa yang telah melakukan ini pada Syifa, Ummi?" tanya Rosa lagi.
Nenek Fatimah hanya bisa menggeleng menanggapi. Tenggorokannya seolah tercekat akibat kepedihan yang mendalam yang ia rasakan.
Tiba-tiba kepala Syifa nampak bergerak. Matanya perlahan mulai mengerjap.
"Syifa kamu sudah sadar, Nak? Syifa ...." Rosa seketika mendekat ke arah Syifa.
Syifa mulai sadar, ia mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Aarrghh ...!" teriaknya saat menyadari keadaannya yang masih tanpa berbusana. Syifa seketika menangis sejadi-jadinya.
Melihat Syifa sangat terpukul mendapati keadaannya itu membuat Rosa dan nenek Fatimah semakin hancur. Rosa segera merengkuh putrinya ke dalam pelukannya.
Ia paham dengan keadaan Syifa saat ini. Pertanyaan hanya akan membuatnya semakin terpuruk saat ia harus mengingat kembali apa yang terjadi. Saat ini putrinya hanya butuh pelukan dan dukungan untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Agar ia merasa tidak sendiri dalam menghadapi masalahnya.
Tiba-tiba nenek Fatimah ambruk seraya memegangi dadanya. Nafasnya tersengal-sengal. Hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.
"Nenek ...!" jerit Syifa mengetahui apa yang terjadi pada neneknya.
__ADS_1
Rosa segera berpaling ke belakang untuk melihat keadaan nenek Fatimah.
"Ummi ... ummi ...!"
......................
Rosa diam terpaku melihat ke arah depan. Ini adalah hal berat yang ia alami secara bertubi-tubi. Seperti terjerat benang merah yang terus mengikatnya dalam kerasnya hidup.
Kini nenek tengah berjuang antara hidup dan mati di ruang ICU. Nenek mengalami serangan jantung. Dokter mengatakan sulit bagi nenek untuk bertahan. Kabar itu seperti bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu.
Sedangkan Syifa masih dalam keadaan terpuruk pasca peristiwa tadi sore yang dialaminya. Entah apa yang terjadi pada putrinya. Namun, ia terpaksa meninggalkannya di rumah dengan ditemani oleh Antika.
"Keluarga ibu Fatimah," seru dokter.
"Saya, Dok!" Rosa segera mendekat pada dokter yang menangani nenek Fatimah.
"Mohon maaf, kami sudah berusaha, namun Ibu Fatimah tidak tertolong!" ujar dokter.
"Innailaihi wa inna ilaihi raajiuun. Ummi!" pekik Rosa. Seketika tubuhnya terasa lemas.
__ADS_1
Mendengar hal itu Rosa merasa bak disambar petir. Ia seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Entah apa yang akan terjadi lagi ketika Syifa mengetahui hal ini.
...________Ney-nna________...